Ruri dan Zainudin adalah orang yang sama-sama punya kisah gagal dalam rumah tangga. Zai mempunyai putra yang menguak tabir rumah tangganya, sementara Ruri harus berjuang sendiri demi anak-anaknya.
Pertemuan keduanya tak terduga di sekolah anak mereka. Apa yang terjadi selanjutnya dengan mereka berdua? Yuk, ikuti kisahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tabir Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
LSC 25
Hari berganti hari, bulan berganti dengan cepat. Tak terasa perkenalan keduanya semakin akrab. Zai merasa bahagia tetapi juga malu untuk mengungkapkan perasaannya terhadap wanita itu. Keduanya, sibuk dengan pekerjaan masing-masing dan hanya mengirim pesan atau menghubungi bila sedang ada tugas dari sekolah anaknya. Begitu pula dengan anak-anak mereka juga sibuk sekolah. Tetapi, berbeda dengan Berry dan Gabriel. Mereka sudah sangat akrab dan terkadang keduanya bergantian bermain kerumah hanya karena ingin mengetahui dimana rumah mereka.
Mariana, sahabat Zai dan juga Ruri. Kini sedang mengadakan acara kumpul kecil-kecil an di rumahnya karena mengadakan syukuran untuk anaknya yang baru saja pulang dari rumah sakit. Setelah berada di rumah sakit selama seminggu karena demam berdarah.
"Gaes. Kalian datang ya, ke rumahku. Aku mengadakan acara syukuran nanti jam 7 malam. Jangan lupa datang! Kalau gak datang awas aja kalian." kata Mariana di grup sekolah.
"Siap. Mariana." jawab mereka kompak.
Malam hari begitu cepat berlalu. Suasana rumah Mariana begitu ramai dan nampak saudara Mariana dan juga suaminya ikut membantu menata segala menu hidangan, camilan dan minuman.
Satu jam kemudian, teman-teman Mariana datang ke rumah. Terlihat Zai dan Ruri datang berdua dan ini pertama kalinya Mariana melihat Ruri setelah beberapa kali mengobrol di grup alumni.
"Assalamualaikum," ucap salam mereka bersama saat berada di depan rumah.
"Waallaikumsalam," jawab pemilik rumah.
"Ayo, masuk dan sini bantu aku Ruri untuk menyiapkan makanan lainnya di dapur.
Ruri pun mengikuti Mariana ke dapur. Sedang Zai dan teman yang lainnya mengobrol di ruang tamu. "Jadi, itu yang namanya Ruri?" tanya Ansori penasaran dengan cewek yang datang bersama Zai.
"Iya. Dia adalah Ruri," jawab singkat Zai.
"Oh, cantik loh! Tapi, kenapa datangnya sama kamu?" tanya Ansori lagi.
"Dia janda, bro. Kenapa? Mau deketin dia?" jawab Zai sedikit ketus karena Ansori banyak bertanya.
"Gila. Ya enggak lah! Bisa dihabisin istriku nanti. Ada-ada aja kau, Zai," jawab Ansori dengan tertawa. Zai pun ikut tertawa menanggapi candaan Ansori.
Setelah semuanya berkumpul, acara pun segera dimulai dengan acara sambutan dan doa agar diberikan kesehatan dan keselamatan. Kemudian, acara berlanjut dengan makan bersama setelah selesai berdoa. Beberapa tamu undangan yang datang merasa bersyukur dan mendoakan yang terbaik untuk kesehatan anak Mariana.
Setelah acara selesai. Tetangga Mariana pun pamit pulang, akan tetapi teman-teman Mariana masih mengobrol karena rindu dengan kebersamaan mereka.
"Ruri. Jadi, kamu ini sekarang janda ya? Maaf, aku gak tahu kalau kamu gak cerita," tanya Mariana yang baru pertama kali melihat Ruri.
"Iya, Mar. Tidak apa-apa. Santai saja."
Kedua wanita itu pun asyik mengobrol dan para laki-laki pun juga menggoda Zai yang sejak tadi melihat Ruri dari jauh.
"Zai, kalau suka tembak saja. Kenapa harus malu-malu," kata Beni yang paham bagaimana Zainudin yang berstatus duda selama setahun.
Zainudin pun hanya tersenyum menanggapi perkataan Beni. Yang lain pun ikut menyoraki dan menjodohkan keduanya agar bersatu dalam suatu hubungan.
Mariana dan Ruri yang mendengar hal itu hanya tersenyum dan Mariana pun menyetujui perjodohan itu.
"Apaan sih, Mar. Aku kan jadi malu," kata Ruri yang menunduk malu dengan wajah memerah seperti tomat.
"Hahaha. Tenang saja Ruri, kalau pun suka bilang saja." ucap Mariana tersenyum lebar.
"Zai, nanti kalau sudah jadian? Jangan lupa traktir kita semua ya? Hahaha," canda Ansori menyoraki Zai dan Ruri.
Zai dan Ruri hanya terdiam juga tersenyum menanggapi perjodohan dari teman-teman alumni.
mampir y