NovelToon NovelToon
CAHAYA DI RAHIM SUNYI

CAHAYA DI RAHIM SUNYI

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Drama
Popularitas:11.9k
Nilai: 5
Nama Author: Ramanda

Lima tahun pernikahan adalah pembuktian cinta bagi Haniyah Zahira dan Haris Abidzar. Tanpa tangis buah hati, mereka tetap bahagia dalam ketaatan. Namun, bagi sang ibu mertua, rahim Haniyah yang sunyi adalah sebuah kegagalan.

"Relakan Haris menikah lagi, atau biarkan dia menjadi anak durhaka karena menolak keinginan ibunya."

Ancaman itu menjadi duri yang Haniyah telan sendirian. Demi bakti sang suami pada ibunya, Haniyah mengambil keputusan nekat: Ia meminta Haris mencari wanita lain. Saat penolakan keras Haris tak kunjung luntur, Haniyah memilih cara paling menyakitkan. Ia pergi, meninggalkan surat cerai di atas bantal, dan menghilang ke pelosok desa yang jauh dari jangkauan.

Di tengah kesunyian desa dan hati yang hancur, sebuah keajaiban muncul. Di saat ia sudah melepaskan statusnya sebagai istri, Allah menitipkan detak jantung di rahimnya. Haniyah hamil. Di saat ia tak lagi memiliki sandaran, dan di saat Haris mungkin sudah menjadi milik orang lain.

Haruskah Haniyah kembali...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 2: Luka yang Disembunyikan

Satu bulan berlalu seperti hembusan angin yang membawa sembilu. Bagi Haniyah, setiap detik yang berdetak di jam dinding ruang tamunya terasa seperti hitungan mundur menuju kehancuran. Ia berusaha tampil normal di depan Haris, tetap menjadi istri yang paling hangat, meski di dalam dadanya ada bara api yang perlahan menghanguskan ketenangannya.

Sore itu, saat langit mulai merembang jingga, ketenangan Haniyah kembali terkoyak. Suara mobil berhenti di depan rumah, disusul suara langkah kaki yang angkuh. Pintu depan terbuka tanpa ketukan. Ibu Rosita masuk dengan dagu terangkat, namun kali ini ia tidak datang sendiri. Di belakangnya, seorang wanita muda melangkah dengan penuh percaya diri.

Wanita itu sangat cantik. Rambutnya yang ikal kecokelatan dibiarkan tergerai bebas, menari di bahunya setiap kali ia bergerak. Ia mengenakan pakaian yang modis namun minim, sangat kontras dengan Haniyah yang selalu tertutup rapat. Tanpa mengucapkan salam, mereka berdua masuk dan langsung menduduki sofa panjang seolah mereka adalah pemilik rumah ini.

"Mama? Ada apa kemari lagi?" tanya Haniyah, berusaha meredam debar jantungnya.

"Aku datang untuk memperlihatkan padamu apa yang tidak kamu miliki, Haniyah," sahut Rosita dengan suara sedingin es. Ia melirik wanita di sampingnya. "Kenalkan, ini Deswita. Dia putri dari rekan bisnis almarhum ayah Haris. Dan dia adalah calon istri kedua untuk Haris."

Haniyah merasa seolah ada petir yang menyambar di siang bolong. Matanya beralih menatap Deswita. Wanita itu tidak menunduk malu, ia justru menatap Haniyah dari ujung kaki hingga ujung kepala dengan tatapan meremehkan. Sebuah senyum kemenangan tersungging di bibirnya yang merah merona.

"Hai, Haniyah. Ibu Rosita sudah banyak bercerita tentangmu. Sayang sekali ya, wajah cantikmu tidak sebanding dengan kesuburan rahimmu," ucap Deswita dengan nada bicara yang sangat angkuh.

Haniyah terdiam, lidahnya kelu. Ia merasa harga dirinya sedang diinjak-injak di rumahnya sendiri.

"Dengar, Haniyah. Lima tahun sudah berlalu. Lima tahun rahimmu hanya memberikan kehampaan bagi keluarga ini," Rosita kembali mengulang kalimat yang paling dibenci Haniyah. "Mama tidak bisa menunggu selamanya sampai kamu memberikan keajaiban yang tidak mungkin terjadi. Jika dalam dua bulan ke depan tidak ada tanda-tanda kehidupan di perutmu, lepaskan Haris. Biarkan dia menikah dengan Deswita yang jauh lebih mampu memberikan garis keturunan bagi keluarga kami."

Rosita berdiri, diikuti oleh Deswita yang masih sempat-sempatnya merapikan rambut di depan cermin ruang tamu Haniyah. "Jangan egois, Haniyah. Kebahagiaan Haris bukan hanya tentang cinta picisanmu, tapi tentang masa depan nama keluarga. Kami pergi dulu."

