NovelToon NovelToon
Mata Dewa ; Jalan Sang Pangeran

Mata Dewa ; Jalan Sang Pangeran

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Reinkarnasi
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Irhab Hauzan

Mata Dewa: Jalan Sang Pangeran

Zhou Li, pangeran keempat Kerajaan Zhou yang lemah, tewas dicabik binatang buas di hutan terlarang—dan tubuhnya ditempati Zhou Chen, pemuda modern yang mati membaca buku di perpustakaan. Terjebak di istana asing, dikepung delapan saudara haus takhta, tanpa kekuatan atau sekutu, ia hanya ingin hidup tenang. Semua berubah saat Mata Dewa Analisis terbangun dalam dirinya, mampu menembus kelemahan, potensi, dan takdir tersembunyi, berdampingan dengan Kitab Langit Tanpa Akhir yang menyempurnakan setiap ilmu yang ia kuasai.

Dari mereka yang dianggap sampah dunia, ia membangun Pasukan Mata Langit—loyal hingga mati—dan perlahan menyeret Kerajaan Zhou keluar dari bayang-bayang, hingga tersingkap kebenaran: dunia ini hanyalah lapisan terendah dari semesta yang jauh lebih luas. Ia tak pernah mengejar takhta, tapi dunia akan bertekuk lutut di hadapan namanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irhab Hauzan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24 — Api di Balik Es

Hujan yang diramalkan Zhou Ming malam sebelumnya benar-benar turun menjelang tengah malam—bukan hujan deras, melainkan gerimis tipis yang cukup untuk membasahi tanah tanpa membuat jalan becek, cukup untuk meredam suara langkah kaki tanpa menghalangi pandangan. Zhao Kai menyebutnya "hujan yang baik hati" saat mereka berkumpul terakhir kali sebelum berangkat, dan untuk pertama kalinya dalam berhari-hari, Zhou Chen melihat sesuatu yang mendekati optimisme di wajah orang-orangnya.

"Ingat rencananya," kata Zhao Kai, suaranya rendah namun tegas, matanya menyapu satu per satu wajah yang berkumpul di bawah pohon rindang di luar wilayah barat—titik kumpul terakhir sebelum mereka berpencar sesuai tugas masing-masing. "Kita tidak menyentuh perjamuan itu. Tidak ada yang tergoda untuk mengintip, tidak ada yang berbelok mendekat walau hanya untuk memastikan. Zhou Han boleh merayakan kemenangannya semalam ini. Kita akan membuktikan dia salah besok pagi."

Xiao Hei mengangguk, tangannya mengepal erat pada gagang pedang kayu yang sudah lama ia tukar dengan pedang besi ringan hasil tempaan Paman Guo. Sejak terobosannya yang tiba-tiba di halaman belakang beberapa minggu lalu, ia jarang benar-benar menguji kekuatan barunya dalam pertarungan nyata—dan malam ini, entah kenapa, firasatnya berkata bahwa ia tidak akan punya pilihan selain menggunakannya.

Zhou Chen mengarahkan Mata Dewa ke arahnya sekilas, sebuah kebiasaan yang tidak pernah benar-benar bisa ia hentikan saat mengkhawatirkan orang-orangnya.

*Xiao Hei — Kondisi meridian: stabil dalam keadaan tenang, namun pembukaan meridian tingkat pertama masih baru. Belum ada pengujian di bawah tekanan ekstrem sejak terobosan. Catatan: pengerahan tenaga berlebihan berisiko memicu ketidakseimbangan qi sementara.*

Ia menyimpan catatan itu dalam hati, tidak mengatakannya keras-keras. Xiao Hei sudah cukup gugup malam ini tanpa perlu diingatkan bahwa tubuhnya sendiri masih menjadi variabel yang belum sepenuhnya bisa diandalkan.

 

Rencana Zhao Kai berjalan hampir sempurna untuk dua pertiga perjalanan pertama.

Mereka menyusup dari arah yang sama sekali berlawanan dengan aula perjamuan yang gemerlap—cahaya lampion dan suara musik samar terdengar dari kejauhan, cukup untuk menegaskan bahwa perhatian sebagian besar penjaga memang tersedot ke sana seperti yang diperkirakan. Bangunan penahanan yang lebih kecil, tersembunyi di balik gudang tua di sisi utara kompleks, hanya dijaga oleh tiga orang—jumlah yang jauh lebih sedikit dari perkiraan terburuk mereka.

