"Aku tak akan pernah menganggap mu istri apalagi menyentuh mu, karena ikatan ini ada semata- mata untuk menyelamatkan pernikahan kakak ku!"
Bagaimana rasanya harus menikah dengan seseorang yang tidak pernah kita duga sebelumnya? Itulah yang terjadi pada Indira zaraa Husain, laki-laki yang terlihat soleh dan mapan yang menjadi pilihan orang tuanya ternyata tidak sebaik kenyataan nya. Kebenaran yang baru terungkap ketika akad di langsung kan membuat nya mau tak mau harus terlibat pernikahan palsu dengan laki-laki berdarah dingin bernama Senopati trian Barata.
Seno memiliki dendam dan menjadikan Indira istrinya adalah rencana dari dendam nya itu.
Bagaimana pernikahan mereka yang didasarkan atas dendam dan benci itu? ikuti kisahnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeju Oranye, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MDSC : 03
"Bapak- ibu sekalian, silahkan masuk kembali! acara masih berlanjut!" suara lantang Baskoro menggema di ruang tamu besarnya yang di sulap menjadi pelaminan sederhana. Nadanya yang congkak tidak berusaha ia tutupi. Senyum lebar nya tampak seakan bangga luar biasa. "Putri saya kini resmi menjadi istri dari seorang CEO muda ternama, Mr. Senopati Trian Barata! "
Senyum jemawanya tak pernah lepas dari wajahnya. Ia bahkan menepuk tangan, mengajak para tamu yang sudah setengah jalan pulang untuk kembali masuk.
Bisik- bisik kecil terdengar di mana- mana.
"Barusan ricuh sekali, kok masih di lanjutkan? "
"Jadi sekarang, mempelai pria nya di ganti ya? "
"Ya tapi... menantunya saat ini CEO, pantas di pamer kan."
"Kasihan pengantin wanita nya, mukanya sampai pucat begitu. "
Sementara Indira yang mendengar nya, menunduk dalam. Jemarinya meremas kain kebaya yang ia kenakan. Malu bercampur sakit menyeruak di dadanya. Ayahnya begitu bangga, begitu congkak. Sementara dirinya terasa kerdil. Minder. seolah ia hanya alat pameran yang bisa di perlakukan sesuka hati.
Seno sendiri berdiri di sampingnya, wajahnya dingin tanpa ekspresi. Dari luar, orang mungkin melihat nya sebagai pengantin pria yang gagah dan berwibawa. Tapi di balik sorot matanya, hanya ada kejengkelan yang nyaris tak tertutupi.
Indira paham, situasi ini juga sama- sama memalukan untuk pria itu. Ayahnya benar-benar keterlaluan!
"Fotografer! " seruan Baskoro kembali terdengar. Tangannya melambai, memanggil. "Ayo sudah saatnya sesi foto untuk mengabadikan momen bahagia ini. Indira, lebih dekatlah pada suami mu. "
Dengan langkah berat, Indira bergeser dengan setengah langkah, tubuh nya kaku namun ia menurut. Tekanan yang di berikan orang tuanya sejak kecil membuat ia tumbuh dengan rasa tak aman, hingga seakan tak ada ruang untuk nya menolak.
"Nak Seno, " lanjut Baskoro, suaranya terdengar penuh kebanggaan. "silakan cium kening istri mu, seperti sepasang pengantin pada umumnya setelah akad, biar semua orang tahu betapa bahagianya kalian. "
Padahal disini dialah yang paling bahagia karena ber-mantukan kalangan darah biru.
Senyum kecil terlihat dari beberapa tamu, ada yang bahkan bersiap mengabadikan dengan ponsel mereka. Kapan lagi jadi saksi pernikahan seorang ceo ternama apalagi cara pernikahan mereka tidak biasa, bisa jadi viral. Begitu pikir mereka.
Seno sendiri, menoleh pelan. Senyum tipis mengembang di bibirnya, tapi bukan senyum hangat, melainkan senyum penuh penghinaan yang membuat darah Indira serasa berhenti mengalir.
Tangannya yang besar meraih dagu Indira, mengangkat wajah cantik itu setengah paksa. Dari kejauhan mungkin tampak romantis, seolah pengantin baru yang tengah di mabuk cinta.
Tapi sesaat kemudian, bukannya mengecup di kening, bibir Seno justru menempel kasar di pipi Indira. Cepat, dingin, dan penuh penghinaan.
Klik! kamera memotret, membekukan kebohongan besar berbalut interaksi manis itu.
Di dekat telinga Indira, suara Seno berbisik dingin. "Jangan pernah merasa terhormat karena menyandang gelar sebagai istri ku, kau ini hanya boneka murahan ayahmu. "
Mata Indira bergetar. Nafasnya tercekat, tak bisa menahan air mata tapi ia paksa bibirnya tetap melengkung tipis. Meski senyum itu palsu dan penuh luka, ia harus terlihat kuat. Ia tidak boleh runtuh di hadapan tamu, apalagi di hadapan ayahnya yang tersenyum puas.
"Aku kuat... aku harus kuat. " batinnya merintih.
Sorak tepuk tangan pun pecah, memenuhi ruangan sempit rumah Baskoro. Semua orang tersenyum, pura-pura kagum, seolah tengah menyaksikan bersatu nya cinta sejati meski kenyataan nya kecanggungan itu tetap terasa adanya.
Dan Baskoro, tetap pada tingkah nya yang memalukan. Memamerkan Seno di depan para rekan kerja dan tetangga nya, dengan kata- kata penuh kesombongan yang membuat Seno muak.
