Mengidap Endometriosis, bagai vonis mimpi buruk bagi wanita mana pun hingga terpaksa melakukan operasi dan proses bayi tabung, namun perceraian justru harus terjadi.
Berjuang sebagai orang tua tunggal dengan kehadiran kedua buah hati yang terlahir fraternal, membuat hari-hari Irene tidak terduga hingga pertemuan tak terduga kembali terjadi dengan Hendrik, menyisakan pertanyaan yang tanpa diketahui ada bahaya mengancam di saat kebenaran mulai terungkap.
Di saat pertemuan dan genggaman tangan itu menarikmu, apa kau akan berbalik untuk bersama atau justru meninggalkan kembali?
Ikuti kisah Irene & Hendrik selanjutnya, tak lupa Xander & Xavia yang menggemaskan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fidia K.R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cinta dan Benci 5
Dekapan yang sempat terlupakan, terasa begitu hangat saat melingkar sempurna. Sedikit demi sedikit terbangun dengan keadaan yang tidak pernah terbayangkan, kemana perginya kesadaran diri yang menghilang sebelumnya?
Tersadar akan rangkulan tangan besarnya, sungguh terkejut menatap diri tak lagi berbusana. Entah apa yang terjadi semalam, daya ingat tak sedikit pun membantu tak kala efek minuman beralkohol membuat pikiran tidak dapat berpikir secara rasional.
Aa-apa yang terjadi?? Ba-bagaimana bisa aku tertidur di sebelah Hendrik? Ada di mana ini?! Aaakkhh ... kepalaku pusing sekali! Apa yang terjadi semalam?! Gumam Irene dalam hati tak kala mencoba mengembalikan kesadarannya yang masih diambang batas.
Selimut kain berwarna putih pun menjadi saksi bisu akan kenangan seperti apakah yang terlupakan oleh Irene semalam. Bagai hilang akal sehat, kekesalan melanda Irene yang selalu saja bersikap konyol tak kala minuman beralkohol menguasai kesadaran alam bawah sadarnya.
(TING TONG) (TING TONG) “Morning Sir, room service,” ucap salah satu pegawai hotel yang membunyinya bell kamar.
Tatapan Irene menjurus pada Hendrik yang masih tertidur lelap entah rasa lelah seperti apa yang membuatnya begitu lelapnya tertidur pulas. Tidak seperti biasanya, ia terjaga dengan hanya mendengar suara kecil disekitarnya. Tidak mempunyai pilihan lain, Irene pun segera berjalan menuju toilet dan menggunakan bathrobe yang disediakan.
“Morning Mrs. Kessler, ini adalah sarapan serta baju yang sudah kami bersihkan sesuai permintaan Mr. Kessler semalam,” ucap pegawai tersebut saat selesai mendorong sebuah trolly berisi menu sarapan dan dua hanger baju pada Irene.
“Te-terima kasih banyak,” balas Irene pada petugas yang berlalu pergi meninggalkan kamar.
Meski diburu oleh berbagai pertanyaan, tidak perlu menunggu waktu lama Irene berjalan menuju toilet lainnya yang berada di luar kamar utama untuk berganti pakaian dan merapikan riasan wajahnya. Menatap pada pantulan cermin dihadapannya, Irene yang sedang bertanya-tanya pun baru menyadari bahwa saat ini melingkar sebuah cincin pernikahan berhias permata yang indah disalah satu jemarinya.
“Sungguh Irene ... apa yang terjadi semalam? Apa yang kau lakukan?!” Irene memerantakkan rambutnya kembali meski sudah tertata rapi karena merasa kesal pada dirinya sendiri.
Tahu tidak akan menyelesaikan masalahnya, berjalan keluar untuk segera meninggalkan kamar hotel, tidak tebersit dalam bayangannya tak kala Hendrik justru sudah menunggu, tentunya dengan penampilan yang juga menawan seperti biasanya.
“Morning ... kenapa kau menggunakan toilet itu dan bukan toilet di kamar?” tanya Hendrik sembari mempersiapkan sarapan di meja makan, dengan terlihat begitu santai seolah tidak ada yang terjadi.
“Hendrik, itu ... apa semalam kita ....”
“Ya? Sarapanlah dulu mumpung masih hangat. Kau menyukai soup cream ayam bukan? Aku sengaja memesannya untukmu," Hendrik pun tersenyum dari kejauhan ke arah Irene.
Bagai tertarik medan magnet, Irene mengikuti perintah Hendrik seperti robot yang dapat dikendalikan. Menatap tepat saat berada di hadapannya, Hendrik benar-benar terlihat seperti biasa, hingga membuat Irene merasa kebingungan bagai makanan dan minuman yang sedang ia santap saat ini entah terasa manis atau asin, sungguh hambar terasa bagi Irene.
