NovelToon NovelToon
Suara Untuk Dia

Suara Untuk Dia

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Balas Dendam / Idola sekolah / Tamat
Popularitas:196
Nilai: 5
Nama Author: Ananda Putra Satria Hsb

"Setiap orang punya satu nama dari masa SMA yang tak pernah benar-benar hilang." Ini adalah suara kejujuran Satria untuk sosok di masa lalunya—tentang rahasia di balik seragam putih-abu-abu, luka yang mendewasakan, dan keberanian melepaskan demi cinta yang sesungguhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ananda Putra Satria Hsb, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18- Menjelang Hari H dan Sinyal Yang Samar

Pagi harinya sekitar jam setengah tujuh, aku sudah siap dengan motor bebekku di depan pagar rumah Nara. Sesuai janji semalam, aku menjemputnya untuk pergi sekolah bareng sekalian mengurus motor bebek merah marunnya yang ditinggal di pos satpam sekolah.

Tidak menunggu lama, gerbang rumahnya terbuka. Nara keluar mengenakan seragam putih abu-abu yang sangat rapi. Di tangannya, dia membawa sebuah kotak bekal plastik berwarna hijau muda.

"Pagi, Satria. Tepat waktu juga kamu," sapa Nara pelan sambil menutup pintu pagar rumahnya.

"Pagi, Maknar. Calon atlet kan harus disiplin," jawabku sambil menyeringai lebar dan menyodorkan helm spare buat dia.

Nara memutar kedua bola matanya mendengar julukan itu, tapi dia tetap menerima helm tersebut dan memasangnya dengan cekatan. Sebelum naik ke boncengan, dia menyodorkan kotak bekal hijau itu padaku.

"Nih. Ibu tadi bikin sarapan roti bakar isi selai cokelat keju lumayan banyak. Katanya buat nemenin kamu yang udah mau nolongin aku semalam," kata Nara, agak salah tingkah saat mengucapkan kalimat itu.

Aku menerima kotak bekal itu dengan mata berbinar-binar. "Wah, makasih banyak ya, Ra! Sampaikan salam makasihku buat Tante!"

Perjalanan menuju sekolah pagi itu terasa sangat menyenangkan. Udara pagi yang segar bercampur dengan obrolan-obrolan ringan kami di atas motor menembus kemacetan kota. Rasa canggung yang sempat ada semalam benar-benar meleleh total.

Sesampainya di sekolah, kami langsung mengurus motor Nara di pos satpam. Pak Satpam sekolah yang baik hati sempat membantu memeriksa aki motornya. Ternyata cuma kabel soket akinya yang agak longgar dan kotor. Setelah dikencangkan dan dibersihkan sebentar, mesin motor merah marun itu langsung menyala mulus kembali.

"Nah, beres kan! Nanti sore kamu udah bisa naik motor sendiri lagi, Ra," kataku lega sambil mematikan mesin motornya.

Nara menatapku dengan raut wajah berterima kasih. "Makasih ya, Sat. Nanti sore tak traktir es teh Mbok Darmi deh pas jam istirahat."

"Siap, Ditunggu traktirannya, Maknar!" balasku tertawa.

Memasuki H-3 pelaksanaan Olimpiade Fisika tingkat kabupaten, ketegangan di sekolah makin terasa. Banner dukungan buat tim olimpiade sekolah sudah terpasang di dekat gerbang utama. Nama Nara Kirana tercetak jelas di barisan paling atas sebagai perwakilan cabang Fisika.

Nara makin jarang berada di kelas X IPA 2. Hampir sepanjang hari, dari jam pertama sampai jam pelajaran terakhir, dia diisolasi di ruang bimbingan perpustakaan lantai dua bersama tim olimpiade sekolah.

Di kelas, aku dan Diko merasa ada yang hilang. Suasana meja depan yang biasanya diwarnai omelan cerewet Nara pas pelajaran Kimia atau Matematika mendadak sepi.

"Sepi ya, Sat, gak ada Maknar yang ngomeli kita pas ngerjain soal," celetuk Diko saat jam istirahat pertama sambil mengunyah kerupuk di mejanya.

"Iya, Dik. Tapi ya mau gimana lagi, tiga hari lagi kan dia udah mau tanding di olimpiade. Bebannya pasti gede banget," jawabku sambil memandangi bangku kosong milik Nara di depan.

"Tapi kulihat kemarin Nara makin akrab ya sama si Kusuma itu," lanjut Diko santai tanpa beban. "Tadi pas aku lewat depan perpus mau ke toilet, mereka berdua lagi duduk berdua di meja panjang sambil ngitung soal. Nyambung banget kelihatannya."

Mendengar kata-kata Diko, dada rasanya agak berdesir aneh. Ada perasaan tidak nyaman yang mendadak mencubit pelan, tapi aku berusaha sekuat tenaga buat berpikir jernih. Kusuma itu kan memang teman satu timnya di olimpiade Fisika. Wajar kalau mereka harus sering diskusi bareng buat ngebahas soal-soal rumit.

"Ya namanya juga satu tim, Dik. Murni bahas materi olimpiade itu mah," balasku menenangkan diri sendiri.

"Iya sih, Sat. Aku cuma ngomong aja," kata Diko sambil menepuk bahuku.

Siang harinya sekitar jam dua, sebelum persiapan latihan silat rutin jam tiga sore dimulai, aku menyempatkan diri naik ke lantai dua menuju ruang perpustakaan. Sesuai janjinya tadi pagi, aku mau menagih janji traktiran es teh manis.

Pintu perpustakaan lantai dua sedikit terbuka. Dari celah pintu, aku melihat Nara sedang berdiri di depan papan tulis putih kecil di pojok ruangan. Dia sedang memegang spidol hitam, mendiskusikan sebuah grafik gelombang bersama Kusuma.

