Pantanganya hanya satu, TIDAK BOLEH MENIKAH. Jika melanggar MATI MEMBUSUK
Putus asa dan hancur, Bianca Wolfe (25) memilih mengakhiri hidupnya dengan melompat dari apartement Le Manoir d'Argent yang mewahnya di pusat kota Paris, Perancis. Namun, maut menolaknya.
Bianca terbangun di ranjang mewahnya, dua tahun sebelum kematian menjemputnya. Di sebelahnya cermin, sesosok kuasa gelap bernama Lora menagih janji: Keajaiban tidaklah gratis.
Bianca kembali dengan satu tujuan. Ia bukan lagi gadis malang yang mengemis cinta. Dengan bimbingan Lora, ia menjelma menjadi wanita paling diinginkan, binal, dan materialistis. Ia akan menguras harta Hernan de Valoisme (40) yang mematahkan hatinya, dan sebelum pria itu sempat membuangnya, Bianca-lah yang membuangnya lebih dulu.
Kontrak dengan Lora memiliki syarat: Bianca harus terus menjalin gairah dengan pria-pria lainnya untuk menjaga api hidupnya tetap menyala dan TIDAK BOLEH MENIKAH.
Jika melanggar, MATI.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vanilla Ice Creamm, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32. Strategi Dimulai
Udara dingin Paris menyambut Bianca saat ia menunggu taksi di luar bandara. Meski terlahir dari keluarga sederhana, kerendahan hatinya tak luntur; ia memberikan tip berlebih kepada sopir taksi dengan senyum tulus.
Setibanya di apartemennya hasil strategi cerdiknya saat memanfaatkan momen mabuk Hernan De Volois bersama Aurèlie. Bianca akhirnya merebahkan diri, setelah jet lag panjang. Ia mulai menyusun janji temu dengan pengacara paling oportunis di Paris untuk mengamankan bukti Palermo
...****************...
Malam merayap di beach club Mahesa. Musik mengalun, lampu temaram menyinari kolam renang yang berkilauan.
Mahesa menghampiri Simon yang tengah menyesap minumannya, lalu mengedip.
"Jujur saja, Mahesa. Apa kau tidur dengan kekasihku?" nadanya Simon menyelidik di sela dentum musik DJ.
Mahesa menyesap minumannya dengan tenang. "Aku murni hanya menemaninya, Simon. Jangan paranoid. Bianca wanita yang sulit ditaklukkan, kau tahu itu."
Pertemuan mereka setahun lalu saat ia berlibur di Bali. Dengan campur tangan Lora, Simon mungkin tak akan pernah menanam modal besar di resor dan beach club milik Mahesa ini.
"Bisnis kita aman?" tanya Simon mengalihkan pembicaraan.
"Sangat aman. Investasimu di sini berkembang pesat. Nikmati saja malam ini, Simon. Kau sudah membayar mahal untuk kesenangan ini."
Di sisi ruangan lain, waiters yang tampaknya sudah mengenal Sekar Ayu mengarahkan gadis yang baru saja tiba menuju meja Mahesa dan Simon.
"Selamat malam, Bli Mahesa. Maaf, saya sedikit terlambat," ucap Sekar lembut dengan bahasa inggris yang lancar sambil melirik sekilas ke arah pria Italia itu. Simon membalasnya dengan anggukan sopan.
"Oh Sekar, akhirnya kau datang. Terlambat sedikit saja lagi, sudah kuberikan dia pada yang lain," canda Mahesa, berpura-pura kesal.
"Simon, ini Sekar Ayu. Sekar, kenalkan ini Simon, rekan bisnisku dari Italia," sambung Mahesa memperkenalkan mereka berdua.
"Senang bertemu denganmu, Sekar. Mahesa benar, kecantikanmu memang luar biasa. Sei incantevole, proprio come un fiore esotico," ucap Simon dengan suara beratnya yang khas.
(Kau sangat mempesona, persis seperti bunga eksotis.)
Simon lalu mempersilakan Sekar duduk di sampingnya, matanya tak lepas menatap kulit sawo matang wanita itu yang tampak berkilau di bawah lampu temaram klub.
Simon menggeser duduknya lebih dekat, aroma parfum maskulinnya berpadu dengan udara laut. "Mahesa bilang kau asli Bali, Sekar. Ada sesuatu yang sangat tenang dalam tatapanmu, sangat berbeda dengan hiruk-pikuk di tempat ini."
Sekar tersenyum tipis, menyesap minumannya perlahan. "Mungkin. Bagaimana denganmu? Kau terlihat seperti sedang gundah gulana oleh karena suatu hal."
Jari Simon memainkan pinggiran gelas. "Sekar, aku harus mengakui, pesonamu jauh lebih efektif daripada alkohol mana pun malam ini." Simon mulai melancarkan rayuannya.
"Hati-hati, Tuan Italia," bisik Sekar sambil tersenyum simpul. "Pulau ini punya cara unik untuk membuat orang lupa jalan pulang."
