"Nak, seorang suami itu ibarat sebuah rumah. Jika engkau mematuhinya, ia akan melindungi dan mencukupi kebutuhanmu. Namun, jika engkau mengkhianatinya, maka ia akan berpaling darimu. Jadi patuhilah suami kamu Nak, jangan pernah membuat Allah murka akan tindakan yang kamu lakukan," Hasan mengusap pipi mulus putrinya.
"Iya Abi, in sya Allah aku akan mengingat nasehat-nasehat yang Abi berikan kepadaku selama ini," Aida mendaratkan ciuman pada pipi cinta pertamanya itu.
"Bagus Nak, Abi akan sangat bahagia jika kamu menjalani itu semua. Ambillah teladan dari Siti Khadijah yang memiliki nilai kesetiaan yang tinggi, dari Aisyah nilai kejujurannya, dari Asiah nilai kesabarannya menghadapi suaminya yang selalu berbuat jahat bahkan mengaku dirinya Tuhan, dari Maryam nilai ketabahannya, dan dari Fathimah nilai keteguhannya." lanjut Hasan mencium lembut pipi putrinya.
"Terima kasih Bi, terima kasih sudah memberikan aku begitu banyak pelajaran. "
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indah Yuliana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SPA 25
Pukul 10 pagi akhirnya Aida dan Husein sampai dikediaman mereka. Tanpa mengucapkan sepatah pun Husein langsung keluar dari dalam mobil meninggalkan sang istri yang menatapnya dengan sendu.
"Mas kamu mau kemana?" Aida menatap Husein yang sudah berganti pakaian dengan pakaian santai.
"Mas kenapa kamu nggak istirahat dulu, kenapa malah langsung pergi? Apa kamu tidak lelah setelah perjalanan jauh kita tadi Mas?" Aida mengikuti langkah Husein yang hampir sampai di pintu masuk.
"Mas, kenapa kamu terlalu cuek sama aku, Mas? Aku sudah berusaha untuk menerima kamu dengan ikhlas tapi kamu nyatanya tidak menerima aku di sisi kamu, Mas," Langkah Husein terhenti kala mendengar ucapan istrinya. Husein membalikkan tubuhnya menatap tajam gadis yang sudah setengah tahun ini dia nikahi.
"Apa kau bilang? Menerima kau di sisi saya? Yang benar saja. Bahkan kau tahu jika kita menikah hanya karena sebuah paksaan bukan kehendak kita sendiri. Dan sekarang kau malah menuntut saya menerima kamu di sisi saya? Jangan pernah bermimpi jika menginginkan sesuatu yang mustahil!!"
Air mata Aida menetes di pipinya. Sekiat apapun Aida menahan tangisnya selama ini namun, kini air mata itu ke luar di hadapan suaminya yang tengah menatap dirinya dengan mata tajam bak silet. Seakan ingin memakannya sevara hidup-hidup.
"Tidak usah kau memperlihatkan air mata buaya seperti itu, karena saya tidak akan pernah luluh hanya karena air mata yang tidak ada gunanya!!" bentak Husein.
"Kalau begitu antarkan saya pulang ke rumah orang-tua saya. Saya sudah tidak tidak sanggup menjalani hidup dengan laki-laki seperti kamu!!" ucap Aida lantang. Bukan maksud Aida untuk berbicara keras kepada suaminya, hanya saja kini hatinya sudah terlalu sakit dalam hubungan pernikahan yang tidak ada artinya. Hanya dirinya yang menganggap pernikahan ini sakral namun tidak untuk suaminya. Lantas untuk apa lagi mempertahankan pernikahan yang tidak ada kebahagiaan di dalamnya. Untuk apalagi mempertahankan pernikahan yang hanya berjuang satu orang saja?
Urat-urat di leher Husein terlihat jelas dengan mata merah bukan karena menangis melainkan karena amarah yang memuncak. Berjalan mendekat pada istrinya yang masih berlangsung air mata.
"Apa kau bilang? Mengembalikan kau kerumah orang-tuamu? Jangan harap!!! Sebelum sesuatu yang saya inginkan tercapai jangan pernah berharap kau bisa keluar dari rumah ini!!" Tangan Husein mencekik leher Aida yang menyebabkan gadis itu kesusahan bernafas.
"Bunuh!!!" Satu kata yang begitu sulit Aida keluarkan membuat Husein tersadar jika dirinya sudah bermain tangan. Bukan menyakiti hati namun juga menyakiti fisik istrinya.
Tangan itu bergetar dengan hebatnya. Ingat lagi akan nasehat sang bunda jika jangan pernah sekalipun bermain tangan dengan seorang wanita. Ingatlah jika kamu lahir juga dari wanita dan wanita pula yang akan memberikan dirimu seorang keturunan.
"Maafkan saya," Husein menatap wajah Aida yang tampak memucat. Mungkin saja cekikan pada leher wanita itu terlalu kuat. Emosi yang dirasakan Husein membawa dirinya lepas kontrol. Padahal selama ini dirinya tidak pernah bermain tangan dengan wanita meskipun bertapa kasarnya omongan seorang wanita kepada dirinya. Tapi baru saja dirinya benar-benar terlalu emosi hingga lupa jika yang berlawanan dengan dirinya seorang wanita lebih tepatnya lagi istrinya. Istri yang 6 bulan lalu di nikahinya.
