NovelToon NovelToon
Takdirku Bersma Sikembar

Takdirku Bersma Sikembar

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Romansa / Nikah Kontrak
Popularitas:346
Nilai: 5
Nama Author: yas23

Alya, seorang mahasiswi berusia 21 tahun yang tengah menempuh pendidikan di Universitas ternama di semarang. Tak pernah membayangkan hidupnya akan berubah begitu drastis, di usia yang seharusnya di penuhi mimpi dan kebebasan. Dia justru harus menerima kenyataan menjadi ibu sambung bagi dua anak kembar berusia enam tahun, lebih mengejutkan lagi. Anak-anak itu adalah buah hati seorang CEO muda yang berstatus duda, tanpa pengalaman menjadi seorang ibu. Alya di hadapkan pada tanggung jawab besar yang perlahan menguji kesabaran, ketulusan dan perasaannya sendiri. Mampukah dia mengisi ruang kosong di hati si kembar yang merindukan sosok ibu, dan di tengah kebersamaan yang tak terduga. Akankah perasaan asing itu tumbuh menjadi benih cinta antara Alya dan sang papa si kembar, atau justru berakhir sebagai luka yang tak terusap.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yas23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27

Mendengar ucapan istrinya, tubuh Romeo langsung menegang. Ia segera melepaskan pelukan itu, lalu mencengkeram kedua bahu Alya dengan kuat.

“Apa maksudmu, sayang? Coba ulangi sekali lagi ucapanmu barusan.” suara Romeo terdengar rendah dan tertahan.

“Aku rasa… lebih baik kita berpisah, Tuan.” ucap Alya lirih, suaranya bergetar menahan tangis.

"Berpisah?"

“Iya, Tuan… sepertinya memang sudah waktunya kita mengakhiri semuanya.” Alya mengangguk pelan, air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya luruh.

“Alasan apa yang kamu simpan sampai tega memilih berpisah?” bentak Romeo, menahan gejolak di dadanya.

“Kalau itu yang diinginkan ibu Anda, aku hanya bisa diam, Tuan. Aku sadar diri, aku bukan siapa-siapa dan terlalu rendah untuk bersanding dengan Anda.” ujar Alya sambil menunduk, bahunya bergetar.

“Semua yang dia katakan itu omong kosong. Kamu lupa janji yang pernah kamu ucapkan padaku? Kamu berjanji akan tetap bertahan. Anak-anak sangat menyayangimu, Alya. Jika kamu memilih pergi, apa yang akan terjadi pada mereka… pada kita?” katanya dengan dada naik turun tak beraturan.

“Entah harus bagaimana, Tuan. Aku sungguh tak mengerti apa yang harus kulakukan. Kepalaku terasa penuh, hatiku kacau. Aku terjebak tanpa jalan keluar, tak mampu menolak, bahkan untuk membantah.” suara Alya bergetar, air mata jatuh tanpa bisa ia tahan.

“Aku bisa menerimamu, karena tanpa sadar kamu sudah menjadi bagian dari hidupku, jadi jangan pernah berpikir untuk pergi begitu saja. Soal wanita tadi, biar itu jadi urusanku. Yang kuinginkan hanya satu, kamu tetap di sisiku, bersama anak-anak. Kita baru saja memulai, baru melangkah sedikit. Jangan berhenti hanya karena takut mencoba. Dan tolong… jangan pernah menyerah, kapan pun itu.” pinta Romeo lirih namun penuh harap.

Entah sejak kapan rasa takut itu menguasai hati Romeo. Sejak ia menguatkan dirinya untuk benar-benar melangkah bersama Alya, perasaan kehilangan menjadi hal yang paling menakutkan baginya. Mulai saat itu pula, Romeo sadar, ia tak lagi sanggup membayangkan hidup tanpa Alya berada di sisinya.

“Namun bagaimanapun juga, dia tetap mama Anda, Tuan." Ucap Alya pelan, suaranya hampir tak terdengar.

“Mama macam apa yang tega meninggalkan anaknya demi menikah dengan pria lain? Mama macam apa yang justru menyeret anaknya ke dalam hal-hal yang merusak hidupnya sendiri?

Mama mana yang sanggup mengusir anaknya saat hanya ingin bertemu? Dan mama seperti apa yang sampai hati menghina darah daging dari anaknya sendiri, cucunya sendiri?” suara Romeo meninggi, emosinya tak lagi terbendung.

