Tiga tahun berbakti sebagai istri seolah tak ada artinya bagi Aira ketika Radit diceraikannya secara mendadak tepat di hari ulang tahun pernikahan mereka.
Demi kehadiran sekretaris cantik, Aira terpaksa melangkah menembus hujan deras membawa kopernya. Kemalangan tak berhenti di situ; di tengah jalan ia diserang sekelompok preman hingga tak berdaya.
Di saat kritis, sosok pria tinggi bertato bernama Lucas datang menyelamatkannya. Namun, pertolongan itu membawa takdir baru. Dalam pengaruh obat akibat dijebak, Lucas membawa Aira ke hotel. Dengan bisikan "Jangan takut, aku mandul," Aira yang hancur akhirnya memejamkan mata dan pasrah.
Esok harinya, Aira pergi memulai hidup baru dari nol—mencari kontrakan dan pekerjaan. Namun beberapa minggu kemudian, garis dua di alat tes kehamilan meruntuhkan dunianya. Jika Radit sudah lama tak menyentuhnya, maka janin itu jelas milik Lucas. Lantas, apakah pengakuan mandul itu hanya kebohongan manis, atau ada rahasia besar yang sengaja Lucas sembunyikan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
Randy yang sudah bersiap di depan pintu lobi utama begitu melihat bosnya keluar membawa Aira.
Pintu mobil mewah itu langsung terbuka lebar, dan Lucas dengan hati-hati membaringkan Aira di kursi belakang, membiarkan wanita itu bersandar di pangkuannya.
"Jalan sekarang, Randy! Ke rumah sakit utama!" perintah Lucas dengan nada tegas dan mendesak.
"Baik, Pak!" Randy menginjak pedal gas dalam-dalam, melajukan mobil dengan kecepatan tinggi namun tetap stabil membelah jalanan kota yang mulai padat.
Di dalam kabin mobil yang ber-AC dingin, Aira justru merintih tertahan.
Keringat dingin semakin deras membasahi dahi dan lehernya, sementara tangannya mencengkeram erat lengan baju Lucas.
Lucas merengkuh bahu wanita itu semakin erat, mengusap lembut puncak kepalanya dengan penuh kecemasan.
"Sabar ya, sayang. Sebentar lagi kita sampai. Tahan sebentar." lirih Lucas, menyalurkan seluruh kehangatan agar rasa sakit dan mual di perut Aira bisa sedikit mereda.
Aira hanya mampu menganggukkan kepalanya lemah, menutup mata menahan gejolak di perutnya.
Tak berselang lama, mobil mewah itu memasuki halaman Rumah Sakit VIP milik keluarga besar Lucas.
Pihak rumah sakit yang sudah dihubungi Randy sebelumnya telah siaga di depan lobi.
Begitu mobil berhenti, dokter spesialis kandungan kepercayaan keluarga bersama beberapa perawat langsung mendorong brankar medis mendekat.
Aira dengan cepat dipindahkan ke atas brankar dan didorong terburu-buru menuju ruang pemeriksaan VIP.
Lucas terus menggenggam tangan wanita itu sepanjang perjalanan lorong rumah sakit, enggan melepaskannya barang sedetik pun.
Suasana di dalam ruang USG seketika terasa begitu tegang.
Dokter wanita paruh baya yang memeriksa perut Aira menggunakan alat ultrasound tampak terdiam cukup lama.
Alis sang dokter berkerut, bukan karena ada masalah buruk, melainkan karena layar monitor menampilkan pemandangan yang membuatnya harus menghitung ulang dengan teliti.
Lucas yang berdiri tepat di samping ranjang, menatap cemas ke arah layar monitor lalu beralih menatap sang dokter dengan rahang mengeras.
"Dokter" panggil Lucas dengan suara baritonnya yang berat, sarat akan ketidaksabaran.
"Ada apa? Calon istri saya kenapa?"
Sang dokter menarik napas pelan, lalu meletakkan alat sensor USG di atas meja.
Ia menatap Lucas dan Aira bergantian dengan senyum lebar yang tak mampu ia sembunyikan.
"Tenang, Pak Lucas. Tidak ada hal buruk yang terjadi pada kesehatan Nyonya," ucap dokter tersebut menenangkan.
