NovelToon NovelToon
Terjerat Cinta Razia Pak Polisi

Terjerat Cinta Razia Pak Polisi

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Romansa / Tamat
Popularitas:824.7k
Nilai: 4.9
Nama Author: ¶`(₡ ฿úñgšù)ᵛⁱᵛⁱ•_•`FIIII

Seasons 1:

Gara-gara kesalahannya yang tidak membawa helm saat berkendara. Ceisya, harus terjebak jaring razia yang membuatnya berpikir keras. Di satu sisi Ceisya tidak keberatan kalau mendapat hukuman. Tapi, di sisi lain dia tidak mau berhadapan dengan Dosen killernya yang terkenal seantero kampus. Berkat usahanya yang keras akhirnya dia bisa lari dari hukumannya.

Bagaimana kah kelanjutan kisah mereka?


Seasons
2 (kisah tentang anak Ceisya & Zafran) :


Judul Novel: (Melody) Terjerat Pesona Dokter Tampan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ¶`(₡ ฿úñgšù)ᵛⁱᵛⁱ•_•`FIIII, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 25

"Tok...tok.. tok..."

Sambil mengetuk pintu, Ceisya berdiri di depan kamar Emi saat makanannya sudah selesai di masak.

Tidak lama suara pintu kamar mandi tersebut memperlihatkan Emi dengan wajah bantalnya.

"Makanannya sudah jadi, Kak." ujar Ceisya.

Emi menutup mulutnya saat menguap. "Sudah ya? Bentar ya, aku mau cuci muka dulu."

"Baiklah, Kak. Nanti langsung saja ke dapur ya."

"Iya."

Ceisya membalikkan badannya kembali menuju meja makan dimana nasi goreng, sate ayam kampung tertata rapi di sana. Tidak lupa juga Zafran dan Mama Tina duduk sambil memperhatikan makanan tersebut.

Sengaja Ceisya membuat porsinya sedikit banyak takut-takut nanti Zafran atau pun Mamanya ingin mencicipi.

"Kak Emi lagi cuci muka." jelas Ceisya saat mendapatkan tatapan penuh tanya dari Mama Tina.

"Ma, aku mau satenya, tolong ambilkan." pinta Zafran menatap sate di atas meja penuh damba.

"Jangan!!" suara teriakan Emi menggema di ruangan meja makan.

Emi datang dengan cepat dan langsung duduk di kursi lalu merebut wadah berisikan sate seolah-olah memeluknya.

"Ini punya-ku." ujar Emi dengan wajah tak bersahabat.

"T-tapi, Kak---"

"Sudah, Om. Itu biarkan bagian Kak Emi. Sebentar, tadi aku ada menyimpan sebagian." Ceisya bangkit menuju dapur membuka lemari dapur dan mengambil sate yang telah disimpannya sebagian.

"Pelit sekali sih, Kak." seloroh Zafran merengut.

"Apa kau bilang?"

Nyali Zafran ciut ketika melihat tatapan tajam dari sang Kakak. Bagaimana bisa Abang iparnya mendapat istri seperti Kakaknya itu? Apakah tahan dengan sifat galaknya yang sudah mendarah daging?

"Tidak, Kak." jawab Zafran cepat sambil memalingkan wajahnya.

"Biarkan saja Kakakmu seperti itu, Zaf. Itu juga bawaan si bayi." lerai Mama Tina yang sedari tadi menyimak pertengkaran anak-anaknya.

Huft...! Zafran mendengus kasar.

"Tenang, kau pasti kebagian." lanjut Mama Tina lagi sambil menepuk pelan bahu Zafran.

Benar saja, Ceisya datang membawakan sate dengan porsi yang lebih banyak dari Emi.

"Taraaa...sate ala Ceisya sudah jadi." Ceisya menghidangkan itu di atas meja.

Mereka sama-sama meneguk ludah kasar saat melihat sate tersebut. Tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya nanti ketika daging ayam kampung yang sudah dipanggang dan diberi bumbu hingga menyatu.

