(Follow Instagram aku: @Picisan_Imut94)
'Innalillahi...' satu kata yang mungkin pas untuk Nuha ucapkan ketika mendengar kabar sang senior guru ngaji killer yang selalu membuatnya dongkol dengan segala titahnya, tiba-tiba saja melamar.
ya... Faqih Al Malik, adalah sosok pria yang mungkin paling wajib di hindarinya, demi menyelamatkan diri dari tingkah Bosinya itu (bikin emosi). pria diam namun tengil itu yang Nuha tahu. namun siapa sangka, dia malah mengkhitbah-nya. dan bahkan acara pernikahan hanya berselang beberapa hari saja, sesuai keinginan dia dan sang Abi pastinya.
kalian perlu tahu, seorang senior killer itu adalah pria yang harus kau taati setiap titahnya.
sementara seorang suami adalah aturan hidup paling benar yang perlu kau iyakan dan kau hormati segala keputusannya.
dan ketika senior guru killer merangkap sekaligus menjadi suami mu. kelar hidup mu!!!
bagaimana kehidupan Nuha saat menjalani hari-harinya sebagai istri sang Hafizh 30 juz itu?
baca saja .... hehehehe
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon picisan imut, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
gara-gara angin segar, rotan berbicara
malam semakin larut, obrolan mereka pun masih bersambung... dengan dekapan Faqih yang semakin erat.
"Tapi sudah tidak lagi kan?" Tanya A' Faqih.
"Tidak sih, sekarang Nuha sudah mengenal A' Faqih lebih dalam. Jadi kaya bukan orang yang sama. Dulu mau ketemu saja malas."
"Kalau sekarang?"
"Enggak." Jawab Nuha lalu menyandar manja di dada A' Faqih. "A'a yang Nuha kenal sekarang itu ternyata baik hati, sayang sama Nuha, dan nggak galak bahkan sekarang A'a murah senyum sama Nuha, tidak seperti saat sebelum menikah."
"A'a itu bukan tipe pria yang mudah kasih senyuman pada lawan jenis. Soalnya apa? Wanita itu mudah bawa perasaan. Padahal niatnya mau ramah, tapi karena sifat bawa perasaan itu lah yang akhirnya membuat mereka mengira pria itu suka. Dan di saat si pria dengan yang lain, dia terluka sendiri," jelas Faqih.
"Iya sih, memang seperti itu wanita, tapi A' Faqih itu kadang suka kebangetan."
"Kebangetan bagaimana?"
"Ya harusnya kan jangan jutek-jutek sekali. Apalagi sama anak didik, kasihan sama mereka tahu A'. kalau pas lewat kelas A'a, Nuha sampai ngelus dada, apa lagi suara rotan di meja. Ya Allah, Nuha sampai mikir... Kalau A'a punya anak bagaimana? Istrinya bagaimana? Bisa-bisa, mati kaku gara-gara tegang terus-menerus... Ehhh... Istrinya malah Nuha." Mendengar itu Faqih tergelak.
"Mati kan memang jadi kaku, karena aliran darah sudah tak bekerja." Jawab A' Faqih.
"Ehhh iya juga sih."
"Nyesel tidak jadi istrinya A' Faqih?"
"Enggak lah A' ... Karena A'a ternyata tidak sekiller itu."
"Tapi A'a akan didik anak A'a tegas juga."
"Jangan lah A' kasihan." Nuha menoleh kebelakang.
"Berati kamu maunya A'a seperti apa?"
"Ya baik, lemah lembut. Seperti Kak Farhat tuh."
Faqih terpaku. 'Farhat? Kok jadi ustadz Farhat?' batin Faqih mengerutkan keningnya. Ia pun berdeham lalu memundurkan posisi duduknya.
"Seperti ustadz Farhat ya? Jadi kamu suka yang seperti dia? Apa lagi kalau di puji dia ya? melayang-layang tuh pasti?" Tanya Faqih.
"Iya, dia memang baik hati dan murah senyum." Jawab Nuha lirih dengan tatapan lurus ke depan. Dia tidak sadar jika si A'a sedang pada mode kucing ngambek di belakang.
"Jadi bikin kamu bawa perasaan dong, apalagi waktu di perpustakaan ya di bantuin dia begitu? Senang?"
"Hemmm... Senang, bagaikan angin segar... Hehehe, banyak juga sih yang mengagumi beliau. Tampan, baik, murah senyum lagi." Masih belum sadar Nuha, bahwa yang di belakang tengah mendesah kesal.
'angin segar katanya?' (Fakih)
"Tampan, baik, murah senyum. Alhamdulillah ya paket lengkap si ustadz Farhat itu... Neng, rotan A'a sini kan."
"Eh..." Nuha menoleh cepat kebelakang, terlebih sang suami sudah duduk dengan kedua kaki di tekuk di atas ranjang.
'ada apa ini? Kok aura dia jadi mengerikan lagi?' (Nuha)
"Sini mana rotan A'a."
"Bu...buat apa?"
"Buat ngedidik istri yang sudah muji pria lain." Jawab beliau kemudian.
"Astagfirullah al'azim," Nuha menaiki kedua kakinya dengan posisi seperti bersimpuh. "A'a maaf, Nuha tidak bermaksud seperti itu."
"Haaahh, kalau tidak mau ambilkan, A'a ambil sendiri saja." Faqih hendak beranjak namun dengan cepat di peluk oleh Nuha.