"Tidak cukupkah kamu menyakiti hati ku, Mas? Tidak cukupkah kamu membuat hati ini remuk di setiap saatnya? Apa kamu sekarang puas menyakiti fisik serta batinku, Mas? Lakukanlah, bunuhlah aku jika itu memang membuat kamu puas. Aku ridho Mas, aku ridho kamu melakukan apa saja terhadap diriku. Bahkan membunuh diriku pun aku ridho Mas. Aku sudah tidak kuat Mas, ini terlalu menyakitkan bagi diriku," Tubuh Aida luruh ke lantai marmer itu. Air mata semakin luruh dari pipi putihnya. Ini benar-benar terlalu menyakitkan bagi dirinya. Rumah tangga yang tidak pernah Aida bayangkan, menerima dengan ikhlas sebuah pernikahan paksa yang nyatanya membuat dirinya ikut merasakan sakitnya kekerasan fisik.
Bagaimana bisa Aida bertahan dan menjalani amanah ibu mertuanya, jika anak kandungnya sudah melakukan kekerasan fisik kepada dirinya.
Bagaimana bisa Aida bertahan jika suaminya hampir saja membunuh dirinya.
"Maafkan saya, sa-saya benar-benar tidak sengaja." Husein ikut jongkok mensejajarkan tubuhnya dengan sang istri.
"Tidak sengaja Mas? Kamu hampir saja membunuh aku, Mas. Andai saja aku tidak mengatakan sesuatu mungkin saja saat ini aku hanya tinggal nama Mas. Jika memang kamu tidak menginginkan pernikahan ini serta diriku, pulangkan aku kepada Ummi dan Abi dengan cara baik-baik Mas. Aku jamin Ummi dan Abi tidak akan marah sama kamu, Mas, begitupun dengan kedua orang-tua kamu, Mas. Mereka pasti bakal mengerti karena mereka tahu bagaimana awal dari pernikahan kita, Mas." Aida menatap suaminya dengan linangan air mata.
"Mas, apa kamu tahu siapa laki-laki terburuk yang ada di dunia ini? Lelaki terburuk di dunia ini adalah lelaki yang tangannya pernah digunakan untuk memukul wanita yang lemah(Ustadz Adzar Idrus). Memukul tidak bisa dikatakan hanya dengan menampar atau hal lainnya Mas, tapi juga termasuk dengan kekerasan yang baru saja kamu lakukan padaku, Mas."
Husein terdiam mendengar ucapan istrinya. Tangan yang dia gunakan untuk mencekik istrinya semakin gemetar. Tak menyangka jika dirinya mampu melakukan kekerasan fisik pada istrinya yang selama ini mematuhi kebutuhan dirinha bahkan melayani dirinya dengan sangat baik.
"Maafkan saya, saya benar-benar tidak bermaksud menyakiti kamu. Saya minta maaf," Mulut itu pertama kalinya mengucapkan kata maaf untuk istrinya. Baru kalian ini selama menikah Husein berbicara dengan nada bergetar. Ntah menguap kemana sifat arogan yang biasanya di pakai laki-laki itu.
"Aku sudah memaafkan kamu, Mas. Pikirkanlah dengan baik-baik apa yang baru saja aku katakan Mas. Jika memang kamu tidak menginginkan pernikahan ini maka pulangkan aku ke rumah Ummi," Setelah mengatakan itu Aida langsung beranjak dari duduknya. Memegang lehernya yang terasa lumayan sakit.
Husein menatap punggung istrinya yang sudah mulai menjauh. Menatap nanar punggung yang hampir saja dia bunuh. Husein menyesal karena sudah melakukan kekerasan fisik pada istrinya.
Pada akhirnya Husein tetap meninggalkan rumah sesuai dengan tujuan pertamanya. Aida mematap mobil suaminya yang mulai keluar dari perkarangan rumah dengan linangan air mata dari balkon kamar. Awalnya Aida berfikir suaminya tidak akan pergi. Nyatanya itu hanya angan belaka yang tidak akan terjadi. Lihatlah suaminya pergi tanpa menemui dirinya terlebih dahulu. Memang tidak ada artinya Aida dalam hidup laki-laki itu.
"Apa yang kamu harap 'kan Ai? Bahkan dirinya tidak peduli sama sekali dengan rasa sakit yang kamu alami."
Aida memilih untuk masuk ke dalam kamarnya. Rasa kantuk sudah menyerang Aida karena lelah menangis. Hanya tidur satu-satunya cara untuk Aida melepaskan rasa lelah dalam kehidupan penuh drama ini.
TBC
asuh thor...parah bangettt typo nya
lakukan saja kewajibanmu sbg istri yg baik
sambil doakan suamimu
krn hanya Allah yg bisa membolak balikkan hati manusia
kadang kita sebagai anak tak bisa bersuara,takut kalo kita bicara menyakiti hati orang tua,namun pedih yg anak rasakan tau kah mereka.