“Tu… Tuan.” ucapnya tertahan, seolah kata itu keluar dengan beban di dadanya.

“Baginya aku bukan apa-apa, sayang. Dia hanya memikirkan hidupnya sendiri dan harta papa yang diwariskan kepadaku.”

Mendengar pengakuan Romeo membuat dada Alya sesak. Tanpa berpikir panjang, ia memeluk suaminya erat-erat. Ia seharusnya menjadi orang yang paling memahami perasaan Romeo, tapi kini justru dirinya yang ingin mengakhiri segalanya. Bukankah ini terlalu menyakitkan.

“Aku minta maaf, Tuan.” ucap Alya dengan suara bergetar, air mata jatuh tanpa bisa ditahan.

“Hentikan memanggilku Tuan. Aku bukan bosmu.”

“Aku tak mau mendengar kata berpisah lagi darimu. Tak ada alasan apa pun yang membuatku rela kehilanganmu. Biarkan aku yang menghadapi mama. Yang perlu kamu lakukan hanyalah mengikuti ucapanku. Keadaan setelah ini tidak akan baik-baik saja, Alya. Mama akan memakai segala cara untuk menjauhkan kita. Dan ketika itu terjadi, pegang satu hal, percayalah padaku. Kamu mengerti?” lanjut Romeo.

“Entah kenapa hatiku gelisah, tuan… aku takut menghadapi semua ini.”

“Tak perlu takut. Aku berjanji akan melindungimu. Entah ini terlalu cepat atau tidak, yang jelas aku sudah merasa nyaman bersamamu, Alya.”

“Jika begitu, langkah apa yang akan kita ambil?”

“Kita jalani saja seperti biasa. Hanya saja, aku akan menambah pengawalan untukmu dan anak-anak. Sekarang… bolehkah aku mencicipi masakanmu?” pinta Romeo dengan senyum lelah.

Senyum tipis terukir di wajah Alya. Ia teringat masa awal pernikahan mereka, saat Romeo begitu kaku dan menjaga jarak. Sekarang, pria itu justru tampak rapuh, jauh lebih lembut dari yang pernah ia kenal.

“Pergilah ke kamar dan beristirahat. Aku akan memanggilmu saat semuanya sudah beres.”

“Tidak, sayang, bagaimana kalau kita memasak bersama? Melihatmu di dapur saja sudah cukup membuatku jatuh cinta lagi… dan lagi.” ucap Romeo sambil tersenyum tipis.

“Tuan, jangan goda aku seperti itu.” Alya menggeleng kecil.

“Jangan tuan terus. Aku lebih suka jika kau memanggilku mas.” Romeo menggeleng sambil menatapnya lembut.

“Kamu ini lucu. Bukan orang Jawa, tapi minta dipanggil mas.” Alya menyeringai.

“Honey saja. Aku ingin kita terdengar seperti dua orang yang saling memilih.” Romeo menatapnya penuh arti.

“Kalau itu maumu… baiklah, honey.” Alya tersenyum tipis.

**********

Di dalam kamar, si kembar terdiam dalam perenungan setelah mendengar setiap ucapan nenek mereka. Dinding kamar tanpa peredam suara membuat tak satu pun kata Dinda terlewat dari pendengaran keduanya.

“Sudah berkali-kali aku bilang kalau nenek itu tidak sebaik yang kamu kira. Tapi kamu tetap saja tidak mau percaya, Kak.” tegur Selina dengan nada kesal.

Semua perkataannya kini terbukti. Ia dan Serena mendengar dengan sangat jelas bagaimana Dinda tadi melontarkan hinaan pada ibu mereka, bahkan memarahi keduanya tanpa sedikit pun rasa iba.

“Aku hanya ingin nenek melihat kalau kita memiliki ibu yang baik. Aku masih berharap nenek bisa bersikap lembut pada kita… tapi ternyata aku salah.” ucap Serena lirih, luka di hatinya terasa begitu nyata.

“Kalau sampai ibu benar-benar pergi dan meninggalkan kita gimana, Kak? Aku nggak mau itu terjadi…” Selina kembali terisak, tangisnya pecah menahan ketakutan.

“Ibu kan sudah berjanji tidak akan pergi lagi, yuk, kita berdoa bersama supaya ibu selalu tinggal bersama kita.” ujar Serena sambil menggenggam tangan saudaranya.

