NovelToon NovelToon
Terikat Janji Dalam Kegelapan

Terikat Janji Dalam Kegelapan

Status: tamat
Genre:Terpaksa Menikahi Suami Cacat / Penyelamat / Cinta setelah menikah / Cinta Seiring Waktu / Cintapertama / Menyembunyikan Identitas / Kekasih misterius / Tamat
Popularitas:253.4k
Nilai: 5
Nama Author: Nana 17 Oktober

Kaivan, anak konglomerat, pria dingin yang tak pernah mengenal cinta, mengalami kecelakaan yang membuatnya hanyut ke sungai dan kehilangan penglihatannya. Ia diselamatkan oleh Airin, bunga desa yang mandiri dan pemberani. Namun, kehidupan Airin tak lepas dari ancaman Wongso, juragan kaya yang terobsesi pada kecantikannya meski telah memiliki tiga istri. Demi melindungi dirinya dari kejaran Wongso, Airin nekat menikahi Kaivan tanpa tahu identitas aslinya.

Kehidupan pasangan itu tak berjalan mulus. Wongso, yang tak terima, berusaha mencelakai Kaivan dan membuangnya ke sungai, memisahkan mereka.

Waktu berlalu, Airin dan Kaivan bertemu kembali. Namun, penampilan Kaivan telah berubah drastis, hingga Airin tak yakin bahwa pria di hadapannya adalah suaminya. Kaivan ingin tahu kesetiaan Airin, memutuskan mengujinya berpura-pura belum mengenal Airin.

Akankah Airin tetap setia pada Kaivan meski banyak pria mendekatinya? Apakah Kaivan akan mengakui Airin sebagai istrinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

25. Pertanyaan Airin

Airin membantu Kaivan masuk ke kamar mandi dengan hati-hati. Kaivan hanya mengenakan celana pendek, duduk di kursi untuk memudahkan Airin membantunya mencuci rambutnya, mengingat Kaivan lebih tinggi dari Airin.

Tubuh atletisnya yang dihiasi bekas luka mulai terlihat akrab di mata Airin yang setiap hari menyekanya. Namun, tak peduli berapa kali ia melihatnya, Airin tetap merasa kagum. Bahu lebar, otot yang terdefinisi sempurna, dan kulit putih bersih Kaivan membuat pikirannya berdesir, meskipun ia segera mengalihkan fokusnya agar tidak terlarut.

Kaivan, di sisi lain, tampak mulai terbiasa dengan sentuhan lembut Airin. Ia duduk tenang sementara Airin dengan telaten mencuci rambutnya. Jemari Airin yang ramping menyusuri rambut hitam Kaivan, seraya memberikan pijatan lembut di kulit kepalanya.

“Rambut Kakak ini tebal sekali,” gumam Airin, berusaha mencairkan suasana. Ia tersenyum kecil, menikmati setiap gerakan tangannya yang memijat kepala suaminya dengan sampo.

Kaivan hanya mendengus pelan, matanya yang kosong menatap ke depan. Namun, ia tidak bisa menyangkal rasa nyaman yang mulai menjalar dari pijatan Airin. “Kau pandai memijat,” ujarnya singkat, nadanya terdengar lebih lembut dari biasanya.

Airin tersenyum mendengar pujian sederhana itu. “Kalau Kakak merasa nyaman, aku senang,” katanya tulus. Ia terus melanjutkan pekerjaannya, bahkan membersihkan brewok Kaivan dengan hati-hati, memastikan tidak ada sisa sabun yang tertinggal.

Sementara itu, Kaivan mulai merasakan sesuatu yang berbeda. Sentuhan Airin tidak hanya terasa hangat, tetapi juga penuh perhatian, seolah bukan sekadar kewajiban. Ada perasaan tenang yang merayap di hatinya, sesuatu yang jarang ia rasakan.

Airin pun merasa aneh dengan dirinya sendiri. Meskipun ini adalah tugas sederhana, ia merasa senang melakukannya. Merawat Kaivan, meski pria itu jarang menunjukkan emosinya, memberinya kebahagiaan kecil yang tak ia duga.

Setelah selesai, Airin membilas tubuh Kaivan dengan lembut, memastikan semua sabun telah hilang. Ia menyeka tubuhnya dengan handuk besar, berhati-hati agar tidak menyentuh bagian luka yang belum kering.

