Setelah 8 tahun, Dara bertemu lagi dengan Luth, mantan pacarnya saat SMA yang dulu koma karenanya. Bukan hanya fisik sang mantan yang berubah jadi tampan, tapi ternyata, Luth juga tak mengenalinya.
"Kamu benar-benar tidak mengenaliku?" Dara menatap tak percaya.
"Apa kita pernah bertemu sebelumnya?" Luth terlihat bingung.
Dara semakin merasa bersalah, karena kemungkinan Luth hilang ingatan karena benturan keras yang sampai membuat dia koma 8 tahun lalu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yutantia 10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KEMEJA LUTH
Dara yang sudah tak nyaman dengan pakaian basahnya serta bau amis, segera melepas semuanya lalu mengguyur tubuh dengan shower. Sambil menggosok badan, mulutnya terus mengomel. Di luar, ia tak bisa marah-marah pada Luth karena dia bosnya, tapi di dalam kamar mandi, ia bisa dengan puas mengumpatinya.
"Bener-bener nyebelin. Terus aja bela Valerie, gak tanya dulu, kenapa aku sampai nampar dia."
Astaga! Mengingat Valerie Dara jadi pengen nyemplungin wanita itu ke kolam ikan sekalian. Harusnya tadi ia seret dia kesana, duel di dalam kolam, biar lebih rame.
Dara terdiam sejenak, tadi ia sempat melihat beberapa orang mengambil videonya yang sedang ribut dengan Valerie, apa mungkin, besok ia mendadak viral? Mendadak jadi artis?
Sementara di luar, duduk di kursinya, Luth sibuk mencarikan pakaian untuk Dara. Ia memilih di market place, di toko terdekat yang bisa kirim instan. ia sudah menemukan pakaian yang cocok, tapi bingung saat harus menentukan ukuran.
"Ra," panggilnya.
Sebenarnya Dara mendengar, tapi sengaja pura-pura budeg.
"Dara..." Luth makin mengeraskan suaranya.
"Apa?"
"Pakaian kamu ukuran apa?"
"M."
Luth menekan size M, lalu melakukan pembayaran.
Baju sudah dapat, ia tiba-tiba kepikiran soal pakaian dalam. Apa ia juga harus membelikan? Sepertinya harus, karena bagian dada Dara basah, dan tentunya bau amis.
Ia beralih mencari pakaian dallam. Ketika sudah menemukan celana ukuran M, ia dibuat bingung dengan ukuran braaa.
"Ra..."
Lagi-lagi meski mendengar, Dara malas menjawab.
"Dara!" Luth melangkah ke dekat pintu kamar mandi.
"Iya."
"E..." Luth terlihat ragu-ragu. "Ukuran...dada kamu berapa?"
Sontak, Dara langsung menunduk sambil menutupi dadanya dengan lengan. Apa-apaan sih Luth, kenapa pakai nanya soal itu coba.
"Gak usah mikir aneh-aneh, saya cuma mau beliin kamu. Disini tertera nomor 32 sampai 40. Kamu nomor berapa?"
Dara menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Memalukan sekali harus menyebutkan ukurannya pada laki-laki.
"Ra, cepetan!"
"E... 36." Dara menjawab agak pelan.
"Berapa, gak kedengeran?"
Dara berdecak kesal. "36." Ia sedikit lebih keras dari yang awal.
Luth tersenyum mendengar Dara menjawab malu-malu. "Berapa, 32?" Ia sengaja menggodanya.
Dara mendelik kesal. Apa terlihat sekecil itu hah? Padahal ia sudah agak keras tadi menjawab, jangan-jangan Luth sengaja.
"Ra, berapa? Aku takut gak pas." Di balik pintu, Luth menahan tawa. "Valerie pakai 36, kamu lebih kecil dari itu ya?"
Sialan! Saking kesalnya, Dara mengangkat kedua tangan, beraksi mencakar-cakar tak karuan sambil membayangkan wajah Luth. Bisa-bisanya cowok itu sengaja membandingkan miliknya dengan milik Valerie. Benar-benar sialan!
