Song Qian adalah keturunan Dewa Leluhur Qing Tian yang lahir dari Menara Qian Kun setelah Tiga Alam diciptakan pada 70 ribu tahun yang lalu. Kelahirannya dianggap sebagai berkah bagi Tiga Alam. Song Qian berguru kepada Qian Gu untuk menguasai tiga elemen kekuatan semesta yang sudah ia miliki sejak lahir.
Namun, Qian Gu dan Song Qian tidak tahu apa saja rintangan yang akan menghampiri mereka di masa depan. Seiring berjalannya waktu, mereka berdua mulai jatuh cinta. Banyaknya rintangan membuat mereka harus berjuang bersama-sama untuk terus bersatu dan melindungi Tiga Alam bersama dengan Dewa Agung lainnya serta melindungi cinta di hati mereka.
Apakah Song Qian dan Qian Gu dapat mencapai tujuan mereka untuk melindungi Tiga Alam sekaligus cinta di hati mereka atau mereka harus mengorbankan segalanya untuk memberikan kedamaian bagi Tiga Alam? Ikuti terus kisahnya!
Dilarang menjiplak novel ini!!!
IG : @bellakristyc_
E-mail : bellakristyc@gmail.com
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bella Kristy Cecilia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penyergapan Berdarah di Lembah Tengkorak
Racun Hitam Suku Iblis dan Kebangkitan Refleks Tiga Elemen
Malam kian merambat pekat menyelimuti persada Kerajaan Jing. Angin dingin musim gugur bertiup kencang, membawa kabut tipis yang merayap di sepanjang jalan berbatu keluar dari gerbang ibu kota Kota Jing'an.
Di bawah naungan rembulan yang tertutup awan kelam, suara derap langkah kuda pacu bergaung cepat memecah keheningan malam.
Jenderal Muda Song Qian memacu kuda hitam perkasa miliknya menembus kegelapan. Ia berbalut zirah tempur perak bertatahkan jubah hitam tebal, dengan sebilah pedang pusaka terikat tegap di pinggang kirinya. Wajah tampannya membeku dingin, tatapan matanya lurus menembus kegelapan jalanan menuju ke arah utara.
Di dalam benak Song Qian, tak ada ruang untuk rasa takut sedikit pun. Yang ada hanyalah bayangan paras lembut Putri Gu Qian yang saat ini terkurung di Penjara Bawah Tanah Istana yang dingin dan lembap.
Gu Qian... tunggu aku, bisik Song Qian di dalam hatinya seraya mempererat pegangan tali kekang kudanya. Tiga hari... Aku pasti akan kembali membawa perjanjian damai itu dan membebaskanmu dari cengkeraman penjahat istana!
Setelah menempuh perjalanan cepat selama dua jam menembus perbukitan, laju kuda Song Qian perlahan-lahan melambat tatkala ia memasuki mulut sebuah celah pegunungan yang sangat terkenal mengerikan: Lembah Tengkorak.
Lembah Tengkorak adalah sebuah jalan sempit di antara dua tebing batu raksasa yang membumbung tinggi menembus awan. Tempat ini terkenal sebagai jalur paling berbahaya menuju perbatasan utara, tempat ribuan nyawa perampok dan prajurit tewas di masa lalu.
Begitu kuda Song Qian melangkah memasuki celah lembah, bulu kuduk sang jenderal muda mendadak bergidik ngeri.
Hawa di dalam Lembah Tengkorak terasa sangat tidak wajar. Udara dingin bertiup kaku, menyebarkan kabut tebal berwarna kehitaman yang berbau amis darah dan pembusukan. Keheningan di tempat itu begitu pekat, hingga suara serangga malam pun tak terdengar sedikit pun.
Kuda hitam tunggangan Song Qian mendadak meringkik cemas, menghentakkan kakinya dan menolak untuk melangkah lebih jauh.
Song Qian memicingkan matanya yang tajam. Naluri murni seorang jenderal perang yang terlatih di ratusan medan pertempuran seketika membunyikan alarm bahaya di dalam jiwanya.
"Hawa membunuh yang sangat pekat..." gumam Song Qian pelan, jemari tangan kanannya perlahan-lahan meraba dan menggenggam erat gagang pedang peraknya.