“Sudah selesai, Kak. Kau bisa membersihkan tubuh bagian bawahmu dan mengganti celana setelahnya,” katanya dengan nada ceria, meski pipinya sedikit memerah karena mendapati dirinya terlalu memikirkan pria di hadapannya.

Kaivan mengangguk pelan. “Terima kasih,” ucapnya, suara rendahnya penuh ketulusan.

Airin keluar dari kamar mandi untuk menunggu Kaivan menyelesaikan mandinya dan memakai celana. Setelah Airin keluar dari kamar mandi, Kaivan berdiri di depan cermin, menatap bayangannya sendiri dengan tatapan yang masih agak kabur. Namun, ia menyadari bahwa perkembangan matanya semakin baik sejak kunjungan ke dokter spesialis mata kemarin. Pandangannya yang sebelumnya samar, kini mulai menangkap bentuk dan warna lebih jelas, meskipun belum sempurna.

Kaivan menarik napas dalam, lalu mendesah pelan. Dalam benaknya, ia masih berpura-pura melihat samar setiap kali berhadapan dengan Airin. Ada sesuatu yang menahannya untuk mengungkapkan kebenaran. Mungkin karena ia belum siap sepenuhnya menghadapi perubahan ini, atau mungkin karena ia ingin memperpanjang momen keakraban yang perlahan terbangun di antara mereka.

Sambil menyelesaikan mandi, Kaivan memikirkan Airin. Wajahnya, yang meski belum sepenuhnya terlihat jelas, mulai memunculkan rasa penasaran dalam hatinya. "Seperti apa sebenarnya wajahnya?" gumamnya dalam hati.

Ia tidak bisa menyangkal bahwa Airin memiliki tempat istimewa di hidupnya sekarang, terlebih dengan perhatian yang diberikan wanita itu setiap hari. Tanpa sadar, kenangan malam-malam sebelumnya kembali menghampirinya. Kaivan sering kali terbangun saat merasakan tubuh kecil Airin menyusup dalam pelukannya, mencari kehangatan di tengah udara malam yang dingin.

Kaivan tersenyum tipis, sedikit geli dengan dirinya sendiri. Ia selalu pura-pura menganggap Airin adalah guling saat menyadari kenyataannya. Namun, ia tak pernah tega untuk menjauhkan Airin dari pelukannya. Bahkan, tanpa sadar, ia mulai merasa nyaman dengan keberadaan istrinya yang semakin dekat setiap malam.

"Dia pasti akan malu jika tahu," gumam Kaivan selesai membersihkan tubuh bagian bawah, mengelap dengan handuk, kemudian memakai celana. Ada rasa hangat yang menyusup di dadanya, rasa yang perlahan tumbuh tanpa ia sadari. Mungkin, suatu hari nanti, ia akan memiliki keberanian untuk melihat Airin sepenuhnya, tidak hanya dengan matanya yang sembuh, tetapi juga dengan hatinya.

Setelah keluar dari kamar mandi, Airin membantu Kaivan duduk. Wanita itu mengeringkan rambutnya dengan lembut, lalu menyisirnya degan hati-hati. Setelah selesai, Airin segera menuntunnya ke meja makan yang telah tertata rapi. Aroma makanan hangat memenuhi ruangan, memberikan suasana nyaman di pagi itu.

Airin menyuapinya dengan perlahan. Kaivan, yang kini sudah terbiasa dengan perhatian Airin, menerimanya tanpa banyak komentar. Setelah selesai makan, Airin memberinya obat dan melanjutkan mengobati luka-lukanya yang belum sepenuhnya sembuh.

Setelah mengobati luka Kaivan, Airin memakaikan baju sambil membuka percakapan. "Kak Ivan..." panggilnya pelan, suaranya terdengar ragu.

"Hmm?" Kaivan hanya menggumam tanpa menoleh, matanya yang samar menatap ke depan.

"Aku ingin memakai uang yang Kak Ivan berikan untuk membuka toko kelontong. Menjual kebutuhan sehari-hari, sembako, jajanan, mungkin juga alat rumah tangga," ungkap Airin dengan nada penuh harap.

