Dara adalah gadis cantik berusia 22 tahun. Dia harus terjebak dalam situasi yang sangat rumit di mana dia harus menghadapi dua pria yang sama-sama mencintainya. Yang satu sebagai tunangannya, sedangkan yang satu adalah adik dari tunangannya.
Dara selalu dihadapkan dalam sebuah situasi yang sulit dan rumit karena sang calon adik ipar begitu pemaksa dan suka mengambil keuntungan darinya. Namun siapa yang menduga jika akhirnya Dara malah terjebak dalam perasaan tak wajar itu.
Akankah dara bisa lepas dari jerat cinta calon adik iparnya, atau dia tetap menikahi calon tunangannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jessica_226, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sayang, Aku Menginginkanmu!!
Kai menggeleng. "Itu tidak benar, Ma. Semua itu tidak seperti yang Mama bayangkan, aku~"
"Mama sudah memutuskan jika pertunanganmu dan Dara dibatalkan!!"
"Apa? Dibatalkan?!!" Kai memekik sekencang-kencangnya setelah mendengar kalimat yang baru saja keluar dari bibir sang ibu.
"Tidak, Ma. Aku tidak mau, aku mencintai Dara dan aku tidak ingin pisah darinya. Lagipula bagaimana keluarga ini akan menanggung malu yang sangat besar jika pertunangan itu sampai di batalkan. Sementara semua orang sudah tau jika Tuan Muda dalam keluarga Lu akan segera menikahi putri bangsawan berdarah campuran. Pikirkan keluarga ini juga, Ma!!"
"Pertunangan tidak dibatalkan, Kai!! Karena Ken-lah yang akan mengantikanmu mendampingi Dara, karena sejak awal memang Ken-lah yang seharusnya menjadi tunangan Dara!! Tapi kau memprofokasi Paman Jung supaya kau menggantikan posisinya. Dan apa yang seharusnya menjadi milik adikmu, akan kembali padanya!!"
Ken menggeleng. "Tidak, Ma!! Aku tidak bisa menerima keputusan Mana ini. Aku tidak ingin pisah dari Dara, aku yang harus menikah dengannya, hanya aku!!"
"Terserah, tapi keputusan Mama sudah bulat dan tidak bisa di ganggu gugat!! Ken dan Dara akan menikah tahun depan!!" Jia beranjak dari hadapan Kai dan meninggalkannya begitu saja.
Sementara itu. Ken yang menyaksikan semuanya dari lantai dua kamarnya tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya. Karena akhirnya Dara jatuh ke dalam pelukannya. Dan dia tidak perlu lagi menyembunyikan hubungan mereka dari semua orang.
"Apa yang membuatmu tersenyum, Brengsek!!" Bentak Kai melihat senyum sinis di bibir Ken.
"Terima saja kekalahan-mu, Kai!! Karena apa yang kau dapatkan dengan cara tidak baik, maka akan berakhir tidak baik juga. Sejak awal Dara adalah milikku, dan selamanya akan begitu!!"
"Aarrrkkhhh!! Kau benar-benar bajingan Ken Lu!!" Teriak Kai penuh emosi.
Kai menghancurkan apapun yang ada di sekitarnya. Dia benar-benar marah dan tidak terima dengan keputusan Jia. Dia bersumpah, jika dirinya tidak bisa memiliki Dara, maka Ken juga tidak boleh.
-
Langit malam baru saja menghentikan tangisnya.
Hujan malam hari memang tak menyisakan apa-apa, kecuali aroma petrichor yang terbawa angin dan menyapa ventilasi, sebelum akhirnya terhirup oleh organ respirasi.
Halaman luas mansion berlantai tiga berwarna putih itu masih dipenuhi tetes-tetes air pada tiap pucuk rumputnya. Sementara tanah kecokelatan basah di bawah hijau rumput menguarkan aroma petrichor yang terlalu pekat hingga membumbung ke udara, menciptakan samar kabut putih yang nyaris tak tertangkap netra manusia.
Warna di antara hitam dan putih masih menyelubungi beberapa sudut langit, membiaskan muram hingga ke bumi yang baru saja ditinggalkan hujan.
Jendela yang terbangun di sisi pintu utama ternoda embun yang menghalangi pemandangan. Gorden tipis berwarna broken white menyempurnakan halangan sepasang biner di balik jendela untuk meraih apa yang hujan sisakan di halaman.
Seorang gadis berdiri di depan jendela kamarnya yang terbuka. Sosok dengan kulit seindah boneka porselen yang baru saja dihasilkan pengrajin ternama yang bahkan belum dibuka dari pembungkusnya. Sosok yang menyatakan dengan bangga bahwa dia adalah Pembenci Petrichor Nomor 1 .
Jika kebanyakan orang akan menyatakan bahwa mereka menyukai hujan berikut petrichor yang hujan tinggalkan.
Tapi, tidak dengan gadis cantik satu itu.
Dara sangat membenci aroma tanah dan udara setelah hujan. Membencinya sepenuh hati.
