Akankah kehidupan pernikahan secara poligami bisa membawa kita ke sakinah mawadah warohmah, atau justru menjerumuskan kita ke dalam ketidakrelaan hati?
Jangan lupa follow aku yah,makasih.
Ig;Aininabila23
Akun wattpad;23ainifaizah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aini nabila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keguguran
Sesampainya di rumah sakit, Alisha langsung ditangani oleh beberapa tim medis.
Setelah setengah jam di persiksa, Dokter pun keluar.
"Bagaimana keadaan istri saya Dok?" ujar Kevin.
"Dia baik-baik saja pak," ujar Dokter itu.
"Kalau anak dalam kandungannya Dokter, bagaimana?" ujar mama Kevin.
"Maaf bu, kalau bayinya tidak bisa kami selamatkan, sebab pendarahannya cukup banyak," ujar Dokter itu, dan membuat semua orang yang mendengarnya pun langsung terduduk lemas.
Apalagi Kevin, dia mengingat kejadian yang terjadi beberapa menit sebelum Alisha jatuh.
Ya Allah apa yang akan ku katakan pada Alisha, jika dia sadar nanti, batin Kevin.
"Ini semua gara-gara Halwa, dasar perempuan murahan, selalu saja membawa sial dalam kehidupan kita," ujar mama Kevin.
"Mama ini apa-apaan, salah Halwa dimana lagi?!" ujar papa Kevin.
"Andai saja Alisha dan Kevin tidak membahas Halwa, mungkin sekarang kandungan Alisha baik-baik aja pa," ujar mama Kevin.
"Ya Allah, ma, jangan-jangan apa yang menimpa Alisha ini karena kamu sudah jahat sama Halwa," ujar papa Kevin
"Apa papa bil,," ujar mama Kevin terpotong.
"Sudah cukup ma, pa!, kenapa jadi kalian yang bertengkar sih. Apa yang harus Kevin katakan pada Alisha jika dia sadar nanti?" ujar Kevin frustasi.
Kevin pun memasuki ruangan Alisha dan melihat Alisha terbaring lemah dengan infus ditangannya.
Maafkan aku Sha, anak kita harus pergi karena salah aku, maaf, batin Kevin.
Kevin pun memegang tangan Alisha dengan lembut.
"Mas, a..ir" ujar Alisha terbata-bata.
Kevin pun langsung menyodorkan air minum kepada istrinya itu, setelah minum Alisha meraba perutnya.
"Mas kenapa perutku jadi lebih kecil yah?" ujar Alisha heran.
Hening.
Kevin sama sekali tidak menjawab pertanyaan Alisha, dia hanya takut Alisha tidak bisa menerima semua kenyataan ini.
"Mas jawab aku!, kok kamu jadi diam gini sih!" ujar Alisha.
"Sha anak kita, anak kita," ujar Kevin tidak jelas.
"Apa mas Kevin?, ada apa dengan anak kita?" ujar Alisha
"Anak kita udah di surga Sha, dia udah tenang di alam sana." ujar Kevin dengan satu tarikan nafas.
"Nggak, nggak, ini nggak mungkin kan mas, kamu bercanda kan sama aku, anakku dimana?" ujar Alisha yang air matanya sudah jatuh.
"Tenanglah dulu sayang," ujar Kevin lembut sambil memegang bahu Alisha yang mulai gemetar, mungkin karena dia syok mendengar kabar kalau dia telah kehilangan anak yang ia nanti kan dan ia banggakan.
Apa mama juga akan menyuruh mas Kevin untuk poligami lagi kalau aku nggak bisa kasih dia keturunan, batin Alisha terisak.
"Kamu nyuruh aku tenang sedangkan aku nggak bisa tenang, kamu nggak pernah ngerasain kehilangan mas!!" ujar Alisha teriak dengan berlinangan air mata.
Kamu salah Sha, bahkan aku sudah kehilangan orang yang begitu ku cintai, batin Kevin.
"Iya aku tau, tapi kalau kamu sedih terus kayak gini, anak kita nggak akan bahagia disana. Bukan cuman kamu yang ngerasa kehilangan Sha, anak itu juga anakku, jelas aku juga merasa kehilangan," ujar Kevin berusaha membuat istrinya itu tenang.
📿📿📿
Sedangkan di tempat lain.
Halwa sudah mendapatkan pekerjaan di salah satu butik karena memang Halwa sangat cocok dengan designer.
Dan Halwa akan memulai bekerja besok, sedangkan Farel, dia sudah memutuskan untuk mengantar jemput Halwa setiap paginya.
Setelah pulang dari butik itu, Farel ingin mengajak Halwa untuk makan siang bersama.
"Halwa," ujar Farel.
"Kenapa?" ujar Halwa.
"Gimana kalau kita makan di luar, untuk ngerayain kamu di terima kerja." ujar Farel.
Apa mas Kevin nggak akan tambah curiga soal hubungan aku sama Farel kalau aku dan dia makan siang bersama, astaga Halwa kamu dan mas Kevin kan udah pisah, jadi nggak ada haknya mas Kevin terhadap kamu lagi, batin Halwa.
"Halwa gimana, mau nggak?" ujar Farel lagi karena Halwa terdiam cukup lama.
"Ya, aku setuju," ujar Halwa.
**Jangan lupa vote dan komen yah
Saran dan kritik dari kalian selalu Author nanti kan
Salam manis Author**