Dalam isak tangis yang tak terbendung, kedua anak kembar itu memanjatkan doa dengan penuh harap agar ibu mereka tidak meninggalkan mereka untuk kedua kalinya. Begitu larut dalam doa dan air mata, mereka tak sadar bahwa papa mereka telah mendengar setiap kata dan melihat seluruh kejadian itu.

“Anak-anak begitu menyayangimu, Alya, aku tak akan sanggup melihat mereka terluka lagi hanya karena kita berpisah. Kebahagiaan mereka… itu juga kebahagiaanku.” ucap Romeo dengan suara bergetar.

Tanpa banyak kata, Romeo memilih pergi meninggalkan si kembar. Bukan keegoisan yang mendorongnya, melainkan keinginannya untuk menikmati kebersamaan dengan Alya, hanya mereka berdua. Bi Dewi serta para pelayan lainnya pun dimintanya menjauh dari dapur dan area belakang. Ada maksud tersembunyi yang sengaja ia simpan sendiri.

“Bukannya tadi kamu mau memanggil anak-anak?” ucap Alya pelan, matanya menelusuri wajah sang suami dengan kebingungan.

“Masih main, tidak usah diganggu. Semuanya sudah siap.” kata Romeo cepat, menyembunyikan rasa gugup yang kini menguasainya.

“Sudah, tinggal dicetak saja. Kamu lihat-lihat saja, tidak usah ikut campur, nanti dimsumnya malah gagal.”

“Baik, Ibu Negara.” ucap Romeo sambil tersenyum tipis. Sejak awal, itulah tujuan yang diam-diam ia rencanakan.

“Kita piknik minggu ini. Habis itu aku ada urusan ke luar negeri. Kamu ikut denganku.” ucap Romeo penuh harap.

“Bagaimana dengan anak-anak? Aku khawatir kondisi mereka kambuh lagi.” ucap Alya tanpa menutupi kecemasannya.

“Hanya empat hari saja, anak-anak tetap sekolah, mereka juga tidak mungkin ikut. Di sana pasti membosankan buat mereka. Temani aku, ya.” Nada suaranya kali ini terdengar memohon.

“Kasihan anak-anak. Mereka pasti kecewa kalau kita tinggal, belum lagi hari Selasa itu jadwal staditour mereka. Setidaknya salah satu dari kita harus ada buat mendampingi.” ujar Alya dengan nada khawatir.

Wajah Romeo tampak kehilangan gairah. Angan-angan menikmati hari-hari bersama Alya di Eropa yang sempat terlukis jelas di benaknya kini harus pupus. Namun, dalam keadaan seperti ini, ia tak punya pilihan selain menerima kenyataan.

“Baiklah… aku mengerti.”

“Nada bicaramu berubah… kamu marah, ya?”

“Cuma sedikit.” jawabnya ringan.

“Marahnya ke aku.” ucap Alya sambil terkekeh, tawanya pecah melihat wajah Romeo yang kini tampak sebal.

“Sama keadaan,kalau begitu Satria saja yang ke luar negeri nanti.” ujarnya pelan, seolah menahan rasa jengkel di ujung kata.

“Kok bisa begitu…”

“Aku… mau nemenin kamu juga… eh, maksudku nemenin anak-anak.” kilah Romeo tergagap, cepat-cepat menutupi maksud sebenarnya.

Alya menyadari bahwa Romeo kini tampak canggung akibat perkataannya sendiri. Namun, ia memilih untuk tidak menggoda lebih jauh, khawatir jika Romeo tiba-tiba membalas godaannya dengan cara yang lebih intim.

"Progres kuliahmu gimana? Masih lama, ya?"

"Sekarang tinggal fokus sama skripsi aja."

"Kalau mau, aku bisa ikut bantu supaya cepat selesai."

“Nggak perlu repot, aku bisa atur sendiri kok.”

“Nggak usah nolak, aku bantuin biar cepat kelar. Kalau perlu, kita bayar dosennya supaya kamu nggak di kerjain.”

“Ah, nggak gitu kok. Dosen itu kan pasti sibuk, makanya kelihatan kayak nggak sempat.” Alya hanya mengangkat bahu, antara polos atau memang kenyataan begitu.

“Dengerin aku, ya. Kalau terlalu dipaksain sendiri, kamu bakal kelelahan. Dosen cuma pengin tahu seberapa serius usaha kamu, bagian dari persiapan menghadapi dunia luar.” tambah Romeo sambil menatap Alya.

