Jameela Iskandar , seorang putri dari konglomerat kaya raya, dia wanita yang cantik , baik hati , juga sukses dalam karir.
Dirga Wijaya, seorang CEO kondang , pebisnis muda yang sukses . tampan , mapan , idaman semua wanita .
Dirga dan Jameela menikah karena saling mencintai, bukan karena perjodohan bisnis . Dirga sangat menyayangi dan mencintai Jameela begitu besar . hingga rasa cinta itu merubahnya menjadi sosok yang posesif.
pada awslnya punya suami posesif memang membuat hati wanita tersanjung , tapi ternyata posesif nya tak selamanya membawa bahagia
karena kelewat posesif nya menjadikan dia cemburu buta dan bertindak berlebih .
sehingga karena cemburu buta itu , berubah menjadi kemarahan tanpa dasar , dan jatuhlah talak tiga dari mulut Dirga
Dirga menyesali nya dan ingin rujuk kembali
bisakah keduanya bersatu kembali
lalu bagaimana dengan tanggapan dari orang tua Jameela, relakan mereka melepas putrinya kembali
ikuti kisahnya dalam
Talak Tiga Suamiku
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Agung dan Jameela
Ceklek...
Bunyi pintu kamar mandi yang terbuka, membuat Jameela menolehkan kepalanya. Akan tetapi tak tampak Agung keluar dari sana; hanya kepalanya saja yang menyembul sedikit.
"Kamu ngapain sih di kamar mandi lama-lama? Laki-laki loh kamu itu! Kayak cewek aja; masak iya cowok di kamar mandi lebih dari satu jam? Emangnya apa yang kamu kerjain di kamar mandi? Luluran...?" selidik Jameela dengan tatapannya yang penuh tanya.
"Emm... itu... Nyonya...?" panggil Agung ragu.
"Iya, buruan keluar!! Ngapain lagi sih?!" Jameela heran dengan tingkah suami barunya; yang tak juga keluar dari kamar mandi, selain hanya melongokkan sedikit kepalanya saja.
"Em... itu, Nyonya, mau minta tolong boleh tidak? Maaf sebelumnya!" ucap Agung ragu.
"Tolong apaan?!" seru Jameela.
"Itu, Nyonya, tolong ambilkan saya baju ganti di koper!" Dengan ragu akhirnya Agung menyuarakan permintaan tolongnya. Tadi karena malu dan gugup, Agung langsung berlari ke kamar mandi tanpa membawa baju gantinya terlebih dahulu.
"What...?" Jameela yang semula berselonjor kaki, dengan bersandar di headboard ranjang pun menegakkan badannya.
Ini bukan adegan novel yang dibalikkan. Bukankah biasanya itu ceweknya yang malu-malu karena lupa bawa baju ganti? Kenapa adegannya jadi terbalik?
Sementara Agung sendiri wajahnya sudah semerah udang rebus. Sudahlah harus berjuang sendirian menaklukkan si Joni; sekarang pas udah berhasil memenangkan pertarungan dan mau pulang dengan membawa rasa bangganya dari medan perang, malah ternyata dia lupa kalau tadi berangkat ke medan perang tanpa membawa senjata.
"Dasar perawan!" gerutu Jameela. Ya, menurut Jameela, tingkah Agung tidaklah ubahnya gadis yang masih perawan; makanya malu-malu meong. Kalau dia sendiri kan emang sudah janda tiga kali, jadi tak ada istilah malu-malu lagi.
Hanya saja dia tak menyangka, Agung yang menurut kakaknya memiliki jiwa kepemimpinan yang tinggi, tegas dan lugas ketika di perusahaan, akan bersikap seperti ini di depannya.
Jameela menyeringai; ingin sekali dia mengerjai Agung. Untuk itu dia segera turun dari ranjangnya dan menuju kamar mandi.
Tok tok.
Jameela mengetuk pintu kamar mandi.
"Berikan sini, Nyonya..." Agung hanya mengulurkan tangannya saja tanpa membuka lebar pintu tersebut.
Jameela meletakkan sesuatu di tangan Agung.
"Terima kasih, Nyonya..." ucap Agung lalu menarik tangannya dan kembali menutup pintu.
"Ya Tuhan... apa ini...?" Agung melihat kain yang ada di tangannya. "Kenapa bajuku berubah seperti ini?!" Agung menjereng kain itu; kain berwarna merah menyala, yang bentuknya membuat dia kembali menelan ludah kasar. "Ini lebih mirip... jaring ikan!"
Jameela yang masih berdiri bersandar di dinding di sebelah pintu tertawa pelan dengan memegangi perutnya. Membayangkan apa yang dilakukan Agung dengan lingerie yang dia berikan tadi.
Jameela sendiri juga bingung sebenarnya, bagaimana baju haram itu bisa ada dalam kopernya. Perasaan dia tak memasukkan barang seperti itu waktu mengemas koper kemarin. Apa ini perbuatan Maid ataukah... Mommy? Wanita yang telah melahirkannya hampir tiga puluh tahun yang lalu itu lebih kayak menjadi tersangka utama.
"Agung... sudah belum...?" teriak Mila.
"Ah, itu... Nyonya..."
Brak. Jameela mendorong kuat sehingga pintu terbuka lebar.
