NovelToon NovelToon
Cinta Terhalang Dinding Pesantren

Cinta Terhalang Dinding Pesantren

Status: tamat
Genre:Perjodohan / Idola sekolah / Cintapertama / Tamat
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Senja Juliani Putri

Cinta Terhalang Dinding Pesantren

Muthi'ah Azzahra hanya ingin menjalani hidupnya sebagai santriwati dengan tenang. Namun, semuanya berubah ketika dia mengetahui bahwa dirinya telah dijodohkan dengan Jay, putra pengasuh pesantren yang selama ini terasa begitu jauh dari kehidupannya.

Bagi Muthi'ah, perjodohan itu adalah keputusan yang tidak pernah dia minta. Bagi Jay, itu adalah janji keluarga yang perlahan berubah menjadi sebuah pilihan.

Di tengah aturan pesantren, gosip, bullying, tekanan keluarga, dan perasaan yang tumbuh diam-diam, mereka harus belajar mengenal satu sama lain tanpa kehilangan hak untuk menentukan masa depan.

Sebab, cinta yang sebenarnya bukan tentang siapa yang menjodohkan mereka, tetapi tentang apakah mereka mampu memilih satu sama lain dengan hati yang benar-benar ikhlas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja Juliani Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 17 - Gosip Menjadi Bullying

Foto itu menyebar jam 7 pagi.

Nadira tidak menyebar sendiri di grup santri. Dia pintar. Dia kirim ke satu orang, Lulu, dengan caption, "Lu lihat deh, pantas dia jadi favorit. Hujan-hujanan aja disamperin."

Lulu kaget, langsung forward ke grup kecilnya, "Guys, lihat deh."

Dari grup kecil, ke grup kelas putri. Dari grup kelas putri, ke grup WhatsApp wali santri yang emang hobi bergosip.

Foto crop-an itu, yang aslinya Jungwon memberi payung ke Muthi'ah, tapi di-crop jadi terlihat seperti Jay yang memberi payung langsung di depan pintu aula pas hujan deras. Blur, tapi cukup jelas untuk membuat orang berpikir yang tidak-tidak.

Caption yang menyebar bersama foto itu: "Pantas saja jadi favorit ustazah. Ada yang jaga di belakang."

Jam 8 pagi, semua santri putri sudah melihat.

Muthi'ah baru tahu pas di kelas. Dia duduk di bangkunya yang biasa. Pas dia datang, dua santri yang biasanya duduk di sebelahnya, geser. Bangku sebelahnya kosong.

Dina yang datang belakangan langsung sadar.

"Loh, kok kosong?" kata Dina.

Salsa yang sudah di kelas dari tadi berbisik, "Din, jangan kencang-kencang. Dari tadi mereka menjauhi Muthi'ah. Gara-gara foto di grup."

"Foto apa?" Dina bingung.

Salsa mengeluarkan HP selundupannya, menunjukkan foto itu.

Dina melihat, langsung melotot, "Ini kan pas hujan kemarin? Ini kan Jungwon yang ngasih payung? Kok jadi kelihatan seperti Gus Jay?"

Muthi'ah yang dari tadi diam, menunduk, mendengar semua. Tangannya dingin.

Zahra masuk kelas, melihat bangku Muthi'ah kosong sebelah-sebelahnya, langsung paham. Dia langsung duduk di sebelah Muthi'ah.

"Muth, gapapa. Duduk sama aku ya," bisik Zahra.

Jam istirahat, di kantin putri, mimpi buruk berlanjut.

Biasanya Muthi'ah makan bareng Dina, Zahra, Salsa, satu nampan ramai-ramai. Hari itu, pas mereka membawa nampan ke meja biasa, ada satu spot kosong. Pas Muthi'ah mau duduk, dua santri di meja itu langsung berdiri, pindah meja, sambil berbisik ketawa.

Jelas sekali menjauhi.

Muthi'ah berdiri kaku, nampan di tangannya gemetar.

Dina langsung meledak, "Woy! Apa-apaan sih kalian?"

Yang pindah hanya senyum sinis, "Ih, Dina, nggak usah belain terus."

