Perjodohan adalah hal yang tidak bisa Namira hindari sebagai cucu dari pemimpin diamond grup. Mau tidak mau, suka tidak suka, Namira harus menikah dengan Xavier Devan Prasetyo, laki-laki pilihan kakeknya.
Namira dan Xavier pernah beberapa kali bertemu sebelumnya, tapi mereka tidak dekat. Dan setelah menikah pun, mereka tidak seperti pasangan suami istri pada umumnya.
Rumah tangga mereka yang datar dan tidak diketahui banyak orang membuat sepupu Namira -Calvin -gregetan sampai membuat ulah dengan menjadikan namira bahan taruhan bersama teman-temannya.
Lalu, bagaimana pernikahan Namira dan Xavier setelahnya? apa Xavier akan membiarkan istrinya menjadi bahan taruhan? yuk, cari tahu dan ikuti kisah mereka
Instagram: lightquinsha_
Tiktok: candylight_
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Alquinsha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
"Gimana pernikahan lo sama sepupu gue?" Xavier melotot mendengar pertanyaan Calvin.
Sekarang mereka masih berada di markas Orion dan hampir semua anggota Orion berada disana, bisa-bisanya Calvin menyinggung pernikahan Xavier dengan Namira.
"Tenang aja, gak bakal ada yang denger, mereka lagi sibuk," ucap Calvin menenangkan Xavier supaya Xavier tidak perlu melotot padanya.
Anggota Orion lain berada di ruangan sebelah, jadi kecil kemungkinan mereka mendengar obrolan Calvin dan Xavier.
"Kalian masih pisah kamar?" Tanya Calvin lagi.
Sebenarnya, Calvin hanya penasaran apakah Xavier sudah berhasil mengajak Namira tidur bersama atau tidak, tapi Calvin memperhalus pertanyaannya.
"Gue perhatiin waktu di panti tadi, lo keliatannya suka sama anak kecil, lo gak mau punya anak sendiri ya?" Calvin sengaja memancing, berharap dari pertanyaannya itu, akan ada hasil yang bisa membuatnya lebih cepat memiliki keponakan.
Waktu mereka membantu geng Elang, mereka sempat bertemu dengan anak-anak di panti asuhan dan Xavier sepertinya menyukai salah satu anak kecil yang berada di panti asuhan itu.
"Kata siapa gue suka sama anak kecil?" tanya Xavier seolah membantah ucapan Calvin. Xavier tidak merasa bahwa dirinya menyukai anak kecil.
"Gue bisa lihat sendiri dari tatapan lo sama anak kecil itu," ucap Calvin mengingat saat Xavier berinteraksi dengan anak kecil yang dimaksud.
"Cih," Xavier mendecih dan ikut mengingat bagaimana interaksinya dengan anak kecil itu.
Xavier tidak tahu kenapa Calvin menganggapnya menyukai anak kecil perempuan bawel di panti asuhan. Xavier justru risih anak kecil itu terus mengajaknya bicara.
Xavier tidak membenci anak-anak, tapi anak kecil perempuan di panti asuhan terus mengatakan hal yang tidak bisa Xavier mengerti dan membuatnya tidak menyukai anak itu.
"Gue gak suka anak itu," seru Xavier. Bahkan dari wajahnya terlihat jelas Xavier tidak menyukai anak kecil di panti asuhan itu.
"Lo yakin?" tanya Calvin merasa penglihatannya tentang Xavier dan anak kecil itu tidak akan salah, "anak kecil itu ngingetin lo sama Namira karena suka menggambar, kan?"
Xavier tidak menjawab. Memang benar saat anak kecil itu mengatakan suka menggambar dan menunjukkan hasil gambarnya, Xavier teringat Namira yang juga suka menggambar. Tapi bukan berarti Xavier menyukai anak kecil itu.
"Kalau lo sama Namira punya anak, kemungkinan anak kalian pinter menggambar kayak anak itu," ucap Calvin kembali berangan memiliki keponakan manis seperti anak perempuan di panti asuhan.
"Gak, bukan kayak anak itu, tapi kayak mamahnya," Calvin meralat ucapannya.
Xavier memutar matanya malas, "lo berharap gue ngasih lo ponakan setelah ini, hoh?" tanyanya tidak habis pikir.
"Hem, ternyata lo peka juga ya?" Calvin tersenyum mengira Xavier akan setuju untuk memberinya keponakan.
"Tunggu Namira lulus kuliah," ucap Xavier enteng yang artinya Xavier tidak akan memiliki anak sampai Namira lulus kuliah.
"Tunggu Namira lulus kuliah?" tanya Calvin mengulangi perkataan Xavier, "gila! berapa tahun lagi? gue mau punya ponakan di usia muda!"
Calvin jadi mempertanyakan apa yang dikerjakan setan di rumah Xavier sampai Xavier lolos dari godaannya. Seharusnya, laki-laki normal tidak akan membiarkan istrinya tidak tersentuh selama itu.
"Kenapa lo gak nyoba jadi papah muda?" tanya balik Xavier. Dan tanpa sengaja didengar oleh Haikal.
"Apa nih nyoba jadi papah muda?" tanya Haikal pada keduanya, "jangan bilang kalian ada rencana nikah muda dan langsung punya anak?"
"Gak, lo kali yang mau nikah muda dan jadi papah muda," sahut Calvin nyolot.
"Dih, gue nanya karena kalian ngomongin itu tadi," ucap Haikal tidak kalah nyolot.
Xavier tidak memperdulikan mereka dan malah mengecek jam yang melingkar di tangannya, "gue pulang," ucapnya tiba-tiba dan beranjak dari tempat duduknya.
"Loh? kenapa mau pulang?" tanya Haikal. Kalau dipikir-pikir waktu Xavier berada di markas sedikit berkurang karena Xavier selalu pamit pulang seperti sekarang.
"Bilang ke yang lain gue pulang," ucap Xavier tanpa berniat menjawab pertanyaan Haikal.
Melihat Xavier yang terburu-buru pulang, Haikal jadi bertanya-tanya ada apa dengan sahabatnya itu.
"Xavier kenapa buru-buru banget sih?" tanya Haikal memperhatikan Xavier.
"Lo ngerasa gak sih kalau Xavier aneh akhir-akhir ini?" tanya Haikal pada Calvin. Entah perasaannya atau memang benar, Haikal merasa Xavier memang aneh sekali akhir-akhir ini.
"Gue juga penasaran sama cincin dijari manis Xavier, apa mungkin Xavier emang udah nikah?"
Calvin tidak menjawab dan hanya mengangkat bahunya.
~ Bersambung
berarti cerita Calvin soon ni ya... semangat nulisnya GK Sabar nunggu cerita calvin