Nayara, gadis panti yang dianggap debu, terjebak di High Tower sebagai istri politisi Arkananta. Di sana, ia dihina habis-habisan oleh para elit. Namun, sebuah rahasia batin mengikat mereka: Luka Berbagi. Setiap kali Nayara tersakiti, Arkan merasakan perih yang sama di nadinya. Di tengah gempuran santet dan intrik takhta Empire Group, sanggupkah mereka bertahan saat tasbih di tangan Nayara mulai retak dan jam perak Arkan berhenti berdetak?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17: Sabotase Gaun
Cermin panjang di sudut kamar panti yang sempit itu sedikit berkerak, namun cukup jernih untuk memantulkan bayangan Nayara yang berdiri mematung. Di atas tempat tidur yang seprainya sudah dicuci bersih, tergeletak sebuah gaun malam berbahan sutra azure yang dikirimkan oleh kurir kepercayaan High Tower pagi tadi. Gaun itu seharusnya menjadi perlengkapan bagi Nayara untuk mendampingi Arkananta dalam jamuan yayasan esok malam, sebuah transisi penting setelah mereka berhasil bertahan dari kepungan drone di hutan jati dan sabotase bahan makanan di dapur kemarin malam.
Nayara menyentuh pinggiran kain itu. Jari-jarinya yang masih kasar akibat menggosok kuali dapur merasakan sesuatu yang ganjil. Sutra itu terasa dingin, namun ada sensasi tajam yang samar, seolah ribuan silet mikro tersembunyi di balik seratnya.
"Apa yang menyebabkan penundaan fase pengepasan ini, Nayara? Durasi kita terbatas sebelum kedatangan tim penjahit untuk finalisasi teknis," suara Arkan terdengar dari arah pintu.
Arkananta melangkah masuk dengan kaki yang masih dibebat kain bersih, sisa luka dari robekan akar jati di Desa Sunyi masih membuatnya berjalan sedikit kaku. Ia tidak mengenakan jas hitamnya, hanya kemeja putih dengan lengan digulung, memperlihatkan buku jari yang masih menyisakan noda memar.
"Arkan, perhatikan struktur kain ini. Terdapat anomali pada teksturnya," bisik Nayara tanpa mengalihkan pandangan dari cermin.
"Anomali? Logistik ini berasal dari butik terafiliasi ibu saya. Spesifikasi sutra grade tertinggi dari Benua Langit, menurut laporan."
Nayara menarik napas manual yang berat. Mata abu-abunya mulai menunjukkan pendaran yang tidak biasa—Cursed Eye of the Truth miliknya menangkap sesuatu yang tidak bisa dilihat mata fana. Di sela-sela benang sutra azure itu, terdapat pendaran merah tipis, seperti urat nadi yang membawa racun. "Ini bukan sekadar material garmen. Ada implantasi energi negatif di dalamnya. Serat ghaib."
Mendadak, Arkan tersentak. Ia mencengkeram pinggiran meja kayu hingga kayu itu berderit. Wajahnya mendingin, dan keringat dingin mulai muncul di pori-pori dahinya. "Nayara... lakukan pemutusan kontak pada area dorsal gaun tersebut."
"Arkan? Apakah sistem Anda mendeteksi resonansi negatif?"
"Epidermis punggung saya... mengalami sensasi korosif yang ekstrem," Arkan mengerang tertahan, suaranya parau menahan resonansi Shared Scar. Ia bisa merasakan sensasi gatal yang membakar, persis di titik yang sama dengan tempat tangan Nayara berada di atas gaun itu. "Serangan ini dikalibrasi untuk Anda. Targetnya adalah memicu degradasi postur Anda di depan publik akibat stimulasi termal dan rasa gatal yang tidak terkendali."
"Kireina," ucap Nayara pendek. "Dia memahami bahwa penolakan terhadap pemberian Nyonya Besar akan dianggap sebagai pelanggaran protokol."
Pintu kamar diketuk dengan keras. Seorang wanita paruh baya dengan kacamata berbingkai emas dan senyum yang dibuat-buat masuk membawa tas peralatan menjahit. Dia adalah penjahit utama High Tower yang dikenal memiliki tangan emas, namun bagi Arkan, wanita ini berbau seperti arsenik.
"Selamat sore, Tuan Muda, Nyonya Muda. Saya di sini untuk memastikan gaun ini memiliki sinkronisasi sempurna dengan anatomi Nyonya," ucap penjahit itu, suaranya melengking penuh kepalsuan.
"Silakan lakukan pengepasan sekarang, Nyonya Muda. Protokol jamuan esok tidak memberikan toleransi terhadap keterlambatan," tambah si penjahit sambil mendekat ke arah gaun.
