Asiyah Musfiroh adalah fenomena di Pondok Pesantren Ar-Rahma. Kecerdasannya melampaui logika; mengkhatamkan 30 juz Al-Qur'an hanya dalam setahun hingga dijuluki sang "Permata". Namun, cahaya itu justru mengundang takdir yang tak pernah ia pilih.
Ustadz Ahmad Zafran Al Varo, pengajar muda yang karismatik, terpikat pada kedalaman ilmu dan adab Asiyah. Tanpa menunggu lama, di depan wali santri, Zafran mengutarakan khitbahnya. Tanpa diskusi, apalagi restu sang putri, orang tua Asiyah langsung menerima lamaran sang Ustadz.
Bagi semua orang, ini adalah pernikahan impian. Namun bagi Asiyah, ini adalah penjara. Ia terjepit di antara pengabdian kepada orang tua dan kejujuran hatinya yang menolak sosok Zafran yang dianggapnya terlalu "sempurna".
"Bagaimana mungkin aku bisa menjaga wahyu Tuhan di dalam dadaku, jika hatiku dipenuhi kepura-puraan terhadap imam yang tidak pernah kupinta?"
Saat ketaatan berbenturan dengan rasa, mampukah cinta tumbuh di sela-sela ayat suci...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khaassyakira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
GEMA FITNAH DI LANGIT NIL
Matahari baru saja terbenam di ufuk barat Kairo, meninggalkan semburat warna ungu di langit Nasr City. Asiyah baru saja kembali dari perpustakaan Al-Azhar dengan tas yang sarat akan buku-buku referensi hadis. Langkahnya terhenti tepat di depan pintu apartemennya saat melihat sebuah amplop cokelat tanpa nama terselip di celah bawah pintu. Dengan kening berkerut, ia memungut amplop itu dan masuk ke dalam ruangan yang kini terasa begitu lengang tanpa kehadiran Zafran.
Asiyah meletakkan tasnya di atas meja makan, lalu dengan tenang ia merobek amplop tersebut. Di dalamnya terdapat sebuah foto lama saat ia masih menjadi santriwati di Ar Rahma, namun wajahnya telah dicoret dengan tinta merah, dan di baliknya tertulis sebuah kalimat singkat: "Masa lalu tidak pernah benar-benar terkubur, Wahai Hafizah pengecut."
"Siapa yang melakukan ini? Apakah kaki tangan Salamah masih berkeliaran di sini?" bisik Asiyah pelan.
Meskipun hatinya berdesir takut, ia segera menguasai diri. Ia tidak ingin panik. Dengan gerakan tegas, ia mengambil ponsel dan menghubungi Fatimah. Tidak butuh waktu lama bagi Fatimah untuk sampai di apartemen Asiyah dengan wajah yang tampak cemas.
"Ada apa, Asiyah? Suaramu di telepon tadi terdengar sangat serius," tanya Fatimah sembari meletakkan tasnya di sofa.
Asiyah menyerahkan foto dan surat itu tanpa banyak bicara. Fatimah membacanya dengan saksama, lalu wajahnya berubah menjadi pucat pasi. "Ini bukan tulisan tangan Salamah. Saya tahu persis tulisan beliau. Ini terlihat seperti tulisan seseorang yang sangat membencimu sejak lama, bahkan sebelum kita di Mesir."
"Aku tidak peduli siapa pengirimnya, Ustadzah. Yang aku cemaskan adalah jika orang ini juga meneror Mas Zafran di Indonesia. Kondisi Abah baru saja membaik, beliau tidak boleh menerima tekanan apa pun sekarang," ujar Asiyah dengan nada bicara yang tetap dingin namun tersirat kekhawatiran yang mendalam.
"Kau harus memberitahu Zafran, Asiyah. Jangan menanggung ini sendirian," saran Fatimah dengan sungguh-sungguh.
Asiyah menggeleng tegas, ia melipat kembali surat itu dan menyimpannya di dalam laci. "Tidak. Mas Zafran sedang menghadapi tantangan berat di pondok. Paman Mansur memberi tahu saya bahwa ada beberapa ustad senior yang mulai meragukan kemampuan Mas Zafran memimpin. Jika saya menceritakan hal ini, fokusnya akan terbelah, dan itu adalah kekalahan bagi kami."
Sementara itu, di tanah air, suasana di Pondok Ar Rahma sedang memanas. Di dalam ruang pertemuan utama, Zafran duduk berhadapan dengan tiga ustadz senior yang telah mengabdi selama puluhan tahun dan 1 ustadz muda. Suasana terasa mencekam, hanya suara kipas angin yang terdengar berputar di langit-langit ruangan.
"Nak Zafran, kami menghormati gelar doktormu dari Mesir. Namun, memimpin pondok ini bukan soal teori di atas kertas. Sejak kau kembali, beberapa wali santri mengeluhkan kebijakan barumu soal transparansi keuangan dan sistem digitalisasi santri," ujar Ustadz Kholil, salah satu pengurus tertua.
Zafran menatap pria tua itu dengan rasa hormat namun tetap berwibawa. "Ustadz, perubahan ini bukan untuk menghapus tradisi, melainkan untuk menjaga agar Ar Rahma tetap relevan dan akuntabel di zaman modern. Jika kita tetap menggunakan cara lama, kita akan tertinggal."
"Tapi perubahan yang kau bawa terlalu mendadak. Dan lagi, kenapa istrimu tidak ada di sini? Seorang pemimpin pondok harus memiliki istri yang mendampingi di asrama putri. Tanpa kehadirannya, asrama putri seolah kehilangan nahkoda," sela ustad lainnya dengan nada sedikit menyindir.
