Anindya Maheswari, menikah dengan Raditya Wicaksono tanpa restu dari orang tua Radit karena Anindya hanya seorang yatim piatu dan besar di panti asuhan.
Cinta tulus dari Radit membuat Anindya bertahan, berjuang bersama, banting tulang, memeras otak dan keringat. Memulai segalanya dari nol hingga akhirnya sukses.
Namun, siapa sangka setelah sukses Radit malah berkhianat? Menjalin hubungan dengan gadis yang lebih muda, memiliki seorang anak, dan bahkan selingkuhan itu sedang hamil lagi.
Membawa amarahnya yang membara, Anindya bertekad mengembalikan Radit dan keluarga nya ke keadaan semula.
“Kamu lupa satu hal. Jika aku bisa membuatmu sukses, aku juga bisa membuatnu hancur!”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25
"Baiklah. Kalau begitu ikuti aku," ucap Adrian singkat, lalu melangkah menuju mobilnya yang terparkir di halaman hotel.
Adrian masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi pengemudi, diikuti oleh Anindya yang duduk di kursi penumpang setelah menolak ajakan Raditya untuk naik mobil dengannya. Pintu ditutup rapat, dan mobil hitam itu pun mulai melaju perlahan meninggalkan area parkir hotel diikuti oleh mobil Raditya dari belakang.
Di dalam dalam perjalanan, Anindya menoleh ke arah pria di sampingnya.
"Kak, kita mau ke mana sebenarnya?" tanya Anindya penasaran. Memangnya Kakak kenal dengan pemilik bank ilegal?”
Adrian tersenyum tipis tanpa mengalihkan pandangannya dari jalan raya.
"Kamu akan tahu nanti,” jawabnya misterius sambil mengambil ponsel dari saku celananya kemudian dengan satu tangan memegang setir, satu tangan lagi mengetikkan sebuah pesan singkat kepada seseorang.
Entah apa pesannya, Anin sendiri juga tidak tahu. Karena Adrian bahkan mengetuk pesan tanpa melihat latar ponsel, seakan jari jempolnya sudah hafal letak tiap huruf pada keyboard.
*
Tiga puluh menit kemudian, mobil Adrian berhenti di halaman sebuah rumah mewah bergaya klasik yang berdiri megah di kawasan elit kota. Suasananya tenang dan sangat terjaga keamanannya.
Raditya segera turun dan menyusul Adrian dan Anindya yang sudah berdiri di teras.
"Masuk," ucap Adrian singkat sambil membuka pintu utama.
Di dalam, suasana terasa sangat mewah dan berkelas. Tidak terkesan seperti tempat yang menyeramkan atau gelap, justru terlihat sangat resmi dan terhormat.
Di ruang tamu utama, sudah duduk seorang pria paruh baya dengan penampilan sangat rapi, mengenakan kemeja sutra dan wajah yang tampak berwibawa layaknya seorang pejabat tinggi atau pengusaha besar.
“Tuan Bara," sapa Adrian hormat.
Pria yang dipanggil dengan sebutan Tuan Bara, hanya menatap datar dan mempersilakan mereka duduk dengan isyarat tangannya.
"Ini dia orang yang saya ceritakan tadi," kata Adrian sambil menunjuk ke arah Raditya yang hanya mengangguk. "Dia butuh dana segar segera."
Raditya menatap takjub. '’Jadi ini pemiliknya…’' batinnya. '’Tampak sangat terhormat dan kaya raya. Rumahnya mewah sekali. Aku pikir selama ini rumahku sudah mewah. Ternyata tidak ada apa-apanya dibanding rumah ini. Ini seperti mansion,’' gumamnya takjub.
"Saya Raditya," ucap pria itu cepat, lalu memperbaiki posisi duduknya. “Saya benar-benar butuh itu,” lanjutnya tanpa basa-basi.
Tuan Bara mengangguk pelan, lalu menatap Raditya lekat-lekat.
"Kami bisa memberikan uang tunai sekarang juga. Tidak perlu proses ribet seperti bank resmi. Tapi, kami memiliki aturan yang berbeda."
“Apapun aturannya akan saya ikuti, yang penting saya bisa mendapat pinjaman sekarang!" seru Raditya tanpa pikir panjang.
"Baiklah. Bunganya 20% per bulan, dan jatuh tempo pembayaran pokok beserta bunganya adalah sebulan dari sekarang," jelas Om Bara tegas.
Mata Raditya sedikit membesar mendengar angkanya. “20% sebulan? Apa itu tidak terlalu besar?” tanya Raditya keberatan.
Tuan Bara menghela nafas berat. “Saya tidak memaksa Anda untuk mengambil pinjaman. Jika Anda merasa keberatan, silakan! Saya juga tidak mungkin menahan Anda!” ucap Tuan Bara tenang sambil mengarahkan telapak tangannya ke arah pintu keluar.
Radit bimbang. Bunga itu benar-benar mencekik. Namun, ia mengingat kembali perusahaannya yang sedang berada di tepi jurang.
