NovelToon NovelToon
Cinta Di Tapal Batas

Cinta Di Tapal Batas

Status: sedang berlangsung
Genre:Idola sekolah / Romansa pedesaan / Diam-Diam Cinta / Cintamanis
Popularitas:14k
Nilai: 5
Nama Author: Buna Seta

Dini Kirana yang masih kelas dua SMA dijual oleh ayah tirinya kepada pria kaya yang sudah banyak istri untuk melunasi hutang. Dini memilih kabur dari rumah dan akhirnya kesasar ke salah satu Desa. Di tempat itu, Dini bertemu Aksa yang sudah berusia 28 tahun.

"Mas, boleh ya saya tidur di rumah kamu? Tolong Mas, saya butuh tempat tinggal."

"Kamu bukan siapa-siapa saya Dini, saya tidak mau digerebek warga Desa."

Bagaimana kisah selanjutnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Buna Seta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7

Dini menarik napas panjang, ia hanya bisa permisi meninggalkan dua remaja dewasa itu. Sah-sah saja jika pak Aksa dengan bu Lusi menjalin hubungan, karena mereka sudah bertemu lebih dulu, bahkan sudah waktunya untuk menikah. Namun, kenapa hatinya tidak mau kompromi? Ingin mengatakan tidak ada masalah tapi kecewa.

"Maaf Ni, kamu menunggu aku lama ya?" Lestari merasa bersalah ketika menatap sahabatnya merenung di atas motor.

"Tidak apa-apa" Dini starter motor menyuruh Lestari naik kemudian pulang.

"Dini, aku tadi mendengar percakapan pak Aksa dengan bu Lusi" tutur Lestari kencang karena sedang dalam perjalanan.

"Bicara apa?" Dini sebenarnya sudah tidak mau mendengar, tapi penasaran juga.

"Besok, bu Lusi minta diantar pak Aksa ke Jogja Ni, aku yakin dalam waktu dekat mereka akan menikah."

"Biar saja" hanya itu jawaban Dini tentu hanya di bibir saja. Yang benar hatinya tidak rela. Mereka lantas diam hingga Lestari turun di pinggir gang ke arah rumahnya.

.

Hari minggu pagi, Dini merasa sepi. Mbah Ambar sedang ada pengajian. Jika bu Lusi tidak minta diantar ke Jogja, seharusnya saat ini ia sudah berada di gubuk pinggir sawah bersama pak Aksa.

"Sebaiknya aku jalan-jalan sendiri" Dini ambil kunci motor, tidak ketinggalan buku, lalu pergi menuju tapal batas. Ia ingat satu bulan yang lalu ketika pulang dari kediaman Aksa duduk dulu di salah satu gubuk.

Tiba di tujuan, Dini parkir motornya di pinggir jalan kecil. Kemudian duduk di gubuk pinggir sawah menikmati indahnya pemandangan hijau yang membentang luas di depan mata. Udara segar dan suara burung yang berkicau membuatnya merasakan damai dan jauh dari hiruk pikuk kota.

Dini ambil napas dalam-dalam menghirup aroma tanah sawah yang subur dan padi yang mulai mengisi bulir. "Andai saja saat ini ada Aksa" gumamnya lirih.

"Saya di sini" ucap pria yang sudah berdiri di pinggir jalan.

"Pak Aksa" Dini terkesiap seketika berdiri dengan mata redup. Betapa malunya ia karena tengah berbicara sendiri, mengucap kata Aksa pula.

"Kenapa kamu kaget gitu?" Aksa pun naik ke atas gubuk. "Kamu ternyata suka pikirkan saya" lanjutnya diakhiri tawa.

Dini tersenyum kikuk, bibirnya tidak bisa menjawab hingga beberapa detik kemudian.

"Pak Aksa bukanya mengantar bu Lusi?" Dini berharap Aksa menjawab 'tidak jadi' karena menolak ajakan Lusi.

"Sudah pulang" Aksa mengatakan mengantar Lusi pagi-pagi sekali.

Dini menghela napas, dalam mata terpejam membayangkan ketika Lusi membonceng motor Aksa selama dua jam, pasti tangannya merangkul pinggang, wajahnya membentur-bentur bahu Aksa.

