NovelToon NovelToon
Tergoda Paman Tunanganku

Tergoda Paman Tunanganku

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Cinta Seiring Waktu / Cinta Terlarang
Popularitas:22.2k
Nilai: 5
Nama Author: Red_Purple

💗 Dijodohkan dengan keponakannya malah tergoda dengan pamannya.

------------- 💫

‎Viona dijodohkan dengan anak dari sahabat mendiang ayahnya yang bernama Farel. Awalnya Viona menyetujui, namun kehadiran Arsen yang merupakan paman dari Farel menggoyahkan hatinya.

‎Bukan sekedar ingin ikut menjaga, tapi sikap yang Arsen tunjukkan lebih dari itu. Kedekatan yang terjalin diantara keduanya membawa mereka pada hubungan yang tak seharusnya.

‎"Jatuhnya begitu alami. Ataukah, kamu memang sengaja ingin menggodaku?" - Arsen.

‎Ketika rahasia hubungan mereka mulai terbongkar, ketegangan melanda keluarga besar. Viona harus memilih antara memenuhi harapan mendiang ayahnya dengan menikahi Farel, atau mengikuti hatinya yang menginginkan Arsen.

‎‎📍Membaca novel ini mampu meningkatkan imun dan menggoyahkan iman 😁 bukan area bocil, bijak-bijaklah dalam membaca 🫣


Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 13 : Godaan yang semakin menggelegar.

‎Arsen meletakkan jasnya di sofa, kemudian melangkah perlahan mendekati Viona. Matanya yang dalam tetap terpaku pada wajah gadis muda itu.

‎‎"Sudah selesai makannya?" tanyanya dengan nada yang tenang. Viona hanya bisa mengangguk kecil, merasakan ketegangan yang terasa di antara mereka berdua.

‎‎"Sudah kamu pikirkan bayaran apa yang akan kamu pakai untuk membayar makanan-makanan ini?" Arsen menghentikan langkah, masih dengan tetap menjaga jarak.

‎"Apa maksud, Paman?" tanya Viona cepat. "Bukankah Paman melakukannya dengan sukarela? Paman sendiri yang menyuruhku datang kesini dan menyiapkan makanan untukku,"

‎‎Arsen menaikkan sedikit alisnya, matanya tetap terpaku pada wajah Viona. Sebuah senyuman tipis melintas di bibirnya sebelum dia menjawab dengan nada yang tetap tenang.

‎‎"Sukarela memang, tapi itu bukan berarti tidak ada balasannya, gadis kecil," ucapnya, lalu melangkah lagi secara perlahan hingga jarak mereka semakin dekat. "Setiap tindakan memiliki konsekuensi dan nilai tukarnya."

‎‎Dia sedikit menurunkan pandangannya ke arah tangan Viona yang tergenggam rapat di sisi tubuhnya, kemudian kembali melihat ke matanya. "Kamu bilang aku yang menyuruhmu datang dan menyiapkan makanan untukmu. Benar. Tapi aku juga bilang kan bahwa kamu tidak akan mendapatkan perlakuan istimewa."

‎‎Tangan Arsen melingkar dengan cepat di pinggang Viona dan menarik tubuh itu mendekat, membuat kedua mata Viona sedikit melebar karena kaget. Kedua tangannya reflek menyentuh dada Arsen untuk menahan supaya tubuh mereka tidak terlalu menempel.

‎‎"Bicara ya bicara saja, Paman. Apa harus sedekat ini?" wajah Viona memerah, jantungnya didalam sana berdebar semakin kencang.

‎‎"Kenapa wajahmu memerah begitu? Apa suhu di ruangan ini begitu panas?" bukannya menurunkan tangannya, Arsen malah semakin ingin menggoda Viona saat melihat wajah gadis itu yang tampak begitu tegang. Dia menatap sebentar pada tangan Viona yang ada di dadanya sebelum beralih kembali menatap wajahnya. "Sepertinya kamu suka sekali memegang dadaku, apa aku juga perlu memberikan harga untuk itu?"

‎‎Kedua matanya melebar karena terkejut dengan apa yang Arsen katakan, Viona menatap tangannya yang kini ada di dada Arsen lalu beralih menatap wajah pria itu lagi.

‎‎"Dasar Paman mesum! Jangan coba macam-macam denganku atau aku akan---"

‎‎Suara tawa Arsen tiba-tiba memenuhi ruangan, tangannya yang melingkar di pinggang Viona dia turunkan. "Aku hanya bercanda, kenapa kamu serius begitu."

‎‎Viona terpaku, matanya yang semula terkunci pada wajah Arsen perlahan bergerak mengikuti gerakan tubuh pria itu saat Arsen berjalan ke arah meja kerjanya. Senyum dan tawa yang keluar dari diwajah pria itu seolah membuka sisi baru yang belum pernah dia lihat sebelumnya, jauh dari kesan dingin dan misterius yang biasanya Arsen tunjukkan.