Kedua-duanya saling tatap sesaat; Agung yang kaget karena pintu terbuka, dan Jameela yang terperangah dengan apa yang dilihatnya.
"Aaaaaaa..." Jameela berteriak kencang lalu membalikkan badan sambil menutup wajahnya dengan telapak tangan.
"Walaupun sudah pernah menikah, akan tetapi melihat sesuatu milik lelaki lain untuk pertama kalinya, meskipun kini lelaki itu telah sah menjadi suaminya, tetap saja terasa aneh."
"Agung... apa-apaan kamu itu...?" teriak Mila tanpa melihat ke belakang.
"Maaf, Nyonya, baju yang Nyonya ambilkan, kan tidak mungkin saya pakai...?" bantah Agung pelan.
"Kamu kan bisa pakai handuk mandi dulu, baru keluar cari baju!" sentak Mila lagi. Wajahnya masih terasa panas, karena adegan yang dialaminya barusan.
Jameela memukul kepalanya yang baru saja terkontaminasi virus blue film. Bayangan roti sobek milik Agung yang belum pernah terbayangkan sebelumnya. Sekarang nyata di depan mata.
Selama ini Agung memang tak pernah memakai baju pres body seperti kebanyakan pria macho di luar sana yang suka memamerkan tubuh kekarnya. Agung lebih suka memakai baju yang sedikit longgar.
"Oh iya ya..." Agung menepuk keningnya yang tak terpikirkan kan dengan adanya kain lebar yang tergantung di dinding kamar mandi. Gegas Agung mengambil handuk berbentuk kimono itu, dan menggunakannya untuk membalut tubuhnya.
"Saya sudah selesai, Nyonya; apa Nyonya akan ke kamar mandi lagi?" tanya Agung. Jameela membalikkan badannya; menatap tubuh Agung yang sudah berbungkus handuk.
"Ya sudah sana pakai baju kamu; nanti masuk angin lagi?!" Mila berkacak pinggang menyembunyikan kegugupannya.
"Ah iya, Nyonya..." Agung berniat hendak segera berlalu dari depan pintu kamar mandi. Akan tetapi naas; Agung benar-benar ceroboh yang tidak mengeringkan dulu kakinya, hingga membuatnya terpeleset.
"Aaaaa..." Sebenarnya Jameela hanya hendak menolong, dengan menarik tangan Agung agar tak sampai terjatuh. Akan tetapi justru dirinya yang ikut tertarik oleh Agung lalu...
Bruk... Keduanya terjatuh dengan posisi Jameela menindih tubuh Agung.
Deg.
Deg.
Deg.
Keduanya terpaku saling tatap. Agung tak menyangka akan berada dalam posisi sedekat itu dengan Nyonya Jameela; majikan yang berubah status menjadi istri.
Jameela menelan ludahnya kasar, saat tatapannya tertuju pada bibir Agung yang merah, karena Agung bukan pengkonsumsi nikotin. Bibir yang sedikit tebal, dan padat berisi itu tampak begitu... menggoda.
Cup.
Tanpa sadar Jameela mengambil inisiatif untuk maju duluan. Sebagai wanita yang pernah menikah, dan sudah lebih dari empat bulan tidak lagi merasakan kehangatan, adanya tubuh Agung di bawah kungkungannya membuatnya tak bisa menahan diri.
Agung tak percaya dengan apa yang dia terima dari wanita yang kini berstatus istrinya itu. Tapi dia tersadar.
Cup...
Agung membalas apa yang dilakukan Jameela. Tak berhenti sampai di situ, Agung menahan tengkuk Jameela untuk memperdalam ciuman mereka. Agung tahu jika nantinya Jameela tersadar bahwa dia yang mengambil tindakan duluan, kemungkinan istrinya itu akan merasa malu. Dan Agung tidak ingin itu terjadi; harga diri istrinya harus tetap terjaga. Tak masalah jika dia mengkambinghitamkan diri sendiri; toh enak juga, dan sudah halal; sah-sah saja dia melakukan itu pada istrinya sendiri, pikir Agung.
"Manis..." ucap Agung yang posisinya masih berada di bawah istrinya. Jameela yang baru tersadar begitu malu dengan apa yang terjadi, dan hendak segera bangkit. Tetapi Agung menahan pinggangnya.
"Lepasin, ish..." ucap Jameela dengan wajahnya yang sudah seperti udang rebus.
"Maaf..." ucap Agung lalu bangkit duduk tanpa melepas pinggang Mila dari rengkuhan tangannya, hingga kini posisi Mila berada dalam pangkuannya.
"Maaf, saya lancang!" ucap Agung. "Tapi saya tidak menyesalinya!" lanjut Agung.
"Kamu!!" Jameela tak bisa melanjutkan kata-katanya; dia tak tahu mau berkata apa.
"Boleh minta lagi?" tanya Agung sambil mengedipkan matanya. Dia mencoba menggoda istrinya, walau dia sendiri harus mati-matian menahan debaran jantungnya yang bergemuruh.
"Ish..." Jameela memukul pelan dada Agung dengan kepalan dua tangannya, lalu beranjak. Agung melepaskan tubuh istrinya, tak mau bertindak lebih jauh lagi; setidaknya untuk sekarang...