Salsa sudah mau maju, tapi Zahra menahan.

"Salsa, jangan. Nanti kamu yang dihukum," bisik Zahra.

Tapi Salsa tidak tahan.

"Eh, dengar ya! Muthi'ah tidak pernah cari muka! Foto itu saja tidak jelas! Fitnah itu dosa tahu!" teriak Salsa, satu kantin menengok.

Yang menjauhi tadi malah tertawa, "Ih, belain terus. Jangan-jangan satu geng memang gitu semua ya."

Zahra akhirnya berdiri, menarik Salsa dan Dina.

"Sudah. Kita makan di kamar saja. Ayo, Muth," kata Zahra.

Mereka berempat keluar kantin, makan di kamar. Muthi'ah makannya sedikit sekali, hanya dua suap.

"Muth, makan dong," kata Dina.

Muthi'ah menggeleng, "Kenyang."

Padahal tidak kenyang. Tenggorokannya seperti tercekik. Bukan hanya karena dia dijauhi, tapi karena Dina, Zahra, Salsa juga ikut dijauhi gara-gara membela dia.

Siangnya, di kelas, lebih parah. Pas pelajaran, guru bertanya, "Siapa yang mau jawab?"

Biasanya Muthi'ah yang paling cepat angkat tangan. Hari itu dia tidak angkat tangan sama sekali.

Guru malah bertanya, "Muthi'ah, kok tidak jawab? Biasanya kamu yang paling aktif."

Satu kelas menengok. Ada yang berbisik, "Iya, pintar sekali sih, pantas disayang."

Muthi'ah menunduk, "Afwan, Ustazah, belum paham."

Padahal paham sekali.

Sore itu, di grup WhatsApp wali santri, lebih ramai lagi. Ustazah Khadijah yang ada di grup itu membaca semua. Mukanya langsung serius. Beliau langsung menulis di grup: "Foto ini tidak benar. Klarifikasi akan kami sampaikan. Mohon tidak menyebar lagi."

Di asrama putra, Jay juga melihat foto itu. Jake yang menunjukkan.

"Jay, lihat deh. Foto lu menyebar. Tapi ini kan bukan lu, ini Jungwon kan?" kata Jake.

Jay melihat foto crop-an itu. Darahnya naik.

"Siapa yang menyebar?" tanya Jay, suaranya dingin.

"Katanya dari grup putri. Sudah menyebar ke wali santri juga," jawab Jungwon, merasa bersalah.

Jay langsung berdiri, mau ke asrama putri.

Heeseung menahan lagi, "Jay, jangan! Kalau lu ke sana sekarang, makin jadi bukti kalau lu belain dia. Biar Ustazah Khadijah yang urus."

Jay mengepalkan tangan. Untuk pertama kalinya, dia merasa tidak berdaya.

Di kamar putri, Muthi'ah duduk di pojokan, memeluk lutut. Dina, Zahra, Salsa di sekelilingnya.

"Muth, kita di sini terus ya," kata Dina.

Salsa masih emosi, "Gue besok mau lapor ke Ustazah Khadijah. Gue lihat Nadira yang foto pas hujan kemarin. Gue duduk dekat jendela, gue lihat dia keluarin HP."

Zahra mengangguk, "Iya, kita harus lapor. Tapi dengan adab."

Muthi'ah hanya diam. Mushaf kecil dari Nyai Maryam dia peluk. Air matanya jatuh pelan-pelan.

"Aku capek, Zah," bisik Muthi'ah pelan sekali. "Aku cuma pengen belajar. Kenapa jadi begini?"

Zahra memeluk Muthi'ah.

"Gapapa, Muth. Nangis saja. Gapapa."

Di luar, azan Maghrib berkumandang. Tapi di kamar itu, rasanya Maghribnya lebih gelap dari biasanya. Karena hari itu, gosip yang awalnya cuma bisik-bisik, sudah berubah jadi bullying yang nyata.

Dan Muthi'ah, yang selama ini kuat karena prestasinya, hari itu merasa prestasinya justru jadi senjata yang balik menusuk dia.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!