"Menikah denganku."
Risya Wicaksono, berusia 27 tahun.
Atau lebih di kenal dengan panggilan Icha, melotot terkejut, saat kalimat itu terlontar dari mulut lelaki yang sangat tidak ia sangka.
Arnold Adiguna.
Lelaki berusia 33 tahun. Yang juga masih merupakan salah satu kakak sepupunya.
Lelaki itu mengajaknya menikah. Semudah lelaki itu mengajak para sepupunya makan malam.
Icha tidak menyangka, jika lelaki itu akan nekat mendatanginya. Meminta menikah dengannya. Hanya karena permintaan omanya yang sudah berusia senja.
Dan yang lebih gilanya. Ia tidak diberikan kesempatan untuk menolak.
Bagaimanakah Icha menjalani pernikahan mereka yang sama sekali tidak terduga itu?
Mampukah ia bertahan hidup sebagai istri sang Adiguna? Lelaki yang dikenal sebagai CEO sekaligus Billionaire dingin nan kejam itu.
Mampukah mereka mengarungi pernikahan tanpa saling cinta?...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elis Hasibuan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pagi pertama
"Ughh."
Icha membuka matanya dengan perlahan. Memperhatikan sekitar dan mengerutkan kening. Ini jelas bukan kamarnya.
Ia duduk dengan hati-hati dan kembali memeriksa keadaan sekitar. Ingatannya kembali berputar pada kejadian kemarin malam. Di mana akad nikah antara ia dan juga Arnold terlaksana di ruang rawat inap Oma Jasmine.
Perhatian Icha teralihkan saat melihat sesuatu bergerak di sebelahnya. Ia menoleh dan melihat Arnold yang tertidur di sisi ranjang yang satu lagi.
Lelaki itu meletakkan kedua buah guling di antara mereka berdua. Icha tentu saja menghela nafas merasa lega.
Paling tidak lelaki itu masih memiliki pikiran untuk memberikan pembatas diantara mereka berdua.
Bukankah dengan begini mereka berdua tidak akan canggung bangun di pagi hari?
Icha menurunkan kaki dari atas ranjang dan membuka selimut. Berjalan perlahan ke kamar mandi, untuk menuntaskan hajatnya di pagi hari.
Ia juga memilih mencuci wajah dan menyikat giginya. Setelah merasa jauh lebih segar, Icha keluar dari kamar mandi. Melihat Arnold yang juga sudah bangun dan sedang duduk di atas tempat tidur.
" Selamat pagi Kak Ar." Icha menyapa Arnold dan perlahan berjalan di ruangan itu.
Arnold yang sedang memeriksa ponselnya menoleh pada Icha dan mengangguk singkat.
"Vina baru saja mengirimkan pesan. Katanya beberapa pakaian milikmu sudah berada di lantai 1 mansion ini."
Ucapan dari Arnold tentu saja menyadarkan Icha, jka ia tidak memiliki pakaian di kamar ini.
" Baiklah kalau begitu. Aku akan turun dan membawa pakaianku kemari." Ia langsung bergerak dengan cepat sebelum Arnold mengatakan apapun.
Icha Ingin secepatnya mengambil pakaiannya yang berada di lantai 1. Sebelum ia memilih mandi dan berangkat ke rumah sakit.
Hari ini ia harus bekerja. Karena jam 10.00 pagi nanti, ia memiliki jadwal dengan beberapa orang pasien yang sudah memiliki jadwal sejak beberapa hari yang lalu.
Dengan berada di rumah sakit, ia juga bisa mengunjungi oma Jasmine sekalian.
Dengan terburu-buru Icha menekan tombol menuju lantai 1, yang membawanya ke ruang keluarga.Di sana terdapat beberapa kantong pakaian yang sudah berjejer rapi di atas sofa.
"Nona. Beberapa Bodyguard Nona Vina, datang mengantarkan paper bag ini. Dan mengatakan jika ini adalah pakaian milik Nona Icha."
Salah satu pelayan menghampiri Icha dan menceritakan soal keberadaan paper bag itu.
"Baiklah kalau begitu." Icha melangkah mendekati sofa. Memeriksa setiap dengan teliti.
Ia kemudian mengangguk puas meraih sebuah paper bag dan ia genggam dengan erat.
"Aku akan membawa yang ini ke kamar Kak Ar. Dan untuk paper bag yang lain, aku tidak tahu itu harus ditempatkan di mana. Mungkin kalian bisa bertanya kepada Kak Ar, dimana harus meletakkan pakaian-pakaianku itu." Icha menyampaikan kepada beberapa pelayan tersebut.
Melihat kening para pelayan itu yang berkerut. Sepertinya mereka jelas belum tahu jika Icha dan Arnold telah menikah
Icha tidak ingin menjelaskan apapun untuk para pelayan dimension ini. Biarlah itu menjadi kewajiban Arnold untuk memberitahu mereka.
Terlebih dengan beberapa pakaian miliknya yang diantarkan oleh Vina. Itu akan menjadi keputusan Arnold, untuk meletakkan pakaiannya ada di mana.
"Baiklah Nona. Kami akan bertanya kepada Tuan Arnold nanti."