‎‎Arsen meraih telepon khusus yang terhubung langsung ke meja sekretaris dan langsung menekan tombol sambungan. Dalam beberapa detik, suara Sinta terdengar dari ujung saluran.

‎‎"Ini Sinta, Pak."

‎‎"Sinta, segera datang ke ruangan saya sekarang," ucap Arsen dengan nada tegas, sambil tetap menatap Viona yang kini berdiri kaku di tengah ruangan.

‎‎"Baik, Pak. Saya akan datang segera," jawab Sinta dengan cepat.

‎‎Arsen menutup telepon dan kemudian mengalihkan pandangannya kembali ke Viona. Dia bersandar sedikit pada tepi meja, kedua tangan terlipat di depan dadanya. "Apa yang sedang kamu pikirkan? Kenapa menatapku seperti itu?"

‎‎Viona menarik napas panjang, lalu mengangkat sedikit dagunya dan melangkahkan kakinya mendekat ke arah Arsen. "Kenapa Paman tiba-tiba memberiku banyak hadiah semalam?"

‎‎Arsen tersenyum tipis, "Aku tidak tahu apa yang kamu sukai, jadi aku membeli apa yang aku lihat saja. Anggap saja itu sebagai hadiah permintaan maaf dariku,"

‎‎Viona tersentuh mendengarnya, ternyata Arsen memberikan hadiah itu sebagai bentuk permintaan maaf untuknya. Sebelum dia sempat berkata apa-apa, suara ketukan pintu terdengar.

‎‎"Masuk," ujar Arsen tanpa mengalihkan pandangannya dari Viona.

‎‎Pintu terbuka, Sinta masuk dan berdiri di dekat pintu dengan sikap sopan. "Ada apa, Pak Arsen?"

‎‎Arsen mengangguk kecil, "Sinta, tolong kamu antarkan Viona ke divisi strategi bisnis kembali. Khusus untuk hari ini, pulangkan mereka berdua lebih awal."

‎‎"Baik, Pak," jawab Sinta, kemudian menoleh pada Viona. "Silakan, Viona. Mari kita pergi."

‎‎"Nanti aku akan mengantarmu pulang." ucap Arsen pelan, namun cukup terdengar sampai ke telinga Viona.

‎‎Viona yang sudah mulai mengangkat langkahnya pun berhenti sejenak, dia menoleh kembali menghadap Arsen. "Tidak perlu repot-repot, Paman. Aku akan pulang dengan temanku saj---"

‎‎"Jangan membantah, aku tidak akan memberikan tawaran dua kali." ucap Arsen dengan nada pelan namun tegas. "Sekarang kembalilah ke divisi strategi bisnis dan tunggulah aku di lobi pada pukul dua nanti. Jangan sampai terlambat," pungkas Arsen dengan tatapan yang tegas, tidak memberi kesempatan bagi Viona untuk membantah lagi.

‎‎Viona menghela napas pelan, menatap pria itu sebentar sebelum mengangguk perlahan. Tidak ada gunanya juga dia berdebat dengan Arsen, karena sekarang dia ada dibawah kepemimpinan pria itu.

‎"Baiklah, Paman," jawabnya dengan nada yang sedikit pasrah, kemudian berbalik mengikuti Sinta yang sudah menunggu di pintu.

‎‎Setelah mereka keluar, Arsen berjalan mengitari mejanya dan duduk di kursi kebesarannya. Dia meraih secarik kertas dan pena, namun matanya justru menatap jendela dengan pandangan jauh. Ingatan tentang beberapa hari lalu saat dia pertama kali bertemu Viona kembali muncul di benaknya.

‎‎-

‎-

‎-

‎‎Saskia memberikan cangkir kopi yang dia bawa pada Ayah mertuanya yang sedang duduk santai di ruang tengah dengan tv menyala, lalu dia ikut duduk di sampingnya.

‎‎"Kenapa Ayah tiba-tiba memberikan usul untuk memperkerjakan Viona dikantor Arsen. Ayah tahu sendirikan bagaimana hubungan mas Bima dan Arsen? Apa tidak akan jadi masalah nantinya jika Viona bekerja disana?" tanya Saskia dengan nada khawatir.

‎‎Tuan Danu menyesap kopinya sedikit, kemudian meletakkannya di atas meja. Dia menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa dan menghela napas panjang, "Sampai sekarang Bima masih saja menyalahkan Arsen atas kematian ibu mereka, padahal semua itu sudah menjadi takdir. Rosana meninggal setelah melahirkan Arsen karena kondisinya yang memang sudah sangat lemah pada saat itu, tapi Bima tetap tidak mau tahu dan tetap menyalahkan Arsen atas hal itu."