BUM!
Tiba-tiba, sebuah batu raksasa meluncur jatuh dari puncak tebing, menghantam dan menutup rapat jalan keluar di belakang Song Qian dengan suara gemuruh yang dahsyat.
Bersamaan dengan tumbangnya batu tersebut, dari balik kabut hitam tebal di sepanjang tebing dan semak-semak, melompat turun ratusan sosok bergaun jubah hitam. Puluhan pembunuh bayaran bersenjatakan pedang beracun dan panah silang mengepung posisi Song Qian dari segala penjuru.
Di atas salah satu tebing batu raksasa, berdiri sosok pria tinggi bergaun hitam bertopeng tengkorak besi, utusan suku Iblis yang sebelumnya berkonspirasi dengan Menteri Zhao Biao.
"Hahaha! Jenderal Muda Song Qian!" gelak pria bertopeng tengkorak dengan suara ganda yang bergema mengerikan. "Kau sungguh berani melangkah seorang diri ke dalam Lembah Tengkorak ini! Sayang sekali... perjalananmu menuju perbatasan utara harus berakhir di tempat berdarah ini!"
Song Qian menarik tali kekang kudanya, menatap pria bertopeng itu dengan pandangan dingin tanpa getaran ketakutan.
"Utusan Menteri Zhao?" pangkas Song Qian tajam. "Rupanya Menteri Zhao dan para menteri sipil tidak sabar menunggu tiga hari hingga mengutus ratusan tikus malam untuk menghentikan langkahku!"
"Menteri Zhao hanyalah alat kecil bagi kami, Bocah!" bentak pria bertopeng tengkorak gila. "Prajuritku! Bantai Jenderal Song Qian dan cincang tubuhnya hingga tak tersisa!"
"Seranggggg!"
Seketika, ratusan pembunuh berjubah hitam melesat maju bersamaan seraya mengayunkan pedang-pedang beracun mereka lurus mengincar tubuh Song Qian.
SRAKKKKK!
Dengan kecepatan refleks luar biasa, Song Qian melompat dari atas punggung kudanya. Di udara, jemari tangannya mencabut pedang perak dari sarungnya, memancarkan kilatan cahaya perak yang menyilaukan mata.
CRASH! CRASH! CRASH!
Hanya dalam satu putaran tebasan memutar di udara, Song Qian memotong lima senjata pembunuh bayaran dan menghempaskan tubuh mereka hingga menghantam dinding batu.
Song Qian mendarat tegap di atas tanah berlumpur. Gerakan tubuhnya bagaikan tarian taufan yang amat gemulai namun mematikan. Sebagai jenderal nomor satu Kerajaan Jing, teknik pedang fana milik Song Qian berada di puncak tertinggi. Setiap sabetan pedangnya sangat presisi, menembus titik lemah zirah musuh, menjatuhkan belasan pembunuh bayaran dalam hitungan detik.
Namun, saat Song Qian berhasil mendesak barisan depan pembunuh bayaran, hal mengerikan terjadi.
Pria bertopeng tengkorak di atas tebing menghentakkan tongkatnya ke udara seraya merapalkan mantra sihir kegelapan.
"Dengan Darah Iblis Purba... Bangkitlah dan abaikan rasa sakit!"
BZZZZZZZT!
Seketika, kabut hitam di dalam lembah meliuk-liuk masuk menyusuri pori-pori kulit ratusan pembunuh bayaran tersebut. Urat-urat darah kehitaman meledak menonjol di leher dan wajah mereka. Mata para pembunuh itu berubah warna menjadi merah darah menyala, sementara tubuh mereka membesar dua kali lipat.
Mereka telah disuntiki Racun Gila Suku Iblis.
"Aarrggghhh!" jerit para pembunuh bayaran dengan suara serak bagaikan binatang buas.
Meskipun pedang Song Qian menembus dada mereka, para pembunuh yang telah teracuni sihir iblis tersebut tidak merasakan sakit sedikit pun. Mereka terus merangsek maju dengan gila, mencengkeram bilah pedang Song Qian dengan tangan kosong hingga pergelangan tangan sang jenderal terkunci.
"Apa?!" terperanjat Song Qian kaget tatkala melihat musuhnya tidak mati meski jantung mereka telah tertembus pedang.