Sembari mengobrol, Simon sesekali mengusap kulit eksotis Sekar yang halus; warna kulit yang jauh berbeda dari wanita-wanita Eropa yang biasa ditemuinya. Ia sempat mengecup rambut hitam panjang Sekar yang harum, sebelum dengan berani beralih ke bahunya. Secara proporsi, tinggi Sekar yang sekitar 165 cm jelas berbeda dari Bianca yang mencapai 175 cm. Namun, tubuh mungil itu justru memantik aura dominan Simon yang memiliki tinggi hampir 190 cm.
Simon yang mulai terpengaruh alkohol menarik Sekar mendekat, deru napasnya terasa berat di ceruk leher wanita itu. "Ikut aku," bisiknya.
Mereka meninggalkan keriuhan beach club dan masuk ke dalam taksi yang segera melesat menuju hotel tempat Simon menginap.
Di dalam taksi yang remang, suasana memanas. Simon tak lagi mampu menahan diri; tangannya yang besar menjelajahi nakal dilekuk tubuh Sekar yang kontras dengan postur tubuhnya. Aroma wangi kulit sawo matang Sekar seolah menjadi candu baru baginya.
"Sabar, Simon. Ini masih di taxi" peringat Sekar yang sama-sama terpatik gairah.
Di kamarnya, Simon langsung mendorong Sekar ke balik pintu yang tertutup rapat. Keheningan kamar itu segera pecah oleh decapan ciuman yang penuh gairah. Simon mengangkat tubuh Sekar, membiarkan kaki wanita itu melingkar di pinggangnya, sementara jemarinya meremas kain tipis yang menghalangi sentuhannya pada kulit eksotis yang sejak tadi menggoda kewarasannya, akhirnya dipreteli satu per satu
Simon membiarkan instingnya mengambil alih sepenuhnya, menenggelamkan diri dalam kehangatan Sekar yang menggoda.
"Kau sudah terbiasa dengan pria ekspatriat rupanya, Sekar?" gumam Simon di sela napasnya yang menderu, seraya memacu ritme dengan posisi menyamping. Tangannya merayap nakal, menjelajahi tubuh polos Sekar tanpa sisa.
"Aku tak perlu memvalidasi pertanyaanmu, Simon. Aku menyukai pria yang tahu cara mendominasi, dan kau membuktikan tinggi badanmu bukan sekadar isapan jempol di ranjang."
...****************...
Pagi itu, sebelum bertemu pengacara wanita yang dikenal sebagai pemuja uang, Bianca menyempatkan diri sarapan di sebuah kafetaria sederhana. Seperti biasa, ia menyumpal telinganya dengan earphone, seolah sedang menelepon padahal ia tengah berbincang dengan Lora. Sambil sesekali mengoreksi riasan tipisnya di permukaan cermin Lora, ia tampak tenang.
Tiba-tiba, seorang pengemis masuk ke pelataran dan sempat diusir oleh pelayan. Bianca yang merasa iba segera mencegahnya dan memberikan sejumlah uang.
"Ambillah untuk membeli makan, jangan untuk membeli minuman, Tuan," ucapnya tulus.
"Kau masih punya hati juga, Bianca," komentar Lora, nadanya terdengar sinis. Namun, Bianca tidak marah; ia justru tergelak pelan.
"Aku pernah miskin dan kesulitan meski hanya untuk membeli sekerat roti dan teh hangat, Lora. Hatiku membatu hanya untuk mereka yang memang tidak punya hati," jawab Bianca tenang sembari menyantap sarapannya, porsi Steak Frites khas Prancis dengan daging juicy yang dipadukan bersama kentang goreng renyah sebagai sumber karbonya.
"Kau tidak ingin tahu sedang apa Simon di Bali?" tanya Lora di sela makan pagi.
"Paling juga bermain wanita. Mana mungkin dia tahan tidak bercinta?"
"Apa Mahesa yang memberitahumu soal itu?"
"Ohhh... gotcha! Betul, kan, tebakanku? Haha... Tidak, aku bahkan tidak mengabari Mahesa sejak sampai di Paris."
"Nalurimu tajam. Dia memang sedang sibuk mencicipi makan malamn eksotis pilihan Mahesa malam ini."
Setelah menyelesaikan sarapannya, Bianca beranjak menuju sebuah hotel klasik tempat janji temu diatur.
Namun, langkahnya terhenti saat melihat sosok wanita paruh baya dengan aura anggun yang tak asing sedabg duduk di sudut lobi. Itu adalah ibu Hernan, Beatrice de Valois.
Baetrice menatap Bianca dari ujung kepala hingga ujung kaki, seperti biasa memang begitulah dia. "Masih berkeliaran di Paris, Bianca? Kupikir kau sudah menghilang setelah mendapatkan Lykan dan apartemen dari putraku."
Bianca tersenyum tipis menanggapi kesinisan Beatrice, sambil merapikan letak tas mahalnya. "Dunia ini sempit, Nyonya. Dan Paris terlalu indah untuk ditinggalkan hanya karena sedikit drama recehan. Lagipula Anda bicara begitu karena saya menolak bersekongkol untuk menyingkirkan Aurelie. Permisi."
...****************...
Jangan lupa mampir kemari ya.... 🍦