Kaivan mengangguk kecil. "Bagus. Kalau itu yang kau inginkan, lakukan saja. Uang itu memang untukmu, Airin."

Mendengar dukungan Kaivan, Airin tersenyum lega. "Terima kasih, Kak."

Setelah beberapa saat hening, Airin kembali berbicara dengan hati-hati. "Kak Ivan... boleh aku bertanya sesuatu?"

Kaivan mengangguk pelan. "Tanyakan saja."

"Sebetulnya Kak Ivan berasal dari kota mana? Dan... apa benar Kak Ivan tidak punya keluarga lagi?" tanya Airin dengan nada lembut, namun terdengar penuh keingintahuan.

Kaivan terdiam sejenak. Ia menoleh sedikit ke arah Airin, meskipun pandangannya masih samar. "Kenapa kau ingin tahu tentang itu?"

Airin menggigit bibirnya, ragu sejenak sebelum menjawab. "Aku hanya ingin mengenal Kak Ivan lebih jauh. Kita ini... suami istri sekarang, meskipun baru di mata agama. Lagipula, kita tidak bisa mendaftarkan pernikahan secara resmi karena Kak Ivan tidak punya dokumen apa pun."

Airin menggenggam kerah kemeja Kaivan dengan tangan yang sedikit gemetar, matanya sesekali melirik pria itu yang tetap diam di hadapannya. Sementara ia memasukkan kancing satu per satu, hatinya terasa semakin sesak. Pertanyaannya tadi seolah menggantung tanpa jawaban, meninggalkan keheningan berat di antara mereka.

Kaivan hanya terdiam. Biasanya, ia bisa dengan mudah merangkai kata-kata, tetapi kali ini, ia merasa sulit untuk menjawab. Ia belum siap mengungkapkan jati dirinya, belum ingin membuka masa lalu yang sengaja ia simpan rapat-rapat. Namun, ucapan Airin tentang pernikahan mereka yang hanya sah di mata agama perlahan mengusik pikirannya. Ada sesuatu di balik kata-kata itu yang membuatnya tak nyaman, sebuah kekhawatiran yang tak pernah ia pikirkan sebelumnya.

Melihat Kaivan yang tetap diam, Airin menunduk, menyembunyikan kegelisahannya. Ia merasakan dadanya semakin berat, seperti ada beban yang menghimpit. “Apa aku salah bertanya?” gumamnya dalam hati. Bayangan kemungkinan kehilangan Kaivan mulai menghantui pikirannya, mengingat pernikahan mereka yang tanpa dokumen resmi seolah memberikan celah besar bagi pria itu untuk pergi kapan saja.

Dengan ragu, ia mengangkat pandangannya. “Kak Ivan,” panggilnya pelan, suaranya sedikit bergetar. “Aku… Aku hanya ingin memastikan. Kakak tidak akan pergi, 'kan?”

Kaivan mengerutkan kening, meskipun tatapannya tetap kosong. “Kenapa kau bertanya seperti itu?” tanyanya datar.

Airin menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan hatinya. “Aku hanya… takut. Kita ini hanya menikah secara agama. Kalau suatu saat Kakak berubah pikiran, aku tidak punya cara untuk menahan Kakak pergi.”

...🌸❤️🌸...

.