"Hmm, berarti makin semangat nih. Jadi intinya, kamu nggak boleh bantu aku dulu ya. Aku pengin usaha sendiri, biar tau seberapa jauh kemampuan aku. Kalau kamu bantuin, rasanya curang."

Romeo menepuk dahinya sendiri, tidak percaya.

Maksud hati ingin mengejutkan istrinya, tapi yang terjadi malah membuat semangatnya bertambah.

"Duh, nyesel banget aku udah jelasin ke kamu." gerutu Romeo kesal.

Alya tersenyum sambil menahan tawa, menatap suaminya yang sibuk membantu tapi tak berhasil. Ia tak menolak bantuannya, hanya ingin perjuangannya sendiri. Ia juga ingin membuktikan sendiri cerita kakak tingkat nya tentang betapa melelahkan dan menyebalkannya membuat skripsi.

"Sudah, mending kamu panggil anak-anak. Dimsum nya udah matang. Aku mau mandi dulu, panas banget rasanya."

"Nanti aja panggil anak-anak nya, aku juga mau mandi." jawab Romeo santai.

"Hmm… kamu aja duluan deh." Alya berkata sambil menahan rasa gugupnya.

"Kenapa tiba-tiba terlihat canggung, hmm…" Romeo mendekat perlahan, tangannya melingkari pinggang Alya, menariknya hingga tubuh mereka saling menempel.

"Stop… tuan, jangan seperti ini, nanti terlihat orang." Alya tersipu, menarik sedikit tubuhnya dari pelukan Romeo.

"Nggak masalah… kan kita sudah jadi suami istri." ucap Romeo dengan suara berat, bibirnya hampir menyentuh telinga Alya.

Napas Romeo yang hangat menyentuh tengkuk Alya membuat seluruh tubuhnya merinding, ada getaran aneh yang tiba-tiba menyusup ke dalam dirinya.

"T-tapi… aku…"

Romeo menempelkan ujung jarinya di bibir Alya yang sedikit terkatup, matanya menggelap melihat rona merah muda itu. Perlahan, wajahnya merapat, sementara Alya menutup matanya rapat-rapat.

Seketika…

"Ibu, Papa!" mereka memanggil sekaligus, seakan ingin menarik perhatian orang tua mereka dengan segera.

Suara teriakan anak-anak membuat Alya dan Romeo langsung menatap satu sama lain dengan kaget.

"Sial!" Kesal Romeo.

Malu yang menumpuk membuat Alya buru-buru memalingkan wajahnya, tak ingin ada yang melihat ekspresinya.

Romeo menatap kedua anaknya tanpa ekspresi, kesal setengah mati karena momen ciuman pertamanya dengan Alya terganggu oleh suara cempreng mereka.

"Pa… Papa lagi ngapain?" tanya Selina dengan wajah polos.

"Terus, menurutmu, papa lagi ngapain sekarang?" tanya Romeo sambil menatap anaknya.

"Papa, pelukan sama ibu, ya." Selina menatap Romeo sambil tersenyum kecil.

Selina mendorong lengan adiknya dengan pelan sambil menatapnya penuh kekesalan. Tidak terima dengan sikap kakanya, Selina pun mengerutkan dahi dan mulai mengomel, menegur kakaknya dengan suara yang setengah kesal.

"Kan bener juga, kak, kenapa harus mendorong kaya gitu?" Selina menegur sambil mendorong pelan kakaknya juga.

"Papa, kita lapar." Serena cuma menatap Romeo, pura-pura tak mendengar adiknya.

"Ibu sedang menyiapkan makanan, seharusnya kalian menunggu di atas dulu. Nanti papa yang panggil." Romeo menegur tegas.

"Maaf, Papa…" Serena menundukkan kepala, hatinya berdebar takut melihat perubahan wajah papanya.

"Papa nggak marah… cuma sayang, jadi nggak berhasil buat adik kalian." bisiknya pelan, nyaris tak terdengar.

Mendengar hal itu, Alya spontan menoleh, pandangannya penuh tanya menuju Serena.

"Eh, kan tadi bilang lapar, kok malah ke kamar lagi?" tegur Alya sambil melangkah mendekat ke arah si kembar dan Romeo.

"Kata papa kita..." Serena baru saja bersuara, tapi Romeo buru-buru menutup mulutnya.