Namun, Dini segera menepis semua yang terjadi antara Aksa dan Lusi, ketika mendengar suara gemericik air sungai kecil yang mengalir di selokan pinggir sawah itu mampu membuat hatinya semakin rileks. "Sawah Pak Aksa yang mana?" Dini mencoba bersikap seolah tidak ada ganjalan di hati.

"Itu, yang belum ditanami, kita ke sana ya."

"Bagaimana lewatnya Pak?" Dini bingung, karena tidak ada akses jalan menuju ke sana.

"Ikut saya" Aksa berjalan lebih dulu menyusuri jalan yang hanya muat satu orang di pinggir parit. Aksa tentu sudah biasa melalui jalan seperti itu, tapi untuk Dini perjuangan yang sangat sulit.

"Hati-hati" Aksa berhenti lalu menoleh ke belakang, ternyata Dini tertinggal olehnya. "Kamu duluan ya" imbuh Aksa, lalu turun ke parit membiarkan Dini berjalan lebih dulu sembari mengawasi tentunya.

"Ya Allah... ini mah lebih sulit daripada mengerjakan sains yang paling sulit, Pak" Dini berjalan sangat lambat, mengangkat kedua tangan untuk menjaga keseimbangan tubuhnya agar tidak jatuh ke parit. Ingin berpegangan tapi tidak ada pohon selain tanaman padi yang masih pendek.

Aksa tersenyum melihat gaya berjalan Dini. "Kamu ini ada-ada saja. Jalanan kamu bandingkan sains. Itung-itung belajar jika kelak mendapat jodoh pria sini Dini."

Dini kaget mendengar ucapan Aksa, yang ia takutkan ternyata benar. Tubuhnya tidak lagi bisa menjaga keseimbangan dan pada akhirnya limbung hendak jatuh ke parit. Namun, dengan cepat Aksa menangkap tubuh Dini merangkulnya erat.

Deg deg deg.

Dada Dini hampir lepas manakala tubuh kecilnya tenggelam dalam dada Aksa.

"Emmm... Maaf" Aksa segera melepas tubuh Dini.

Mereka melanjutkan perjalanan, tapi tidak ada lagi perbincangan, hingga tiba di gubuk kecil buatan orang tua Aksa.

Dini naik ke panggung bale gubuk menatap bentangan lahan sawah yang belum ditanami, tampak tertinggal dari sawah sekelilingnya yang sudah tumbuh hijau, bahkan sudah ada yang hampir buah.

 Sementara Aksa membuka baju dan celana panjang, menyisakan celana kolor selutut dan kaos berwarna abu-abu, kemudian menyangkutkan di dinding gubuk yang terbuat dari anyaman bumbu. Lagi-lagi membuat dada Dini berdetak lebih cepat.

"Kamu tunggu di sini tidak apa-apa kan?" Aksa pun menoleh Dini. Senyum Aksa lebar ketika melihat kedua tangan Dini menutup wajahnya. Pria itu sengaja usil hendak melepas telapak tangan Dini tapi sulit.

Dini ingin tahu apa yang Aksa lakukan, lalu merenggangkan jemarinya mengintai dari sela-sela jari. "Aaagghhh... Bapak kenapa buka baju sih..."

"Mau ke sawah ya memang harus begini Dini... Masa, saya pakai kemeja."

Dini akhirnya melepas tangan, benar juga apa yang dikatakan Aksa. Ia perhatian para petani yang sedang sibuk bekerja pun memakai pakaian yang sama.

Dini memperhatikan Aksa yang tengah memasang topi caping, lalu ambil cangkul yang disangkutkan di pinggir gubuk, memindahkan ke pundak kemudian turun ke sawah.

"Pak Aksa mau jadi guru, jadi petani, atau menjadi presiden, pria itu kenapa tetap saja tampan... Ya Allah... ciptaan-Nya sungguh sempurna" gumam Dini tersenyum simpul menatap Aksa dari belakang. Menurutnya Aksa benar-benar telah menghipnotis dirinya.

Dini membiarkan Aksa yang tengah membuat lahan, sementara dirinya ambil buku. Ia tidak mau melewatkan waktu belajar, tapi otaknya selalu diisi Aksa.

"Dini... jangan kecewakan ibumu yang sudah mati-matian mencari uang untuk biaya sekolah kamu. Ayolah Dini... kamu harus semangat" bisik Dini dalam hati.

Begitu ingat ibunya, Dini pun akhirnya belajar dengan serius. Tidak terasa tiga jam sudah Dini berada di gubuk.