To be continued

1
Arida Susida
suka bangettt😘😘😘
꧁꒰✨N̊ån̊å K̊i̊år̊å✨ ꒱꧂: Terima kasih KK 🤗🤗🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
echa purin
👍🏻
Memyr 67
𝗂𝗍𝗎𝗅𝖺𝗁 𝗄𝖺𝗅𝖺𝗎 𝗆𝖾𝗇𝗀𝗂𝗄𝗎𝗍𝗂 𝖺𝗉𝖺𝗉𝗎𝗇 𝗄𝖾𝗂𝗇𝗀𝗂𝗇𝖺𝗇 𝖺𝗇𝖺𝗄. 𝗐𝖺𝗅𝖺𝗎𝗉𝗎𝗇 𝗈𝗋𝖺𝗇𝗀𝗍𝗍𝗎𝖺 𝗆𝖾𝗇𝖼𝖺𝗋𝗂 𝗇𝖺𝖿𝗄𝖺𝗁 𝖻𝗎𝖺𝗍 𝖺𝗇𝖺𝗄𝗇𝗒𝖺 , 𝗍𝖺𝗉𝗂 𝖺𝗇𝖺𝗄 𝖻𝖾𝗀𝗈 𝖽𝗂𝗂𝗄𝗎𝗍𝗂 𝗆𝖺𝗎𝗇𝗒𝖺 𝗍𝖾𝗋𝗎𝗌, 𝖺𝗄𝗁𝗂𝗋𝗇𝗒𝖺 𝗆𝖾𝗇𝗀𝗁𝖺𝗇𝖼𝗎𝗋𝗄𝖺𝗇 𝗌𝖾𝗆𝗎𝖺 𝗒𝗀 𝖽𝗂𝖻𝖺𝗇𝗀𝗎𝗇 𝖽𝖾𝗇𝗀𝖺𝗇 𝗆𝖾𝗆𝖾𝗋𝖺𝗌 𝗄𝖾𝗋𝗂𝗇𝗀𝖺𝗍 𝖽𝖺𝗇 𝖻𝖾𝗋𝖽𝖺𝗋𝖺𝗁 𝖽𝖺𝗋𝖺𝗁.
Memyr 67
𝗌𝖾𝗉𝖾𝗋𝗍𝗂𝗇𝗒𝖺 𝗌𝖾𝗋𝗎 𝗂𝗇𝗂. 𝗍𝗈𝗄𝗈𝗁 𝖼𝖾𝗐𝖾𝗄𝗇𝗒𝖺 𝗌𝗈𝗆𝗉𝗅𝖺𝗄
Memyr 67
𝖺𝗂𝗋𝗂𝗇 𝗍𝖾𝗋𝗅𝖺𝗅𝗎 𝗉𝗈𝗅𝗈𝗌. 𝗆𝖺𝗇𝖺 𝖺𝖽𝖺 𝗄𝖾𝗁𝗂𝖽𝗎𝗉𝖺𝗇 𝗍𝖾𝗇𝖺𝗇𝗀 𝖽𝖺𝗋𝗂 𝗂𝗌𝗍𝗋𝗂 𝗌𝖾𝗈𝗋𝖺𝗇𝗀 𝗄𝖺𝗂𝗏𝖺𝗇 𝖺𝖾𝗋𝗈𝗇?
Memyr 67
𝗏𝖺𝗇𝗒𝖺 𝗉𝖾𝗋𝗅𝗎 𝖽𝗂𝖼𝗎𝗋𝗂𝗀𝖺𝗂. 𝖻𝖾𝗋𝗉𝖾𝗇𝖽𝗂𝖽𝗂𝗄𝖺𝗇 𝗍𝗂𝗇𝗀𝗀𝗂 𝗍𝖺𝗉𝗂 𝖻𝗅𝗈𝗈𝗇. 𝗃𝖺𝗇𝗀𝖺𝗇 𝗃𝖺𝗇𝗀𝖺𝗇 𝗂𝗃𝖺𝗓𝖺𝗁𝗇𝗒𝖺 𝗁𝖺𝗌𝗂𝗅 𝗆𝖾𝗇𝗒𝗎𝖺𝗉 𝖽𝖺𝗇 𝗇𝖺𝗂𝗄 𝗄𝖾 𝗋𝖺𝗇𝗃𝖺𝗇𝗀 𝗉𝖺𝗋𝖺 𝖽𝗈𝗌𝖾𝗇𝗇𝗒𝖺.
