NovelToon NovelToon
Kesayangan Tuan Muda Mafia

Kesayangan Tuan Muda Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Selingkuh / Obsesi / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Identitas Tersembunyi / Roman-Angst Mafia
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Julia And'Marian

Zivaniel Maxton de Luca adalah sosok yang ditakuti dunia bawah. Di balik wajah tampannya, ia menyimpan darah dingin dan tangan yang tak pernah ragu menumpahkan nyawa. Dengan topeng penyamaran, ia membantai musuh-musuhnya tanpa ampun, menegakkan hukum versinya sendiri dalam lingkaran mafia kelas kakap yang diwariskan padanya sejak lahir.
Tak seorang pun mengetahui identitas aslinya. Bagi dunia luar, Zivaniel hanyalah pria biasa dengan aura dingin yang sulit ditembus. Namun bagi mereka yang mengenalnya di dunia gelap, namanya adalah teror—legenda yang hidup, bengis, dan tak pernah gagal.
Hingga satu nama mampu meretakkan kekokohan hatinya.
Cherrin.
Gadis yatim piatu yang tumbuh dalam kesederhanaan setelah diadopsi oleh sang nenek. Lembut, polos, dan jauh dari dunia hitam yang melingkupi hidup Zivaniel. Sejak kecil, Cherrin adalah satu-satunya cahaya dalam hidupnya—alasan mengapa ia masih mengenal rasa ragu, takut dan cinta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Julia And'Marian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 7 "Selalu ada"

Mobil melaju pelan menembus jalanan yang hampir kosong. Lampu-lampu kota menyusut di belakang mereka, berubah menjadi garis-garis kuning samar yang memanjang lalu menghilang. Mesin berdengung halus, ritmenya konstan—cukup lembut untuk tidak membangunkan Cherrin.

Zivaniel menurunkan kecepatan lebih jauh dari biasanya.

Setiap lubang kecil di aspal ia hindari. Setiap belokan ia ambil perlahan. Tangannya di kemudi stabil, tapi pikirannya tidak sepenuhnya berada di jalan.

Cherrin tertidur dalam pelukannya.

Kepalanya bersandar di dadanya, wajahnya tersembunyi di lipatan kain kemeja. Rambutnya yang sedikit berantakan menyentuh dagu Zivaniel setiap kali mobil bergoyang pelan. Napasnya hangat, teratur, rapuh—seolah bisa buyar hanya karena satu gerakan yang salah.

Zivaniel hampir tidak berani bernapas.

Ia menatap lurus ke depan, tidak berani menunduk terlalu sering. Ada sesuatu yang terasa terlalu intim dalam posisi ini—bukan karena tubuh mereka berdekatan, melainkan karena kepercayaan yang diberikan tanpa sadar.

Cherrin tidak tahu apa pun tentang pikirannya.

Tidak tahu bahwa setiap tarikan napasnya terasa seperti tanggung jawab.

Tidak tahu bahwa setiap detik ia tidur adalah janji yang harus dijaga.

Dan Zivaniel… tidak akan pernah memberitahunya.

Mobil akhirnya memasuki halaman mansion. Gerbang besi terbuka perlahan, mengeluarkan suara berderit rendah yang langsung membuat Zivaniel menegang. Ia menahan napas, melirik ke arah Cherrin.

Tidak bergerak.

Tidak terbangun.

Ia baru menghela napas ketika mobil berhenti sepenuhnya.

Zivaniel turun terlebih dahulu, membuka pintu penumpang dengan hati-hati. Udara malam yang lebih dingin menyelinap masuk, membuat Cherrin mengernyit kecil dalam tidurnya. Zivaniel refleks mencondongkan tubuhnya, melindungi wajah itu dari hembusan angin.

Ia mengangkat Cherrin lagi.

Kali ini lebih dekat.

Lebih berhati-hati.

Langkahnya ringan, nyaris tanpa suara, melewati lorong-lorong mansion yang sunyi. Lampu dinding menyala temaram, memantulkan bayangan panjang tubuh mereka di lantai marmer. Setiap bayangan terlihat seperti pengakuan yang tidak pernah diucapkan.

Ketika ia sampai di depan kamar Cherrin, tangannya berhenti sejenak di kenop pintu.

Ada jeda.

Bukan karena ragu bagaimana cara membukanya.