Ia lalu menunjuk layar monitor yang menampilkan tiga titik denyut kehidupan kecil yang jelas.
"Sebaliknya, ini kabar yang luar biasa. Nyonya hamil anak kembar. Bukan kembar dua, melainkan kembar tiga, dan tingginya hormon kehamilan inilah yang memicu mual luar biasa di trimester pertama ini."
Deg!
Sekelebat keheningan langsung menyelimuti ruangan pemeriksaan.
Aira yang tadinya berbaring lemas dengan mata sayu seketika terperanjat.
Air mata hangat yang sejak tadi tertahan di pelupuk matanya akhirnya tumpah begitu saja.
Isak tangis pelan lolos dari bibirnya. Bayangan masa lalu yang kelam mendadak berputar di kepalanya, saat di mana ia dicaci maki, dihina habis-habisan oleh mantan suami dan keluarganya, dan dilabeli sebagai wanita mandul yang tidak berguna. Dan kini, takdir justru membayarnya lunas dengan cara yang paling indah dan menakjubkan.
Tuhan tidak hanya mempercayainya untuk menjadi seorang ibu, but langsung menganugerahinya tiga malaikat sekaligus dari pria yang sangat mencintainya.
Lucas, yang juga terpaku mendengar kenyataan itu, langsung mendekat.
Pria berdarah dingin itu ikut menitikkan air mata haru.
Ia menangkup wajah Aira, menghapus air mata di pipi wanita itu dengan ibu jarinya, lalu mencium keningnya dengan penuh cinta yang meluap-luap.
Setelah keterkejutan dan kebahagiaan menyelimuti ruang pemeriksaan, sang dokter kandungan lantas merapikan alat medisnya.
Ia menatap Lucas dan Aira dengan tatapan profesional penuh perhatian.
"Mengingat ini kehamilan kembar tiga dan kondisi Nyonya Aira sempat mengalami dehidrasi ringan serta kelelahan ekstrem, saya sangat menyarankan agar beliau menginap di rumah sakit malam ini untuk observasi dan pemulihan," saran dokter tersebut ramah.
Aira yang mendengar hal itu langsung menggelengkan kepalanya pelan. Ia berusaha bangkit dari posisi berbaringnya.
"Tapi, Lucas, aku tidak apa-apa. Besok pekerjaanku menungguku di dapur, banyak pesanan yang harus diurus." protes Aira dengan nada memohon.
Lucas menyipitkan mata tajamnya, menatap wanita di hadapannya dengan ekspresi tidak bisa ditawar.
"Jangan membantah, Aira. Dan ingat, aku adalah pimpinan tertinggi di hotel itu. Aku siap memecatmu detik ini juga kalau kamu masih berani bandel dan memikirkan pekerjaan!"
Aira mengerjap kaget, bersiap melayangkan protes lagi.
Namun, Lucas dengan sigap mengambil ponsel dari saku celananya dan langsung menekan nomor kontak Arum di kantor.
"Arum, tolong—" ucap Lucas on-point begitu panggilan tersambung.
Melihat Lucas benar-benar akan menghubungi manajer HRD untuk mengatur cuti panjangnya secara sepihak, Aira langsung panik dan meraih lengan pria itu.
"I-iya, iya! Lucas, aku mau rawat inap! Jangan dihubungi sekarang!" ucap Aira buru-buru, menyerah kalah di bawah ancaman dominan sang calon suaminya.
Sudut bibir Lucas langsung terangkat membentuk senyuman kemenangan.
Ia menatap Aira dengan sorot mata penuh gemas. "Pintar, sayang."
Tanpa membuang waktu, Lucas langsung menempelkan ponselnya kembali dan mematikan panggilan sebelum Arum sempat menjawab di ujung sana. Ia meletakkan ponselnya di atas nakas dengan senyum puas.
Namun, ketenangan di dalam ruangan itu tidak bertahan lama.
Baru saja Aira menghela napas lega, wajahnya tiba-tiba berubah pucat pasi.
Gejolak asam lambung yang luar biasa kembali menghantam ulu hatinya tanpa ampun.
Aira spontan memegang perutnya, membungkuk kesakitan, dan kembali memuntahkan cairan lambung tepat di hadapan mereka.