Cetat cetat cetat.

Suara sandal jepit membuat Dini berpaling dari buku yang sedang ia baca. Ia menatap wanita hitam manis, rambut dikuncir, tahi lalat di pucuk hidung, berjalan ke arah gubuk sambil membawa tiga rantang.

Dini familiar dengan wajah itu, tapi mencoba mengingat pernah bertemu di mana.

"Kamu siapa?" Tanya wanita muda itu, tangannya meletakkan rantang di pinggir bale gubuk.

"Saya... murid pak Aksa" Dini menyeret bokongnya menjabat tangan gadis itu. "Saya sepertinya pernah melihat Mbak, tapi di mana ya?" Dini akhirnya bertanya.

"Kalau kamu murid Pak Aksa jelas mengenal saya. Saya anak Ipa 2 yang paling pandai dan sering ikut lomba sains sampai tingkat kabupaten" ucapnya agak sombong.

"Oooh..." Dini mengangguk.

"Maaassss..." panggil wanita itu melengking panjang, Aksa yang awalnya membungkuk pun berdiri menatap wanita itu sambil memegangi cangkul.

"Makan dulu Maaaasss..." ulangnya serak-serak basah. Lalu balik badan bergabung dengan Dini.

"Kalau kamu kelas berapa?" Tanya wanita yang belum Dini kenal namanya itu.

"Nama aku Dini, kelas dua Ipa 1" Dini mengenalkan diri.

"Namaku Marini, panggil saja Mar. Oh iya, ada kepentingan apa datang ke sawah?"

"Nggak ada, hanya ingin belajar di pinggir sawah agar tenang" Dini tidak berbohong juga.

"Tuh, Mas Aksa sudah menepi, sebaiknya kamu pulang saja, karena saya mau menyuapi calon suami" Marini setengah mengusir, yang ia maksud calon suami adalah Aksa.

"Astagfirullah... siapa lagi wanita ini..." Dini istigfar dalam hati. Dia merasa cintanya akan bertepuk sebelah tangan.

...~Bersambung~...

1
Darti abdullah
luar biasa
Eka ELissa
knpa tu Lusi..... entahlah hy emk yg tau.....
Buna Seta: Jangan jangan bunting
total 1 replies
Attaya Zahro
typo kak..yang memberi Burhan bukan Ringgo
Attaya Zahro: Iya kak 😍😍
total 2 replies
Ita rahmawati
ada apa nih dg bu lusi
Ita rahmawati
polisi dateng,,apakah 22 nya ditangkep 🤔
Eka ELissa
nah lohh.... Burhan Ringgo msuk bui.,. tu bersiap udh di jmput mo di bawa ke hotel 🏨🏨🏨 prodeo 😄😄😄😄🤭
Buna Seta: Kapok dia 😁
total 1 replies
neng ade
aku hadir disini thor .. 🙏😍
Buna Seta: Lanjut ya
total 1 replies
Ita rahmawati
aksa kah yg dateng atau orang lain
vj'z tri
🫣🫣🫣🫣 semoga selamat 🫣🫣
Eka ELissa
Lusi pa Ringgo.....yg culik....dini... entahlah hy emak yg tau...
Eka ELissa
aduh....Bu ..dini....di culik tau ...smoga GK knpa2....yaaa......🤦🤦🤦
Bu Kus
lanjut
Fitriah Fitri
pleazee thor ... 2 bab tudey. nti sore up lg kan dr kmrn 1 bab trs up nya
Buna Seta: Lagi galau say, retensi buruk 😭
total 1 replies
vj'z tri
sabar Mak sabar tanya pelan pelan jangan langsung gas 🤭🤭🤭🤭
Ita rahmawati
siapa ya yg nyulik,,lusikah atau ringgo kah atau ada lg orang baru 🤔
Eka ELissa
dini....pak....msih inget kan kmu...😡😡😡
Ita rahmawati
hadeuh siapa nih yg bekap dini
Attaya Zahro
Jangan² nih kerjaan si Bu Lusi,.dan malah membuat Aksa jadi salah paham ma Burhan..
Attaya Zahro
Waduh..Dini di culik..tolong Dini Bang Aksa
Bu Kus
lebih baik jujur aja dini kan Aska gak tahu dengan kamu jujur pasti akan bertindak jangan main curiga nanti kamu nyesel lho
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!