Melainkan karena—untuk sesaat—ia ingin waktu berhenti di titik ini.

Di titik di mana Cherrin masih tertidur.

Di titik di mana ia masih dibutuhkan tanpa pertanyaan.

Namun waktu tidak pernah berpihak pada keinginan seperti itu.

Zivaniel membuka pintu perlahan.

Kamar itu dingin, bersih, rapi—terlalu rapi untuk seseorang yang baru saja hampir runtuh. Tirai masih tertutup. Lampu meja mati. Hanya cahaya lorong yang masuk tipis dari belakangnya.

Ia melangkah masuk dan menutup pintu dengan sangat pelan.

Zivaniel mendekati ranjang, menurunkan tubuh Cherrin perlahan ke kasur. Ia mengatur posisi bantal, memastikan lehernya tidak tertekuk. Ketika ia menarik tangannya, Cherrin bergumam pelan, jari-jarinya refleks mencengkeram ujung kemeja Zivaniel.

Gerakan kecil itu menghentikan segalanya.

Zivaniel membeku.

Detik berlalu.

Satu.

Dua.

Tiga.

Cengkeraman itu mengendur sendiri.

Cherrin kembali tenang.

Zivaniel berdiri di sana cukup lama, menatap wajahnya yang kini terlihat jelas. Bulu matanya panjang, sedikit basah. Ada bekas jejak air mata yang sudah mengering di pipinya.

Ia mengangkat selimut, menyelimutinya hingga dada. Jaketnya sendiri masih menyampir di bahu Cherrin. Ia tidak mengambilnya kembali.

Biarlah.

Ia berlutut perlahan di sisi ranjang, cukup rendah agar bayangannya tidak jatuh ke wajah Cherrin. Tangannya terangkat, berhenti beberapa sentimeter di atas rambut itu—ragu, menimbang.

Akhirnya, ia mengurungkan niatnya.

Tidak ada sentuhan.

Tidak malam ini.

Tidak ketika ia terlalu sadar akan apa yang ia rasakan.

Zivaniel berdiri, melangkah mundur satu langkah, lalu dua. Ia berhenti di ambang pintu, menoleh sekali lagi.

“Maaf,” gumamnya tanpa suara.

*

Pagi harinya...

Meja makan itu panjang, terlalu panjang untuk jumlah orang yang duduk di sekelilingnya.

Piring-piring porselen tersusun rapi. Sendok dan garpu berkilat di bawah lampu gantung kristal yang memancarkan cahaya dingin. Bau sup hangat bercampur dengan aroma roti panggang, seharusnya menenangkan—namun pagi itu, udara terasa berat, seolah setiap orang mengunyah bersama rasa tidak nyaman yang sama.

Cherrin datang paling akhir.

Langkahnya pelan. Bahunya sedikit turun, seperti seseorang yang sedang berusaha tidak terlihat. Rambutnya terikat sederhana, wajahnya pucat, lingkar gelap samar masih tertinggal di bawah matanya. Ia menarik kursi dengan hati-hati, duduk tanpa suara, berusaha sekecil mungkin di ruang yang tidak pernah benar-benar memberinya tempat.

Sendoknya belum sempat menyentuh sup.

Tatapan itu sudah datang lebih dulu.

Varla menatapnya dari seberang meja—tajam, dingin, penuh penilaian yang tidak pernah disembunyikan. Mata itu bukan sekadar marah. Ada sesuatu yang lebih di sana. Lebih pahit. Kebencian yang sudah lama dipelihara.

“Darimana kamu tadi malam?”

Suara Varla memotong udara seperti pisau.

Cherrin tersentak kecil. Tangannya yang memegang sendok berhenti di udara.

“Pulang-pulang kayak orang kesetanan kemarin sore,” lanjut Varla, nada suaranya ketus, hampir menghina, “eh tiba-tiba malamnya pergi.”

Meja makan yang tadinya hanya diisi suara alat makan dan napas pelan, kini membeku.

Maxtin—ayah Zivaniel—menghentikan gerakan tangannya. Sendoknya tertahan di atas piring. Ia tidak menoleh, tapi rahangnya mengeras.

Zivaniel berhenti mengunyah.

Matanya terangkat perlahan.

Cherrin menunduk. Jemarinya mencengkeram gagang sendok terlalu erat. Buku-buku jarinya memutih. Ia membuka mulut, menutupnya lagi. Kata-kata seakan macet di tenggorokan.

