Seratus ribu tahun setelah Perang Senja yang memusnahkan para Dewa Asli dan Iblis Primordial, para "Penguasa Abadi" di Sembilan Langit menjadikan dunia fana sebagai ladang ternak spiritual yang dipanen setiap sepuluh ribu tahun. Lin Xuan, seorang murid yatim piatu dari Sekte Pedang Awan Biru yang dikhianati dan diambil Akar Spiritualnya demi menghidupkan putra mahkota sekte, dibuang ke dasar Jurang Tulang Iblis. Di ambang kematian, darahnya menyalakan Lentera Abu Senja—pusaka terlarang peninggalan Dewa Senja terakhir—yang membentuk kembali tubuhnya dengan Meridian Kembar Dewa-Iblis. Dengan menggenggam pedang di satu tangan dan api senja di tangan lain, Lin Xuan merangkak naik dari dasar jurang untuk menumbangkan sekte-sekte munafik, menyatukan ras Iblis dan Manusia, serta meruntuhkan takhta palsu di Sembilan Langit.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31: Makam Seribu Pedang & Kebenaran Masa Lalu Mo Chen
Di bagian paling barat daya pegunungan Sekte Pedang Awan Biru, berbatasan langsung dengan tebing Jurang Tulang Iblis, terdapat sebuah cekungan ngarai kuno yang sepanjang tahun diselimuti kabut kelabu keperakan: Makam Seribu Pedang (Thousand Swords Graveyard).
Tempat itu adalah tanah terlarang nomor satu di Sekte Pedang Awan Biru. Ribuan tahun yang lalu, tempat itu merupakan medan pertempuran sekaligus tempat peristirahatan terakhir sang Pendiri Pertama Sekte Pedang Awan Biru. Kabut kelabu yang menyelimuti ngarai itu bukanlah kabut air biasa, melainkan kumpulan Aura Pedang Kuno yang belum padam—begitu tajamnya hingga kultivator Ranah Pembangunan Fondasi yang nekat melangkah lebih dari seratus tombak ke dalamnya akan tercabik-cabik kulit dan meridiannya, dan bahkan Ketua Sekte Gu Tianheng yang berada di Ranah Inti Emas pun tidak berani masuk terlalu dalam.
Itulah sebabnya, ketika melihat Lin Xuan yang menggendong Tetua Mo Chen dan mengajak Xiao Hu melompat masuk ke dalam kabut terdalam Makam Seribu Pedang, Gu Tianheng dan para tetua sekte yang mengejar dari belakang terpaksa berhenti di batas luar ngarai dengan wajah pucat dan penuh kebencian!
"Brengsek! Bocah gila itu membawa Mo Chen masuk ke zona terdalam Makam Seribu Pedang!" Gu Tianheng menggertakkan giginya saat seberkas angin kabut pedang di perbatasan ngarai langsung menggores jubah emasnya. "Kepung seluruh pintu keluar ngarai ini! Tidak seorang pun bisa bertahan hidup lebih dari lima hari di dalam kabut pedang terdalam itu. Kalau dia belum mati tercabik-cabik di dalam sana, begitu dia keluar, langsung bunuh!"
Namun Gu Tianheng sama sekali tidak tahu apa yang terjadi di balik tirai kabut kelabu tersebut.
Begitu Lin Xuan melangkah masuk ke zona terdalam Makam Seribu Pedang sambil memegang gagang Pedang Pemutus Takdir, ribuan aura pedang liar di dalam kabut yang tadinya hendak menyerbu untuk mencabik tubuh mereka tiba-tiba berhenti bergetar!
Di bawah pancaran Niat Pedang Senja dan otoritas logam bintang dari Pedang Pemutus Takdir, kabut pedang yang mematikan itu justru menunduk dan terbelah ke kiri dan ke kanan—membuka jalan setapak yang aman dan tenang layaknya prajurit yang memberi jalan bagi sang jenderal!
"Kabut Makam Seribu Pedang ini bahkan tunduk pada pedang di tanganmu, Xuan'er..." suara Tetua Mo Chen dari punggung Lin Xuan terdengar penuh rasa takjub.