Zhao Kai melumpuhkan penjaga pertama dengan gerakan senyap yang telah ia latih puluhan kali di masa lalu, tangan kirinya yang masih sedikit kaku karena luka lama tidak menghalangi ketepatan serangannya. Ah Fu menangani penjaga kedua dengan bantuan Yue Er yang melumpuhkannya dari kejauhan menggunakan anak panah tumpul—bukan untuk membunuh, hanya untuk membuatnya pingsan cukup lama.

Penjaga ketiga, ternyata, adalah yang paling waspada di antara mereka—dan justru itu yang menyelamatkan seluruh rencana dari kegagalan total.

"Ada yang bergerak!" teriaknya, sepersekian detik sebelum Xiao Hei berhasil membekapnya. Teriakan itu, meski singkat, cukup untuk memecah keheningan malam yang seharusnya menyelimuti mereka.

________________________________________

Di dalam bangunan penahanan, Lin Feng ditemukan meringkuk di sudut sel sempit, wajahnya penuh memar namun matanya masih terjaga, masih hidup—sesuatu yang membuat Zhou Chen menghela napas lega untuk pertama kalinya sejak surat tanpa tanda tangan itu tiba.

"Yang Mulia..." bisik Lin Feng, suaranya serak karena jarang digunakan. "Hamba pikir... tidak ada yang akan datang."

"Kami selalu datang," jawab Zhou Chen singkat, sudah bergerak untuk melepas rantai yang mengikat pergelangan tangan pemuda itu. "Tapi kita harus cepat. Bisakah kau berjalan?"

Lin Feng mengangguk lemah, meski jelas terlihat bahwa tubuhnya sudah menahan siksaan yang tidak ringan selama masa penahanannya.

Namun sebelum mereka sempat benar-benar keluar dari bangunan itu, suara langkah kaki terorganisir mulai bergema dari arah aula perjamuan—jauh lebih cepat dari yang seharusnya, seolah teriakan tadi berhasil menembus musik dan tawa yang tadinya cukup keras untuk menutupi segalanya.

"Mereka datang," gumam Zhao Kai, wajahnya mengeras. "Lebih cepat dari perkiraan. Seseorang di perjamuan pasti sudah cukup waspada untuk langsung merespons."

________________________________________

Pelarian yang seharusnya berjalan tenang dan terkendali berubah menjadi kejar-kejaran penuh ketegangan begitu suar isyarat merah menyala di langit malam, memberi tahu seluruh penjagaan kompleks bahwa penyusup telah masuk.

Mereka berlari menyusuri jalan setapak becek di antara gudang-gudang tua, hujan gerimis yang tadinya bersahabat kini terasa seperti musuh baru—membuat tanah licin, membuat visibilitas semakin buruk di tengah kegelapan yang hanya diterangi kilatan obor para pengejar di kejauhan.

"Kiri! Lewat celah antara dua gudang itu!" perintah Zhao Kai, memimpin arah pelarian dengan insting yang telah teruji puluhan kali sebelumnya.

Xiao Hei, yang membawa Lin Feng di punggungnya karena pemuda itu terlalu lemah untuk berlari sendiri, mulai merasakan sesuatu yang tidak beres di dalam tubuhnya sendiri—sensasi panas yang aneh menjalar dari dada menuju lengan, semakin kuat setiap kali ia memaksakan kecepatan larinya melampaui batas normal.

*Bukan sekarang,* pikirnya, mencoba mengabaikan sensasi itu, memfokuskan diri pada langkah demi langkah yang harus ia ambil untuk menyelamatkan nyawa orang yang ia gendong. *Kumohon, jangan sekarang.*

Namun tubuh tidak selalu patuh pada keinginan pemiliknya.

________________________________________

Di sebuah persimpangan sempit antara dua gudang, saat kelompok kecil itu terpaksa berhenti sejenak untuk memastikan arah yang benar, Xiao Hei tiba-tiba terhuyung, lututnya nyaris menekuk begitu saja jika Ah Fu tidak segera menangkap tubuhnya.

"Xiao Hei!" seru Yue Er, panik mulai menyelinap ke suaranya.

Zhou Chen segera mengarahkan Mata Dewa, wajahnya memucat membaca apa yang muncul di hadapannya.