"Eh, kok dibekap sih, sayang?" ujar Alya, matanya menyorot Romeo dengan campuran heran.

“Ah, Serena kan suka ngomong ngelantur, dimsum-nya udah matang, jadi mending kita nikmati dulu aja.” Ia sengaja mengalihkan perhatian Alya, agar pikirannya tidak kemana-mana.

Serena dan Selina sama-sama melirik Romeo dengan rasa kesal, padahal keduanya ingin mengungkapkan kebenaran yang tersimpan.

"Sudah, tapi nanti jangan lupa makan nasi juga. Sekarang kan sudah jam makan siang, Bi Dewi juga sudah siapin udang saus padang."

"Baik, Bu." kata mereka bertiga serentak, nada suara masing-masing berbeda tapi tetap kompak.

Jangan heran bagaimana Serena berhasil lolos dari ulah ayahnya sendiri, dia sampai menggigit telapak tangan Romeo dengan keras, membuat Romeo terpaksa menahan rasa sakitnya tanpa suara.

Keempatnya segera duduk di meja makan, menikmati santap siang lengkap dengan canda dan tawa. Saat itu, Romeo tersadar, bukan hanya si kembar yang merindukan sosok ibu sambung, dirinya pun lama tak merasakan kehadiran seorang istri di sisinya.

**********

Di tempat lain, Dinda murka tak terkira setelah mendapat penolakan, bahkan diusir begitu saja oleh Romeo di rumahnya tadi. Tapi Dinda bukan tipe orang yang diam saja, segala cara akan ditempuh demi mencapai tujuannya.

Siang ini, dia sudah mengetahui semua hal tentang Alya secara rinci. Menurut Dinda Romeo, hanya bisa mencari pasangan yang sepadan yang layak bersanding dengannya. Meski pernikahannya dengan Zalina, anak seorang pengusaha, Dinda tetap menolak menjadi ibu bagi si kembar, alasannya adalah kepribadian yang berbeda.

"Jadi, pernikahannya cuma karena hutang papanya dilunasi oleh putraku." Dinda menahan amarah, yakin bahwa Alya memang hanya mengincar harta anaknya.

"Ya, Nyonya. Ia menikah dengan Tuan Muda bukan atas kemauannya sendiri, tapi karena sebuah perjanjian untuk melunasi hutang-hutangnya." terang pria yang setia menjadi kaki tangan Dinda.

"Kalau begitu, memisahkan mereka akan sangat mudah bagiku. Anggap saja pelunasan hutang itu sebagai bonus, meski aku sendiri tak sepenuhnya ikhlas. Dengan begitu, Yona bisa bergerak dan mendekati Romeo persis seperti yang sudah ku rencanakan."

“Nona Yona melakukan wawancara di perusahaan Tuan Muda Romeo. Bahkan, saya sempat menyuap salah satu staf HRD supaya Nona Yona bisa lolos, Nyonya.” ujarnya mantap.

"Bagus… kalau begini, Yona pasti bisa memikat hati Romeo. Siapa yang bisa menolak sekretaris cantik dan menggoda seperti dia? Aku yakin, Romeo akan terjerat dalam jebakan ini. Setelah itu… akan lebih mudah bagiku untuk mengendalikan segalanya… bahkan menyingkirkan istri dan kedua anaknya yang bodoh itu." Dinda tersenyum licik, dan mata tajamnya berkilat penuh rencana jahat.

Di perusahaan yang kini dipimpin Romeo, proses seleksi calon sekretaris menyisakan hanya dua kandidat. Satria sudah meneliti profil keduanya, dan tanpa ragu, ia lebih terkesan dengan semua biodata serta pengalaman yang dimiliki Yona.

"Yona aja. Dari semua data dan pengalaman, dia yang paling cocok." ucap Satri santai sambil tersenyum kecil pada staf HRD.

“Baik, Pak Satria. Staff baru itu bisa langsung mulai training hari ini. Semua persiapannya sudah lengkap, tinggal menunggu arahan dari Anda.” jelas Arga, staf HRD, dengan nada profesional.

"Baik, bawa dia ke atas, dan masuk ke ruanganku."

“Baik, Pak.”

Yona tak menunggu lama dan menuju lantai delapan belas, ke ruangan Romeo dan Satria. Penampilan tubuhnya yang menonjol membuatnya menjadi sorotan. Sebagian staf berdecak kagum, sebagian lain mencibir, menganggapnya sengaja memikat perhatian.

