Nichaela Rosabella adalah mahasiswi kaya raya yang dipuja karena kecantikannya, namun ia menyimpan rahasia kelam: di balik sikap manisnya di hadapan orang tua, ia adalah sosok yang manipulatif dan liar. Di balik kemewahannya, Nichaela memanfaatkan Braxton mahasiswa miskin penerima beasiswa yang juga pelayan pribadinya sebagai tempat pelampiasan amarah sekaligus kekasih rahasianya di malam hari.
Ketegangan mencapai puncaknya ketika obsesi Nichaela pada pria idamannya, Bredth, kandas setelah pria itu justru memilih Micheala, anak pembantu yang polos dan sangat disayangi oleh orang tua Nichaela. Ketika cemburu buta dan tekanan emosional menghancurkan kendali Nichaela, Braxton terjebak dalam pusaran amuk sang nona, memicu konflik rahasia yang mengancam kehancuran mereka semua.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon msxeikapoison, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Fajar Menjelang Badai
Setelah memastikan semuanya aman dan tidak ada jejak yang tertinggal, Braxton menutup kembali lemari itu. Sebelum keluar, ia melirik sekilas ke arah Michaela yang masih terlelap tanpa menyadari bahwa badai kehancuran dalam hidupnya sudah di depan mata.
"Selamat tidur, Michaela..." bisik Braxton sangat pelan di dalam hatinya. "Besok pagi, mimpi indahmu berakhir."
Braxton melangkah mundur, keluar dari kamar dan mengunci kembali pintu belakang paviliun dengan sempurna. Di luar batas pagar rumah megah itu, sebuah mobil sport putih mutiara sudah menunggu di pinggir jalan yang sepi.
Begitu Braxton masuk ke dalam mobil, Nichaela yang duduk di kursi kemudi dengan balutan kacamata hitam walau hari masih malam langsung menoleh.
"Bagaimana?" tanya Nichaela, matanya memancarkan ketegangan yang tertahan.
Braxton menatap langsung ke iris mata cokelat Nichaela, lalu mengangguk mantap. "Kalung itu sudah ada di dalam lemarinya. Jebakan sudah terpasang sempurna."
Senyum tipis yang sarat akan kemenangan dan kekejaman perlahan terbit di bibir ranum Nichaela. Ia menjangkau leher Braxton, menarik pemuda itu mendekat dan mendaratkan ciuman manis berdurasi singkat di bibirnya.
"Bagus sekali, honey," bisik Nichaela dengan suara parau nan penuh gairah. "Sekarang, mari kita pulang dan bersiap menonton drama terbaik esok pagi."
Deru halus mesin sport car putih mutiara itu perlahan membelah keheningan malam menuju garasi utama kediaman Mercy. Lampu depan yang padam sebelum memasuki gerbang membuat kedatangan Nichaela dan Braxton sama sekali tak memicu kecurigaan para penjaga malam yang berjaga di pos depan.
Sesuai rencana yang telah disusun, Nichaela melangkah masuk lewat pintu samping rumah utama dengan langkah anggun dan tenang. Baju dan tatanan rambutnya sengaja diatur rapi menciptakan kesan sempurna bahwa ia baru saja pulang dari sesi belajar kelompok malam yang larut, persis seperti skenario yang biasa ia gunakan untuk menutupi jejaknya di hadapan Tuan Artur dan Nyonya Audrey.
Sementara itu, Braxton memisahkan diri, kembali ke area halaman belakang dan bersiap menjalankan perannya sebagai pelayan pribadi yang sigap di pagi hari.
Matahari mulai terbit di ufuk timur, membiaskan sinar keemasan yang menembus jendela-jendela kaca besar kediaman Mercy. Suasana rumah mewah itu mendadak hangat oleh rutinitas pagi.
Di ruang makan utama yang megah, meja kayu mahoni telah tertata rapi. Tuan Artur Mercy sedang menyesap kopi hitamnya sambil membaca koran pagi, sementara Nyonya Audrey duduk anggun di sampingnya. Tak lama kemudian, Michaela muncul dari arah dapur dengan senyum manisnya yang biasa, membawakan nampan berisi roti panggang hangat dan buah-buahan segar.
"Selamat pagi, Tuan Artur, Nyonya Audrey," ucap Michaela dengan suara yang sengaja dilembutkan, memancarkan aura polos yang selama ini selalu berhasil meluluhkan hati kedua orang tua itu.
"Selamat pagi, Michaela manis," balas Nyonya Audrey dengan senyum penuh keibuan. "Kamu selalu rajin setiap pagi. Ayahmu pasti sangat bangga punya anak seperti kamu."
"Terima kasih banyak, Nyonya. Ini sudah menjadi kewajiban saya untuk membantu," jawab Michaela santun, melirik sekilas ke arah tangga utama di mana ia berharap bisa melihat kepopuleran atau keberadaan keluarga itu yang makin mengagungkannya.
Namun, momen kehangatan yang tampak bagai lukisan keluarga harmonis itu mendadak hancur berkeping-keping ketika suara langkah sepatu berhak tinggi memecah kesunyian lorong lantai atas.
Nichaela turun melewati anak tangga satu per satu dengan balutan gaun pagi yang anggun namun modis. Wajah cantiknya yang bak dewi dipasang dalam raut cemas yang sangat meyakinkan. Tangan lentiknya memegangi dada, sementara mata cokelatnya berkaca-kaca penuh kepanikan yang terencana.
"Mama! Papa!" seru Nichaela dengan suara bergetar yang dipenuhi nada drama sempurna begitu sampai di ruang makan.