Kusuma berdiri di sampingnya, mengangguk-angguk paham sambil sesekali mengoreksi angka di papan tulis menggunakan penghapus. Dari gestur tubuh dan cara mereka bicara, kelihatan sekali betapa selarasnya pemikiran mereka dalam urusan rumus-rumus rumit itu. Suasana bimbingan mereka kelihatan sangat intens dan fokus.

Aku berdiri di balik celah pintu selama beberapa detik, menggenggam tali tas ranselku. Ada rasa asing yang perlahan merayap di dalam dada. Di dunia akademis kelas atas itu, tempat di samping Nara diisi oleh orang yang sepadan seperti Kusuma. Sementara aku, ada di dunia yang berbeda jauh.

Aku berdehem pelan, lalu mengetuk pintu kaca perpustakaan dua kali.

Ketuk! Ketuk!

Nara dan Kusuma kompak menoleh ke arah pintu. Begitu Nara melihat wajahku, raut tegang di wajahnya langsung mencair. Dia meletakkan spidol hitamnya di meja.

"Satria?" panggil Nara pelan.

"Oi, Ra. Cuma mau nagih janji traktiran es teh manis tadi pagi," kataku santai sambil tersenyum lebar dari pintu, berusaha menutup rapat-rapat ganjalan kecil di dalam dada.

Nara menepuk jidatnya pelan. "Astaga, aku sampai lupa! Yaudah, sebentar aku ambil dompet dulu di tas."

Nara berjalan mendekatiku di luar pintu perpustakaan, membawa dua bungkus es teh manis plastik yang ternyata sudah dibelinya dari kantin tadi siang.

"Nih, udah tak beliin tadi pas jam istirahat. Mau tak kasih ke kelas tapi Pak Ridwan belum melepas kami," kata Nara sambil menyodorkan satu plastik es teh manis dingin padaku.

Aku menerima es teh itu dengan perasaan lega yang mendadak membumbung tinggi lagi. Ganjalan di dadaku hilang seketika saat melihat ternyata dia tetap ingat janjinya dan sudah menyiapkan es teh ini dari tadi siang.

"Makasih ya, Maknar. Tahu aja kalau muridmu ini mau pusing latihan silat bentar lagi," kataku terkekeh pelan.

Nara tersenyum tipis, sorot matanya menatapku dengan lembut. "Sama-sama. Jangan lupa minum yang banyak. Latihanmu kan dari jam tiga sampai jam enam sore, jangan sampai dehidrasi."

Dari dalam perpustakaan, Kusuma memanggil pelan. "Nara, ini soal nomor tujuh belas rumusnya agak janggal, coba kamu cek sebentar."

Nara menoleh ke dalam sebentar, lalu beralih menatapku lagi dengan raut wajah agak canggung. "Aku balik ke dalam dulu ya, Sat. Masih ada beberapa paket soal yang harus di-review sama Pak Ridwan."

"Sip, Ra. Lanjutin belajarnya. Sukses buat H-3 ini ya!" kataku mantap.

Nara mengangguk pelan, memberikan remasan singkat di lengan jaketku sebelum balik melangkah ke dalam ruangan perpustakaan.

Aku menyedot es teh manis dingin di tanganku, lalu berbalik menyusuri tangga turun menuju aula bawah. Di dalam hati, aku membuang jauh-jauh rasa cemas atau minder yang sempat muncul. Nara adalah cewek yang jujur, dan aku percaya sepenuhnya pada setiap kata dan perhatian yang dibagikannya padaku.

Pukul tiga sore tepat, porsi latihan pemusatan silat di aula bawah kembali membakar fisikku. Dari jam tiga sampai jam enam sore, Mas Teguh mematok porsi latihan stamina dan variasi tendangan memutar. Keringat mengucur deras membasahi matras tanding.

Setiap kali merasa lelah atau kakiku mulai gemetar menahan kuda-kuda, aku mengingat senyuman Nara saat menyodorkan es teh manis tadi siang. Rasa lelah di badanku seketika berubah jadi dorongan semangat yang besar. Aku melancarkan tendangan dan tangkisan dengan presisi tinggi sampai Mas Teguh berkali-kali memberikan acungan jempol.

Ketika peluit panjang tanda berakhirnya latihan berbunyi tepat pukul enam sore, aku duduk bersandar di dinding aula, menatap langit sore yang mulai membiru gelap di luar jendela.

Sesampainya di rumah malam harinya usai mandi dan makan malam, aku berbaring di atas kasur. HP jadoelku bergetar sekali menandakan ada pesan masuk dari nomor Nara.

"Makasih ya buat sarapan roti bakarnya tadi pagi, Ibu nanya kamu suka gak selai cokelat kejunya. Besok aku udah harus siap-siap gladi bersih olimpiade di aula kabupaten. Doain lancar ya, Satria :)"

Aku tersenyum lebar membaca pesan itu, jari-jariku lincah mengetikkan balasan:

"Suka banget, Ra! Bilang ke Tante roti bakarnya enak parah. Pasti tak doain terus dari sini, Maknar pasti bisa dapet juara 1! Selamat istirahat ya :P"

Balasan darinya masuk satu menit kemudian:

"Aamiin. Makasih ya, Calon Atlet. Selamat istirahat juga."

Aku mematikan lampu kamar dengan perasaan gembira dan tenang. Di malam yang sunyi itu, aku meyakini satu hal: tak peduli seberapa sibuk duniaku dan dunianya, rasa percaya di antara kami adalah ikatan yang tidak akan mudah digoyahkan oleh apa pun.

1
Ayu Wd1109
jadi penasaran sama sosok Nara ..jika ada di kehidupan nyata
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!