(BEEP BEEP BEEP) Suara alarm handphone Irene yang berbunyi.
AARRGH! Bagaimana bisa aku melupakan hari ini ada pertemuan orang tua murid dan pentas seni di sekolah anak-anak?! Gumam Irene dalam hati setelah menatap layar handphonenya. Menghabiskan makanan dan minumannya begitu cepat, Irene pun selesai hanya dalam waktu beberapa menit.
“Terima kasih atas sarapannya ... maaf aku harus pergi,” Irene bangkit dari tempat duduknya dan merapikan kembali penampilannya untuk bersiap meninggalkan kamar.
“Tunggu Irene, kau mau kemana?” tanya Hendrik saat menghentikan langkah Irene.
“Ada pertemuan orang tua murid dan pentas seni yang akan berlangsung kurang dari 1 jam lagi di sekolah anak-anak,” balas Irene.
“Baiklah, aku akan mengantarmu. Kita pergi sekarang,” Hendrik berbalik untuk mengenakan jas dan mengambil kunci mobilnya yang tergeletak di atas meja.
“Tunggu dulu, Hendrik ... kau tidak perlu mengantarku, sungguh ... ini acara pertemuan orang tua murid, jadi hanya aku saja yang harus da—” Irene seketika terdiam tak kala Hendrik mendaratkan sebuah ciuman lembut padanya.
“Kenapa sifat cerewetmu belum hilang juga?”
Habis sudah rangkaian kata yang ingin Irene utarakan. Berbagai pertanyaan pun terhapus dalam ingatannya saat ini tak kala Hendrik tersenyum dan menggenggam tangan Irene. Tertegun pada jemarinya, Irene dengan jelas melihat sebuh cincin pernikahan dengan desain ukiran yang sama dengannya, melingkar di jari manis Hendrik.
Berputar dalam lingkup yang tidak ia mengerti, aturan garis keras yang sempat Irene tanamkan dalam diri pun, hancur sudah habis tak tersisa dengan mudahnya bersama kenangan yang sama sekali tidak ia ingat meski berupa penggalan kejadian penting. Namun Hendrik terlihat seperti sama sekali tidak memperdulikannya.
Jika keluarga pada umumnya menghabiskan waktu di hari pekan dari pagi menuju petang bersenda gurau bersama, bagi Xander dan Xavia yang terlihat begitu bahagia, cukup hanya dengan Hendrik yang menjemput mereka dan berniat mengantarkan menuju sekolah.
“Terima kasih sudah mengantarkan kami,” ucap Irene sembari melepas safety beltnya.
“Paman, apa Paman nanti akan menjempu—”
“Tidak Hunny, Paman Hendrik ada banyak urusan yang harus diselesaikannya ... jadi jangan membuatnya kesulitan karena permintaan kalian,” tegas Irene pada Xander dan Xavia yang kini menundukkan kepalanya merasa sedih akan keinginannya yang tidak bisa terwujud.
Menggenggam kedua kembar di samping kanan dan kirinya, Irene sedikit menundukkan kepalanya pada Hendrik seraya perpisahan dan berjalan bersama kedua hatinya masuk ke dalam gerbang sekolah. Tanpa sempat berucap, Hendrik hanya mampu terdiam tak kala ia pun menyadari akan tembok tinggi yang masih harus ia hancurkan jika ingin membawa Irene kembali ke pelukannya.
“Lihat, kenapa kalian ke sekolah?? Mana Daddy kalian?!”
“Iya, kata mommyku, mommy kalian wanita nakal! ... Jadi kalian juga pasti nakal!”
Ucapan yang dikatakan teman-teman Xander dan Xavia pun lantang terdengar bahkan saat baru akan memasuki pintu gerbang masuk sekolah. Tak kala jemari mereka yang menunjuk dengan tidak sopan ke arah Irene, sungguh Irene dan kedua buah hatinya begitu tersudut penuh hina.
Irene memeluk kedua buah hatinya seraya menutupi telinga mereka dengan menyanyikan lagu kesukaan Xander dan Xavia untuk mengalihkan perhatian mereka, namun meski Xander dan Xavia ikut bernyanyi bersama Irene, tangisan anak tanpa dosa pun mengalir tak tertahan dengan jeritan sakit hari mereka yang begitu memilukan.
Irene yang akhirnya tidak kuasa pun memeluk kedua buah hatinya begitu erat, dengan kebingungan yang melandanya akan sudutan dari cemooh serta tatapan orang tua murid lainnya yang menganggap Irene sebagai wanita yang memberikan efek buruk pada anak-anak mereka.
“Kenapa kalian menangis di sini? Maaf, parkiran mobil penuh, jadi tadi harus berputar sekali.”