Tanpa menunggu jawaban, mereka melenggang pergi begitu saja. Haniyah luruh di lantai setelah pintu tertutup. Air matanya jatuh tanpa suara. Ia melihat ke sekeliling rumah yang ia bangun dengan cinta, kini terasa begitu asing dan menyesakkan. Namun, ia tidak boleh larut. Sebentar lagi Haris pulang. Ia harus tetap menjalankan kewajibannya sebagai istri.

Dengan sisa tenaga, Haniyah bangkit dan pergi ke dapur. Ia mulai memotong sayuran dan memasak masakan kesukaan Haris. Bau harum masakan memenuhi ruangan, menutupi aroma duka yang sebenarnya sedang menyeruak. Tak lama kemudian, suara mobil Haris terdengar di halaman.

"Assalamualaikum, Sayang!" suara Haris menggema, penuh energi seperti biasanya.

Haris melangkah masuk dan langsung menemukan Haniyah di dapur. Tanpa melepaskan tas kerjanya, ia langsung memeluk Haniyah dari belakang, menyandarkan dagunya di pundak sang istri.

"Tolong biarkan seperti ini sebentar, Hani. Aku ingin mengisi daya dulu. Tenagaku sudah habis dikuras habis-habisan di kantor hari ini," gumam Haris sambil memejamkan mata.

Haniyah memaksakan sebuah senyum. Ia mengusap punggung tangan Haris yang melingkar di perutnya dengan penuh kasih sayang. "Mas pasti capek sekali ya. Maaf, aku baru selesai memasak."

"Hanya dengan mencium aroma tubuhmu saja, capekku hilang setengah," balas Haris sambil mengecup bahu Haniyah.

Haniyah membalikkan badannya, menatap wajah suaminya yang terlihat lelah namun tetap memandangnya dengan cinta. "Mas mandi dulu sana supaya segar kembali. Setelah itu kita makan malam bersama, ya?"

Haris mengangguk patuh. "Siap, Permaisuriku. Tapi ada satu syarat."

"Apa itu?"

Haris tiba-tiba menangkup wajah Haniyah dan mengecup bibirnya singkat namun penuh perasaan. Sebelum Haniyah sempat bereaksi, Haris sudah berlari kecil menuju kamar sambil tertawa. Haniyah hanya bisa menatap punggung suaminya dengan hati yang hancur. Bagaimana mungkin ia sanggup membagi pria sebaik ini dengan wanita seangkuh Deswita?

Meja makan sudah tertata rapi saat Haris kembali dengan kaos santai dan rambut yang masih agak basah. Ia duduk di kursi sebelah Haniyah, bukan di seberangnya. Ia selalu ingin duduk sedekat mungkin dengan istrinya. Dengan telaten, Haniyah menyendokkan nasi dan lauk ke piring Haris.

Mereka mulai makan dalam keheningan yang sedikit berbeda dari biasanya. Baru beberapa suap nasi masuk ke mulut mereka, Haniyah menghentikan gerakannya. Ia meletakkan sendoknya perlahan, lalu menatap Haris dengan tatapan yang sulit diartikan.

"Mas..." panggil Haniyah lirih.

"Iya, Sayang? Ada apa? Masakannya enak sekali seperti biasa," sahut Haris sambil terus mengunyah.

"Boleh Niya meminta sesuatu? Dan apakah Mas berjanji akan menuruti keinginanku kali ini?" tanya Haniyah dengan suara yang bergetar.

Haris berhenti makan. Ia menangkap nada serius dalam suara istrinya. Ia meletakkan sendoknya dan menggenggam tangan Haniyah. "Apapun, Sayang. Selama itu baik dan Mas mampu, pasti akan Mas penuhi. Kamu mau liburan? Atau mau beli sesuatu?"

Haniyah menarik napas panjang, mengumpulkan seluruh keberanian yang tersisa di lubuk hatinya. "Niya ingin Mas menikah lagi."

Uhuk!

Haris langsung tersedak hebat. Wajahnya memerah karena terkejut dan sumbatan makanan di tenggorokannya. Haniyah dengan sigap memberikan segelas air putih dan menepuk-nepuk punggung suaminya. Setelah Haris mulai tenang dan napasnya kembali teratur, ia menatap Haniyah dengan tatapan tajam yang belum pernah Haniyah lihat sebelumnya.

"Apa maksudmu dengan permintaan itu, Hani? Kamu sedang bercanda, kan?" tanya Haris, suaranya kini terdengar berat dan rendah.

"Niya serius, Mas. Niya ingin kamu segera memiliki keturunan. Niya tidak ingin menjadi penghalang bagimu untuk menjadi seorang ayah. Niya ingin melihat ada anak kecil yang berlari di rumah ini, dan Niya sadar, mungkin Niya tidak bisa memberikannya padamu," ucap Haniyah sambil menahan tangis.

Haris melepaskan genggaman tangannya. Ia berdiri dari kursi, menciptakan jarak yang tiba-tiba terasa begitu lebar. "Hani, apa yang terjadi? Siapa yang datang ke rumah ini saat aku tidak ada? Apa Mama lagi yang bicara padamu?"