‘'20% sebulan... memang besar, tapi tidak apa-apa. Yang penting masalah pajak selesai hari ini juga, perusahaan aman, dan bisa beroperasi kembali. Lagipula setelah ini makan ada tender dari Tuan Purnama. Dengan adanya suntikan dana dari Purnama Grup yang jumlahnya triliunan, aku pasti bisa bayar lunas sekaligus,'’ batinnya meyakinkan diri.
"Baik! Saya setuju!" ucap Raditya mantap.
Tuan Bara tersenyum tipis, lalu memberi isyarat pada asistennya yang berdiri di sudut ruangan. Tak lama kemudian, sebuah tas koper hitam besar diletakkan di depan Raditya. Mata Radit terbelalak saat asisten Tuan Bara membuka koper itu dihadapannya. Lembaran-lembaran uang berwarna merah yang masih terikat rapi.
"Tanda tangani perjanjian ini, dan uangnya langsung milik Anda," kata Tuan Bara sambil menyodorkan kertas perjanjian.
Tanpa pikir panjang, Raditya langsung mengambil pulpen dan menandatanganinya dengan cepat.
"Terima kasih banyak, Tuan." Raditya mengucapkan terima kasih lalu segera berpamitan. Dia harus segera pergi ke kantor pajak sebelum petugas pajak kembali datang ke perusahaan san dia akan kembali kehilangan muka.
Setelah kepergian Raditya, pintu rumah tertutup rapat. Wajah Tuan Bara yang tadi datar, berubah menjadi senyum patuh ke arah Adrian.
"Bagaimana, Bos? Aktingku bagus, gak?” tanyanya sambil menepuk dada.
Anindya terbelalak melihat itu. Terlebih saat mendengar orang yang dipanggil dengan sebutan itu memanggil. Adrian dengan sebutan “BOSS”.
“Kak Rian? Kalian?* Anin bingung tidak tahu mau bertanya apa.
“Sudah, ayo!” Belum sempat Anin bertanya, Adrian sudah menarik tangannya diajak keluar. “Katanya mau aku kenalkan sama investor besar?”
Anin pun mengangguk saja mengikuti langkah Adrian.
“Aku penasaran,” ucap Adrian ketika mereka sudah berada di dalam mobil. Anindya menoleh mengerutkan kening menunggu kelanjutan ucapan Adrian. “Kamu jelas punya tabungan yang saldonya Kalau tidak salah perkiraanku pasti mencapai triliunan. Tapi kenapa tadi Raditya tidak bisa menemukannya di ponselmu?”
“Oh, itu?” Anindya menganggukkan kepala lalu membuka tas yang tak pernah lepas dari pundaknya lalu membuka resleting di bagian belakang dan mengeluarkan sebuah ponsel dan menggoyangkannya.
“Ini,” ucapnya.
Adrian menoleh sekilas lalu membulatkan bibirnya membentuk huruf O.
“Aku sudah menduga lama-lama Radit pasti akan curiga. Makanya aku membeli ponsel baru dan membuat akun bank baru.”
“Cerdas!” Adrian mengacungkan jari jempolnya.
“Iya dong. Adiknya siapa dulu?” Anindya menepuk dadanya bangga. “Adiknya Kak Rian gitu loh,” lanjutnya lagi sambil memasang wajah imut.
“Siapa yang mau jadi kakakmu?!” teriak Adrian dalam hati. “Aku mau jadi pacarmu, lalu naik status jadi suami!” lanjutnya lagi-lagi hanya berani berteriak dalam hati.
*
Di tempat lain, tepatnya di rumah Zaskia.
“Apa, Mas?” Wanita itu berteriak surprise saat sedang ber video call dengan Mahesa, Suaminya. “Jadi, Kak Rian itu bos nya kamu?” pekik Zaskia tak percaya.
Beberapa hari yang lalu Zaskia masih mencoba percaya bahwa itu hanya wajah yang mirip saja. Tapi siapa sangka, suaminya malah mengatakan untuk bersikap sopan di depan Adrian, dan terutama tidak boleh membocorkan pada Anindya bahwa sebenarnya Adrian adalah seorang BIG BOSS.
“Tentu saja serius, Sayang. Pokoknya kamu harus hati-hati gak boleh sampai keceplosan sama temanmu itu, ya? Bos sudah janji, setelah ini aku akan ditempatkan di tanah air. Jadi kita gak perlu LDR an. Jangan sampai Boss berubah pikiran, oke?”
“Iya, iya,” jawab Zaskia paham. “Lagian, ngapain sih, Kak Rian pake nyembunyiin identitas segala?” lanjutnya kesal. Jujur saja dia takut keceplosan. Karena kalau sudah ngerumpi sama Anindya dia tak bisa menge-rem mulutnya sendiri.
“Entahlah, Sayang. Aku juga tidak tahu,” jawab Mahesa. “Hanya saja Boss sudah mengultimatum seperti itu. Oh iya, Sayang. Jangan panggil Bos Kak Rian dong. Itu kan terlalu manis?”
“Ish… kamu cemburu, Mas?”
Orng lain aja tau spa yg lbih pntr,tp dia msih bs songong tnpa tau kl dia ga bsa apa2 tnpa anin.....
heraaaannn....sbnrnya pas pmbgian otak,dia kbgian ga sihhhh?????🤣🤣🤣