"Konstruksi gaun ini sudah mencapai titik kritis, Nyonya. Terlalu kritis hingga berisiko memicu luka bakar pada kulit," Arkan berdiri tegak di depan Nayara, menghalangi langkah si penjahit. Tatapannya begitu tajam hingga wanita itu mundur selangkah.
"Apa urgensi dari pernyataan Tuan Muda? Saya hanya melakukan eksekusi tugas profesional saya."
"Tugas Anda adalah menjahit tekstil, bukan mengintegrasikan jarum metafisika di balik lapisan sutra," Arkan melangkah maju. "Berapa kompensasi yang diberikan Kireina untuk upaya sabotase terhadap istri saya di koordinat panti ini?"
"Saya... saya tidak memiliki pemahaman atas narasi Tuan! Jika Nyonya menolak pengepasan, saya tidak bertanggung jawab jika esok gaun ini terlihat inkompeten dan merusak reputasi High Tower!" penjahit itu mencoba membela diri dengan suara gemetar, tangannya tanpa sengaja menyambar bagian bawah gaun yang berada di dekatnya.
Tiba-tiba, suara kain robek terdengar nyaring. Krrrkk.
Nayara tertegun. Bagian bawah gaun azure itu robek besar karena tersangkut gunting besar yang mencuat dari saku penjahit itu. Tidak hanya robek, gaun itu terjatuh ke lantai semen panti yang masih sedikit lembap oleh sisa lumpur dari sepatu Arkan kemarin.
"Ouch! Terjadi kecelakaan teknis yang fatal!" penjahit itu menutup mulutnya, namun Nayara bisa melihat kilatan kemenangan di matanya. "Struktur gaun ini rusak total. Tidak ada ruang waktu untuk proses manufaktur baru. Sepertinya Nyonya Muda memang tidak memiliki kualifikasi untuk berdiri di samping Tuan Muda di depan dewan eksekutif."
Nayara menatap gaun yang kini kotor dan robek di lantai. Ia meremas butiran tasbih kayu di pergelangan tangannya, merasakan butiran yang pecah itu menusuk telapak tangan. Ia tidak menangis. Tidak ada air mata untuk orang-orang yang hanya mengerti bahasa kain dan kasta.
"Martabat saya tidak memiliki ketergantungan pada rajutan benang Anda, Nyonya," suara Nayara terdengar dingin dan stabil. Ia membungkuk, mengambil gaun itu dengan tangan kosong meski Arkan kembali merintih karena resonansi panas di kulitnya menghebat.
"Anda mengira saya akan membiarkan tangan kotor Anda menyentuh properti kami lagi?" Arkan merebut gaun itu dari tangan Nayara. Ia menatap penjahit itu dengan kebencian yang murni. "Evakuasi diri Anda sekarang. Sebelum saya melakukan terminasi terhadap lisensi butik Anda di seluruh Astinapura."
"Tuan Muda, ini murni malfungsi teknis—"
"TERMINASI KEHADIRAN ANDA SEKARANG!" bentak Arkan.
Setelah penjahit itu lari terbirit-birit, kesunyian yang mencekam memenuhi kamar. Nayara menatap suaminya yang kini bersandar pada tiang ranjang dengan napas yang memburu. Arkan menarik napas manual, mencoba meredakan sirkulasi darahnya yang bergejolak akibat Iron Bone Marrow yang bereaksi terhadap stres emosional.
"Arkan, hentikan absorbsi ini. Biarkan material ini hancur. Saya bisa menggunakan opsi pakaian lama saya," bisik Nayara.
"Negatif. Penggunaan pakaian lama akan memberikan validasi kemenangan bagi mereka. Mereka akan mengonstruksi narasi bahwa saya tidak memiliki kapabilitas proteksi ekonomi terhadap istri saya," Arkan menatap robekan pada sutra itu. "Kita akan mengaktivasi opsi ketiga."
"Opsi ketiga? Integritas kain ini telah rusak dan terkontaminasi, Arkan."
Arkan meraba saku jasnya yang tersampir di kursi. Ia mengeluarkan sepotong kain katun kusam yang sudah dicuci bersih. Itu adalah sapu tangan panti yang kemarin digunakan untuk membalut kakinya yang berdarah di hutan. "Kain ini menyimpan jejak darah saya dan esensi tanah Terra. Kita akan melakukan integrasi sapu tangan panti ini pada sutra High Tower tersebut."
"Itu adalah anomali desain, Arkan. Mereka akan melakukan perundungan secara visual."