"Iya, Ra? Lebih kecil ya?"
"Lebih gede dari punya Valerie!" teriak Dara sangat kencang dengan nafas naik turun.
Luth menutup mulut dengan telapak tangan, mati-matian menahan tawa. Ia yakin Dara sedang sangat kesal sekarang.
Tawa Luth perlahan hilang saat ingat ingat 8 tahun yang lalu.
"Ish, kamu jangan makan mulu bisa gak sih!" Dara menarik roti yang sedang dimakan Luth. "Badan udah segendut itu, masih saja makan mulu. Diet sana, biar ganteng kayak Diego. Lihat itu!" Ia menunjuk Diego yang sedang main basket di lapangan. "Diego itu keren, bodinya bagus, gak kayak kamu, kayak tong!"
"Gimana rasanya dibandingin Ra, sakit gak?" Ia menyeringai tipis.
Sudah hampir satu jam Dara di dalam kamar mandi, selain bosan, ia juga sudah mulai kedinginan. Ia hanya memakai handuk kecil untuk menutupi tubuhnya sekarang.
"Pak." Panggil Dara.
Luth yang duduk sambil melamun, langsung menoleh.
"Bajunya udah sampai belum? Saya udah kedinginan ini."
"Bentar lagi." Luth mengecek status pengiriman. Sudah dikirim, tapi memang belum sampai.
Dara jongkok di kamar mandi, memeluk kedua lututnya. Sampai kapan ia harus di sini terus? Harusnya tadi ia mandi setelah bajunya datang.
"Pak..." Dara kembali memanggil setelah 10 menit berlalu. "Udah belum?"
"Sabar!"
"Saya udah kedinginan ini." Suara Dara sampai bergetar.
"Bentar lagi."
"Kalau saya sakit gimana? Bapak harus tanggung jawab kalau saya sakit"
Luth bangkit dari kursinya, mondar-mandir sambil mengecek status pengiriman. Sepertinya kurir terjebak macet, makanya tak datang-datang. Ia mulai gelisah mengingat Dara sudah sangat lama berada di kamar mandi.
"Pak..."
"Iya!" Luth menghela nafas berat. Ia melangkah menuju pintu kamar mandi lalu mengetuknya. "Buka!"
"Udah datang ya?" Dara baru-buru bangun. Ia membuka sedikit pintu, lalu menjulurkan tangan ke luar. Setelah Luth meletakkan pakaian ke tanganya, ia kembali menarik tangan lalu menutup pintu.
Kening Dara mengernyit melihat pakaian di tangannya. Sepertinya tidak asing. Ia membuka pakaian tersebut, memperhatikan dengan lebih jelas. Seketika, mulutnya menganga.
"Pakai itu dulu sementara," ujar Luth.
Dara menoleh ke arah pintu. Jika kemeja Luth ada padanya, laki-laki itu pakai apa?
"Gak usah ngeres pikiran kamu, saya masih pakai kaos dalam." Luth seperti bisa membaca pikiran Dara.
Tak ada pilihan lain, Dara yang kedinginan, memakai kemeja putih milik Luth. Ia menatap pantulan dirinya di cermin, lalu tersenyum. Kemeja itu sangat kebesaran di tubuh kurusnya.
Luth duduk di kursinya, tatapannya tertuju pada pintu kamar mandi. Otaknya tiba-tiba travelling, membayangkan Dara melangkah keluar dengan kemeja miliknya, dan tanpa mengenakan apapun di dalamnya.
Astaga!
Buru-buru Luth mengenyahkan pikiran kotor tersebut. Ia mencoba lanjut kerja biar otaknya tidak kemana-mana.
Tok tok tok
Suara itu, membuat Luth reflek menoleh ke arah pintu kamar mandi.
"Permisi, Pak. Ada paket."
Luth merutuki diri sendiri. Padahal yang diketuk pintu depan, bisa-bisanya ia malah menoleh ke pintu kamar mandi. Sepertinya ia terlalu berharap Dara keluar dari sana hanya dengan kemeja putihnya.