“A-aku hanya…” suaranya kecil, hampir tak terdengar. “Aku pergi sebentar. Maaf tante..”

“Sebentar?” Varla terkekeh dingin. “Dengan kondisi seperti itu? Kamu pikir ini penginapan?”

Ia menyandarkan punggung ke kursi, menyilangkan tangan. Tatapannya menyapu Cherrin dari ujung rambut hingga ujung kaki, penuh rasa muak.

“Kamu itu pembawa sial,” katanya, lebih keras sekarang. “Kamu itu—”

Trang.

Suara logam beradu dengan porselen menggema di ruangan.

Garpu Zivaniel terjatuh ke piringnya.

“Ma cukup!”

Suara itu meledak.

Tidak keras berlebihan, tapi cukup tajam untuk merobek keheningan yang rapuh. Semua kepala menoleh.

Zivaniel berdiri.

Kursinya mundur sedikit, berdecit di lantai marmer. Tangannya mengepal di sisi tubuhnya. Dadanya naik turun, namun wajahnya—anehnya—tetap tenang. Terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja berteriak.

Varla menatapnya, terkejut sesaat sebelum alisnya menyatu. “Apa katamu?”

“Aku bilang cukup,” ulang Zivaniel. Nada suaranya lebih rendah sekarang, terkendali. Namun ada tekanan di setiap suku kata. “Jangan bicara seperti itu lagi.”

Varla tertawa pendek, tidak percaya. “Sejak kapan kamu membelanya seperti ini?”

Zivaniel tidak langsung menjawab.

Ia melirik Cherrin.

Gadis itu menunduk dalam-dalam. Bahunya gemetar kecil, hampir tak terlihat. Tetesan sup di sendoknya bergetar seiring dengan napasnya yang tidak stabil. Ia tidak menangis. Tidak bereaksi.

Itu justru yang paling menyakitkan.

“Sejak kamu lupa kalau dia juga manusia,” kata Zivaniel akhirnya.

Maxtin mengangkat wajahnya. “Zivaniel.”

Peringatan itu halus, tapi jelas.

Zivaniel menoleh sebentar ke ayahnya, lalu kembali menatap Varla. “Dia tidak pergi untuk membuat masalah. Dan kalaupun dia keluar tadi malam, itu bukan urusan siapa pun untuk dihakimi.”

“Dia tinggal di rumah ini!” balas Varla. “Dia makan dari meja ini!”

“Dan itu bukan alasan untuk merendahkannya.”

Suasana mengeras.

Cherrin akhirnya mengangkat wajahnya. Matanya bertemu dengan punggung Zivaniel. Hanya sebentar. Ada sesuatu yang berkilat di sana—bukan harapan, bukan keberanian—melainkan keterkejutan.

Seolah ia tidak pernah benar-benar membayangkan seseorang akan berdiri seperti itu untuknya.

“Zivaniel,” Maxtin berkata lebih tegas sekarang. “Duduk.”

Zivaniel menghela napas pelan. Tangannya masih mengepal, tapi ia menurut. Ia duduk kembali, meski tubuhnya masih tegang, seperti tali yang ditarik terlalu kencang.

Varla mendengus. “Lihat? Bahkan ayahmu—”

“Cukup, Varla,” potong Maxtin, suaranya dingin.

Untuk pertama kalinya pagi itu, Varla terdiam.

Cherrin menunduk lagi. Tangannya kini gemetar lebih jelas. Sup di sendoknya tumpah kembali ke piring, meninggalkan noda kecil yang terasa terlalu besar baginya.

Ia meletakkan sendok itu.

“Maaf,” katanya lirih. “Aku… aku akan makan nanti.”

Ia berdiri.

Kursinya bergerak pelan. Tidak ada yang menahannya. Tidak ada yang memanggil namanya.

Kecuali satu pasang mata yang mengikutinya hingga ia keluar dari ruangan.

Zivaniel tidak bergerak.

Namun di dalam dirinya, sesuatu retak pelan.

Ia tahu, ia tidak bisa melindungi Cherrin dari segalanya.

Ia tahu, dunia—bahkan rumah ini—tidak akan pernah sepenuhnya ramah.