"Mereka akan menyaksikan sebuah deklarasi perang, Nayara. Bahwa High Tower dan Desa Sunyi telah menyatu dalam eksistensi Anda. Siapkan instrumen jahit Anda. Kita akan merekonstruksi martabat kita secara mandiri malam ini."
Nayara menatap sapu tangan itu, lalu menatap suaminya. Ia melihat integritas tulang besi yang tidak tergoyahkan di balik mata Arkan yang masih memerah. Ia mengambil jarum dan benang sederhana dari kotak kayu panti. "Bantu saya melakukan fiksasi kainnya, Arkan. Motorik tangan saya mungkin mengalami tremor, namun fokus batin saya tetap stabil."
Lampu petromaks di atas meja kayu berdesis pelan, menyebarkan cahaya kekuningan yang menari-nari di atas kain sutra azure yang terbentang. Nayara duduk tegak, matanya yang abu-abu fokus pada setiap tusukan jarum yang menembus serat kain. Di sampingnya, Arkananta memegangi bagian sutra yang robek dengan buku jari yang memutih. Setiap kali jarum Nayara bergerak, Arkan merasakan denyut panas yang menjalar di punggungnya, sebuah sisa resonansi dari serat ghaib yang sebelumnya sengaja ditanam oleh kaki tangan Kireina.
"Stabilkan napas Anda, Arkan. Saya mendeteksi stimulasi nyeri pada punggung Anda," bisik Nayara tanpa mengalihkan pandangan.
"Lanjutkan prosedur, Nayara. Nyeri ini adalah harga yang layak dibanding membiarkan Anda kehilangan kedaulatan besok," sahut Arkan, suaranya parau. Keringat dingin membasahi kemeja putihnya, namun punggungnya tetap tegak setajam pedang.
Nayara menyatukan potongan sapu tangan kusam yang menyimpan noda samar darah Arkan dari hutan Desa Sunyi ke atas robekan sutra mewah itu. Ia tidak menjahitnya dengan sembunyi-sembunyi; ia justru membentuk pola sulaman yang tegas, sebuah aksen yang kontras antara kemilau bangsawan dan kesahajaan tanah Terra.
"Ibu Fatimah pernah memberikan pengajaran bahwa tekstil yang robek tidak berarti kehilangan fungsi, melainkan sedang mendokumentasikan sejarahnya," Nayara melantunkan sholawat lirih sebagai ritme jiwanya. Lambat laun, pendaran merah beracun yang ditangkap oleh Truth Eye di balik serat sutra mulai meredup, ternetralkan oleh energi tenang yang mengalir dari jemari Nayara.
Arkan merasakan tekanan di dadanya melonggar. Ia menoleh ke arah jendela yang masih basah oleh sisa hujan. "Esok, saat Anda memasuki aula jamuan dengan gaun ini, mereka akan mencari celah pada martabat Anda. Mereka akan melakukan stigmatisasi terhadap kain panti yang melekat pada sutra ini."
"Biarkan mereka melakukan observasi hingga mereka menyadari bahwa serat panti inilah yang mengukuhkan sutra mereka agar tidak mengalami disintegrasi total," jawab Nayara sembari mengikat simpul terakhir. Ia memutus benang dengan giginya, sebuah gerakan yang mencerminkan keteguhan batinnya.
"Prosedur selesai."
Nayara mengangkat gaun itu. Azure yang megah kini memiliki garis diagonal dari katun kusam yang kuat. Secara estetika, itu tampak seperti luka yang dijahit dengan kehormatan. Arkan berdiri, meski sendi kakinya kembali berdenyut karena Iron Bone Marrow yang mencapai batas ambangnya setelah berjam-jam menahan posisi diam.
"Kenakan gaun ini besok dengan postur tegak, Nayara. Ingat, status Anda bukan lagi sekadar subjek yang dibuang. Anda adalah poros bagi seluruh manuver politik saya," Arkan menyentuh bahu Nayara, memberikan kekuatan melalui kontak fisik yang singkat namun bermakna.
Nayara menatap sapu tangan yang kini telah menyatu dengan gaun mewahnya. "Lusa, mereka akan memahami bahwa Empire Group tidak bisa diakuisisi hanya dengan sepotong sutra kepalsuan."
Kesunyian malam di Panti Asuhan "Cahaya Sauh" seolah mengamini sumpah mereka. Di balik dinding bata merah yang kusam, di sebuah kamar sempit yang jauh dari kemewahan High Tower, sebuah senjata baru telah diciptakan. Bukan berupa pedang atau peluru, melainkan sebuah integritas yang dijahit dengan darah dan air mata, siap untuk meledak di jantung kekuasaan Astinapura.