Membencinya dengan satu alasan yang ia sendiri tak mengerti, sama halnya dengan ia yang tak mengerti kenapa orang-orang memuja aroma aneh bahkan memberi nama untuk kabut samar yang mencemari udara dan organ respirasinya itu.
"Apa yang membuatmu sampai berkali-kali menghela napas?" Sepasang tangan tiba-tiba memeluknya dari belakang serta sebuah dagu diletakkan di atas bahu kanannya.
"Ken, apa yang kau lakukan? Lepaskan aku, bagaimana jika Bibi Jia tiba-tiba masuk dan melihat kau memelukku seperti ini?!" Ucap Dara setengah panik.
"Tenanglah, Sayang. Jika Mama masuk dan melihat kita seperti ini, yang ada kita malah akan langsung di nikahkan." Jawabnya.
"Maksudmu?" Dara melepaskan pelukan Ken lalu merubah posisinya. Ia dan pemuda itu saling berhadapan. "Jangan menatapku terus, Ken. Aku ingin penjelasan!!"
"Mama sudah membatalkan pertunanganmu dan Kai, dan menggantinya denganku. Karena sejak awal yang seharusnya menjadi suamimu adalah aku, bukan bajingan itu!!"
Mata Dara langsung berbinar. "Benarkah?" Ken mengangguk.
Dara langsung melompat ke dalam pelukan Ken, kedua kakinya melingkari pinggul pemuda itu. Sedangkan kedua tangannya mengalung pada leher kekasihnya. "Apa itu artinya kita tidak perlu sembunyi-sembunyi lagi?" Ken mengangguk.
"Dan sudah tidak ada larangan bagiku jika aku ingin menculik-mu saat malam hari." Ken menyeringai nakal, sedangkan Dara membelalakkan matanya.
Dengan kesal Dara memukul Dada Ken."Dasar mesum!!" Ken terkekeh, pria itu membaringkan Dara dan langsung menyergap bibir tipis ranumnya.
Satu tangannya berpindah ke tengkuk Dara, bersamaan dengan lidahnya yang memasuki mulutnya, gadis itu sangat menyukai lidah Ken yang terasa hangat di dalam mulutnya.
Lidahnya terus mengecap isi mulut gadis itu dan mengajak lidahnya menari, bukan tarian lemah lembut seperti dansa atau bahkan balet, melainkan seperti krump dance yang berirama cepat, agresif dan menuntut.
Sesaat kemudian Ken melepas tautan bibirnya untuk memandang wajah ayu gadis di bawahnya itu. Senyum tipis tersungging di bibir Kissablenya, Dara terlihat sangat luar biasa di matanya.
Dan sekali lagi pemuda itu membenamkan bibirnya pada bibir Dara untuk mengecupinya beberapa saat sebelum akhirnya melepaskannya lagi.
"Aku sangat mencintaimu, Sandara Jung." Lirih Ken setengah berbisik.
Ken menyentuhkan keningnya ke kening Dara tanpa melepaskan lengannya dari tubuh sang gadis. Ia semakin mengeratkan pelukannya, dan pemilik mata Hazel itu dapat merasakan hasrat si pemuda yang menempel di perutnya yang menegang, entah sejak kapan.
Sensasi luar biasa itu membuat perut Dara semakin mengencang dan organ intimnya berkedut nyeri. Oh tuhan, seluruh tubuhku terasa terbakar oleh hasratnya. Jerit Dara membatin.
Dewi batin di dalam sana tersenyum lebar menampilkan barisan gigi putihnya karena senang, dan tubuhnya menyala di bakar gairah. Dewi batin Dara bersorak kegirangan.
Dara mencoba bergerak menggesekan tubuhku yang menempel di tubuhnya dan Ia mengerang. "Kau membuatku gila." Bisiknya. Ia mengecupi tepian wajah gadis itu hingga mencapai cuping telinga.
"Dara, katakan jika ini gila, tapi aku menginginkanmu, sungguh-sungguh menginginkanmu." Ken berbisik dan menggodaku melalui gigitan kecil yang Ia tinggalkan ditelinga Dara,
Sepertinya Ken sudah sangat tahu disana adalah salah satu bagian sensitif gadis itu, karena erangan yang lolos dari bibir Dara setiap kali Ken bermain di sekitar telinganya.
"Aaahh, Ken. Hentikan!! Kau membuatku geli." Rancau Dara memohon.
Ken terus-menerus memanjakan telinga Dara dan ia memiringkan kepalanya menikmati sensasi menggelitik yang mengirimkan rasa nikmat ke seluruh bagian tubuhnya. Dara ingin menolaknya, tapi tidak bisa. Ken membuatnya tak berdaya.
"Sayang, katakan padaku jika kau juga menginginkanku!!"
-
Bersambung.
Halo riders sayang, ayo dong kasih like koment-nya. Novel ini masih sepi, biar Authornya makin semangat ngetiknya 🙏🙏🙏🤧🤧🤧