Memanfaatkan celah terkuncinya pedang Song Qian, tiga pembunuh beracun melompat dari belakang. Salah satu dari mereka mengayunkan belati beracun hitam, menyabet bahu kanan Song Qian secara telak.
CRASH!
Zirah perak Song Qian robek, dan belati beracun itu menggores dalam kulit bahunya.
"Uhhuk!" Song Qian meringis kesakitan yang luar biasa.
Racun hitam suku Iblis yang sangat pekat seketika menjalar masuk menyusuri pembuluh darah di bahunya. Rasa panas bagaikan dibakar api neraka menyebar cepat, membuat pandangan mata Song Qian mendadak kabur dan berbayang. Aliran darah fana di dalam tubuhnya membeku parah.
"Hahaha! Racun Darah Iblis telah melumpuhkan jiwamu, Song Qian!" jerit pria bertopeng tengkorak dari atas tebing. "Habisi dia sekarang!"
Puluhan pembunuh beracun melompat bersamaan, mengarahkan puluhan tombak dan pedang lurus mengincar jantung dan leher Song Qian yang telah berlutut lemas di atas tanah.
Hawa dingin kematian merayap seketika. Di tengah pandangannya yang kian menggelap dan napasnya yang terengah-engah parah, bayangan wajah Putri Gu Qian kembali terlintas di dalam benak Song Qian.
Tidak... Aku tidak boleh mati di sini... panggil jiwa Song Qian di tengah keputusasaan. Gu Qian... sedang menungguku di dalam penjara yang dingin itu... Aku telah bersumpah untuk melindunginya!
Pada detik-detik paling kritis antara hidup dan kematian fana tersebut...
Keinginan murni yang teramat kuat untuk melindungi sosok yang dicintainya mendadak memicu ledakan reaksi pada darah murni Dewa Leluhur Qing Tian yang terlelap di dalam dada Song Qian.
Meskipun ingatan dewa dan kekuatan sihirnya terkunci oleh tatanan Ujian Takdir Fana, memori otot, dorongan jiwa, dan refleks Tiga Elemen Semesta yang telah dilatihnya selama ratusan tahun di Alam Dewa mendadak meledak melepaskan diri secara tak sadar dari dalam jiwa fananya.
BZZZZZZZZZZZZT!
Seketika, fenomena alam yang amat dahsyat meledak di tengah Lembah Tengkorak.
Dari telapak tangan kanan Song Qian, membumbung tinggi kobar cahaya Api Surgawi berwarna merah keemasan yang membakar habis kabut hitam racun di udara.
Dari telapak tangan kirinya, memancar pusaran air murni yang membeku menjadi bilah-bilah Es Murni yang sangat tajam.
Dan dari dada serta tubuhnya, meluncur kilatan Petir Emas yang menyambar-nyambar liar dengan suara gemuruh yang menggetarkan seluruh pegunungan.
BUMMMMMMMMMMMMMM!
Ledakan refleks Tiga Elemen Semesta meledak secara simultan dari tubuh fana Song Qian.
Gelombang api, petir, dan es menyapu radius puluhan meter di sekeliling Song Qian! Ratusan pembunuh bayaran beracun yang melompat menyerangnya seketika terhantam oleh ledakan Tiga Elemen. Tubuh-tubuh mereka terbakar oleh Api Surgawi, tersambar oleh Petir Emas, dan hancur berkeping-keping menjadi abu bercahaya sebelum sempat menyentuh sehelai rambut pun dari Song Qian.
"Aaaaaaaaaarrggghhhhh!" jerit ratusan pembunuh bayaran tatkala sihir iblis di dalam tubuh mereka musnah sepenuhnya oleh pendar cahaya suci Tiga Elemen.
Batu-batu tebing Lembah Tengkorak runtuh hancur berkeping-keping akibat dampak benturan energi Tiga Elemen yang meluap ke segala arah.
Pria bertopeng tengkorak di atas tebing membelalakkan matanya kaget setengah mati. Wajah di balik topengnya pucat pasi, tubuhnya gemetar hebat tatkala merasakan pendar aura keagungan dewa purba yang memancar dari tubuh pemuda fana di bawah sana.
