Di balik ruang pemulasaraan yang dingin dan sunyi, Arya menyimpan kemampuan magis sekaligus mengerikan. Ia bisa melihat detik-detik terakhir kehidupan dari setiap jenazah yang disentuhnya. Tugasnya bukan sekadar menyucikan jasad, melainkan menjadi saksi bisu bagi suara-suara yang dibungkam kematian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1: Sentuhan Pertama
###
Selamat datang dalam Penemu Rahasia Orang Mati.
Mereka yang telah pergi sering kali meninggalkan kisah yang belum usai, rahasia yang terbungkam, pengkhianatan yang tersembunyi, hingga cinta terakhir yang tak sempat terucap.
Lewat sudut pandang Arya, seorang pemulasara jenazah, kita akan melangkah ke dalam ruang-ruang dingin tempat kebenaran menyuarakan dirinya sendiri.
Cerita ini author tulis untuk menyentuh sisi kemanusiaan kita paling dalam: bahwa di balik setiap tubuh yang kaku, ada jiwa yang pernah berjuang, mencintai, dan terluka.
Siap menelusuri lorong-lorong misteri dan konspirasi yang menguji keberanian serta rasa keadilan?
Yuk, ikuti terus perjalanan Arya dalam mengungkap bisikan-bisikan terakhir mereka yang tak lagi bisa berbicara! Jangan lupa untuk tekan tombol favorit, voting, dan tinggalkan jejak di kolom komentar ya. Dukungan kalian adalah semangat terbesarku untuk terus melanjutkan tiap episodenya.
Selamat membaca, dan bersiaplah menyelami rahasia di balik kematian!
#####
BAB 1: Sentuhan pertama
Bau khas cairan disinfektan dan aroma formalin yang dingin menusuk hidung Arya setiap kali ia melangkah masuk ke ruang pemulasaraan jenazah RSUD Bina Husada.
Baginya, ruangan yang terletak di lantai basement paling pojok itu bukanlah tempat yang mengerikan, melainkan ruang peristirahatan terakhir yang patut dihormati.
Malam itu, jarum jam dinding menunjuk ke angka 02.15 WIB. Dengung pendingin ruangan menjadi satu-satunya suara yang memecah keheningan.
Arya menyibakkan kain penutup putih pada salah satu brankar stainless steel. Di atasnya, terbaring jasad seorang pria paruh baya yang dilaporkan meninggal akibat serangan jantung mendadak di sebuah taman kota.
Arya menghela napas panjang, seraya mengusap wajahnya yang letih. Sudah hampir 18 jam ia bertugas karena rekan kerjanya mendadak mengambil izin sakit. Matanya terasa berat, kelopak matanya terasa panas, dan fokusnya mulai buyar.
"Satu lagi, Arya. Setelah ini kamu bisa tidur," bisiknya pada diri sendiri mencoba mengumpulkan sisa tenaga.
Dengan perlahan dan penuh kehati-hatian, Arya mengenakan sarung tangan latex. Ia mulai mengusap wajah jenazah tersebut menggunakan kain basah untuk membersihkannya.
Namun, saat jemarinya tanpa sengaja menyentuh kening dingin sang mayat tanpa perantara kain, hanya sepersekian detik, sebuah guncangan hebat mendadak menghantam kepalanya.
Zzzzt!
Sensasi seperti sengatan listrik bertegangan tinggi merambat dari ujung jarinya, menjalar ke lengan, lalu meledak di dalam pikirannya.
Pandangan Arya seketika menggelap, tetapi bukannya kegelapan, matanya mendadak menyaksikan kilasan gambaran visual yang sangat jelas, seolah ia sedang berdiri langsung di sana!
Ia melihat sudut pandang sang mayit di sebuah gang sempit yang remang. Ringkikan napas yang memburu dan kepanikan luar biasa terasa begitu nyata.
Dari balik kegelapan, sesosok pria berjas hitam melangkah maju. Cahaya lampu jalan memantul pada bilah pisau tipis yang berkilau.
Pria asing itu mencengkeram leher sang mayit, menyuntikkan sesuatu ke lehernya, lalu berbisik dengan dingin, "Serangan jantung yang sempurna, Pak Tua." Pandangan sang mayit kabur, dadanya sesak luar biasa, hingga akhirnya semuanya menjadi gelap total.
"Hah!"
Arya tersentak hebat, dan menarik tangannya secepat kilat. Ia mundur beberapa langkah hingga punggungnya menabrak meja instrumen stainless steel. Peralatan medis di atasnya berdenting keras, hingga menggema di ruangan yang sunyi.
Deg deg deg deg deg deg!!
Jantung Arya berdegup kencang bak genderang perang. Keringat dingin membasahi dahi dan lehernya. Napasnya memburu saat ia menatap jasad pria paruh baya di depannya yang masih terbaring kaku tanpa ekspresi.