"Tidak ada yang datang, Mas. Ini murni keinginanku. Niya hanya ingin kamu bahagia," dusta Haniyah lagi.

Haris mendekati Haniyah, memegang kedua bahu istrinya dan memaksanya untuk mendongak. "Bahagiaku itu kamu, Haniyah Zahira! Dengarkan Mas baik-baik. Cintaku tidak bisa dibagi, dan Mas tidak akan pernah membaginya dengan siapapun. Mas tidak membutuhkan alasan lain untuk mencintaimu selain karena Allah telah memilihmu untukku."

"Tapi Mas, Mama sangat ingin cucu..."

"Urusan anak adalah hak prerogatif Allah! Jika Allah belum memberi, artinya kita harus lebih bersabar, bukan malah mencari jalan pintas yang menyakitimu. Mas menolak permintaanmu, Hani. Jangan pernah ucapkan kata poligami atau menikah lagi di depan mukaku, karena itu sangat melukai perasaanku sebagai suamimu," tegas Haris dengan suara yang bergetar karena emosi.

Haris meninggalkan meja makan begitu saja, masuk ke kamar dan menutup pintu dengan sedikit keras. Haniyah terisak di meja makan yang kini terasa begitu dingin. Ia tahu Haris mencintainya, tapi ia juga tahu bahwa tekanan ibunya tidak akan pernah berhenti.

Haniyah menatap piringnya yang masih penuh. Di dalam hatinya, sebuah keputusan besar mulai mengkristal. Jika Haris tidak mau menikah lagi selama ia ada di rumah ini, maka solusinya hanya satu: Ia harus menghilang dari hidup Haris. Bukan karena benci, tapi karena cinta yang terlalu besar sehingga ia tidak sanggup melihat suaminya hancur di antara dua wanita yang ia sayangi.

1
Rara Ardani
jemput lah kebahagiaanmu farel, Haris bosmu baik, karena menganggap kalian keluarga 💖💖💖
Rara Ardani
ayo farel buka hatimu, jangan kaku gitu, kamu akan mendapatkan kebahagiaan an nanti 🤭🤭
Uba Muhammad Al-varo
kamu tidak nyaman karena pengabaian Ratih kan karena kamu ada rasa ke Ratih
Pujiastuti
sudah mulai ada rasa dihati Farel buat Ratih, tapi Farel belum menyadarinya
lanjut kak semangat 💪💪
Naufal hanifah
cerita nya bagus /Good//Good//Good/
Mira Hastati
bagus
Uba Muhammad Al-varo
farel....... akhirnya terpesona oleh Ratih karena kesederhanaannya dan merakyat 😊😊😊
Eliermswati
ayo farel kejar g ad loh cwe sbaik Ratih, yg g gengsi mkn pinggir jln itu justru lbh nikmat dan enk perut kenyang hti pun senang smga hani cpt smbh y dan bail2 sj
🤣🤣
Eliermswati
smga slmt y thor kshn Hani dah nunggu lm🙏🙏
Perempuan
Keingat dulu pernah keguguran anak pertama. membaca kondisi Niyah, perutku juga rasanya kram
Pujiastuti
semoga calon anak mereka aman dan ngak kenapa²

lanjut kak tetap semangat 💪💪
Salsa Billa
thor halunya kayak didunia sihir, masak pembangunan vila 3hr hampir siap huni,,, segaknya 6bln masih masuk akal 😁😁😁😁 tp ok lah namanya dunia halu
Uba Muhammad Al-varo
bagaimana pun keadaannya semoga Haniyah dan Ratih baik' saja dan secepatnya diketemukan dan diselamatkan oleh Haris, farel dan pasukannya
Eliermswati
ayo haris cptan tlng istrinya jngn smpe terjadi sesuatu sm mreka, thor jngn bkn hani keguguran y kshn kn dah nunggu lm 🙏🙏🙏
Wardah Saiful
romantis,sweet,ada.gemes2nya dikit,top deh❤️💪
Uba Muhammad Al-varo
tinggal sekarang Haniyah menjalani kehamilan ini dengan bahagia dan senang, semua masalahnya sudah terselesaikan dengan baik, hubungan antara ibu mertuanya sudah lebih baik lagi
Uba Muhammad Al-varo
Haris........ terus lindungi Niyah, jangan sampai Niyah terluka lagi
Perempuan
surat dokter yg menyatakan Haris mandul harus disiasati juga. Emaknya bisa saja marah krn merasa dibohongi. Emang lebih baik di desa aja dulu Ris., udaranya juga bagus utk kesehatan si Bumil tercinta
Enny Suhartini
semangat
Uba Muhammad Al-varo
ternyata Miss komunikasi yang terjadi antara Haniyah dan Haris, ayolah Niyah kalau ada sesuatu yang terjadi bicarakan dengan baik' dan terbuka agar tidak terjadi kesalahpahaman /Kiss/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!