Memyr 67
𝖿𝗂𝗋𝖺𝗌𝖺𝗍 𝖽𝗂𝗌𝗁𝖺 𝗆𝖺𝗌𝗂𝗁 𝗍𝖺𝗃𝖺𝗆
Memyr 67
𝗁𝖺𝗅𝖺𝖼𝗁 𝗀𝖺𝗇𝗍𝗂 𝗌𝗍𝗋𝖺𝗍𝖾𝗀𝗂, 𝗍𝗎𝗃𝗎𝖺𝗇𝗇𝗒𝖺 𝗌𝖺𝗆𝖺
Memyr 67
𝗄𝖾𝗋𝖺𝗌 𝗄𝖾𝗉𝖺𝗅𝖺, 𝗇𝖺𝗆𝖺 𝗍𝖾𝗇𝗀𝖺𝗁 𝗄𝗅𝖺𝗇 𝖺𝖾𝗋𝗈𝗇. 𝗃𝖺𝗇𝗀𝖺𝗇 𝗍𝖾𝗋𝗅𝖺𝗅𝗎 𝗇𝖺𝖿𝗌𝗎 𝗂𝗇𝗀𝗂𝗇 𝗆𝖾𝗇𝗃𝖺𝗍𝗎𝗁𝗄𝖺𝗇 𝖺𝗂𝗋𝗂𝗇 𝗄𝖺𝗄𝖾𝗄. 𝗇𝖺𝗇𝗍𝗂 𝗆𝖺𝗅𝗎 𝗅𝖺𝗀𝗂, 𝗌𝖾𝗉𝖾𝗋𝗍𝗂 𝖽𝗎𝗅𝗎 𝗐𝖺𝗄𝗍𝗎 𝖽𝖾𝗇𝗀𝖺𝗇 𝖽𝗂𝗌𝗁𝖺.
Memyr 67
𝖻𝗋𝖺𝗆𝖺𝗇𝗍𝗒𝗈 𝗆𝖺𝗄𝗂𝗇 𝗍𝗎𝖺 𝗆𝖺𝗄𝗂𝗇 𝗆𝖾𝗇𝗃𝖺𝖽𝗂. 𝗆𝖾𝗇𝗀𝖺𝗍𝖺𝗂 𝖺𝗂𝗋𝗂𝗇 𝖼𝗎𝗆𝖺 "𝗆𝖾𝗅𝗂𝗁𝖺𝗍" 𝗉𝖾𝗅𝗎𝖺𝗇𝗀 𝗎𝗇𝗍𝗎𝗄 𝗆𝖾𝗇𝗃𝖺𝖽𝗂 𝗄𝖺𝗒𝖺, 𝗆𝖾𝗇𝗎𝗍𝗎𝗉 𝗆𝖺𝗍𝖺 𝗄𝖺𝗅𝖺𝗂 𝗐𝖺𝗇𝗂𝗍𝖺 𝗉𝗂𝗅𝗂𝗁𝖺𝗇𝗇𝗒𝖺 𝗌𝖺𝗆𝖺. 𝗌𝖺𝗆𝖺 𝗆𝖾𝗇𝖼𝖺𝗋𝗂 𝗉𝖾𝗅𝗎𝖺𝗇𝗀 𝗎𝗇𝗍𝗎𝗄 𝖻𝖾𝗋𝗍𝖺𝗆𝖻𝖺𝗁 𝗄𝖺𝗒𝖺.
Memyr 67
𝖺𝗉𝖺𝗅𝖺𝗀𝗂 𝗒𝗀 𝖺𝗄𝖺𝗇 𝖽𝗂𝗅𝖺𝗄𝗎𝗄𝖺𝗇 k𝖺𝗄𝖾𝗄 𝖻𝗋𝖺𝗆𝖺𝗇𝗍𝗒𝗈 𝖽𝖺𝗇 𝗏𝖺𝗇𝗒𝖺. 𝗌𝗎𝖽𝖺𝗁 𝗍𝗎𝖺 𝗃𝗎𝗀𝖺, 𝗇𝗀𝗀𝖺𝗄 𝗄𝖺𝗉𝗈𝗄 𝗄𝖺𝗉𝗈𝗄 𝗄𝖺𝗄𝖾𝗄 𝖻𝗋𝖺𝗆
Memyr 67
𝗆𝖾𝗅𝗂𝖺𝗁, 𝖻𝖾𝗋𝗌𝗂𝖺𝗉 𝗎𝗇𝗍𝗎𝗄 𝗁𝖺𝗇𝖼𝗎𝗋
Memyr 67
𝖺𝗄𝗁𝗂𝗋𝗇𝗒𝖺 𝗄𝖺𝗂𝗏𝖺𝗇 𝗎𝗇𝖻𝗈𝗑𝗂𝗇𝗀.
Memyr 67
𝗄𝗅𝖺𝗄𝗎𝖺𝗇 𝗄𝖺𝗂𝗏𝖺𝗇 𝗒𝖺? 𝖻𝗎𝖺𝗍 𝗋𝗂𝖼𝗁𝗂𝖾 𝖻𝗂𝗇𝗀𝗎𝗇𝗀 𝗍𝖾𝗋𝗎𝗌.