"Aku yakin dia tidak melamar sebagai sekretaris, tapi lebih ke… penggoda." bisik salah satu staf perusahaan, matanya menatap Yona dengan nada merendahkan.

“Katanya Bos Romeo sudah menikah, walau resepsinya belum digelar. Berita itu sampai ke telingaku, dan aku benar-benar kasihan sama istrinya.”

“Walaupun sikapnya terkesan sombong, dia jauh lebih mencolok ketimbang Nona Tania. Sebagai model, wajar jika begitu, sementara dia hanya staf biasa.”

“Semoga Tuhan menjaga kebahagiaan dan keselamatan rumah tangga bos kita.”

“Benar, aku sepakat. Ada yang bilang kalau seorang bos mulai tergoda wanita, perusahaannya akan ikut hancur. Aku tak ingin itu menimpa kita… aku ingin tetap bekerja di sini dengan penghasilan tinggi.”

Segala celaan dan ejekan yang dilemparkan padanya, Yona tetap mendengarnya. Namun, dia adalah Yona wanita yang tak pernah membiarkan omongan orang lain, sekasar apapun, memengaruhi dirinya.

Ketika pintu lift terbuka, Yona dan Satria melangkah masuk. Sebenarnya, Satria juga mendengar semua komentar sinis yang dilemparkan para staf sebelumnya, tapi ia memilih tetap diam, mengingat Yona masih karyawan baru.

"Jangan terlalu dipikirkan kata-kata mereka, tapi itu bukan alasan untuk mengabaikannya begitu saja." ucap Satria tiba-tiba.

"Baik, aku mengerti tuan." jawab Yona pelan dengan suara lembut.

"Jangan panggil saya tuan. Panggil saja Satria. Tuan cukup untuk atasan." ujar Satria dengan nada datar.

Dengan wajah tenang, Yona sekadar menganggukkan kepala sebagai tanda setuju.

Mereka akhirnya sampai di lantai delapan belas, tepat di ruangan pribadi Romeo dan Satria beserta sekretarisnya.

Yona terpesona saat menatap ruangan di lantai itu, setiap sudutnya tampak begitu berbeda dibandingkan ruang lain. Dalam hati, ia tak henti-hentinya bersyukur kepada Dinda yang telah membimbingnya hingga mencapai posisi ini.

"Aku nggak boleh bikin ibu kecewa… aku harus bisa membuat Romeo jatuh hati padaku." bisiknya dalam hati, tekadnya membara.

Satria segera memberikan penjelasan singkat mengenai alur kerja bersama Romeo. Semua jadwal serta urusan penting lainnya telah dicatat rapi dan ditinggalkan oleh Amel sebelum ia mengambil cuti beberapa hari lalu.

Segala sesuatunya begitu gampang bagi Yona, otak cerdasnya mencerna setiap detail tanpa hambatan.

"Ingat, pelajari ini dengan saksama, terus kirimkan file-nya padaku untuk dicek lagi. Paham maksudku?" ucap Satria.

"Siap, tuan… eh, maksudnya Satria."

"Baiklah, saya pamit dulu."

"Maaf tuan, saya mungkin lancang… tapi apakah pimpinan ada di ruangannya?" ujar Yona berani.

"Kenapa emangnya?" Satria mengerutkan keningnya tipis, matanya menatap tajam.

"Aku hanya ingin bertanya, tidak lebih." Dengan suara bergetar, Yona menjawab.

"Kerjakan tugasmu saja sekarang, besok pimpinan pasti datang," ucap Satria tanpa ekspresi.

"Siap, tuan."

Yona mendesah frustrasi. Ia ingin sekali menatap wajah Romeo secara langsung sekarang, apalagi setelah mengenakan pakaian terbaiknya. Tapi,

Romeo entah kemana. Tanpa menunggu lama,

Yona segera mengirim pesan kepada Dinda, meluapkan kekesalannya karena hari ini tak berhasil bertemu dengan Romeo.

**********

Keesokan harinya, si kembar masih belum diperbolehkan masuk sekolah. Sepertinya mereka baru akan kembali ke kelas minggu depan, tepat saat jadwal keberangkatan staditour.

Hari ini, Alya harus kembali ke kampus. Dalam beberapa hari terakhir, ia absen akibat serangkaian peristiwa yang mengejutkan.

