Bagi Ayara, hidup hanya tentang bekerja tanpa pernah mengenal cinta. Namun, saat ia mendaki gunung bersama teman-temannya semuanya berubah. Sebuah pertemuan tak terduga dengan seorang pria di jalur pendakian menjadi awal baru baginya untuk mengenal rasa jatuh cinta.
Bagaimana cerita selanjutnya? Apa yang akan terjadi pada Ayara? Siapa pria yang ditemui Ayara?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Untuk Menikahi Kamu
Tak lama kemudian, Ayara datang dengan membawa sebuah nampan berisi secangkir teh hangat dan beberapa kue basah tradisional untuk disuguhkan kepada Althaf.
Begitu tiba di ruang tamu, Ayara langsung merasakan suasana di ruangan itu terasa begitu kaku dan berbeda dari biasanya. Ibu Yati tampak menunduk dengan mata berkaca-kaca, sementara Althaf duduk dengan postur tegap menatap ke arahnya dengan sorot mata teduh penuh kelembutan.
Ayara meletakkan nampan tersebut di atas meja kecil dengan hati-hati, lalu menatap Ibu Yati dan Althaf bergantian dengan rasa curiga.
"Ada apa, Bu? Kenapa suasananya tegang begini? Apa ada yang salah?" tanya Ayara bingung, melirik cangkir teh yang baru ia bawa.
Ibu Yati menarik napas panjang, lalu perlahan mengangkat wajahnya menatap putri sulungnya dengan senyuman tipis yang menyiratkan kelegaan amat mendalam.
"Nggak ada apa-apa, Nduk... Ibu mau ke kamar dulu ya, mau istirahat," jawab Ibu Yati lembut, lalu berdiri dari tikar pandannya.
"Loh, Bu? Kok buru-buru?" tanya Ayara heran melihat ibunya beranjak begitu saja.
"Kamu temani Nak Althaf di sini ya ngobrolnya, Ibu sudah ngantuk," balas Ibu Yati seraya menepuk pelan pundak Ayara sebelum melangkah masuk ke kamarnya dan menutup pintu kamar rapat-rapat.
Ayara semakin kebingungan. Ia berdiri terpaku di samping meja kecil, lalu menoleh perlahan ke arah Althaf yang kini tersenyum tipis menatapnya.
"Mas... sebenarnya apa yang diobrolin sama Ibu tadi? Kenapa Ibu mendadak masuk kamar?" tanya Ayara menyelidik, rasa penasarannya sudah di ujung tanduk.
Althaf tidak langsung menjawab. Pria itu meraih cangkir teh hangat yang dibawakan Ayara dan menyesapnya sedikit, lalu meletakkannya kembali secara perlahan. Ia menepuk ruang kosong di sampingnya di atas tikar pandan, memberi isyarat agar Ayara duduk.
Ayara ragu-ragu sejenak, namun akhirnya ia menuruti permintaan Althaf dan duduk bersimpuh berjarak tidak terlalu dekat dari pria itu.
"Kamu mau tahu apa yang aku bicarakan dengan Ibu kamu tadi?" tanya Althaf dengan suara baritonnya yang tenang dan menghanyutkan.
"Iya... apa yang Mas bicarakan sama Ibu? Kenapa Ibu jadi aneh gitu?" tanya Ayara.
"Ayara," panggil Althaf.
"Ada apa, Mas?" tanya Ayara.
Ayara menatap lurus ke arah Althaf, menunggu dengan dada berdebar kencang. Hening sejenak merayap di antara mereka, hanya terdengar deru halus angin malam yang berembus di luar jendela teras.
Althaf memiringkan posisi duduknya, menatap Ayara dengan ketegasan yang sama sekali tidak goyah. Pria itu menangkupkan kedua tangannya rapat-rapat, membuang sejenak aura dingin yang biasa ia tampilkan di ruang sidang, menggantinya dengan ketulusan yang polos dan murni.
"Aku tadi minta izin ke Ibu kamu... untuk menikahi kamu," ucap Althaf pelan, suaranya tenang tanpa ada keraguan sedikit pun.
Deg!
Ayara terpaku di tempatnya, perkataan singkat yang meluncur mulus dari bibir Althaf rasanya bagaikan dentuman petir di tengah malam tenang. Matanya membelalak lebar, bibirnya terbuka sedikit namun tidak ada satu kata pun yang sanggup keluar dari tenggorokannya.
"Ma-mas... Mas Althaf bercanda, kan?" cicit Ayara akhirnya, suaranya bergetar hebat. Pikirannya mendadak kacau, mengira pendengarannya sedang bermasalah akibat rasa lelah sehabis bekerja seharian.
