Sheila Adalah Gadis Cantik Dengan Kepribadian Bar-Bar Dan Ceria Yang Menjalani Kehidupan Remajanya Dengan Penuh Warna. Namun, Warna Itu Memudar Sejak Ia Mengenal Devano, Seorang Laki-Laki Tampan Bertangan Dingin Yang Memiliki Kendali Penuh Atas Hati Sheila. Selama Dua Tahun Menjalin Hubungan, Sheila Selalu Menjadi Pihak Yang Mengalah Dan Menuruti Segala Keinginan Liar Devano, Meskipun Cara Berpacaran Mereka Sudah Jauh Melampaui Batas Kewajaran Remaja Pada Umumnya.Selama Itu Pula, Sheila Mati-Matian Menjaga Satu Benteng Terakhir Dalam Dirinya, Yaitu Kehormatan Dan Keperawanannya. Namun, Devano Yang Manipulatif Mulai Menggunakan Senjata Janji Suci Dan Masa Depan Untuk Meruntuhkan Pertahanan Tersebut. Devano Memberikan Pilihan Sulit Menyerahkan Segalanya Sebagai Bukti Cinta Atau Kehilangan Dirinya Selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jing_Jing22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
"Terima kasih, Dok, atas motivasi untuk saya agar lebih semangat lagi," ucap Sheila dengan nada yang jauh lebih tenang. Kata-kata Arkan seolah menjadi oksigen baru bagi jiwanya yang sempat sesak.
Arkan hanya tersenyum tipis, menepuk pelan sisi ranjang Sheila sebelum beranjak. "Sama-sama, Sheila. Saya tinggal sebentar untuk memeriksa pasien lain. Risma, tolong jaga dia," pamit Arkan saat melihat Risma baru saja memasuki ruangan.
Beberapa detik sebelum memasuki ruangan, Risma sempat tertegun di depan pintu. Ia berpapasan langsung dengan Devano yang masih berdiri di koridor dengan wajah lelah dan mata yang sembab. Devano langsung memberikan isyarat dengan menempelkan jari telunjuk di depan bibirnya—sebuah permohonan diam agar Risma tidak membongkar keberadaannya di sana.
Risma, yang mengerti betapa rumitnya situasi ini, hanya mengangguk kecil dengan tatapan penuh peringatan, lalu melangkah masuk meninggalkan Devano yang kembali bersembunyi di balik bayangan dinding.
"Sheil!" panggil Risma sambil mendekat dengan wajah khawatir. "Bagaimana keadaan kamu saat ini? Apa sudah lebih baik?"
Sheila menoleh dan tersenyum lemah menatap sahabat sejatinya itu. "Aku sudah lebih baik, Ris! Makasih banyak... dan maaf aku selalu merepotkan kamu," ujar Sheila dengan perasaan tidak enak hati. Ia mengingat bagaimana Risma selalu ada sejak hari pertama ia melarikan diri hingga detik menakutkan di apartemen kemarin.
"Ssttt! Berhenti minta maaf," potong Risma sambil menggenggam tangan Sheila. "Kamu itu sudah kayak saudara aku sendiri. Yang penting sekarang kamu dan si kecil selamat. Masalah lain... biar waktu yang menjawab."
Sheila melirik ke arah keranjang buah dan apel yang sudah terkupas rapi. "Tadi Dokter Arkan baik banget, Ris. Dia bahkan mengupaskan buah untukku. Aku merasa beruntung punya mentor seperti dia."
Risma melirik ke arah pintu, mengetahui bahwa pria yang sebenarnya membayar seluruh fasilitas mewah ini—termasuk memastikan Arkan menjadi dokter penanggung jawab—sedang mendengarkan dengan hati hancur di luar sana.
Di luar ruangan, Devano menyandarkan kepalanya ke tembok dingin. Mendengar suara Sheila yang mulai membaik sudah cukup bagi dirinya untuk saat ini. Namun, rasa sakit saat mengetahui bahwa Sheila lebih merasa aman bersama Arkan daripada dirinya adalah hukuman terberat yang harus ia jalani.