Salah satu pelayan itu menjawab dan mengangguk sopan.
Icha tersenyum kecil sebelum berbalik dan membawa salah satu paper begitu kembali ke dalam. Menekan tombol lantai 3 menuju kamar Arnold berada.
Ia harus segera mandi sebelum bergegas ke rumah sakit. Icha tidak ingin terlambat tiba di rumah sakit. Karena pasiennya yang telah menunggu.
'Klek!'
Suara pintu kamar dibuka oleh Icha dengan perlahan. Ia tidak mendapati Arnold di atas ranjang.
Memeriksa keadaan sekitar, Ia juga tidak mendapati sosok laki-laki itu berada di sana. Icha meletakkan paper bag begitu saja di atas sofa. Meraih ponselnya dan memeriksa apakah ada pesan atau panggilan yang penting.
Dan ia merasa lebih tenang karena tidak ada panggilan mendesak dari rumah sakit.
Saat sibuk membalas beberapa pesan dari rumah sakit. Pintu kamar mandi terbuka
Terlihat Arnold yang hanya mengenakan kehelai handuk. Dengan tubuhnya yang lembab dan rambutnya yang masih basah, keluar dari kamar mandi.
Icha terpaku dengan tangan yang masih menggenggam ponsel. Ia tidak bisa berpaling dari lelaki itu.
Icha tahu jika Arnold memiliki badan yang kekar dan postur tubuh yang tinggi. Namun baru kali ini ia melihat bagaimana postur tubuh Arnold secara terbuka seperti sekarang.
Tubuh lelaki itu hanya dibalut oleh handuk, yang membuat Icha ragu. Apakah ia mengenakan sesuatu dibalik handuk itu atau tidak?
Lengan Arnold yang berbentuk oleh olahraga yang rutin ia lakukan. Terlebih dengan dadanya yang bidang dan terlihat begitu keras.
Jangan lupakan perutnya yang atletis dengan kotak-kotak sixpack yang memanjakan mata.
Sebenarnya Icha tidak menyadari, jika selama ini Kakak sepupunya itu menyembunyikan tubuh yang begitu indah, di balik jas yang ia kenakan.
" Ehem."
Arnold berdehem guna menyadarkan Icha dari lamunannya. Sedikit merasa canggung diperhatikan oleh Icha dengan tetapannya yang tidak berkedip sejak tadi.
" Apa kamu tidak ingin mandi?" Ia mencoba menormalkan suasana diantara mereka berdua.
"Ini mau mandi." Icha metakkan ponselnya dengan cepat dan meraih paperbag berisi pakaian.
" Apa rencanamu hari ini?" Kembali Arnold bertanya, hingga Icha menghentikan langkahnya yang ingin menuju kamar mandi.
"Tidak ada yang spesial Kak. Seperti biasa, aku harus ke rumah sakit untuk bekerja jam 10.00 nanti. Aku memiliki beberapa jadwal dengan para pasien yang sudah membuatkan jadwal beberapa hari yang lalu." Icha mulai menjelaskan.
"Dan mungkin setelah jam makan siang, aku akan naik ke ruangan Oma dan mengunjungi oma di rumah sakit."
Penjelasan dari Icha membuat Arnold sedikit berpikir.
"Baiklah kalau begitu. Aku akan mengantarmu ke rumah sakit." Ia menawarkan diri.
"Tidak perlu kak Ar." Icha dengan cepat menolak penawaran itu.
Sungguh ia tidak ingin merepotkan Arnold. Apalagi Ia juga tahu jika Arnold sebenarnya sangat sibuk, dengan semua pekerjaan yang ia miliki.
Sebagai seorang CEO, pekerjaan Arnold pasti sudah sangat menggunung di atas mejanya.
" Alangkah lebih baik jika Kak Ar pergi ke kantor lagi ini. Mungkin kita bisa bertemu di rumah sakit nanti siang, sekalian mengunjungi oma Jasmine." Icha menyampaikan beberapa penawaran.
Melihat Icha yang menolak tawaran darinya membuat Arnold menghela nafas. Namun Ia juga tidak ingin memaksa Icha dan membuat wanita itu merasa tidak nyaman.
Baiklah. Untuk sekarang sepertinya ia harus mengalah dan pergi ke kantor seperti ucapan Icha.
Asisten sekaligus ajudannya, sudah berulang kali menghubungi. Meminta Ia datang ke perusahaan Adiguna untuk menyelesaikan beberapa berkas.
Mungkin ia bisa menyelesaikan itu hingga jam makan siang nanti.
"Baiklah kalau begitu. Aku akan ke kantor dan kita akan bertemu siang di rumah sakit."
Ucapan Arnold di sambut dengan Icha yang mengangguk.
"Baiklah kalau begitu. Aku mandi terlebih dahulu."
Usai berbicara dengan Arnold, Icha langsung memasuki kamar mandi.
Sedangkan Arnold yang melihat itu hanya bisa menghela napas. Ia menyadari jika Icha belum terbiasa, atas keberadaannya sebagai seorang suami.
...........................
apa yg kamu lakukan ituu .... jahat buat babang Ar...
Sejauh ini ceritanya menarik