NovelToon NovelToon
Aku Bukan Milik Langit

Aku Bukan Milik Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Dikelilingi wanita cantik / Kebangkitan pecundang / Budidaya dan Peningkatan / Epik Petualangan / Fantasi
Popularitas:982
Nilai: 5
Nama Author: Dana Brekker

Di dunia yang tunduk pada Mandat Langit, kultivasi bukan sekadar kekuatan, melainkan belenggu. Setiap embusan qi dikenakan pajak oleh langit, dan mereka yang membangkang akan dikutuk dalam kehancuran. Di tengah tatanan tiran ini, hiduplah Li Shen, seorang yatim piatu fana dengan meridian cacat yang dianggap sampah oleh dunia.

Namun, penolakannya terhadap anugerah langit justru menarik perhatian Dewa Xuan Taiyi.

Selama seratus tahun, Li Shen ditempa dalam isolasi dimensi Taixu Shengjing, mengasah Kehendak Murni yang tidak mampu diintervensi oleh dewa mana pun. Ia bangkit kembali bukan sebagai pahlawan, melainkan sebagai Penolak Takdir.

Perjalanan panjangnya di mulai dari Perkumpulan Tanpa Mandat, sebuah gerakan revolusi rakyat kecil Lianzhou yang muak dengan penindasan langit. Bersama Yan Shuhua (Hua'er), gadis pembunuh bayaran yang setia, dan Ru Jiaying, penjinak binatang roh misterius, Li Shen memulai perang mustahil.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dana Brekker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15 : Jejak di Hutan Batu Hitam

Li Shen meninggalkan Selendang Merah saat fajar baru saja menyingsing, membelah kabut tipis yang menyelimuti Hongluo.

Madam Luo berdiri di ambang pintu belakang, sepasang matanya menyiratkan kekhawatiran yang kali ini tidak ia sembunyikan di balik kipasnya. “Kembalilah dengan selamat,” bisiknya dalam hati, melepas punggung pemuda itu pergi.

Di sampingnya, Hua’er berdiri mematung. Wajahnya sedingin es, namun jemarinya mengepal di balik lengan baju, mengkhianati gejolak batinnya. Pikirannya kacau oleh ambiguitas yang menyesakkan, sebagian dirinya ingin Li Shen tetap tinggal dalam jangkauan pengawasan Madam Luo, aman dan terkendali. Namun, sebagian lain takut jika pemuda itu melangkah terlalu jauh hingga menyentuh inti kekuatan Tianyuan, ia akan berubah menjadi sosok yang tidak lagi mereka kenali. Ketidakpastian antara kemungkinan Li Shen tewas atau hidup sebagai monster baru membuatnya muak pada diri sendiri. Namun, ia tetap diam, menerima keputusan Madam Luo sebagai sebuah keniscayaan.

Luo Pang keluar dari gudang dengan langkah tergesa. Meski matanya cekung akibat kurang tidur, penampilannya jauh lebih rapi dari biasanya. Ia menangkupkan tangan dengan takzim. “Tuan, hati-hati di jalan. Pulanglah dengan selamat. Aku berjanji tidak akan menyentuh arak setetes pun sampai dirimu kembali.”

Li Shen mengangguk singkat kepada mereka semua, lalu mengangkat satu tangan sebagai salam perpisahan. Pedang Langit tersandang di punggungnya, jubah gelap menutup tubuh, tas kecil berisi makanan kering, botol bambu berisi air dan obat herbal yang tergantung di pinggang.

Perintah Madam Luo jelas. Pergi ke Hutan Batu Hitam. Selidiki hilangnya kontak dengan cabang Perkumpulan di sana. Kumpulkan informasi, dan jika memungkinkan, selamatkan mereka yang tersisa dan hindari pertarungan yang tidak perlu.

Namun bagi Li Shen, ini juga hal lain. Kesempatan untuk menempa diri. Jauh dari Hongluo, jauh dari mata Tianyuan dan Selendang Merah, tak ada orang lain yang menanggung akibat jika ia bertarung tanpa menahan diri.

