Renatta harus mengalami dua hal pahit sekaligus dalam hidupnya setelah ditinggal sang kekasih yang sudah dipacarinya selama 3 tahun dan ditinggal pergi oleh ayahnya untuk selamanya dalam sebuah insiden.
Kemalangan yang dialami Renatta tidak sampai disitu saja adik dari ayahnya berusaha merebut harta yang dimiliki Renatta hingga dia dipertemukan oleh sosok laki laki bernama Devan yang saat itu sedang membutuhkan biaya untuk pengobatan ibunya yang sedang sakit keras.
Renatta menawarkan pernikahan kepada Devan dengan perjanjiaan bahwa Renatta akan menanggung semua pengobatan ibu Devan tanpa tahu siapa Devan yang sebenarnya.
Devandra Narendra Abimana sosok pria misterius dengan segala rahasia yang disembunyikannya.
Renatta Desinta Maharani sosok wanita penuh dengan kerumitan di kisah hidupnya.
“Kamu akan menyesalinya karena sudah menawarkan sebuah pernikahan kepadaku”. Ujar Devan dengan nada lirihnya yang tidak bisa didengar Renatta
Bagaimana kelanjutan kisah kehidupan Renatta dan Devan?
Dan apakah Devan bisa membantu Renatta keluar dari segala kepedihan dan masalahnya atau Devan hanya akan menambah kesedihan di kehidupan Renatta?
Cinta Dendam dan Obsesi
Happy Reading
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HelmaliaPutri18, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penyamaran Zio dan Zia
"Hari ini kalian sudah mulai masuk sekolah, nanti mamah yang antar kalian twins" Ucap Renatta yang saat ini sedang mempersiapkan bekal makanan untuk kedua anaknya dan memasukannya ke tas ransel Zio dan Zia.
Sedangkan Zio dan Zia hanya mengangguk lesu, mereka berdua sebenarnya ingin menagih janji Raka yang berjanji akan membawanya ke perusahaan tempat papahnya bekerja tetapi harus mereka urungkan karena mamahnya sudah mengharuskan mereka masuk sekolah di hari kedua mereka berada di Indonesia.
Melihat Raka yang baru turun dari lantai atas Zio dan Zia langsung menghampiri Om nya.
Zia menarik baju bagian bawah Raka "Om sini agak menunduk Zia mau ngomong"
Raka berjongkok mensejajarkan tingginya dengan tinggi kedua ponakannya.
"Ada apa, hmm?" Tanya Raka penasaran dengan apa yang ingin di bicarakan Zia.
"Ih Om kan sudah janji mau ngajakin Zio dan Zia untuk bertemu papah, awas aja kalau sampai Om Raka ingkar janji" Ancam Zia yang malah terlihat lucu di mata Raka.
Raka hampir saja lupa kalau kemarin dia berjanji akan mengajak Zio dan Zia ke perusahaan Devan "Iya nanti pulang sekolah biar Om yang jemput kalian di sekolah, tapi ingat belajar dulu dengan rajin, dan janji jangan bilang mamah kalian karena ini rahasia kiat bertiga" Ucap Raka setengah berbisik.
Mendengar perkataan Raka, Zio dan Zia mengacungkan jempolnya dengan senyum lebar di bibirnya.
Renatta menyelidik curiga melihat kedua anaknya dan kakaknya yang berbisik bisik saat berbicara, ketika dia ingin bertanya apa yang sedang mereka bicara tiba tiba Zio dan Zia sudah menyeretnya keluar.
"Ayo mah kita berangkat nanti terlambat"
.
.
.
"Ingat ya kalian jangan nakal, nurut sama Miss Bianca dan jangan keluar kelas sebelum Om Raka menjemput kalian"
"Iya mamah, Zio dan Zia akan menuruti semua perkataan mamah"
"It's good, kalau begitu mamah pulang dulu, ingat belajar yang rajin, bye twins" Renatta melambaikan tangan ke arah kedua anaknya kemudian berlalu pergi.
"Zio, Zia ayo perkenalkan diri kalian" Suruh Miss Bianca dengan nada lembutnya sebenarnya Miss Bianca tidak asing dengan wajah kedua murid barunya ini tetapi dia lupa pernah melihatnya di mana.
Zia memperkenalkan diri terlebih dahulu "Hallo nama aku Zia Gamiella"
"Kalau ini Kakaknya Zia namanya Zio Gabriel" Zia yang memperkenalkan kakaknya, mereka memang sengaja tidak menyebutkan nama akhirnya karena larangan yang di berikan Renatta.
"Zia, Zio kalian bisa duduk di dua bangku yang kosong di sana" Seru Miss Bianca sambil menunjukkan dua bangku kosong yang akan mereka tempati.
"Hai namaku Angel" Zio hanya diam tidak mempedulikan Angel yang sudah mengulurkan tangannya.
Akhirnya Zia lah yang menerima uluran tangan dari Angel "Hai juga aku Zia, kita bisa menjadi teman" Angel tersenyum senang saat uluran tangannya diterima oleh Zia walaupun ada rasa sedih saat dia diacuhkan oleh Zio.
.
.
.
Bel pulang sekolah sudah berbunyi, Zio dan Zia terlihat sangat bersemangat menunggu Raka yang akan mengantar mereka berdua bertemu papahnya.
Zia memanyunkan bibirnya karena sedari tadi dia sudah menunggu jemputan dari Raka tetapi Omnya tidak datang datang juga.