Ia merogoh ponselnya dan mengirim pesan singkat kepada Risma:
"Pastikan dia makan sup ayamnya. Aku akan pergi ke ruang NICU sebentar untuk melihat anakku."
Hari demi hari berlalu, kondisi Sheila kini berangsur membaik. Pucat di wajahnya mulai berganti dengan rona kehidupan. Namun, luka di hartinya tetap menjadi misteri yang ia simpan rapat.
Bukan hanya menjaga Sheila, Devano juga menghabiskan sebagian besar malamnya di depan ruang NICU. Ia sering terlihat berdiri lama di depan kaca inkubator, memperhatikan dada kecil putranya yang kini naik turun dengan lebih stabil.
"Kamu hebat, Jagoan," bisik Devano pelan, menempelkan keningnya pada kaca inkubator. "Terima kasih karena sudah bertahan untuk Daddy dan Mommy. Daddy tidak akan pernah membiarkan siapa pun menyentuhmu lagi, termasuk kakekmu sendiri!"
Suatu siang, seorang perawat masuk membawa sebuah paket kotak kayu kecil. "Nona Sheila, ini ada kiriman dari seseorang, tapi tidak ada nama pengirimnya."
Sheila membuka kotak itu dengan tangan gemetar. Di dalamnya terdapat sebuah kalung perak dengan liontin berbentuk bintang kecil—kalung yang pernah Sheila inginkan saat mereka masih berpacaran dulu.
Wajah Sheila seketika menjadi kaku. Ia merasakan hawa dingin yang familiar. Ia menoleh ke arah Risma yang sedang membaca majalah di sampingnya. "Ris... apa dia ada di sini?" tanya Sheila dengan suara yang tiba-tiba dingin.
Risma tertegun, berusaha mengendalikan ekspresi wajahnya agar tidak terlihat gugup. "Siapa, Sheil? Dokter Arkan? Dia baru saja keluar."
"Bukan Arkan," jawab Sheila sambil menatap kalung itu dengan tatapan yang sulit diartikan. "Devano. Dia sedang mengawasiku lagi, kan?"
Di luar ruangan, Devano yang mendengar percakapan itu terpaku. Ia menyadari bahwa sekeras apa pun ia bersembunyi, ikatan batinnya dengan Sheila terlalu kuat untuk diabaikan.
Sheila melangkah pelan di koridor rumah sakit yang sunyi. Jantungnya berdegup kencang, antara rasa rindu yang membuncah ingin melihat putranya dan rasa takut yang masih menghantui. Namun, langkahnya terhenti tepat di depan kaca besar ruang NICU.
Di sana, di bawah remang lampu ruangan, ia melihat sosok pria yang selama ini menjadi mimpi buruk sekaligus ayah dari anaknya. Devano berdiri di sana, menempelkan telapak tangannya pada kaca inkubator dengan bahu yang bergetar hebat.
Suara bariton yang biasanya terdengar angkuh, kini pecah oleh isak tangis yang tertahan saat ia berbicara pada bayi mungil di dalamnya.
"Hai, Jagoan Daddy... Apa kabar hari ini? Cepat pulih ya, Sayang," bisik Devano. Suaranya terdengar sangat rapuh melalui celah pintu yang sedikit terbuka.
"Meski kamu terlahir dari kesalahan Daddy, tidak sedikit pun Daddy membenci kamu. Daddy menyayangi kamu dan Mommy... Doakan Daddy ya, agar bisa mendapatkan hati Mommy kembali, meskipun hal itu sangat mustahil untuk Daddy."
Sheila mematung. Air mata yang sejak tadi ia tahan kini luruh membasahi pipinya. Ada kemarahan yang masih membara, namun melihat sisi rapuh Devano yang bersimpuh di depan nyawa kecil yang mereka ciptakan, membuat dinding es di hati Sheila retak perlahan.