Memyr 67
𝗄𝗈𝗄 𝗌𝖾𝗉𝖾𝗋𝗍𝗂 𝖺𝗅𝗏𝖺 𝗄𝖾𝗃𝖺𝖽𝗂𝖺𝗇𝗇𝗒𝖺? 𝗁𝖺𝗇𝗒𝗎𝗍 𝗌𝖺𝗆𝗉𝖺𝗂 𝗄𝖾 𝗍𝖾𝗉𝗂 𝗉𝖺𝗇𝗍𝖺𝗂?
Memyr 67
𝗎𝗎𝗎𝗁 𝗍𝖾𝗀𝖺𝗇𝗀
Memyr 67
𝗌𝖾𝖻𝖾𝗇𝗍𝖺𝗋, 𝖺𝗊 𝗅𝗎𝗉𝖺. 𝖿𝖾𝗋𝖽𝗒 𝗂𝗇𝗂 𝗒𝗀 𝗂𝗌𝗍𝗋𝗂𝗇𝗒𝖺 2? 𝗒𝗀 𝗌𝖺𝗍𝗎𝗇𝗒𝖺 𝖽𝗎𝗅𝗎 𝗆𝖺𝗌𝗂𝗁 𝗌𝗆𝖺?
Memyr 67
𝗉𝗎𝖺𝗌𝗒 𝗋𝖺𝗌𝖺𝗇𝗒𝖺 𝖺𝗄𝗎 𝗆𝖾𝗇𝗀𝖾𝗍𝖺𝗁𝗎𝗂 𝗄𝖺𝗂𝗏𝖺𝗇 𝗆𝖾𝗇𝖺𝗁𝖺𝗇 𝗁𝖺𝗌𝗋𝖺𝗍𝗇𝗒𝖺. 𝗁𝖺𝗁𝖺. 𝖾𝗀𝗈𝗂𝗌 𝗌𝗂𝗁, 𝗇𝗀𝗀𝖺𝗄 𝗆𝖺𝗎 𝗃𝗎𝗃𝗎𝗋 𝗌𝗎𝖽𝖺𝗁 𝖻𝗂𝗌𝖺 𝗆𝖾𝗅𝗂𝗁𝖺𝗍 𝖽𝖾𝗇𝗀𝖺𝗇 𝗇𝗈𝗋𝗆𝖺𝗅.
Memyr 67
𝗈𝗍𝗁𝗈𝗋 𝗍𝖾𝗋𝗅𝖺𝗅𝗎 𝗁𝖾𝖻𝖺𝗍 𝗆𝖾𝗆𝖻𝗎𝖺𝗍 𝖼𝖾𝗋𝗂𝗍𝖺𝗇𝗒𝖺. 𝗌𝖺𝗆𝗉𝖺𝗂 𝗐𝖺𝗄𝗍𝗎 𝖺𝗄𝗎 𝖼𝗈𝖻𝖺 𝗅𝗈𝗆𝗉𝖺𝗍 𝖾𝗉𝗂𝗌𝗈𝖽𝖾, 𝖺𝗄𝗎 𝗆𝖺𝗅𝖺𝗁 𝖻𝗂𝗇𝗀𝗎𝗇𝗀. 𝗆𝖾𝗆𝖺𝗇𝗀 𝗁𝖺𝗋𝗎𝗌 𝖽𝗂𝖻𝖺𝖼𝖺 𝗆𝖾𝗇𝗀𝗂𝗄𝗎𝗍𝗂 𝗎𝗋𝗎𝗍𝖺𝗇𝗇𝗒𝖺, 𝗍𝖺𝗄 𝗇𝗂𝗌𝖺 𝗅𝗈𝗆𝗉𝖺𝗍 𝗅𝗈𝗆𝗉𝖺𝗍.
Diana Dwiari
sepasang mata yang mengamati....Hem....kira2 siapa ya...anak buahnya Ferdi atau orang kampung
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!