" Kumohon Tuan! lepaskan aku! aku tahu kau tak pernah mencintai ku, kau hanya mencintai kakak ku, dan menganggap ku hanya bayang-bayang dari Kakak ku Sania."
"Aku tak ingin terjebak pernikahan ini selamanya! aku menikahi mu karna kakak ku yang memintanya, bergitu pun diri mu, tak akan pernah terjadi cinta di antara kita! lepaskan aku Tuan, aku juga ingin bahagia!"
Barley dan Sania sudah merencana kan pernikahan mewah, mengingat Barley adalah putra tunggal dari milioner bernama Hasta Raja Prawira.
Disaat pernikahanya tinggal menunggu waktu,.Barley harus kehilangan Sania, calon pengantin yang sangat ia cintai.
Selain itu Barley mengalami patah kaki karna tulangnya yang retak hingga harus menggunakan kursi roda.
Barley menjadi putus asa, keluarga juga memutuskan untuk menjodohkan Barley dan Santi, selain menjadi istri,.tugas Santi adalah merawat anak mereka yang cacat sementara karna mengalami keretakan tulang pada kakinya.
Sanggupkah Santi bertahan dalam menghadapi sikaf arogan dari suaminya tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Meylani Putri Putti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Alergi
Barley mondar-mandi di depan tempat tidurnya dengan sesekali menghampiri Santi yang masih tak sadarkan diri.
Barley kembali memeriksa suhu tubuh istrinya dengan menggunakan termometer.
"Huh, syukurlah sudah turun," gumannya.
pukul tujuh malam Wati datang mengetuk pintu kamar Barley.
"Masuk!"seru Barley.
"Ehm maaf tuan, Nyonya besar meminta saya untuk memanggil tuan karna makan malam sudah siap, "ucap Wati dengan hormat.
"Suruh saja mereka makan duluan, saya sedang menjaga istri saya." Barley.
"Baik tuan, saya permisi," Wati.
Barley menatap kepergian Wati tapi kemudian ia memenggilnya kembali.
"Wati!"
"Iya tuan, ada apa?"tanya Wati.
"Ehm, bawakan saja makan malamnya kesini, biar aku makan malam di disini saja bersama istri ku," titah Barley.
"Iya tuan." Wati langsung menuju dapur dan menyiapkan makan malam untuk Barley dan Santi.
Ketika melewati meja makan Andini memanggilnya.
"Wati, di mana Barley?" Andini.
"Ehm, tuan muda sedang menjaga istrinya Nyonya, ia meminta saya untuk membawa makan malam mereka langsung ke kamarnya, "papar Wati.
"Huh, semakin melunjak, tidak bisa di biarkan, jika seperti ini, bisa-bisa kejadian sama terulang kembali, dimana Barley akan jatuh cinta pada Santi kemudian rela menghabiskan uangnya hanya untuk wanita miskin tersebut," Dengus Andini seraya melempar sendok kearah piringnya dan mengaggetkan tuan Hasta.
"Mommy, tidak baik melempar makanan seperti itu!" bentak tuan Hasta kepada Andini.
Sementara Andini mengkerucutkan bibirnya.
Amora menjadi penyimak di antara mereka.
Sialan, apa aku harus melakukan hal yang sama terhadap Santi, menyingkirkannya sama seperti aku menyingkirkan kakaknya.Batin Amora.
Amora memicingkan matanya, otak kotornya mulai merencanakan sesuatu yang jahat.
Wati membawa nampan berisi makan malam ke kamar Barley.
Saat itu Santi mulai menerjab-nerjabkan matanya melihat sekelilingnya dan berhenti ketika netranya melihat sosok Barley ia pun membuang muka seraya membalikan tubuhnya.
Menyadari istrinya yang telah sadar, Barley mendekat kearahnya. dan duduk di sampingnya.
"Santi, kau sudah sadar?"tanya Barley seraya meraba kening Santi.
Santi tak menjawab ia hanya menggedip-ngedipkan matanya.
Wati mengetuk pintu kamar sebelum masuk, "Makan malamnya tuan, "ucap Wati seraya meletakan makan malamnya di atas meja.
Wati berdiri menunggu perintah selanjutnya.
"Santi, makan malam mu sudah siap, ayo kita makan," bujuk Barley seraya mengusap rambut Santi.
"Saya tidak lapar tuan," sahut Santi dengan ketus.
Mendengar jawaban ketus dari Santi membuat Barley tersulut emosi.
"Kau! aku bicara baik-baik pada mu tapi kau_"
Santi memicingkan matanya ketika Barley membentaknya, melihat tatapan sinis Santi Barley tak jadi melanjutkan kata-katanya.
"Ayo ku bantu kau duduk, jika kau bersikaf baik, aku janji tak akan memaksa dan berbuat kasar terhadapmu, " Barley menurunkan nada bicaranya setengah oktaf.
Santi mengikuti perintah Barley, ia pun bangkit untuk duduk ,sementara kepalanya ia sandarkan pada headboard.
"Wati siapkan air hangat untuk istri ku minum obat," titah Barley.
Barley meraih mampan di atas meja, kemudian meletakan nya di atas pangkuannya, kini ia dan Santi dalam posisi yang saling menghadap.
Barley menyendok nasi kemudian menyuap kearah mulut Santi yang masih masih tertutup rapat.
"Ayo santi makanlah," ucap Barley dengan lembut meski hatinya dongkol.
