Novel "Cinta yang Tak Pernah Hilang" mengisahkan perjalanan Lia, seorang ibu tunggal yang mencari anak laki-laki nya Rio yang hilang karena diperdaya lembaga adopsi yang tidak resmi, hingga akhirnya menemukan dia tinggal bersama keluarga angkat Herman dan Nina di Langkat, dimana Rio membangun hubungan hangat dengan kedua keluarga, menjalani kehidupan dengan dukungan bersama, belajar serta berkembang menjadi anak yang cerdas dan penuh cinta, membuktikan bahwa keluarga tidak hanya terbatas pada darah namun pada kasih sayang yang menyatukan semua pihak dalam suka dan duka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gretha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13 : JALAN MENJADI SATU
Sinar matahari pagi sudah mulai menyinari setiap sudut halaman belakang rumah sakit ketika Lia menyelesaikan cucian terakhir dari ruangan rawat inap anak-anak. Udara masih segar dengan sedikit aroma bunga melati yang ditaburkan di sekitar bak cuci besar yang terbuat dari beton. Tangan kirinya yang penuh dengan kapalan masih memegang sikat kayu yang digunakan untuk membersihkan noda pada pakaian pasien – setiap gerakan sudah dia kuasai dengan baik setelah bertahun-tahun bekerja di sini.
“Selamat pagi, Lia. Kamu sudah mulai kerja ya?” ucap Pak Joko dengan suara yang khas, membawa ember berisi air bersih untuk membilas cucian yang sudah dicuci. “Hari ini ada pesanan khusus dari ruangan dokter spesialis anak – harus dicuci dengan deterjen tanpa pewangi ya, karena beberapa anak punya kulit sensitif.”
Lia mengangguk dengan senyum lembut, mulai memisahkan cucian berdasarkan jenis kain dan warna. Dia menyimpan buku catatan kecil yang selalu ada di mejanya – setiap halaman berisi nama dan kondisi pasien yang pernah dia rawat. Di halaman terakhir, nama “Adit Supriyanto” tertera jelas dengan catatan khusus: berat badan 1,8 kg, panjang badan 45 cm, dan bintik merah berbentuk hati di punggung kanannya. Foto kecil yang selalu ada di samping buku itu juga masih jelas terlihat – tiga bayi yang tertidur berdampingan di bak mandi plastik biru muda.
“Saya selalu melihat foto itu setiap hari, Pak Joko,” ucap Lia dengan suara lembut sambil menatap foto kecil itu. “Setiap malam saya berdoa bisa ketemu dia lagi dan memberikan cinta yang sama dengan yang saya berikan pada Mal dan Rini.”
Pak Joko mengangguk dengan pengertian yang dalam. “Kamu sudah bekerja keras untuk anak-anakmu, Lia. Cinta yang kamu berikan tidak akan pernah hilang, bahkan kalau mereka berada di tempat yang berbeda.”
Setelah menyelesaikan cucian pagi, Lia mengambil tas kerja yang sudah dia jahit sendiri dari kain bekas. Dia berjalan menuju kontrakan kecil milik Bu Warsih yang hanya berjarak 15 menit dari rumah sakit. Di jalan, dia menyapa setiap orang yang mengenalnya – pedagang sayur yang selalu memberi harga murah, tukang becak yang sering menawarkan tumpangan gratis, hingga ibu-ibu yang sedang memasak di depan rumah mereka.
Ketika sampai di kontrakan, Lia melihat Mal dan Rini sudah bersiap di depan pintu dengan wajah ceria. Tangan mereka masing-masing memegang buku tulis dan mainan kecil yang dibuat sendiri. “Bu sudah datang!” teriak Mal dengan suara penuh semangat.
“Kamu berdua sudah mandi dan siap sekolah ya?” tanya Lia dengan suara hangat sambil memeluk mereka berdua.
“Sudah, Bu. Kita juga sudah belajar pelajaran matematika dan bahasa Indonesia,” jawab Rini dengan suara lembut sambil menunjukkan buku tulisnya yang rapi.
Setelah itu, Lia memasak makanan untuk sarapan – bubur ayam dengan telur dan sayuran segar yang dibeli dari pasar pagi. Udara di kontrakan terasa hangat dengan aroma makanan yang menggugah selera. Mal dan Rini makan dengan lahap sambil bercerita tentang teman baru di sekolah.
“Bu, kemarin saya bertemu dengan teman baru bernama Siti,” ucap Mal dengan senyum ceria. “Dia juga punya saudara yang tinggal jauh, tapi kita sering bermain bersama.”
Lia tersenyum mendengarnya. “Itu bagus sekali, nak. Keluarga bisa berbeda-beda bentuknya, tapi cinta yang ada di dalamnya selalu sama.”
Setelah anak-anak pergi ke sekolah dengan ditemani Bu Warsih, Lia kembali ke rumah sakit untuk melanjutkan pekerjaannya. Di jalan, dia melihat seorang anak laki-laki berusia sekitar delapan tahun sedang bermain dengan daun kering di sudut jalan. Rambutnya pirang sedikit kusut, wajahnya ceria namun ada sesuatu yang membuat Lia merasa akrab – ketika anak itu berbalik, terlihatlah bintik merah kecil berbentuk hati di bagian punggung kanannya yang terbuka karena kaosnya yang sobek.
Hati Lia berdebar kencang. Dia mendekat perlahan dengan tangan yang sedikit gemetar. “Hai nak, nama kamu apa?” tanya dia dengan suara lembut agar tidak membuat anak itu takut.
“Rio, Bu,” jawab anak itu dengan suara kecil sambil menatap Lia dengan mata penuh rasa ingin tahu. “Saya tinggal di desa dekat sini, Ayah saya bekerja sebagai guru di sekolah desa.”
Lia meraih tangannya dengan lembut. “Rio, kamu punya bintik merah di punggung kananmu ya?”
Anak itu mengangguk dengan mata yang besar. “Iya Bu, seperti hati kecil. Ibu saya bilang itu tanda cinta dari Tuhan.”
Lia merasa air mata hampir keluar. Dia meraih foto kecil dari tasnya dan menunjukkan pada Rio. “Kamu tahu ini siapa, nak?”
Rio melihat foto itu dengan mata penuh kagum. “Itu saya kan, Bu! Bareng sama dua adik saya yang lain.”
“Ya sayang, itu kamu sama kakak-kakakmu Mal dan Rini,” ucap Lia dengan suara penuh emosi. “Saya adalah ibumu yang selalu mencari kamu.”
Rio melihatnya dengan mata penuh keheranan dan kehangatan. Dia meraih tangan Lia dengan erat. “Jadi saya punya keluarga lagi ya, Bu?”
“Kita semua adalah keluarga, Rio,” jawab Lia dengan senyum hangat sambil memeluknya erat. “Kamu punya saya, punya Ayah Nina dan Ayah kamu yang lain, dan juga kakak-kakakmu yang selalu merindukanmu.”
Di kejauhan, matahari mulai naik lebih tinggi menyinari kota Medan yang sibuk. Udara menjadi lebih hangat dengan suara anak-anak yang bermain dan orang-orang yang menjalani hari mereka. Lia merasakan bahwa setelah bertahun-tahun mencari, akhirnya dia menemukan apa yang selalu dicarinya – cinta keluarga yang tidak pernah padam, walau harus berbagi dengan orang lain yang juga mencintai anaknya dengan sepenuh hati.