Ia memilih berjalan kaki agar tidak menarik perhatian. Tujuh hari perjalanan ia lewati melewati desa kecil dan jalan tanah. Malam ia habiskan di bawah pohon atau tebing, melatih Kehendak Murni dalam keheningan. Aura dalam tubuhnya naik perlahan, namun ia sadar akan batasnya. Ia masih setara dengan kultivator di tingkat 5 Pemadat Inti tahap akhir. Menekan jiwa lemah bukan masalah, tetapi menghadapi Penguasa Domain seperti Han Qingshan tetap berbahaya.

Pada hari ketujuh, atmosfer berubah drastis. Hutan Batu Hitam menyambutnya dengan kabut qi beracun yang pekat. Udara terasa berat, membawa aroma anyir darah yang telah lama mengendap. Pohon-pohon hitam yang meranggas menjulang seperti cakar raksasa, sementara bebatuan tajam mencuat dari tanah yang gersang. Li Shen menarik napas dalam, Kehendak Murni dalam tubuhnya bersirkulasi secara otomatis, menciptakan perisai internal yang menetralkan racun tersebut.

Ia melangkah masuk dengan kewaspadaan penuh. Jejak destruksi terlihat di mana-mana, pohon terbelah dua, batuan masif hancur berkeping-keping, dan sisa qi yang tidak stabil masih berputar di udara. Di tengah hutan, ia menemukan reruntuhan sebuah kuil kuno yang kini menjadi pekuburan massal.

Mayat-mayat bergelimpangan dalam kondisi mengerikan, tubuh mereka mengering menyerupai mumi, seolah seluruh energi kehidupan mereka telah dihisap habis. Luka tebasan pada jasad-jasad itu terlihat bersih namun sangat kejam. Li Shen berlutut di samping sosok yang tampak sebagai pemimpin. Kepala pria itu terpisah dari tubuh dengan mata terbuka kosong. Aura yang tersisa menunjukkan bahwa mendiang adalah seorang praktisi tingkat 6 ranah Pembentuk Jiwa tahap akhir, namun ia tewas tanpa perlawanan yang berarti.

“Ini bukan ulah bandit biasa,” gumam Li Shen.

Aura dingin dan haus darah masih tertinggal di udara. Li Shen mengamati pola serangan, luka-luka itu konsisten dengan penggunaan senjata panjang. Sebuah tombak. Di antara puing, ia menemukan robekan pamflet Bunga Malam Hitam, simbol Perkumpulan. Cabang ini telah dimusnahkan hingga ke akar-akarnya.

Li Shen menatap ke arah utara, ke arah pusat kekuasaan di Jing’an. “Tianyuan mengirimkan algojo mereka.”

Saat menyelidiki area lebih dalam, ia menemukan sebuah lambang naga kecil berbahan tembaga yang tergeletak di dekat tumpukan jasad.

Sekte Bara Api. Mo Wuxie.

Nama itu pernah muncul dalam igauan mabuk Luo Pang. Mo Wuxie adalah seorang patriark bengis, eksekutor andalan Tianyuan yang telah mencapai tingkat 8 ranah Pemutus Takdir tahap awal. Pengguna Tombak Pemangsa Qi itu dikenal mampu menyerap qi lawan untuk memperkuat dirinya sendiri. Dalam rumor yang beredar, kekuatannya disebut melampaui Zhao Tianlong, sang Gubernur Jing’an.

Ini bukanlah misi yang sederhana. Madam Luo jelas tidak mengetahui skala ancaman ini.

Li Shen menatap mayat-mayat itu sekali lagi. Amarah muncul perlahan. Rakyat kecil kembali menjadi korban. Sebuah cabang Perkumpulan yang lemah dimusnahkan demi sabotase jalur qi.

Ia membakar jasad jasad itu secara diam-diam sebagai penghormatan terakhir. Setelah itu, ia melanjutkan penyelidikan lebih dalam ke hutan, mencari jejak Mo Wuxie.

Malam turun dengan kabut yang semakin mencekam. Namun, Li Shen berhasil menemukan jejak baru, darah yang masih segar dan sisa energi hitam yang belum sepenuhnya pudar. Mo Wuxie belum pergi jauh.

Li Shen mengikuti jejak itu dengan Kehendak Murni pada tingkat kewaspadaan tertinggi.