Barley menjadi serba salah terhadap Santi, Santi tak bisa di perlakukan kasar, sedang kan ia sendiri tak bisa sabar dengan terus-terus berlaku lembut terhadapnya.
Santi membuka mulutnya dengan terpaksa saat itu ia merasakan meriang.
Baru beberapa suapan Santi sudah menolak.
"Wati !" beri nyonya minum obatnya, perintah Barley.
Barley menjauh dari Santi kemudian ia menyantap makan malamnya.
***
Malam semakin larut, Santi kembali merasakan kedinginan di sekujur tubuhnya, ia pun menarik selimutnya.
Saat itu Barley berada di sampingnya masih berkutat dengan laptopnya.
melihat Santi yang kembali meriang, ia pun menutup laptopnya kemudian meletakannya di atas nakas.
Barley mendekat kearah Santi," Santi kau tak apa-apa?"tanya Barley seraya kembali meraba kening Santi.
"Ehm, masih panas, padahal baru beberapa jam yang lalu minum obat," gumanya
Barley merebahkan tubuhnya di samping Santi, ia pun masuk kedalam selimut tebal yang menutupi tubuh istrinya, kemudian Barley memeluk Santi agar ia merasa hangar.
Benar saja, Santi langsung merasa hangat dan berhenti menggigil ketika Barley memeluknya mereka sama-sama terlelap dengan keadan saling memeluk.
***
Pagi hari Santi terbangun karna merasa sesuatu yang hangat menyentuh keningnya, matanya menerjab-nerjab karna indra penciumannya mencium aroma lembut dari parfum maskulin milik Barley, secara sengaja atau tidak, kepalanya kini berada tepat di dada bidang Barley yang telanjang.
Bulu-bulu halus yang tumbuh di sekitar dadanya membuat hidungnya merasa gatal hingga ia bersim-bersim seketika.
haci haci haci,
Barley seketika membuka matanya dan sedikit menjauh.
Hacih hacih, Santi terus bersin-bersin.
"Santi kau kenapa sih?!" sungutnya, ia pun langsung menyambar tisu yang ada di atas nakasnya kemudian menyerahkannya kepada Santi.
"Maaf tuan, aku aku tak sengaja menyentuh bulu-bulu halus di dadamu! aku alergi."Santi.
Haci haci haci,
Santi bangkit dan berlari menuju kamar mandi.
Bulu-bulu halus di dada Barley membuat hidungnya terasa geli.
Barley menatap Santi dengan kesal, "Dasar tidak berguna, di peluk ngak bisa, apalagi di pakai," dengusnya seraya menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur.
Barley melirik petunjuk waktu yang ada di di dinding.
" Aku harus bikin janji dengan dokter Andi," gumanya ia pun meraih handphonenya yang ada di atas nakas.
Santi keluar dari kamar mandi dengan menggunakan bathrobenya.
"Permisi tuan, tak bisa kah anda keluar dulu, saya ingin memakai pakaian."Santi.
Barley menatap Santi dengan senyum menyeringai.
"Memangnya kenapa,? aku sudah melihat seluruh bagian tubuhmu luar dan dalam, jadi tak perlu lagi ada yang kau tutupi."
Santi terperangah mendengar kata-kata spontanitas yang keluar dari mulut Barley.
Tak ingin berdebat, Santi membawa pakaiannya dan memakainya di dalam kamar mandi.
"Hallo dokter Andi, pagi ini anda praktek di mana?"tanya Barley.
"Tempat biasa tuan Barley yang terhormat," ledek Andi.
"Ada apa nih, seorang Barley yang super sibuk menghubungi sahabatnya se-pagi ini?"Andi.
"Hm, aku aku ingin konsultasi tentang istri ku," ucap Barley.
"Hah tuan muda, kapan kau menikah ? tiba-tiba sudah punya istri?" tanya Andi dengan tawa menggelak.
"Hm, aku sudah menikah, hanya saja belum melakukan resepsi, berhubung kemarin keadaan ku tak memungkinkan," papar Barley.
"Oh jika begitu kau jangan lupa untuk mengundang ku."Andi.
"Pasti dong kau kan sahabat ku." Barley
"Jadi kapan kita bisa bertemu?"tanya Barley.
"Ehm temui aku di tempat praktek ku pada pukul delapan pagi, jangan lupa bawa istrimu tuan muda, karna aku ingin melihat wanita seperti apa yang mau menikah dengan mu," seloroh Andi ia pun tertawa.
"Jangan meledek ku terus dokter, apa kau tak sayang dengan nyawa mu?" tanya Barley bercanda.
Mereka pun menutup telponnya.
"Santi, bersiaplah kita harus menemui dokter Andi sebentar lagi," titah Barley kepada Santi saat ia keluar dari kamar mandi.
"Ke dokter? kenapa?" tanya Santi heran.
"Harusnya aku yang bertanya padamu, kenapa setiap kali kita berhubungan kau selalu pingsan," dengus Barley.
"Hah baru dua kali," sahut Santi santai.
"Ih, jika kau laki-laki, mungkin sudah ku patahkan tulang mu," dengusnya kenudian menuju kamar mandi.
Hm, Santi mengkerucutkan bibirnya melihat Barley yang berlalu di hadapannya.
Bersambung, jangan lupa tinggalkan jejak like dan komennya ya.
sama aja barley nyakitin santi, menggunakan kesempatan yang ada.
terjeda bukan terjedah