"Aira!" teriak Lucas panik, langsung sigap merangkul tubuh wanita itu.
Melihat kondisi Aira yang kembali drop secara drastis akibat hormon kehamilan kembar tiganya, para perawat yang siaga langsung bertindak cepat membawakan wadah dan tisu.
Mengingat situasi yang semakin genting dan tekanan emosional pasien yang membutuhkan tindakan medis cepat, dokter kandungan wanita itu lantas menoleh dengan sigap ke arah Lucas.
"Maaf, Pak Lucas. Untuk kelancaran tindakan medis darurat dan kenyamanan pasien, Anda harus keluar ruangan sebentar," pinta dokter dengan nada tegas namun sopan.
Meskipun berat hati dan enggan melepaskan dekapan dari wanita yang dicintainya, Lucas akhirnya mengangguk.
Dengan langkah berat dan raut wajah penuh kecemasan, ia melangkah mundur keluar dari ruang pemeriksaan, menyerahkan Aira ke tangan para tenaga medis profesional.
Ceklek.
Pintu ruang pemeriksaan tertutup rapat di depan wajah Lucas.
Pria itu berdiri kaku di koridor VIP rumah sakit, kedua tangannya terkepal erat di sisi tubuhnya.
Tatapan matanya yang tajam dan dingin kini menyuratkan kecemasan yang mendalam.
Baru saja ia melihat wanita yang paling dicintainya tersiksa oleh rasa mual yang hebat, dan kini ia harus pasrah menunggu di luar demi keselamatan Aira dan ketiga calon buah hati mereka.
Di ujung koridor, Randy yang baru saja memarkirkan mobil dan mengurus administrasi terlihat berlari kecil menghampiri bosnya dengan membawa map rekam medis.
"Pak Lucas," panggil Randy dengan napas sedikit terengah-engah dan segera menyerahkan map.
"Semua urusan administrasi pendaftaran kamar VVIP sudah saya selesaikan. Apakah kondisi Chef Aira baik-baik saja?"
Lucas melirik map di tangan asistennya, lalu menggeleng pelan.
"Dokter sedang menanganinya di dalam. Dia kembali muntah hebat tadi. Kehamilan kembar tiga membuat tubuhnya benar-benar kewalahan di trimester pertama ini."
Randy tertegun sejenak, matanya membelalak lebar mendengar kata kembar tiga.
Namun, ia segera menguasai diri dan mengnodong paham.
"Pantas saja. Semoga Nyonya Aira dan calon bayi kembar diberikan kesehatan, Pak."
"Pastikan tidak ada satu pun orang luar atau media yang tahu tentang keberadaan kami di sini, Randy," perintah Lucas dengan nada rendah namun penuh penekanan mutlak.
"Jika ada yang mencoba mencari tahu, usir atau bereskan."
"Baik, Pak. Saya akan memperketat pengamanan di seluruh lantai ini," jawab Randy sigap, lalu mundur beberapa langkah untuk berjaga di dekat lift.
Lucas kembali memalingkan wajahnya ke arah pintu putih ruang pemeriksaan.
Pikirannya melayang pada sosok Aira, wanita hebat yang selama ini harus menanggung luka batin yang begitu dalam akibat pengkhianatan mantan suaminya, Radit.
Dulu, keluarga biadab itu tega mencaci maki Aira dan menuduhnya mandul.
Lihatlah sekarang,bWanita yang kalian buang dan kalian hina justru tengah mengandung tiga anak sekaligus dari darah dagingku. Dan aku pastikan, Radit, keluargamu akan membayar setiap tetes air mata Aira dengan kehancuran yang setimpal. Batin Lucas.
Sebelum amarahnya semakin menjadi, pintu ruang pemeriksaan akhirnya terbuka kembali.
Dokter wanita paruh baya yang tadi menangani Aira melangkah keluar dengan senyum menenangkan.
Lucas langsung menyambutnya dengan langkah cepat.
"Bagaimana keadaannya, Dok?" tanya Lucas tanpa basa-basi.
"Nyonya Aira sudah jauh lebih tenang, Pak Lucas," jelas sang dokter.
