Selama 2 tahun menjalin mahligai rumah tangga, tidak sekali pun Meilany mengucapkan kata 'tidak' dan 'tidak mau' pada suaminya. Ia hanya ingin menjadi sosok seorang isteri yang sholehah dan dapat membawanya masuk surga, seperti kata bundanya.
Meski jiwanya berontak, tapi Mei berusaha untuk menahan diri, sampai pada akhirnya ia tidak bisa menahan lagi ketika suaminya meminta izinnya untuk menikah lagi.
Permintaan itu tidak membuat Mei marah. Ia sudah tidak bisa marah lagi ketika sudah kehilangan segalanya. Tapi ia juga tidak bisa tinggal di tempat yang sama dengan suaminya dan memilih pergi.
Selama 7 tahun Mei memendam perasaan marah, sampai pada suatu ketika ia menemukan kebenaran di dalamnya. Kebenaran yang sebenarnya ada di depan matanya selama ini, tapi tidak bisa ia lihat.
Bisakah Mei memperbaiki semuanya?
*Spin off dari "I Love You, Pak! Tapi Aku Takut..."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jnxdoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 25 - Pertengkaran (2)
"Kamu pikir cuman kamu yang sakit, Mei? Kamu pikir, cuman kamu yang kehilangan!? Dia juga anakku, Mei! Anak dari wanita yang aku cintai!! Wanita yang justru buat aku gila! Wanita yang sama sekali tidak mau mempertahankan aku sebagai suaminya! Wanita yang rela menyerahkan aku untuk perempuan lain! Itulah kamu, Mei!! Wanita egois yang berfikir, hanya dirinya sendiri yang menderita!"
Semburan perasaan Aslan yang baru kali ini didengarnya, membuat Mei mematung. Tidak mengira.
"Aku juga sakit, Mei! Aku juga ingin nyusul anakku ke alam sana, kalau ga inget masih ada kamu! Kamu masih hidup! Kamu akan kembali! Kamu pikir, kenapa mas masih nyiremin tanaman kamu, Mei..."
Tangis Aslan pecah. Ia sudah tidak punya harga diri sebagai lelaki maskulin di depan isterinya. Ia sudah tidak peduli lagi. Pria itu menangis tersedu-sedu.
"Mas nunggu kamu, Mei... Mas selalu nunggu kamu... Mas nungguin kamu seperti orang gila tiap hari... Tiap mas buka pintu, yang mas lihat cuman muka kamu, Mei... Cuman kamu... Tapi kenapa kamu tega nyakitin mas kaya gini... Kamu tega, Mei... Mas sudah ga punya siapa-siapa... Cuman kamu yang mas punya, dan kamu masih tega ninggalin mas, Mei... Kamu tega..."
Tidak ada yang bisa dilakukan Mei selain memeluk suaminya erat-erat. Hatinya menangis. Hatinya merasa sangat bersalah pada pria ini.
Mencengkeram erat kepala Aslan yang ada di perutnya, mata Mei juga mengalirkan air di pipinya.
"Maafin Mei, mas. Mei sangat berdosa pada mas Aslan."
Di sore yang sendu itu, dua orang itu pada akhirnya dapat memperlihatkan perasaan masing-masing tanpa harus memakai topeng lagi. Topeng yang membuat hidup mereka menderita. Membuat ikatan pernikahan mereka berada di ujung tanduk, dan membuat mereka berpaling satu sama lain.
Baru kali ini, mereka akhirnya berani mengkonfrontir perasaan masing-masing.
Sementara itu di luar, petir mulai menggelegar dan tidak lama, turun hujan sangat deras membasahi bumi.
Malamnya, tampak Mei duduk di ruang tamu. Beberapa lama ia hanya memandangi ponselnya dan menatap jam di dinding. Setelah menelan ludah beberapa kali, akhirnya ia melakukan panggilan pada seseorang.
"Halo, Tuan Conrad? Maaf mengganggu Anda pagi-pagi. Saya ketinggalan pesawat siang tadi."
Kepala wanita itu sedikit menunduk. Apapun keraguan yang tadinya terbersit di wajahnya tidak ada lagi, saat wanita itu mengangkat muka dan terbentuk senyuman kecil di sudut bibirnya.