"Kamu juga makan, Nak." tegur Mama Tina melihat Ceisya yang hanya berdiam diri. Sementara dirinya dan kedua anaknya itu sangat lahap memakan nasi goreng dan sate.

"Iya, Tante."

Dengan sungkan Ceisya menyendokkan nasi goreng buatannya ke dalam piring lalu mengambil beberapa tusuk sate, menaruhnya di atas piringnya.

Seusai acara makan-makan tersebut, Ceisya berserta Zafran, Emi, dan Mama Tina sedang berkumpul di ruang tengah. Mereka tengah bercerita satu sama lain. Mengenalkan diri untuk mengakrabkan dan menjalin silaturahmi.

"Dulu sewaktu kecil, Zafran suka sekali memanjat pohon di belakang rumah. Tapi, anehnya saat mau turun dia tidak bisa. Sampai-sampai dia terjatuh dan mendapatkan jahitan di kakinya saat tidak sengaja menginjak kayu runcing." Mama Tina bercerita tanpa mengerti keadaan Zafran yang tengah menahan malu saat ini.

"Woahh! Benarkah itu?" Ceisya sangat antusias mendengarkan cerita Mama Tina.

"Iya, Kalau tidak percaya, lihat saja kakinya. Di situ ada bekas jahitan."

Zafran langsung merapatkan kedua kakinya yang sedang duduk bersila di lantai beralas karpet bulu-bulu itu.

"Tidak mau ah. Tuh orangnya langsung menolak." ejek Ceisya sambil melihat Zafran yang duduk di bawah berdekatan dengan kakinya.

Hanya Zafran saja yang duduk di lantai beralas karpet. Sedangkan Ceisya, Mama Tina, dan Emi duduk di atas sofa.

"Mama." rengek Zafran agar meminta Mamanya untuk berhenti bercerita, mengungkit masa lalunya sewaktu masih kecil.

Ceisya langsung terbahak-bahak mendengar rengekan Zafran. Sesekali dia mengejek pria berumur 23 tahun itu membuat Zafran mati-matian menahan malu.

"Jangan dengarkan dia, Tante. Lanjutkan saja ceritanya." sahut Ceisya di tengah tertawanya.

"Jangan, Ma!" potong Zafran ketika melihat Mamanya akan membuka suara.

"Jadi, Mama harus menuruti perkataan siapa ini?" tanya Mama Tina bingung sambil menahan tawa melihat anak bungsunya mati kutu.

Obrolan mereka terhenti saat mendengar suara dengkuran keras dari seseorang. Siapa lagi kalau bukan Emi. Wanita hamil itu tertidur lelap dengan posisinya bersandar di sofa karena kekenyangan.

"Zaf, pindahkan Kakakmu ke kamarnya. Kasihan dia kalau tertidur dengan posisi seperti itu." titah Mama Tina membuat Zafran mendengus kesal.

"Selalu aku...tidak sadar kalau berat badannya itu sudah bertambah." cibik Zafran. Mau tidak mau dia harus mengangkat tubuh Emi dan memindahkannya ke dalam kamar.

"Oh, ya, Ceisya. Tante mau tanya boleh?" izin Mama Tina ketika Zafran tidak ada.

Ceisya menoleh kemudian membetulkan posisi duduknya menjadi menyamping menghadap Mama Tina. "Boleh. Mau tanya apa, Tan?"

"Kamu, kenapa memanggil anak Tante dengan sebutan Om?" tanya Mama Tina yang akhirnya menyuarakan rasa penasarannya sedari tadi saat mendengar panggilan Om berulang kali.

Ceisya hanya menyengir menampakkan deretan gigi-gigi putihnya yang tersusun rapi. "Aku juga tidak tau, Tan."

"Kenapa sampai tidak tau?"

"Suka saja dengan panggilan itu, Tan." jawab Ceisya jujur. Jujur dia tidak tahu alasan apa yang dia punya.

"Heummm...baiklah. Tante tidak akan bertanya lagi." balas Mama Tina yang kebetulan Zafran baru saja tiba.

"Ngobrolin apa?" timpal Zafran mendudukkan bokongnya di atas sofa di samping Mamanya.