"Kami sudah memasang infus berisi cairan elektrolit dan vitamin untuk menghentikan dehidrasi serta meredakan mualnya. Beliau sudah tertidur pulas akibat obat penenang ringan yang kami berikan. Sekarang, beliau sudah bisa dipindahkan ke kamar rawat VVIP."
Lucas menghembuskan napas lega yang terasa begitu berat di dadanya.
"Terima kasih, Dok."
Di dalam kamar rawat VVIP yang luas, tenang, dan bernuansa hangat layaknya kamar hotel mewah, Aira berbaring di atas tempat tidur rumah sakit.
Selang infus terlihat menancap di punggung tangan kanannya yang mulus, mengalirkan cairan penyejuk ke dalam tubuhnya.
Wajahnya yang tadi pucat kini sudah mulai berangsur pulih, meski sisa-sisa kelelahan masih jelas membekas di kelopak matanya.
Lucas duduk di kursi di samping tempat tidur. Pria itu menggenggam tangan kiri Aira dengan kedua tangannya, membawanya mendekat ke bibirnya dan mengecupi jemari wanita itu berulang kali dengan penuh kelembutan.
Tidak ada lagi aura dingin dan intimidatif yang biasa ia tunjukkan pada dunia luar.
Di hadapan Aira, Lucas hanyalah seorang pria biasa yang teramat takut kehilangan wanita yang telah mencuri hatinya.
"Tidurlah yang nyenyak, sayang," bisik Lucas lembut, menyibak helai rambut Aira yang menutupi dahi.
"Mulai sekarang, hidupmu dan anak-anak kita adalah tanggung jawabku. Tidak ada lagi air mata, tidak ada lagi rasa sakit."
Pintu kamar terbuka perlahan, menampilkan sosok Arum yang melangkah masuk dengan membawa tas jinjing berisi pakaian ganti milik Aira yang sempat ia ambilkan dari suite room hotel atas perintah Randy.
Arum tersenyum tipis melihat pemandangan di depannya, lalu mendekat pelan agar tidak membangunkan Aira.
"Bagaimana kondisi Chef Aira, Pak?" bisik Arum hati-hati.
Lucas menoleh sekilas, masih dengan tangan yang enggan melepaskan genggamannya dari Aira.
"Dia sudah tidur. Terima kasih sudah membawakan pakaiannya, Arum."
"Sama-sama, Pak. Ini sudah tugas saya," balas Arum tulus.
Ia lalu menatap wajah Aira sejenak sebelum kembali menatap sang pimpinan hotel.
"Apakah pihak dapur sudah saya kendalikan. Semua pesanan berjalan lancar tanpa ada yang curiga berlebihan, meskipun banyak pegawai yang masih penasaran kenapa bos besar mereka tiba-tiba membopong wanita asing tadi siang."
Sudut bibir Lucas terangkat tipis membentuk smirk samar.
"Biarkan mereka berasumsi sesuka hati. Segera umumkan status Aira sebagai calon istriku begitu waktunya tepat. Aku tidak mau ada lagi yang berani memandangnya rendah, apalagi bergosip di belakangnya."
"Baik, Pak. Saya mengerti." ujar Arum.
"Bagus. Sekarang kamu bisa kembali ke hotel untuk mengawasi operasional sore ini," perintah Lucas halus.
Arum mengangguk hormat, lalu berbalik dan melangkah keluar kamar dengan senyum penuh kelegaan.
Ia tahu betul, Aira telah menemukan pelabuhan hati yang tepat.
Pria terkuat di kota ini yang siap melindungi dan meruntuhkan dunia demi kebahagiaannya.
Di dalam kamar yang sunyi itu, Lucas kembali menatap wajah Aira yang tertidur pulas di atas bantal.
Ia merapatkan kursinya, menempelkan keningnya pada punggung tangan Aira, berjanji di dalam hati untuk menjaga keluarga kecil mereka dari segala ancaman dunia luar.
gimana Radit, ternyata kamu yang mandul 🤣🤣 jadi anak siapa yang dalam kandungan Mila? kan pelacur murahan yah 🤣🤣
niat hati menjatuhkan chef Aira, kamu yang akan menghadapi kekuasaan Lucas
mama kandung yang waras pasti ga akan mau punya menantu pelacur murahan seperti kamu, jadi jelas sekali chef Aira kelasnya jauh di atas kamu