Arya memegangi kepalanya yang mendadak pening luar biasa. Ia lalu menatap telapak tangannya sendiri yang gemetar hebat.
"Apa-apaan tadi itu? Visu? Halusinasi?"
Ia mencoba menenangkan diri, dan menghirup udara dingin ruangan dalam-dalam. Arya menggelengkan kepalanya keras-keras, dan mencoba merasionalkan apa yang baru saja terjadi.
"Tidak mungkin... ini cuma mimpi buruk. Aku pasti sudah kelewat lelah," gumam Arya, yang berusaha meyakinkan dirinya sendiri. "Sudah 18 jam tidak tidur. Otakku mulai membuat ilusi aneh-aneh."
Arya mengusap matanya, lalu mengambil kembali sarung tangannya dengan tangan yang masih sedikit gemetar. Ia memutuskan untuk mengabaikan bayangan mengerikan tadi dan menyelesaikan pekerjaannya secepat mungkin.
Namun, jauh di dalam hatinya, rasa dingin yang membeku bukan lagi berasal dari AC ruangan, melainkan dari firasat asing yang mulai merayapi jiwanya.
Beberapa jam kemudian...
Suara gemericik air yang membasahi lantai keramik menjadi satu-satunya irama di dalam kamar mandi sempit berukuran dua kali dua meter itu.
Arya membiarkan air dingin mengguyur kepalanya, dan berharap rasa dingin itu bisa menyapu bersih sisa-sisa bayangan mengerikan yang terus berputar di ingatannya sejak semalam.
Arya Wijaya, usia 27 tahun. Bagi orang-orang di luar sana, ia hanyalah seorang pemuda pendiam yang memilih profesi yang dihindari banyak orang sebagai pemulasara jenazah.
Tidak banyak yang tahu mengapa Arya betah bertahun-tahun merawat jasad orang mati. Semuanya bermula dari masa lalunya yang kelam.
Sepuluh tahun lalu, saat usianya baru 17 tahun, Arya kehilangan kedua orang tuanya dalam sebuah insiden tabrak lari misterius.
Saat itu, polisi menutup kasus dengan cepat dan menyimpulkannya sebagai kecelakaan murni. Arya muda yang hancur dan sendirian harus mengurus jenazah kedua orang tuanya tanpa keadilan yang jelas.
Sejak hari yang kelam itu, Arya belajar satu hal bahwa orang hidup bisa berbohong, memanipulasi fakta, dan menyembunyikan kejahatan. Namun, tubuh yang kaku dan tak bernyawa di atas meja pemulasaraan tidak pernah berbohong.
Menjadi pemulasara jenazah adalah caranya memberikan penghormatan terakhir dan kedamaian yang layak bagi mereka yang telah pergi, hal yang gagal ia dapatkan untuk orang tuanya sendiri.
Kini, Arya keluar dari kamar mandi, dan mengeringkan rambutnya dengan handuk. Di cermin yang berembun, ia menatap bayangannya sendiri. Wajahnya tegas dengan lingkaran hitam di bawah mata, mencerminkan keletihan fisik dan batin yang menumpuk.
Selama ini, Arya hidup dalam rutinitas yang tenang dan teratur. Ia tinggal di sebuah kontrakan sederhana yang dipenuhi buku-buku anatomi, ilmu forensik dasar, dan literatur hukum.
Ia tak punya banyak teman, dan ia lebih suka begitu. Menyendiri adalah perisai terbaiknya dari hiruk-pikuk dunia yang penuh kepalsuan.
Namun, ketenangan itu kini terusik.
Arya menatap telapak tangan kanannya. Jari-jari yang semalam menyentuh dahi dingin jasad di rumah sakit itu kini terasa asing. Ia mencoba meyakinkan dirinya lagi bahwa kejadian semalam hanyalah ilusi akibat kelelahan.
Namun, sensasi sengatan listrik dan detail ingatan asing yang masuk ke kepalanya terasa terlalu nyata untuk sekadar disebut bunga tidur.
Drettt drettt.
Ponselnya di atas meja bergetar singkat. Sebuah pesan masuk dari kepala ruangan RSUD:
“Arya, ada jasad baru yang baru saja masuk ke ruang jenazah. Korban kecelakaan lalu lintas. Tolong siapkan untuk proses pemulasaraan pagi ini.”
Arya menghela napas panjang, merapikan kemejanya, lalu mengambil kunci motor. Apapun yang terjadi semalam, tugasnya belum selesai. Ia harus kembali ke ruangan dingin itu, ruangan tempat ia merasa paling tenang, sekaligus tempat yang kini berpotensi mengubah seluruh jalan hidupnya.
Bersambung...