"Tidak, sir. Saya tidak memerlukan tiket pengganti. Sepertinya keputusan resign saya akan saya percepat. Saya tidak akan kembali lagi ke sana, Tuan Conrad. Anda harus mencari sekretaris pengganti saya."
Di belahan dunia lain nun jauh di sana, tampak sesosok lelaki sangat tampan sedang memegang ponselnya.
"Jadi keputusanmu sudah bulat? Kau tidak akan kembali lagi?"
Jawaban di seberang sana membuat Conrad mengangguk. Tampak senyuman penuh ironi di bibirnya.
"Baiklah. Aku menghormati keputusanmu, Mei. Aku tidak akan memaksamu untuk tinggal."
Senyuman itu perlahan lebih rileks saat mendengar perkataan selanjutnya.
"Tentu saja kau harus bertanggungjawab. Kau meninggalkan banyak pekerjaan yang TIDAK mau aku kerjakan sendirian. Kau harus ikut mencari penggantimu, dan aku tidak mau kemampuan orang itu di bawahmu. Bagaimana pun caranya, kau harus mencari 'kembaranmu' di luar sana untuk mau bekerja denganku."
Kekehan terdengar dari mulut Conrad, sampai akhirnya pria itu terdiam beberapa saat.
Suaranya terdengar tenang ketika bertanya lagi, "Kau kembali padanya?"
Kedua mata hijaunya sedikit berkaca-kaca, dan ia menunduk. Tampak bahunya naik saat ia menarik nafas yang terlihat sedikit sulit baginya. Jakunnya naik-turun, menelan isakan yang mengancam hampir keluar.
Ia menjadi cengeng. Julius Conrad sang playboy yang tidak pernah berkomitmen pada seorang pun, ternyata telah menjadi lelaki cengeng saat ia menemukan cinta pertamanya. Cinta pertama yang juga telah menjadi patah hati pertamanya. Baru kali ini ia ditolak wanita yang disukainya.
Sepertinya Mei memang telah memberikan pelajaran berharga untuknya. Bahwa sebagaimana tampannya dirimu, seberapa banyaknya uang di rekeningmu, tetap saja ada sesuatu yang membuatmu dapat kalah dari seseorang yang kau kira tidak memiliki apapun. Apa yang menyebabkannya?
Pertanyaan itulah yang tidak bisa dijawab Conrad. Pertanyaan yang sama, kenapa ia bisa jatuh cinta pada sekretarisnya sendiri. Wanita yang sebenarnya biasa saja bila dibandingkan dengan mantan kekasihnya yang lain. Tapi hanya wanita itu yang membuatnya mau bersikap hormat, dan juga kagum padanya.
Wanita itu telah berhasil membuatnya bertekuk lutut, meski ia tidak akan pernah mengakuinya.
"Semoga kau bahagia, Mei. Aku harap, kau tidak menyesal telah menolakku dan malah memilih orang itu. Kau melewatkan berlian hanya untuk sebutir debu dan remahan remeh-temeh. Ingat itu."
Suara tawa yang renyah terdengar dari mulut pria itu.
"Baiklah. Salam untuk suamimu. Titip juga tonjokan yang belum sempat aku berikan padanya."
Setelah mengucapkan salam, pria itu menutup panggilan. Tampak ia melamun beberapa saat, dan tangannya meraih botol minuman yang ada di ujung meja kerja. Baru saja ia akan menuangkan ke gelas, saat tangannya tiba-tiba saja terhenti di udara.
Kembali senyuman terukir di bibirnya dan perlahan, Conrad menutup lagi botol kaca itu.
Ia akhirnya berdiri dan menghela nafas sangat panjang. Bibirnya masih tersenyum, kali ini lebih lebar.
"Oh, Meilany... Kau sudah berhasil membuatku ingin berhenti. Memang s*alan kau ini."
Merasakan perasaan yang jauh lebih ringan, Conrad keluar dari ruangan dan bersiap menghadapi hari.
meican Ama aslan gak terpisah
bibit bebet bobot penting, agama penting, kaya penting....
tapi juga gak penting penting amat
yang terpenting watak dan akhlak...
jika baik insyaallah rumah tangga juga baik.....
makasih Thor.........
payah loe Aydin