"T-Tiga... Tiga Elemen Semesta?!" jerit pria bertopeng itu dengan suara melengking ketakutan. "Bagaimana mungkin... Bagaimana mungkin seorang manusia biasa sanggup memicu kekuatan Dewa Agung purba?!"
Tanpa berani menunda sedetik pun, pria bertopeng tengkorak itu membakar sisa inti sihirnya, memicu formasi ilusi untuk melarikan diri ketakutan menembus kegelapan malam.
Sisa-sisa pendar cahaya Petir Emas, Api Surgawi, dan Es Murni perlahan-lahan memudar di udara.
Lembah Tengkorak yang tadinya dipenuhi oleh ratusan pembunuh bayaran dan kabut racun hitam kini berubah menjadi kawah melingkar yang hangus terbakar dan dilapisi kristal es murni. Seluruh pembunuh bayaran telah musnah tanpa menyisa sedikit pun.
Song Qian bertumpu pada kedua tangannya di atas tanah, terengah-engah parah.
Goresan racun di bahunya mendadak menguap hilang, dibakar dan disucikan sepenuhnya oleh gejolak Tiga Elemen di dalam darahnya. Song Qian mengangkat kedua telapak tangannya sendiri, menatapnya dengan rasa takjub, bingung, dan tidak percaya yang teramat sangat.
"Kekuatan... kekuatan apa ini?" bisik Song Qian dengan napas naik turun. "Cahaya petir... api... dan es tadi... datang dari dalam dadaku?"
Song Qian tidak sanggup memahami bagaimana tubuh fananya sanggup memuntahkan fenomena alam yang begitu dahsyat. Namun, kehangatan yang tersisa di dalam dadanya membuat jiwanya terasa jauh lebih kuat dan bertenaga dibanding sebelumnya.
Song Qian mengepalkan tangannya, berdiri tegap kembali. Ia berdiri di tengah kawah lembah, menatap lurus ke arah cakrawala utara yang kian dekat.
"Tidak peduli keajaiban apa yang baru saja terjadi..." gumam Song Qian dengan pendar mata yang amat bulat dan teguh, "...aku harus terus bergerak! Perbatasan utara sudah di depan mata!"
Song Qian memanggil kudanya yang selamat, melompat naik ke atas pelana, dan kembali memacu kudanya membelah angin malam menuju perkemahan Suku Barbarian Utara.
Sementara itu, di dalam Penjara Bawah Tanah Istana Kota Jing'an yang gelap dan dingin...
Putri Gu Qian duduk di atas pembaringan batu yang keras. Jubah hitam tebal milik Song Qian masih terbalut hangat di tubuhnya.
Tiba-tiba, di saat yang bersamaan dengan meledaknya Tiga Elemen milik Song Qian di Lembah Tengkorak, dada Putri Gu Qian berdesir hebat! Sebuah gelombang kehangatan murni terpancar dari dasar jiwanya, membuat air mata bening kembali menetes di pipi sang putri.
Putri Gu Qian mendongak, menatap celah jeruji besi penjara yang mengarah ke langit utara.
"Song Qian..." bisik Gu Qian halus seraya memegang jubah hitam di dadanya, menyunggingkan senyuman paling tulus di tengah kegelapan penjara. "Aku bisa merasakan keberadaanmu... Kau berhasil lolos dari bahaya itu, bukan?"
Ikatan takdir dan Resonansi Jiwa Murni di antara mereka tak akan pernah sanggup dihancurkan oleh dinding batu atau intrik kejam manusia fana.
Penyergapan di Perkemahan Badai Barbarian Utara! Bagaimanakah cara Jenderal Song Qian menembus markas utama benteng delapan puluh ribu pasukan Barbarian seorang diri dalam semalam? Dan sosok penyihir rahasia suku Barbarian seperti apakah yang ternyata memegang kunci surat perjanjian damai berdarah tersebut?
Bersambung.......
Halo semuanya, terima kasih sudah mampir ke novel ini. Kalau kalian suka dengan ceritanya, boleh kasih like, vote, tips, dan tambahkan novel ini ke favorit ya. Kalau ingin memberikan kritik dan saran, silakan tulis di kolom komentar ya. Ikuti terus kisah Song Qian sampai selesai!