Hingga sampai di tengah hutan, ia menemukan sebuah gua. Di dalamnya, tiga orang pemberontak bersembunyi. Luka mereka parah, napas tersengal dengan wajah penuh keringat dan senjata di tangan gemetar saat dihunuskan ke arah Li Shen.

“Siapa kau?” tanya salah satu, wajahnya berubah waspada.

“Utusan Selendang Merah,” jawab Li Shen tenang. “Madam Luo mengirimku.”

Ketegangan mereka luruh seketika, namun trauma masih membayang jelas di mata mereka. “Kau terlambat,” ucap pemimpin mereka dengan getir. “Sang ‘Naga Merah’ datang lebih cepat dari perkiraan. Mo Wuxie membantai semua orang. Dia menyerap qi kami seperti iblis rakus yang tak pernah kenyang.”

Menurut pengakuan mereka, Mo Wuxie sedang memburu para pemberontak yang mulai aktif kembali. Rumor dari Jing’an telah membocorkan rencana Perkumpulan. Li Shen terdiam, baginya tidak mengejutkan jika eksistensi mereka terendus, namun yang terpenting saat ini adalah memastikan api perlawanan tetap menyala di hati rakyat Lianzhou.

Li Shen menolak ketika mereka meminta untuk ikut bersamanya. “Fajar nanti, pergilah ke desa terdekat. Sembunyikan identitas kalian dan kembalilah ke Jing’an saat situasi sudah aman. Biar aku yang menjadi pengalih perhatian bagi Mo Wuxie.”

Meski ragu melihat Li Shen yang tampak seperti manusia fana biasa, mereka tidak memiliki pilihan selain patuh. Keberanian pemuda itu untuk datang sendirian ke sarang monster membuat mereka tak berani mendebat keputusannya.

Malam itu, Li Shen beristirahat di dalam keheningan gua. Pikirannya tajam, fokusnya terkunci dengan presisi yang mematikan. Ia sadar sepenuhnya bahwa menghadapi seorang Pemutus Takdir, sosok yang memiliki kemampuan menekan ruang dan beregenerasi secara instan adalah tindakan yang nyaris serupa dengan bunuh diri.

Namun, dalam kamus hidup Li Shen, tidak ada kata mundur. Inilah tempaan ekstrem yang ia cari, sebuah ujian murni untuk membuktikan bahwa Kehendak Murni mampu mematahkan tirani Mandat Langit. Ia tahu benar risikonya, bila Xuan Taiyi tidak akan memberinya kesempatan reinkarnasi jika ia tewas di sini, dan Madam Luo pun jelas tidak akan pernah mengizinkannya melakukan kegilaan semacam ini jika ia tahu. Namun, di bawah langit malam yang pekat, tekad Li Shen telah bulat.

Saat mentari pagi menyembul dari balik cakrawala, Li Shen melangkah keluar, menyusuri jejak Mo Wuxie semakin dalam menuju jantung kegelapan Hutan Batu Hitam.

1
yuzuuu ✌
bau2 istri MC 🤭
yuzuuu ✌
lanjut lanjutt lanjut thor..... suka bngtt 😍
MuhFaza
lanjutt
yuzuuu ✌
wkakaka mampus
yuzuuu ✌
bakal se op apa beliau2 ini 👀
MuhFaza
baguss
MuhFaza
tpikal novel zero to hero
yuzuuu ✌
wakakak 🤣👍
yuzuuu ✌
meskipun menolak pemberian langit tapi nggak mulai dari nol yh,. si Xuan yg kasi secara cuma2 atw karena li Shen membunuh bayangan2 di taixu jadi naik tingkat?
yuzuuu ✌
apakah nanti jadi jodohnya huaer? 👀🤭
DanaBrekker: /Doge/
total 1 replies
yuzuuu ✌
🤣/Sob/
yuzuuu ✌
jarang nemu novel yang pembukaannya rapi begini thor. semangat 👍
DanaBrekker: /Good/
total 1 replies
yuzuuu ✌
suka tipe MC sampah begini di awalnya. tinggal jejak dulu thor, lanjutkan 👍
DanaBrekker: /Good/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!