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
Suasana rumah Baskoro mulai sepi, tamu-tamu akhirnya benar-benar bubar. Meninggalkan sisa piring kotor, bunga layu di meja, dan udara pengap penuh campur aduk aroma sisa makanan dan parfum para tamu.
Setelah di lakukan rundingan yang cukup alot, Seno dan Rania memutuskan untuk tinggal semalam di rumah ini baru besok pagi akan pergi ke kediaman mereka dengan membawa Indira. Soal Ryan? nasibnya kini di tentukan di tangan Rania yang akan menceriakan nya atau tidak namun yang pasti dia sedang di rawat saat ini di rumah sakit, karena luka- lukanya.
Keluarga Indira begitu ramah dan hormat memperlakukan Rania, dia di tempatkan di kamar tamu yang cukup besar. Entah benar-benar menghormatinya atau hanya menjilat saja, hanya mereka yang tahu.
Sedangkan di sisi lain, di balik pintu kamar yang dihias seadanya dengan taburan kelopak bunga, Indira duduk di tepi ranjang. Tubuh nya kaku, gaun kebaya putih nya masih melekat. Meski rambutnya sudah sedikit berantakan, sisa dari acara panjang yang penuh air mata.
Tangan nya saling menggenggam erat, jari- jarinya dingin, bahkan lebih dingin dari malam itu.
Pintu tiba-tiba terbuka. Seno masuk, jas hitam nya sudah ia lepas, hanya tersisa kemeja putih yang lengan nya ia gulung. Wajahnya tetap dingin, sorot matanya menusuk seperti pisau.
Indira refleks merunduk, jantung nya berdegup tak karuan.
"Kenapa menunduk? " suara Seno rendah namun penuh ejekan. "Takut? atau sedih karena pada akhirnya kau batal untuk menikahi kekasih tercinta mu itu dan terjebak dengan ku? "
Indira menggigit bibirnya, ia ingin menjawab, ingin membela diri, tapi kata- kata tercekat di tenggorokannya. Apapun yang ia katakan pasti hanya akan di anggap kebohongan.
Seno berjalan mendekat, langkahnya berat, menekan lantai marmer yang dingin. Ia berhenti tepat di depan gadis itu, lalu sedikit merunduk, menatap wajah Indira yang pucat.
"Lihat aku, " ucapnya dingin.
Namun tak ada respon dari Indira, hingga membuat Seno berdecak pelan-- tangan nya kemudian terulur, bukan untuk menyentuh dengan lembut tapi menarik dagunya kasar. Agar wajah mereka sejajar. Sorot matanya tajam, membuat Indira seakan telanjang tanpa perlindungan.
"Kau tahu apa yang akan terjadi mulai sekarang? " bisiknya dingin. Indira tidak menjawab, matanya berair tapi ia menahan supaya tak jatuh.
Seno terkekeh sinis. "Jangan takut, aku tidak akan menyentuh mu. Aku jijik, bagiku kau cuma simbol kebusukan yang sudah menghancurkan hidup kakakku. Dan aku akan pastikan... kau merasakan setiap detik hidup bersama ku seperti di neraka. "
Tangan nya melepaskan dagu Indira dengan kasar. Gadis itu nyaris terjatuh ke lantai kalau saja tidak sempat berpegangan pada ujung ranjang.
Ucapan pria itu barusan menampar lebih keras daripada pukulan apapun.
Hening, hanya suara detak jam di dinding yang terdengar.
Indira menutup matanya sejenak, mencoba menguatkan hati.
"Kalau kau kira aku menikahi mu karena suka, kau salah besar, " suara Seno kembali terdengar, dingin menusuk. "Aku menikahi mu hanya untuk menghancurkan mu. Kau harus tahu itu! "
Indira menarik nafas panjang. Lalu, untuk pertama kalinya sejak acara tadi, ia membuka suara. "Aku tak pernah mengira hal seperti itu, lagipula seseorang besar seperti mu mana mungkin menyukai gadis seperti ku. "
Seno mengepalkan tangannya, kata- kata Indira seperti menggores egonya namun gengsi nya menolak itu."Ya bagus, akhirnya kau sadar diri. "
"Dan untuk kata- kata terakhir mu, jika itu yang membuat mu puas.... lakukan, aku tidak akan melawan. " lanjut Indira, seolah tak gentar.
Seno tertegun sejenak. Tidak menyangka jawaban seperti itu yang akan di lontarkan gadis itu. Jemarinya kembali menangkup pipi gadis itu. Dan detik berikut nya, ia terkekeh dingin. "Hebat, ternyata kau pandai juga menyembunyikan rasa takut, " sarkasnya. Ia melepaskan cengkeraman nya dari dagu Indira dengan cukup keras hingga membuat Indira lagi- lagi harus berpegangan pada sisi ranjang untuk menahan keseimbangan.
Seno lalu melangkah maju, melakukan gerakan untuk mengendurkan dasinya yang terasa mencekik, lalu membuka dua kancing atasnya di sana.
"Kau tunggu di sini, jangan mencoba kabur. "
Pria itu berjalan ke arah kamar mandi, meninggalkan Indira dalam keheningan namun dengan jantung nya yang bergemuruh kencang.
***
Bersambung....
ga tegas ulet bulu nempel pun diem" Bae rasa"kamu kurang 12/ons
tinggalkan aja gak ada tanggung jawabnya buat pembaca
aduh ran ran laki laki kaya gitu di pertahankan cinta buta kamu
sen kamu ga tau kelakuan iparmu bantai lah dari pada nyakitin istri
aduh situ lagi apa di dada remas" ga yah