"Papa, ajak kami ke kantor dong. Di rumah sepi tanpa Ibu." Selina merengek.

"Eh, tapi di kantor papa nanti kalian malah bisa lebih bosan, lho." Ucap Romeo.

"Kalau boleh, nanti jam makan siang aku ke kantormu, biar nemenin anak-anak. Hari ini cuma ada dua mata kuliah, jadi waktunya pas." Alya mengusulkan.

"Setuju, kalian siap-siap ya, kita berangkat ke kantor papa." Romeo menegaskan dengan suara bersemangat.

"Kalau ibu ikut, pasti papa nggak akan nolak. Tapi, aku curiga, ini cuman modus." Serena mengerutkan alisnya.

"Dari mana kau bisa tahu kata modus, nak?" Romeo menggelengkan kepala sambil tersenyum lelah melihat tingkah anaknya.

"Itu… dari Om Satria." kata Selina dengan nada polos, tak menyadari arti ucapannya.

"Ah, Satria… setan." gumamnya tanpa sadar.

"Papa, Om Satria kan manusia." ujar Serena pelan tapi tegas.

"Hehe… nanti aku kasih tau Om Satria, Papa bilang dia manusia tapi kayak setan." seloroh Selina dengan senyum julid.

"Kalau begitu, besok papa akan bawa ibu kalian lagi." ujar Romeo dengan nada menakutkan.

“Papaaa!” jerit si kembar tanpa jeda.

Romeo dibuat terkejut oleh pukulan lincah kedua anak itu, hingga dia tertawa terbahak-bahak tanpa bisa menahan diri.

Tak bisa menahan tawa, Alya melihat tingkah random suami dan anaknya, sampai dia ikut melindungi Romeo, yang membuat si kembar makin iri.

**********

Romeo baru saja menurunkan Alya di kampus, sementara dirinya dan si kembar langsung melaju menuju kantor. Saat mereka memasuki lobi, seluruh staf dan karyawan tak bisa menyembunyikan rasa kagum, mata mereka tertuju pada si kembar yang berjalan bersama pemimpin mereka.

"Lihat itu, tuan Romeo datang dengan kembaran. Cantik-cantik, tapi jelas ada wajah tuan yang sama di mereka."

"Benar-benar bibit unggul, tak ada duanya."

"Seperti ayahnya, semua yang dilakukannya penuh gaya dan pesona."

"Yang bertubuh lebih mungil malah terlihat hangat dan ramah, tapi yang satunya benar-benar menampilkan sosok Romeo sepenuhnya."

Bisik-bisik itu selalu muncul setiap kali Romeo melintas, entah dengan orang lain atau sendirian, bahkan saat berada di dalam lift. Serena menatap papanya, mencoba menirukan sikapnya.

"Pa… menurut papa aku sudah sama seperti papa?" tanya Serena dengan senyum nakal, meniru gerak-geriknya.

"Hmm… kamu meniru papa, ya?" Romeo menatap Serena penuh rasa penasaran.

"Hebat, kan, Papa?" Serena mengangguk pelan sambil tersenyum.

"Hebat… tapi jangan sampai senyum-senyum pasang wajah datar seperti Papa."

"Kok wajah datar, apa nggak ada hidungnya?" tanya Selina polos.

"Bukan begitu, Selina. Kalau nggak punya hidung, kamu mau napas dari mana?" Romeo menepis dahinya, kesal.

"Dengan mulut, Pa." jawabnya sambil menekuk bibir, menirukan ikan yang sedang membuka mulut untuk bernapas.

Dengan raut heran, Romeo menggelengkan kepala, sedangkan Serena mendengus kesal, menatap kembarannya yang seolah tak sejalan dengannya.

Saat lift sampai di lantai delapan belas, Romeo mengajak kedua anaknya keluar lebih dulu, sementara ia menyusul perlahan dari belakang.

Saat melangkah menuju ruangan Romeo, si kembar tiba-tiba berhenti, dan Romeo pun otomatis ikut berhenti, matanya menyorot kebingungan pada keduanya.

"Siapa Tante ini? Dan di mana Tante Amel sekarang?" tanya Serena, wajahnya tetap tak berubah.

"Aku Yona, Tante yang akan menggantikan posisi Tante Amel." jawab Yona sambil menatap penuh keyakinan.

"Oh!"