"A'a, jangan marah... Jangan pukul Nuha pakai rotan, Nuha tidak bermaksud seperti itu sungguh."
"Ck...!"
"A'a jangan mengecak."
"Suka-suka A'a lah, orang mulut A'a."
"Ya sudah maaf, gini deh... A'a mau apa? Nuha turutin."
"Ngerayu ya? Nggak mempan neng."
"Nggak ngerayu, pokoknya suruh saja Nuha untuk melakukan apapun."
"Apapun?" Tanya Faqih. Gadis itu pun mengangguk.
"Kalau begitu, coba ajakin A'a bersenggama. Dengan nada manja." Tersenyum jail.
"Hei... Maksudnya apa itu? Pengecualian untuk itu ya."
"Ya sudah sana, rotan ohhh rotan... Ada mangsa mu nih." Ucap A' Faqih yang hendak bangun namun kembali di tahan Nuha.
"Jangan pakai rotan ih... Kan sudah di bilang Nuha nggak mau di pukul pakai rotan. A'a tuh ya, baru di puji baik hati. Sekarang kekejaman mu kembali ya."
"Makanya, Cepat lakukan apa yang A'a minta." Menyandarkan tubuhnya disandaran ranjang.
"A' tolong jangan itu. Memalukan sekali tahu."
"Apa? Memalukan? Ya sudah, rotan berarti pilihan mu."
"Allahu Rabbi... Iya iya..." Nuha pasrah sembari menatap sebal. Sementara yang di hadapannya tengah tersenyum penuh kemenangan.
"A'a...?"
"Pakai panggilan sayang yang mesra." Titahnya.
"Banyak mau ya A'a ini."
"Hei...! Menggerutu kamu?" Menuding kening Nuha.
"Maaf..." Semakin pasrah. Nuha pun mendekati Sang suami.
"Sayang....ku." Nuha berbicara sangat lirih. 'aaaa... Benar-benar aku sedang di kerjai lagi olehnya.'
Melihat ekspresi wajah Nuha, sungguh Faqih ingin tergelak, namun dia memang pandai bersandiwara dengan mimik wajah datarnya itu.
"Sayang... Aku... Aku mau?"
"Ck... Harus di pancing pakai rotan." Hendak beranjak lagi.
"Sayang tolong manjakan aku." Potong Nuha dan menunduk kemudian dengan kedua tangan memegang lengan Faqih.
"Memang seperti itu ngomongnya? Tatap A'a, kasih kecupan juga di sini. Itu baru benar." Faqih menunjuk bibirnya sendiri. Sementara gadis itu semakin bersungut.
'dia itu kadang baik hati tapi sikap Bikin emosinya ternyata belum hilang ya?' Batin Nuha menatap sebal.
"Cepat..! Tidak mau nih?"
"Iiiisssshhh... Sayang, tolong berikan nafkah batin mu untuk ku." Ucap Nuha dengan intonasi cepat.
"Kurang jelas neng, kecepetan kamu ngomongnya."
"Jangan ngarang ya A'... Itu sudah sangat jelas sekali loh."
"Jangan banyak menggerutu, agar cepat selesai. Semakin malam loh ini."
"Astagfirullah al'azim... Nuha semakin mendekat lalu memegangi wajah A' Faqih.
"Suami ku, aku sedang ingin kau gauli, tolong berikan?" Belum sempat di lanjutkan Nuha sudah melepaskannya. "sudah lah, pukul saja Nuha..." bersungut, wajahnya benar-benar sudah memerah menahan malu karena meminta untuk melakukan itu.
Faqih terkekeh-kekeh tanpa suara melihat ekspresi Nuha. yang tengah membelakanginya.
"neng?"
"apa? sudah pukul saja Nuha lah, A'a jail."
"nggak jail, ngajakin suami bersenggama itu pahalanya besar loh." memeluk Nuha dari belakang.
"ya tapi kan itu memalukan."
"emang dasar wanita ya... gengsi sekali meminta kebutuhan biologisnya. ckckckck." ucap Faqih. sementara Nuha masih diam saja.
"ya sudah deh... minta maaf saja cukup, sini minta maaf dulu." pinta Faqih kemudian, Nuha pun memutar tubuhnya menghadap sang suami.
"maaf..."
"maaf apa?"
"karena sudah memuji kak Farhat."
"A'a maafkan tapi panggilnya jangan kakak lagi, seperti yang lainnya saja."
"memang kenapa sih? sudah terbiasa manggil kak Farhat."
"ini... nih... kamu polosnya kebangetan ya?" Faqih menarik pipi Nuha. "masa harus A'a perjelas kalau A'a itu cemburu?"
"jadi A'a cemburu ya?" tanyanya berbinar.
"menurut mu? sudah yuk tidur. sebelum A'a tambah kesal nih."
"hehehe. ya Allah begini ya di cemburuin hehehe." Nuha merebahkan tubuhnya di sebelah A' Faqih. pria itu pun langsung mendekap tubuh Nuha seraya memejamkan matanya.
"do'a neng..." titahnya kemudian dengan mata masih terpejam. sementara Nuha hanya tersenyum senang seraya membalas pelukan A'Faqih.
bersambung....
walau rahma bkn anak ustadz or kiyai tersohor ttp beradap kx alhamdulillah
krn mertua kan sm halny dg ortu sendiri knp bs berperangai bgtu sm menantu sendiri,sdgkn dg org lain bermanis2 tutur bahasanya😢