Zafran menarik napas panjang, ia sudah menduga hal ini akan menjadi sasaran empuk bagi mereka yang skeptis. "Istri saya sedang menuntaskan amanah ilmu. Beliau akan segera menyusul dalam satu tahun. Keberadaannya di Kairo adalah investasi besar bagi masa depan pendidikan santriwati kita nanti. Bukankah Abah juga sudah memberikan restunya?"
"Kiai Usman memang merestui, tapi kami butuh bukti nyata, bukan sekadar janji satu tahun ke depan," sahut Ustadz Kholil tajam.
Pertemuan itu berakhir tanpa titik temu yang memuaskan. Zafran keluar dari ruangan dengan perasaan lelah yang luar biasa. Ia berjalan menuju masjid pondok, tempat di mana ia sering mencari ketenangan. Di teras masjid, ia mendapati Paman Mansur sedang menunggunya dengan sebuah amplop putih di tangan.
"Ada apa lagi, Paman? Apakah ada wali santri yang protes lagi?" tanya Zafran sembari duduk di samping pamannya.
Paman Mansur menyerahkan amplop itu. "Seseorang mengirimkan ini ke kantor administrasi tadi sore. Isinya fitnah keji tentang masa lalu Asiyah dan kasus Salamah di Mesir. Penulisnya mengeklaim bahwa Asiyah adalah penyebab kehancuran nama baik Ar Rahma di mata internasional."
Zafran membaca surat kaleng tersebut dengan tangan yang gemetar karena amarah. Fitnah ini dirancang sedemikian rupa untuk menjatuhkan kredibilitasnya dan Asiyah secara bersamaan. "Ini sudah keterlaluan. Mereka menyerang saat Asiyah tidak ada di sini untuk membela diri."
"Kau harus tenang, Zafran. Jangan sampai ini sampai ke telinga Abahmu. Beliau masih dalam masa pemulihan. Siapa pun pengirimnya, dia tahu persis kelemahan kita," ujar Paman Mansur dengan nada memperingatkan.
Malam itu, Zafran segera menghubungi Asiyah melalui panggilan video. Saat wajah Asiyah muncul di layar, Zafran berusaha menyembunyikan amarahnya, namun Asiyah yang jeli segera menyadari ada sesuatu yang tidak beres pada wajah suaminya.
"Mas kenapa? Wajah Mas terlihat seperti baru saja melihat hantu. Apakah pertemuan dengan para ustad senior tadi berjalan buruk?" tanya Asiyah tanpa basa-basi, ia tetap tampil dengan wajah cueknya yang khas.
"Hanya sedikit perdebatan soal administrasi, Asiyah. Kau sendiri bagaimana? Belajarmu lancar hari ini?" tanya Zafran balik, mencoba mengalihkan pembicaraan.
Asiyah menyipitkan matanya, ia tahu Zafran sedang berbohong. "Mas jangan coba-coba menyembunyikan sesuatu dari saya. Saya juga mendapatkan surat ancaman di sini hari ini. Isinya tentang masa lalu kita dengan Salamah. Jadi, lebih baik Mas jujur, apakah di sana juga terjadi hal yang sama?"
Zafran tertegun, ia tidak menyangka Asiyah juga mendapatkan teror. Akhirnya, ia menceritakan tentang surat kaleng yang diterima di pondok. "Aku khawatir, Asiyah. Seseorang sedang berusaha menghancurkan kita dari dua sisi. Mereka tahu kita sedang terpisah jarak."
Asiyah justru tersenyum tipis, sebuah senyuman yang penuh akan ketegasan. "Bagus. Itu artinya mereka takut pada kita, Mas. Mereka tahu jika kita bersatu, mereka tidak akan punya celah. Sekarang dengarkan saya. Mas jangan sekali-kali membela saya dengan kata-kata manis di depan para ustadz itu. Tunjukkan prestasi Mas. Buktikan bahwa kebijakan Mas membawa manfaat nyata bagi pondok."
"Lalu bagaimana denganmu di sana? Kau sendirian menghadapi ancaman itu," ujar Zafran penuh kekhawatiran.
"Saya tidak sendirian. Saya punya otak dan saya punya keberanian. Orang ini pengecut karena hanya berani mengirim surat tanpa nama. Saya akan mencari tahu siapa dalangnya bersama Ustadzah Fatimah. Mas fokus saja mengurus Ar Rahma. Jangan biarkan kursi Abah direbut oleh mereka yang hanya ingin kekuasaan," jawab Asiyah dengan nada bicara yang sangat berwibawa.
"Kau benar-benar wanita yang luar biasa, Asiyah. Maafkan aku yang justru sempat merasa goyah," kata Zafran dengan rasa bangga yang kembali pulih.
"Sudah, jangan banyak drama. Saya harus kembali ke kitab hadis saya. Ingat, satu bulan lagi ada laporan keuangan semesteran, pastikan sistem digital Mas bekerja sempurna agar mereka bungkam. Assalamu’alaikum," tutup Asiyah sembari segera mematikan sambungan telepon sebelum Zafran sempat menjawab.
Di Kairo, Asiyah segera berdiri dan mengambil jaketnya. Ia menatap foto yang dicoret tinta merah itu sekali lagi. Ia tidak akan tinggal diam. Jika di Indonesia Zafran bertarung dengan kebijakan, maka di Kairo, ia akan bertarung dengan kecerdasannya untuk mengungkap siapa pengkhianat yang sedang berusaha memadamkan cahaya Ar Rahma.
ditunggu lho
bagus