Suara pria yang tidak terduga pun muncul bagai pangeran kerajaan yang berniat ingin menyelamatkan tuan putri. Irene tak kuasa kembali tertegun pada Hendrik yang begitu lembut dan perhatian mengusap air mata Xander dan Xavia, tak luput tangisan Irene saat menitik tak tertahan.
Kedatangan Hendrik ke sekolah menimbulkan kepanikan akan suara-suara yang begitu ramai berbicara di belakang mereka. Tak kala mengambil sebuah foto atau video lainnya, Hendrik tidak lagi memperdulikan mereka, dengan hanya menitikkan perhatiannya pada Irene dan kedua kembar yang kini mulai terlihat lebih tenang.
“Ayo, Kita masuk ke dalam bersama-sama,” ucap Hendrik tersenyum lembut.
“Paman ... apa Paman mau bergandengan tangan dengan kami?” tanya Xavia dengan Xander yang langsung mengulurkan salah satu tangannya pada Hendrik.
“Suatu kebanggaan untukku bisa berjabat tangan dengan tuan putri dan ksatria raja ... jika kalian mau, berhentilah memanggilku Paman dan panggil aku Daddy, atau Papa?”
“DADDYYYY ....”
Irene tak kuasa menutup mulut dengan kedua tangannya tak kala kedua buah hatinya berlari memeluk Hendrik dengan suara lantang yang dapat terdengar oleh siapa pun. Berusaha untuk tidak menangis, Irene sengaja memalingkan wajahnya dan menadah menuju langit biru untuk menghentikan air matanya menitik kembali.
Hendri tersenyum bahagia tak kala Xander dan Xavia bersedia menganggapnya sebagai sosok seorang ayah meski sebenarnya kedua kembar memang adalah anaknya. Dengan menggendong kedua kembar di tangannya, Irene berjalan mengikuti Hendrik dari arah belakang.
“Duduk dan perhatikan baik-baik apa yang diucapkan Miss Helen and Miss Jean, Okey?” pinta Irene pada kedua buah hatinya karene berbeda kelas.
“Okey Mommy ... Daddy, rekam aku nanti ketika menari di atas panggung ya,” pinta Xavia dengan melingkarkan tangannya pada kaki Hendrik, seraya bersikap jahil.
“NO NO NO, Daddy! ... nanti Xander akan membacakan puisi lebih dulu dari Via, jadi aku duluan yang harus Daddy foto!” Xander menarik jas Hendrik dengan adu mulut kedua kembar yang tak terhenti.
Pemandangan layaknya sebuah keluarga, berita kembali tersebar begitu cepat. Menemukan titik terang dengan bukti yang bertolak belakang dari yang sebelumnya diberitakan, kehadiran Hendrik ke sekolah benar-benar memberikan dampak jauh berbeda bagi Irene dan kedua kembar.
Pertanyaan selanjutnya yang hadir adalah, apakah Xander dan Xavia adalah pewaris murni dari keluarga Kessler. Berita simpang siur pun bergema kembali dengan buruknya penghakiman yang tidak masuk akal untuk dilakukan pada anak berumur lima tahun itu. Menyadari hal itu, tentu Hendrik akan menyiapkan serangan balasan yang akan membuat mereka menutup mulut penuh rasa bersalah.
Acara pertemuan orang tua dan pentas seni pun berlangsung meriah dengan Xander dan Xavia yang memenangkan juara utama karena penampilan mereka yang luar biasa. Kembali berjalan bersama, Hendrik sudah tidak lagi perduli akan apa yang dikatakan orang banyak dengan hanya fokus membahagiakan Irene dan kedua kembar yang baru menerimanya sebagai sosok seorang ayah.
“HENDRIK KESSLER!”
Langkah Hendrik dan Irene pun terhenti tak kala pandangan itu menangkap sosok kedua orang tua yang terlihat begitu memendam amarah. Irene yang begitu terkejut tak sadar menundukkan kepalanya begitu merasa ketakutan setengah mati.
“Papa ... Mama,” ucap Hendrik pada kedua orang tuanya yang menghentikan mereka saat baru akan masuk ke dalam mobil.
“Kau ... bukankah kau pergi begitu saja dengan memberikan rasa malu pada keluarga Kessler karena bercerai dengan Hendrik?! Untuk apa kau kembali!” sentak Mia penuh marah.
“Ma! Please, kita bicarakan di tempat lain.”
Tertutup pada perkataan. Sungguh jika ingin melarikan diri sejauh mungkin atau menghilang pun ingin sekali dilakukan, tak kala tatapan dan perkataan kembali menusuk tajam. Haruskah kembali berdiam diri dengan tidak melakukan apa pun?