Di bagian paling tengah Makam Seribu Pedang, terdapat sebuah gua batu kering yang dikelilingi oleh mata air hangat spiritual dan terlindung sempurna dari dunia luar.
Lin Xuan menurunkan Tetua Mo Chen dengan hati-hati di atas batu datar di dalam gua tersebut, sementara Xiao Hu segera menyalakan api unggun kecil dan menyiapkan air hangat.
Setelah meminum pil pola awan pemberian Lin Xuan tadi, napas Tetua Mo Chen sudah jauh lebih stabil. Pria tua berambut putih itu perlahan mengangkat tangannya yang gemetar dan melepaskan kain hitam kusam yang selama tujuh belas tahun menutupi kedua matanya.
Di balik kain hitam itu, kelopak mata Mo Chen tampak tertutup rapat dengan bekas luka bakar berwarna emas pucat yang memancarkan aura segel kuno yang dingin.
Lin Xuan menatap luka di mata gurunya itu dengan hati bergetar, lalu mengeluarkan Medali Giok Hitam Berukir Aksara "Lin" dari dadanya dan meletakkannya di telapak tangan Mo Chen.
"Guru... atau seharusnya kupanggil Paman Mo?" suara Lin Xuan terdengar lembut namun penuh hormat. "Aku sudah membuka ceruk di bawah batu asah di Lembah Pedang Patah dan mendengar pesan suara yang ditinggalkan ibuku di dalam medali giok ini."
Tubuh tua Mo Chen bergetar hebat saat jari-jarinya menyentuh ukiran naga patah dan aksara "Lin" di permukaan medali giok hitam tersebut. Dua tetes air mata hangat mengalir turun melalui pipinya yang keriput.
"Kau sudah menemukannya, Tuan Muda..." bisik Mo Chen dengan suara serak, lalu ia berusaha bangkit untuk berlutut memberi hormat kepada Lin Xuan, namun Lin Xuan dengan cepat menahan kedua lengan gurunya.
"Di hatiku, Anda selamanya adalah Guruku, Tetua Mo Chen," ucap Lin Xuan tegas. "Ceritakan padaku, Guru. Apa yang sebenarnya terjadi pada Klan Lin kita tujuh belas tahun yang lalu, dan siapa yang melukai mata serta Dantian Guru?"
Mo Chen menghela napas panjang yang sarat akan duka masa lalu.
"Nama asliku adalah Mo Canglan, salah satu dari Empat Jenderal Pelindung Klan Lin di Ibu Kota Kekaisaran Daqian, Wilayah Tengah," kenang Mo Chen dengan suara berat. "Ayahmu, Lin Zhan, adalah Kepala Klan Lin yang telah mencapai puncak Ranah Transformasi Roh (Huashen), sedangkan ibumu adalah putri dari Lembah Alkimia Suci. Selama ribuan tahun, Klan Lin memegang satu rahasia kuno: sepasang kunci menuju Makam Dewa Senja."
Mata Lin Xuan menyipit tajam. "Jadi Kekaisaran Daqian memusnahkan Klan Lin demi merampas kunci itu?"
"Bukan hanya Kekaisaran Daqian," Mo Chen menggeleng pelan, wajahnya menegang. "Malam itu, tujuh belas tahun yang lalu, langit di atas kediaman Klan Lin terbelah. Seorang Utusan Surga berjubah putih keemasan turun dari atas awan dan memerintahkan Kaisar Daqian untuk mengepung klan kita. Ayah dan ibumu bertarung mati-matian menahan sang Utusan Surga, lalu menyerahkan dirimu yang baru berusia tiga bulan kepadaku. Saat aku membawamu menembus kepungan ruang menuju Wilayah Timur, seberkas sinar tombak dari Utusan Surga itu menyerempet mataku dan meretakkan Inti Emas Puncak-ku!"
Lin Xuan mengepalkan tinjunya hingga buku-buku jarinya memutih.
Utusan Surga dari Sembilan Langit... Kekaisaran Daqian... dan di dunia bawah ini, Gu Tianheng serta Gu Changge! Semua benang merah penderitaannya terhubung pada satu musuh besar yang sama!
kalo bisa alur ceritax dibuat liku2 jgn baru 100 chapter sudah sampai di alam atas...buat panjang ceritax....