‎‎Ada jeda sejenak sebelum Tuan Danu melanjutkan kata-katanya, "Dengan memperkerjakan Viona disana, Ayah harap itu bisa memperbaiki hubungan Arsen dan Bima. Arsen pasti bisa menjaga Viona dengan baik."

"Lagipula Bima sudah dibuat pusing dengan tingkah putra kalian yang selalu membuat masalah, takutnya jika Viona bekerja dengan Bima, Farel malah akan semakin menjadi-jadi. Biarkan Bima membimbing putranya dulu supaya menjadi orang yang lebih berguna, apalagi sekarang dia sudah bertunangan dengan Viona, harusnya Farel bisa belajar dan mengerti apa itu arti tanggungjawab." imbuhnya kemudian.

‎‎Saskia mengangguk paham, sejak kecil Farel memang sudah dimanjakan dengan kasih sayang dan harta yang berlimpah, namun semua itu membuat Farel lupa diri dan selalu bergantung pada kekayaan dan kekuasaan keluarga Mahendra.

‎‎Seorang asisten rumah tangga lewat dengan membawa pakaian-pakaian bersih milik Viona yang sudah dilipat rapi. Saskia yang melihatnya langsung menegurnya.

‎‎"Mbak, itu baju-baju Viona ya?" tanya Saskia, dia berdiri dan segera menghampiri Mbak Sita.

‎‎"Iya, Nyonya, ini mau saya antarkan ke kamarnya non Viona," jawab Mbak Sita.

‎‎"Sini biar saya saja yang antar, Mbak bisa lanjutkan pekerjaan yang lain saja." Saskia mengambil alih pakaian yang ada ditangan Mbak Sita.

‎‎"Kalau begitu saya permisi, Nyonya." Mbak Sita kembali ke arah dapur.

‎‎Sebelum melangkah pergi, Saskia menoleh pada Ayah mertuanya yang sudah kembali fokus menonton televisi. Kemudian dia berjalan menuju ke arah tangga dan langsung masuk kedalam kamar Viona begitu dia sudah sampai dilantai atas.

‎‎Saskia meletakkan pakaian-pakaian itu diatas ranjang, lalu dia kembali berdiri dengan tegak. Saat dia hendak berbalik pergi, pandangannya terpaku pada paperbag besar yang ada diatas meja sisi ranjang. Itu adalah paperbag yang semalam dibawa pulang oleh Arsen.

‎‎"Kenapa paperbag ini ada dikamar Viona?" gumam Saskia penuh dengan tanda tanya, "Mungkinkah Arsen..."

-

-

-

Bersambung...

1
Zuri
drama perpisahan di depan mata noh paman Bima🤧🤧
Zuri
mna bisa begitu... cobranya udah dapet sarang yg enak mana mau dilepas.. ehh/Silent//Silent/
Zuri
jujur lebih baik ya Vio
Zuri
mana bisa bgituu... yg jebol gawang Arsen loh/Slight//Slight/
Zuri
Farel itu ngamuknya gegara gagal unboxing🤣🤣
Zuri
disidang🤧🤧
zee
wah tambah seru nih
🔥Violetta🔥: Terimakasih kakak masih setia menyimak 🙏😁
total 1 replies
Zuri
salah sendiri punya pikiran kotor🤧🤧
🔥Violetta🔥: Nggak kotor nggak anuuun🤣🤣
total 1 replies
Zuri
sadar kali kak, bukan dasar/Silent/
🔥Violetta🔥: Efek mabok tulisan 🤣🤣🤣
total 1 replies
Zuri
tenang saja vio.. pamanmu akan melindungimu🤭🤭
🔥Violetta🔥: Melindungi sampai kedalam-dalam 😅😅
total 1 replies
Mita Paramita
Arsen dan viona udh ga bisa dipisahkan ini🤣 🤣🤣
🔥Violetta🔥: Sudah menyatu seakar-akarnya, Kak🤭🤣🤣
total 1 replies
Zuri
mereka lagi main bareng🤣
🔥Violetta🔥: Main bola /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
total 1 replies
Zuri
sedia payung sebelum hujan🤣🤣
🔥Violetta🔥: Udah nahan dia dari lama 😅😅😅
total 1 replies
Zuri
jebol juga akhirnya kalo godaannya gini
🔥Violetta🔥: Mana tahan /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
total 1 replies
Zuri
mau nerkam apa gimana dirimu Arsen😏😏
🔥Violetta🔥: Sudah tidak tahan dia 🤭🤭🤭
total 1 replies
Zuri
dirimu kn emang gak bisa jaga Vio. mau ngrusak iya/Smug/
Zuri
udah di bawa kabur🤣🤣
Zuri
rencanamu mau unboxing gagal total rell🤣
Zuri
mendadak jadi maling/Facepalm//Facepalm/
🔥Violetta🔥: Maling cinta 😅😅😅
total 1 replies
Zuri
bukannya eemang itu ya yang kamu harapkan? hayoo ngakuu😏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!