Raka sedikit berlari menghampiri Zio dan Zia "Astaga Twins maafkan Om, tadi ada rapat penting jadi telat menjemput kalian"
Zia dan Zio hanya mendengus sebal sambil berlalu menuju mobil meninggalkan Raka.
Mulut Raka menganga saat dia di cuekin oleh kedua ponakannya "ck, semakin hari sifatnya terlihat seperti Devan"
Sesampainya di depan kantor Devan, Zio dan Zio menatap kagum pada bangunan berlantai 52 didepannya.
"Apa papah bekerja di sini?" Tanya Zia masih dengan rasa kagumnya.
Raka melepas sabuk pengaman di mobilnya "Justru papah kalian pemilik perusahaan ini"
"Waoo" mulut Zia membeo lucu, "ternyata uang papah banyak kak, kita bisa minta jalan jalan ke Disneyland setiap hari"
Sedangkan Zio hanya diam saja memperhatikan gedung bertingkat di depannya dengan tatapan kagum yang dia inginkan saat ini hanya ingin bertemu papahnya dan mengajak papahnya berlibur bersama seperti teman temannya dulu waktu masih di New York.
"Ya udah kalian tunggu di sini, Om keluar sebentar" Perintah Raka sebelum keluar dari mobilnya.
Zio dan Zia mengangguk mendengar perintah Raka.
Ketika Raka sudah pergi menjauh Zio dan Zia segera mengeluarkan sesuatu dari tas ranselnya mereka mengeluarkan masker dan kaca mata hitam dari ranselnya.
Mereka sudah rapi memakai masker dan kaca mata hitam untuk melakukan penyamaran sebelum masuk ke dalam perusahaan agar tidak di ketahui oleh orang lain karena mereka ingat pesan mamahnya yang mengatakan kalau selain di rumah dan di sekolah mereka harus menggunakan masker.
"Yuk kak" ajak Zia yang sudah menarik tangan Zio. "saatnya detektif Zia dan Zio beraksi" Seru Zia dengan penuh semangat.
Mereka turun dari mobil dengan pelan dan berjalan ke arah pintu masuk perusahaan tetapi langkahnya harus berhenti ketika ada seorang satpam yang menghalangi langkah mereka berdua.
"Adek mau kemana, dimana orang tua kalian?"
Zio menatap satpam tersebut dan mengeluarkan sebuah foto "Kami mau bertemu dengan papah"
Satpam tersebut tertawa mendengar perkataan Zio.
"Kok Om tertawa sih kan Zio berkata jujur kalau ini papahnya Zio" Kesal Zio kemudian merebut kembali foto Devan.
Satpam tersebut meredakan tawanya dan menatap kembali Zio dan Zia "Maaf ya mungkin kalian salah orang, Pak Devan belum pernah menikah dan tidak mungkin mempunyai seorang anak"
Zio dan Zia, masih berusaha mencari cara agar bisa masuk ke dalam, tiba tiba Zia membisikkan sesuatu ke telinga kakaknya.
"Mungkin Om Satpam benar kita salah ambil foto papah, Zia dan Zio tersesat bisa kan Om satpam membantu kita, antarkan ke parkiran mobil, kita lupa arahnya tadi ke mana" Zia memasang wajah sesedih mungkin agar bisa mengelabuhi satpam tersebut.
Melihat wajah Zia yang memelas membuat satpam tersebut tersentuh "Ya udah sini saya antar kalian ke parkiran sebentar"
Ketika melihat satpam yang mulai lengah Zio segera berlari masuk ke dalam di ikuti oleh Zia dibelakangnya.
Melihat ada pintu lift yang terbuka Zio dan Zia ikut masuk ke dalam lift mengikuti para pegawai yang akan naik ke lantai atas, beberapa pegawai terlihat bingung ketika melihat ada dua anak kecil yang ikut masuk ke dalam lift apalagi penampilan mereka yang memakai masker dan kaca mata hitam.
Salah satu pegawai yang penasaran berjongkok dan bertanya kepada Zio dan Zia "Kalian mau kemana?"
"Kita mau bertemu papah" Jawab mereka secara bersamaan.
"Memang nama papah kalian siapa, mungkin Tante bisa antar kalian berdua bertemu papah kalian?"
Zia memandang dalam perempuan yang sedang berbicara di depannya "Namanya papah Devan, kata Om Raka dia pemilik gedung tinggi ini"
Perempuan tersebut tampak terkejut "Tapi Pak Devan belum punya..." Ucapnya terputus ketika terdengar suara pintu lift yang akan terbuka.
Melihat siapa orang yang saat ini berdiri di depan lift, semua pegawai menunduk hormat.
Berbeda dengan Zio dan Zia yang tersenyum bahagia.
"PAPAH" Teriak mereka bersamaan, membuat semua orang terkejut terutama seseorang yang dipanggil papah oleh mereka.
.
.
.
Halo kak semoga semakin suka ya dengan jalan ceritanya, dapat salam nih dari Papah Devan🤗
.
.
.
To Be Continue
dan aku suka reaksi renata pada saat suaminya cemburu renata langsung agresif menyerang suami, kalau sudah begini suami mana tidak langsung luluh hatinya
tapi beda cerita kalau lelaki lain (pebinor) pasti reader langsung iba,
"kasian cinta tulus dia pantas bahagia"
"thor beri dia pasangan biar dia bahagia"