Althaf menggeleng pelan, senyum tipis yang hangat terukir di bibirnya. "Aku tidak pernah bercanda untuk hal ini, Ayara. Aku serius. Aku ingin menikah dengan kamu."
Ayara meremas celana kainnya erat-erat, menundukkan kepala dalam-dalam karena tidak sanggup menatap sorot mata tajam Althaf yang seolah menelanjangi seluruh rasa mindernya.
"Mas Althaf jangan asal bicara...," bisik Ayara, nada suaranya berubah serak menahan sesak di dada.
"Mas Althaf harus tahu kalau aku cuma buruh pabrik sepatu, Mas. Rumahku begini, keluargaku serba kekurangan dan aku hidup pas-pasan. Sementara Mas Althaf... Mas Althaf itu pengacara sukses dari keluarga terpandang. Kita ini beda dunia, Mas!" lanjut Ayara.
"Siapa yang peduli dengan perbedaan itu, Ayara?" balas Althaf cepat namun dengan intonasi yang begitu lembut.
Althaf menggeser duduknya sedikit lebih dekat, ia tidak menyentuh Ayara, namun jarak mereka cukup dekat untuk membuat Ayara merasakan kehangatan dari kehadiran pria itu.
"Sejak pertama kali aku membantu kamu waktu hampir jatuh di jalur di Argopuro... aku mulai tertarik sama kamu dan pertemuan selanjutnya aku sadar kalau wanita yang beda. Di mataku, kamu perempuan yang pekerja kerja, kamu wanita paling spesial yang pernah aku temui," lanjut Althaf tulus.
Ayara menggigit bibir bawahnya, air mata keharuan dan kebingungan mendadak menetes membasahi pipinya. "Tapi keluarga Mas Althaf... Orang tua Mas pasti nggak akan setuju, mana ada orang tua berada yang mau terima menantu buruh pabrik kayak aku...,"
"Aku udah bilang ke orang tuaku soal kamu, kalau kamu mau menikah denganku. Aku akan ajak kamu ketemu mereka, aku yakin orang tuaku pasti menerima kamu," potong Althaf.
Ayara mendongak perlahan, menatap Althaf dengan mata berkaca-kaca. Ada ketenangan dan kepastian luar biasa di dalam binar mata pria itu, sebuah kepastian yang belum pernah Ayara rasakan dari pria mana pun seumur hidupnya.
"Aku tidak minta kamu menjawabnya malam ini. Pikirkan baik-baik dan bicarakan lagi dengan Ibumu, aku akan sabar menunggu jawaban kamu. Tapi ingat satu hal, Ayara... niatku tulus, aku ingin menjadikan kamu istriku," tambah Althaf tersenyum menenangkan.
Ayara menarik napas panjang dan mengusap air mata di pipinya dengan punggung tangan, lalu mengangguk pelan. "Iya, Mas... beri aku waktu untuk berpikir."
"Iya, aku akan memberi kamu waktu. Kalau begitu, aku pulang dulu. Ini sudah malam, kamu harus istirahat," jawab Althaf lembut, pria itu kemudian berdiri dan merapikan kemejanya.
Ayara ikut berdiri dan mengantar Althaf sampai ke depan pagar. Sebelum masuk ke dalam mobil, Althaf menoleh sekilas dan memberikan senyuman paling manis yang pernah Ayara lihat, sebelum akhirnya mobil sedan hitam itu melaju pergi menembus kegelapan malam.
Setelah itu, Ayara masuk kedalam rumah, dan melihat Ibu Yati yang sudah berada di ruang tamu. Ayara melihat Ibu Yati dengan wajah bingung, lalu menghampiri sang ibu.
"Menurut Ibu gimana?" tanya Ayara.
"Kamu suka sama Nak Althaf?" tanya Ibu Yati.
"Aku juga nggak yakin, Bu. Tapi, aku merasa nyaman dekat Mas Althaf, tapi...,"
"Tapi, apa?" tanya Ayara.
"Mas Althaf itu seorang pengacara, Bu. Aku nggak mau bikin Mas Althaf malu karena punya istri cuma seorang buruh pabrik yang gajinya aja nggak sampai umr," jawab Ayara.
"Semua keputusannya ada di tangan kamu, kalau kamu nggak mau... ibu nggak akan maksa. Ibu hanya mau kamu bahagia," ucap Ibu Yati.
"Makasih ya, Bu. Maaf sudah bikin ibu kepikiran soal ini," ucap Ayara.
"Nggak apa-apa, Mbak. Udah malam, kamu istirahat," ucap Ibu Yati, diangguki Ayara.
.
.
.
Bersambung.....
gimana menghadapi calon mertua yang ngeremehin kita