Serena hanya mengucapkan satu kata, sementara Romeo tampak acuh tak acuh. Matanya tak pernah menoleh ke arah Yona, ia lebih nyaman menatap pintu jati yang berdiri kokoh di depannya.

"Waduh, baju Tante kecil banget. Pakai saja jaket Tante, biar nggak kedinginan." ujar Selina dengan polos.

"Sayang, yuk masuk. Papa lagi banyak kerjaan." ujar Romeo sambil mengalihkan perhatian.

Romeo baru saja menggenggam handle pintu, tapi

Yona dengan sigap ikut meraihnya, hingga keduanya saling bersentuhan.

Romeo menatap Yona dengan mata yang tajam, diikuti oleh pandangan Serena dan Selina yang tak kalah serius. Tanpa menyadarinya, Yona justru terpaku, terpesona oleh ketampanan Romeo.

Dengan satu ayunan cepat, tangan Romeo melintas di depan Yona, membuatnya terperangah dan hampir terhuyung."Tante, jangan sentuh papa!" suara Serena meninggi, penuh amarah.

"Maaf ya… Tante nggak sengaja." Yona bersuara pelan tapi tegang, menahan emosi terhadap sikap kurang ajar si kembar.

"Masuk, sayang," suara Romeo terdengar dingin dan tegas.

Ekspresinya dingin dan tidak ramah. Ia mengikuti langkah si kembar, masuk ke dalam ruangan, lalu menutup pintu dengan sedikit kasar.

"Papa, kami nggak suka Tante Yona." protes si kembar serentak.

"Papa juga nggak suka." ucap Romeo dengan nada tenang tapi menusuk.

"Tante Yona itu kejam, dan jelek." teriak Selina dengan nada kesal.

"Tentu saja, yang cantik pastinya cuman ibu." jawab Romeo tanpa ragu.

"Ya, aku setuju dengan papa."

Romeo segera menyuruh kedua anaknya duduk di ruang santai di sisi kiri, dekat kamar pribadinya. Untunglah, ia sudah menyiapkan beragam mainan untuk si kembar, jadi kunjungan seperti ini tak akan membuat mereka cepat bosan.

Setelah memastikan si kembar aman, Romeo memanggil Satria ke ruangannya. Ia ingin menyampaikan protes mengenai sekretaris barunya itu.

"Kenapa, Rom? Lagi sibuk banget nih, lagi ngurus persiapan meeting." keluh Satria kesal.

"Lo pilih sekretaris atau jalang?" kata Romeo datar sambil menatap tajam.

“Oh, Yona… dia memang kandidat terbaik, Rom. Semua data diri dan pengalaman kerjanya rapi, makanya aku pilih dia. Walau… ada sedikit hal yang bikin aku ragu.” Satria mengusap pelipisnya tanpa merasa gatal.

"Anak-anak nggak setuju, mereka sampai protes ke gue."

"Terus gimana, Rom? Dari semua kandidat, cuma dia yang pengalaman kerjanya udah lumayan banyak." Satria pun mengernyit, terlihat bingung.

"Alya pasti bakal marah kalau lihat dia yang jadi sekretaris gue. Apalagi Selina bilang baju dia agak kekecilan, gue nggak terlalu ngeliat, cuma terlihat sedikit aja."

"Sama aja, lo liat dia juga kan? Setan namanya itu. Alya beneran mau ke kantor?" tanya Romeo dengan nada polos.

"Dia bakal mampir ke sini. Jam dua siang. Sat, awas kalau aku sampai berantem sama Alya gara-gara sekretaris pilihanmu." ancam Romeo tegas.

“Kok gue sih? Lo aja yang ribet sama syarat-syaratnya, pilih sekretaris sampai susah banget. Dari semua kandidat, cuma dia yang memenuhi. Nanti gue omongin ke dia biar pake baju yang lebih sopan.” Satria menghela napas, setengah kesal, setengah lega.

“Baik, itu lebih bagus. Nggak mau ikut aturan? Ya udah, tinggal dipecat.”

Pintu ruangan yang tak sepenuhnya tertutup membuat Yona bisa mendengar semua percakapan, tanpa Romeo maupun Satria menyadarinya.

"Baru sehari di sini, udah mau disingkirin? Nggak bakal gue biarin begitu aja." Yona menatap dengan mata yang berkilau, senyumannya menyembunyikan niat liciknya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!