"Biasa, obrolan para wanita." Zafran hanya mengangguk paham. Tidak begitu penasaran dengan apa yang di obrolkan para wanita.

"Hemmm...Tante, mumpung sudah sore, aku pamit pulang ya?" sahut Ceisya tiba-tiba.

"Sudah sore rupanya. Serasa singkat." jawab Mama Tina jujur. "Baiklah, hati-hati nanti pulangnya. Zafran, bukankah tadi kau yang membawanya ke sini. Jadi, kau tau bukan apa yang harus kau lakukan?" Zafran menganggukkan kepalanya iya.

"Iya, Ma. Aku tau."

Ceisya membereskan tasnya kemudian berpamitan pada Mama Tina. Ceisya juga menitipkan pesan kepada Mama Tina agar kepulangannya nanti diberi tahu pada Emi.

Di dalam perjalanan, Ceisya dan Zafran hanya saling diam. Entah apa yang ada di pikiran mereka masing-masing.

"Di sini?" tanya Zafran saat telah sampai di sebuah rumah minimalis dua lantai.

"Iya." jawab Ceisya sambil melepas seatbeltnya.

"Tunggu!" Ceisya yang tadinya ingin keluar dia urungkan.

"Ada apa, Om?" tanya Ceisya bingung.

"Hati-hati!" ujar Zafran seraya tersenyum.

Ceisya membalas senyum itu. Tumbenan mereka berdua akur, saling membalas senyum. "Harusnya kau yang hati-hati, Om. Aku keluar ya? Tidak ada lagi yang ingin disampaikan kan? Hati-hati di jalan ya, Om."

Zafran hanya tersenyum melihat langkah kaki Ceisya yang perlahan masuk ke halaman rumahnya.

Senyum itu sangat manis. Rasanya aku ingin mencicipinya sedikit. Apakah boleh?

"Astagfirullah." Zafran mengusap wajahnya kasar kemudian menjalankan mobilnya menjauhi area rumah Ceisya, kembali ke kediamannya.

Ceisya menatap heran ke arah pintu rumahnya yang terbuka di saat jam yang menunjuk pukul 18.15.

"Ada apa ya ramai-ramai begitu? Apakah Om Fairuz bertamu?" gumam Ceisya dengan segala pemikirannya.

"Eh, Sayang. Ayo sini, Nak! Ada tamu nih!"

1
Nhierwana Bundanya Al
bab ini q ngerasa baca di ulang2
Dewi Kasinji
ijin baca kak
JANE ARDIANA
Luar biasa
JANE ARDIANA
Lumayan
Zahra Nadira
aku ktwa dibagian ini ,🤣🤣🤣🙏
Dilalisa Lisa
Biasa
Dilalisa Lisa
Kecewa
Dela Sapitri
Masya Allah👍
ᶜᵃˡˡ ᴹᵉ ᴶⁱⁿᵍᵍᵃ😜
pedagang berkaki lima,,maksudnya pedagang kaki lima ya kak??😂
ᶜᵃˡˡ ᴹᵉ ᴶⁱⁿᵍᵍᵃ😜: ampun dah 😂
ok lanjut baca
total 2 replies
Trisna Savitri
babag tamvan 🥰🥰🥰🥰
Santy Susanti
bari berapa ban udah suka sama alurnya semngat i
yustina arie
Luar biasa
Irfan Nona Vanessa
menarik😍😍😍
Bungsu_Fii: makasih udh mampir kak🤗 semoga suka 🥰
total 1 replies
Eka Kurniawati
😘😘😘
Eka Kurniawati
🤣🤣🤣🤣
Eka Kurniawati
🤣🤣🤣
Eka Kurniawati
🤣🤣🤣🤣
Tri Susanti
wkwkwkw.... kapan thor disatuin mereka udah gak sabar
Tri Susanti
lanjut thor
Lena Kasenda
thoor masa selama Ceisya di rawat sampai sdh pesantren pacarnya yg polisi tdk ada kabar
Bungsu_Fii: hehe, itu ceritanya om polisi lagi nugas kak dan waktunya cukup lama 🙏🏼
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!