Ia ingin membenci pria itu, ia ingin berteriak mengusirnya, namun kata-kata "kesalahan Daddy" dan "menyayangi Mommy" terus terngiang, menusuk jauh ke dalam sanubarinya. Di antara dinginnya dinding rumah sakit, malam itu Sheila menyadari bahwa takdir mereka telah terikat mati pada bayi yang sedang berjuang di dalam inkubator itu.
Sheila memutuskan untuk memutar balik langkahnya. Ia menahan isak tangis agar tidak terdengar oleh Devano. Meskipun hatinya bergetar mendengar pengakuan tulus pria itu, rasa sakit dan trauma akibat Devano serta tekanan keluarga Narendra masih terlalu besar. Ia membiarkan Devano memiliki momennya sendiri dengan anak mereka, sementara ia kembali berjalan menuju kamar perawatannya.
Sepanjang koridor hanya ada keheningan malam rumah sakit, namun pikiran Sheila begitu riuh. Suara bisikan Devano tadi terus berputar di kepalanya seperti kaset rusak. Ia bingung antara harus membenci pria itu seumur hidupnya atau memberikan celah kecil untuk sebuah penyesalan.
Tiba-tiba, di persimpangan lorong menuju ruang rawat inap, Sheila bertemu dengan Arkan yang baru saja selesai bertugas. Jubah putihnya masih terpasang, namun wajahnya menunjukkan kelelahan yang teramat sangat setelah menjalani operasi berjam-jam.
"Sheila? Kenapa kamu di luar kamar malam-malam begini?" tanya Arkan dengan nada khawatir. Ia segera menghampiri Sheila dan menyadari mata gadis itu yang sembab dan merah.
"Dokter Arkan..." lirih Sheila sambil berusaha menyeka air matanya. "Saya... saya hanya ingin mencari udara segar."
Arkan menyempitkan matanya. Sebagai seseorang yang sudah lama mengagumi Sheila, ia tahu gadis ini sedang tidak baik-baik saja. Ia menoleh ke arah lorong ruang NICU, lalu kembali menatap Sheila. Ia tahu siapa yang ada di ujung lorong sana.
"Kamu sudah melihatnya?" tanya Arkan lembut, merujuk pada sang bayi sekaligus sosok pria yang menjaganya.
Sheila hanya mengangguk lemah. "Saya tidak sanggup masuk, Dok. Saya belum siap bertemu dengan dia... maupun dengan masa lalu saya."
Arkan menghela napas panjang. Ia melepaskan jubah putihnya dan menyampirkannya di bahu Sheila untuk menghalau dinginnya AC rumah sakit. "Jangan memaksa dirimu, Sheila. Jika kamu belum siap, maka dunia harus menunggu sampai kamu benar-benar siap."
"Dokter..."
"Mari, saya antar kembali ke kamar. Saya tidak ingin pasien sekaligus mahasiswa kebanggaan saya ini jatuh sakit lagi karena terlalu banyak berpikir," ucap Arkan sambil membimbing Sheila berjalan perlahan. Perhatiannya yang begitu tulus membuat Sheila merasa memiliki pegangan di tengah badai.
Tanpa mereka sadari, Devano baru saja keluar dari ruang bayi dan melihat pemandangan itu dari jauh. Ia melihat bagaimana Arkan begitu perhatian menjaga Sheila, dan bagaimana Sheila tampak begitu bergantung pada dokter itu.
Devano mengepalkan tangannya di samping tubuh. Rasa sakit karena cemburu kembali menghantamnya, namun kali ini ia sadar bahwa ia tidak punya hak untuk marah. Ia adalah penyebab Sheila terluka, sementara Arkan adalah orang yang menyembuhkannya.
"Jika dia bisa membuatmu bahagia lebih dari aku, apakah aku harus benar-benar melepaskanmu, Sheila?" bisik Devano dengan hati yang semakin hancur di tengah kegelapan lorong.
Dia pakai tangan kosong aku pakai kapak/Doge/