NovelToon NovelToon
KEKASIH DARI KEGELAPAN

KEKASIH DARI KEGELAPAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Romansa Fantasi / Penyelamat
Popularitas:108
Nilai: 5
Nama Author: LailaHaidar

Di antara cahaya yang tak pernah cukup dan bayangan yang tak pernah padam, namanya terucap hanya dalam hening: Orion.

Ia bukan milik dunia yang kau kenal. Pangeran dari kedalaman kegelapan, sosok yang dikabarkan tak pernah menyentuh sinar matahari, yang berjalan di tempat di mana cahaya tak mampu menjangkau. Banyak yang gemetar menyebut namanya; banyak yang menganggapnya kutukan. Namun bagi Aruna—ia adalah satu-satunya keberkahan yang menyelamatkannya dari jurang.

Aruna, gadis yang hidup di antara keraguan dan bahaya yang datang tanpa peringatan, selalu menemukan dirinya ditarik ke tepi jurang—sampai sepasang tangan yang kuat, hangat meski berasal dari kegelapan, menariknya kembali. Orion selalu hadir tepat saat dunia tampak membelakanginya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LailaHaidar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bahasa Tanpa Suara

Hari-hari berikutnya kami isi dengan belajar. Orion mengajariku cara membaca tanda-tanda di lembah ini—bagaimana kabut berubah saat ada makhluk asing yang lewat, bagaimana bintang-bintang di langit ini memberi tahu waktu, tanaman mana yang bisa dimakan dan mana yang harus dihindari. Aku mengajarinya hal-hal kecil yang dia lupa—cara tertawa tanpa alasan, cara menikmati suasana tenang tanpa merasa harus selalu waspada.

"Kau tahu," kataku suatu sore saat kami duduk di atas bukit kecil yang menghadap ke lembah luas, "di duniamu tidak ada matahari, tapi anehnya aku tidak pernah merasa gelap. Cahayamu... cukup untukku."

Dia tersenyum, tangannya bermain dengan jemariku yang terbaring di rumput berkilauan. "Kau bilang begitu karena kau belum pernah melihat kegelapan sejati. Tempat di mana bahkan bayangan tak berani melangkah."

"Mungkin. Tapi aku tidak takut, karena kau ada di sisiku."

Dia terdiam sejenak, lalu menatapku dengan tatapan yang lebih dalam dari biasanya. "Aruna... ada sesuatu yang ingin kucoba. Tapi aku takut."

"Apa itu? Katakan saja."

"Pertukaran ingatan. Di duniku, ketika ikatan antara dua orang cukup kuat, mereka bisa berbagi pengalaman, perasaan, bahkan ingatan tanpa berbicara. Aku ingin kau melihat apa yang pernah kulihat, apa yang kurasakan. Tapi itu mungkin menyakitkan. Banyak hal yang kelam di sana."

Aku duduk menghadapnya, lutut kami bersentuhan. "Aku tidak takut melihat bagian yang kelam darimu. Justru aku ingin tahu—semua bagianmu, bukan hanya yang indah."

Dia menarik napas panjang, lalu mengangguk perlahan. "Pegang kedua tanganku. Tutup matamu. Dan saat aku masuk ke dalam pikiranmu... jangan menolak. Biarkan aku masuk."

Aku menutup matanya. "Aku siap."

Awalnya hanya hening. Lalu perlahan, seperti mimpi yang mulai terbentuk, aku melihat bayangan-bayangan. Aku melihat dirinya—masih muda, berdiri di ruangan besar yang gelap, sendirian. Aku merasakan kesepiannya—bukan sekadar sepi, tapi hampa yang menelan seluruh ruangan. Aku mendengar suara Valdris yang mengecilkan hatinya, menyebutnya lemah, tidak pantas, hanya bayangan yang tak berguna. Aku merasakan sakitnya saat dikutuk, rasa dingin yang menembus tulang saat diasingkan ke perbatasan, hari-hari yang tak berujung tanpa suara, tanpa wajah yang ramah.

Dan kemudian... dia melihatku.

Aku melihat diriku dari sudut pandangnya—berjalan pulang sambil menyanyi pelan, tertawa pada sesuatu yang tak terlihat, duduk sendirian di bawah pohon sambil membaca buku. Aku merasakan getaran di dadanya saat pertama kali melihatku—keajaiban yang bercampur ketakutan. Aku merasakan bagaimana dia menahan diri ribuan kali saat ingin menyapaku, takut, merasa tidak layak, merasa dia hanya akan mencemari cahayaku.

Saat aku membuka mataku, air mata menetes di pipiku. Orion menatapku cemas, tangannya melepaskan genggamannya perlahan seolah takut aku akan menjauh.

"Maaf," katanya pelan. "Aku bilang itu menyakitkan. Kau tidak perlu memikul beban itu."

Aku menggeleng, meraih tangannya kembali dan menempelkannya di pipiku yang basah. "Aku tidak sedih karena melihatnya. Aku sedih karena kau menanggung semua itu sendirian. Selama ribuan tahun."

Dia menatapku, matanya berkaca-kaca—air mata yang jarang kulihat. "Tidak ada yang pernah ingin melihat bagian itu. Semua orang hanya melihat pangeran, atau monster. Tidak ada yang mau melihat anak kecil yang takut sendirian di dalam diriku."

"Selamanya akan ada aku," bisikku, menariknya ke pelukanku. "Aku akan selalu ada untuk bagian-bagianmu yang terluka itu."

Dia memelukku erat, menyembunyikan wajahnya di leherku. "Kau adalah mukjizat yang tidak pantas kuterima. Aku tidak tahu apa yang kulakukan sampai layak mendapatkanmu."

"Kau hanya menjadi dirimu," jawabku lembut. "Dan itu sudah lebih dari cukup."

Saat kami duduk di sana, berpelukan di atas bukit yang diterangi cahaya bintang, aku menyadari sesuatu—mencintai seseorang bukan hanya tentang menikmati kebahagiaannya, tapi juga berani memegang tangannya saat dia kembali ke masa lalu yang kelam, dan berkata: Aku di sini. Kau tidak sendirian lagi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!