Namun satu hal pasti:

Ia tidak akan pernah membiarkan Cherrin menghadapi kebencian itu sendirian.

Bukan selama ia masih ada di ruangan yang sama.

Dan di balik pintu yang tertutup pelan, Cherrin berdiri sejenak, menempelkan punggungnya ke dinding. Napasnya terhenti, lalu pecah menjadi tarikan pendek yang bergetar.

Ia menutup mata.

Bukan karena lemah.

Melainkan karena untuk pertama kalinya—

seseorang bersuara

ketika ia terlalu lelah untuk melakukannya sendiri.

*

Hari-hari setelah hari itu berjalan dengan cara yang aneh.

Tidak ada yang berubah secara mencolok.

Tidak ada pengakuan.

Tidak ada pembicaraan panjang.

Namun sesuatu bergeser—perlahan, hampir tak terasa.

Cherrin menjadi lebih diam.

Bukan murung.

Lebih seperti seseorang yang sedang belajar bernapas ulang.

Ia lebih sering berada di taman kecil di belakang mansion pada pagi hari. Duduk dengan buku yang jarang dibaca, menatap daun-daun yang bergerak pelan tertiup angin. Kadang ia menggambar di buku sketsa—garis-garis halus, bentuk cahaya, siluet sayap.

Zivaniel tidak pernah mendekat.

Ia mengamati dari kejauhan.

Dari lorong lantai dua.

Dari balik jendela.

Dari sudut-sudut yang tidak pernah ia sadari.

Ia mengatur jadwalnya agar selalu berada di mansion saat Cherrin ada. Menggeser rapat dunia bawahnya. Membatalkan pertemuan dengan para anggota ayahnya. Mengambil rute berbeda hanya untuk memastikan tidak ada bayangan asing di sekitar.

Tidak pernah terlihat.

Selalu ada.

Kadang, ketika Cherrin tertawa kecil karena sesuatu yang dibaca—tawa pelan, nyaris malu—Zivaniel akan berhenti berjalan.

Hanya untuk memastikan suara itu nyata.

Kadang, ketika Cherrin terdiam terlalu lama, tangannya berhenti bergerak di atas kertas, Zivaniel akan mengirim seseorang untuk “secara tidak sengaja” melewati taman.

Hanya untuk memastikan ia tidak sendirian.

Ia belajar ritme Cherrin.

Jam berapa ia bangun.

Bagaimana ia memegang cangkir teh dengan dua tangan.

Bagaimana ia akan menggigit ujung pensil ketika berpikir terlalu keras.

Semua itu ia simpan.

Tidak pernah disentuh.

Tidak pernah dimiliki.

Suatu sore, hujan turun tanpa peringatan.

Butirannya besar, berat, memukul kaca jendela dengan suara yang tajam. Cherrin berdiri di balkon kamarnya, menatap hujan dengan mata kosong. Tangannya mencengkeram pagar besi, terlalu erat.

Zivaniel melihatnya dari lorong.

Ia tidak langsung menghampiri.

Ia menunggu.

Menunggu tanda.

Ketika Cherrin menutup mata dan bahunya naik—napasnya berubah cepat—Zivaniel baru bergerak.

Ia berhenti dua langkah di belakangnya.

Tidak menyentuh.

“Cherrin,” panggilnya pelan.

Cherrin tersentak kecil, menoleh. Matanya melebar sesaat, lalu mereda.

“Oh… Niel.”

Nada itu.

Masih rapuh, tapi tidak lagi pecah.

“Hujannya deras,” katanya datar.

Cherrin mengangguk. “Aku suka hujan.”

Zivaniel menatap profil wajahnya. “Tapi tubuhmu tidak.”

Cherrin tersenyum kecil dan melangkah mundur, masuk kembali ke dalam kamar. Zivaniel menutup pintu balkon, lalu berdiri di dekat jendela.

Mereka tidak bicara lagi.

Namun hujan turun lebih lama dari biasanya.

1
Eva Karmita
lanjut otor semangat 🔥💪🥰
Eva Karmita
Elran cemburu melihat kedekatan Niel dengan Cerrin ..
Julia and'Marian: 🤭🤭🤭,,
total 1 replies
Eva Karmita
lanjut otor semangat 🔥💪🥰
Eva Karmita
mampir otor 🙏😊
Julia and'Marian: amiin kak, makasih doanya🙏
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!