*Xiao Hei — Ketidakseimbangan qi terdeteksi. Pengerahan tenaga berlebihan di bawah tekanan ekstrem memicu aliran qi yang tidak terkendali di meridian yang baru terbuka. Risiko: jika dibiarkan, dapat berkembang menjadi kerusakan meridian permanen dalam waktu singkat. Penanganan mendesak diperlukan—hentikan pengerahan tenaga, stabilkan aliran qi secara manual.*

"Dia mengalami ketidakseimbangan qi," kata Zhou Chen cepat, suaranya tegang namun berusaha tetap tenang di tengah situasi yang semakin genting. "Kekuatannya belum sepenuhnya stabil sejak terobosan—memaksakan diri seperti ini bisa merusak meridiannya secara permanen."

"Kita tidak punya waktu untuk berhenti!" seru salah satu anggota tim, suara pengejar semakin dekat terdengar dari balik gudang.

"Kalau kita tidak berhenti sekarang, dia bisa kehilangan kemampuan kultivasinya selamanya," bantah Zhou Chen tegas, sudah berlutut di samping Xiao Hei yang wajahnya kini pucat pasi, keringat dingin membasahi dahinya meski udara malam cukup dingin karena gerimis.

Ah Fu, dengan cepat mengingat sesuatu, merogoh kantong kecil yang tergantung di pinggangnya—kantong yang telah disiapkan Paman Guo sebelum keberangkatan, tanpa penjelasan detail selain "untuk berjaga-jaga".

"Yang Mulia! Paman Guo membekali kita dengan ini!" Ia menyerahkan segenggam daun kering berwarna hijau pucat. "Katanya... Rumput Napas Sunyi. Untuk menenangkan qi yang liar."

Zhou Chen tidak punya waktu untuk bertanya lebih jauh bagaimana Paman Guo bisa memperkirakan situasi seperti ini akan terjadi. Ia segera menyuapkan beberapa lembar daun itu ke mulut Xiao Hei, sementara Yue Er membantu menekan titik-titik tertentu di punggung pemuda itu—pengetahuan dasar pengobatan yang pernah ia pelajari dari kesehariannya dulu, kini terbukti berguna dalam situasi yang jauh lebih genting dari yang pernah ia bayangkan.

Beberapa detik yang terasa seperti waktu abadi berlalu, sebelum akhirnya napas Xiao Hei mulai teratur kembali, sensasi panas yang membakar dari dalam perlahan mereda meski tidak sepenuhnya hilang.

"Bisakah kau berdiri?" tanya Zhou Chen, cemas.

Xiao Hei mengangguk lemah, meski jelas ia masih jauh dari kondisi terbaiknya. "Hamba... bisa, Yang Mulia. Tapi hamba tidak bisa lagi menggunakan tenaga dalam untuk sementara waktu."

Itu berarti mereka kehilangan salah satu kekuatan bertarung mereka justru di saat paling membutuhkannya.

________________________________________

Suara langkah kaki pengejar semakin dekat, dan kali ini, disertai suara yang jauh lebih mengkhawatirkan—derap kuda, jauh lebih cepat daripada kaki manusia biasa.

"Mereka mengerahkan kavaleri," gumam Zhao Kai, wajahnya semakin tegang. "Kita tidak akan bisa lolos hanya dengan berlari."

Zhou Chen memandang sekeliling dengan cepat, pikirannya berpacu mencari solusi di tengah tekanan yang semakin mencekik. Di kejauhan, ia bisa melihat siluet tembok rendah yang mengelilingi bagian belakang kompleks—cukup rendah untuk dipanjat, namun cukup tinggi untuk menghalangi kuda mengejar lebih jauh.

"Ke arah tembok selatan," perintahnya, mengambil alih kepemimpinan untuk sesaat karena Zhao Kai kini harus membantu memapah Xiao Hei yang masih lemah. "Kalau kita bisa melewatinya sebelum mereka sampai, kuda-kuda itu tidak akan bisa mengikuti."

Mereka berlari sekuat tenaga, hujan gerimis kini berubah lebih deras, membasahi seluruh tubuh mereka namun juga—untuk pertama kalinya malam itu—memberi keuntungan nyata: jejak kaki mereka tersamarkan lebih cepat oleh genangan air yang mulai terbentuk di tanah becek.

Zhao Kai, meski tangannya masih menahan sakit, berhasil mendorong Ah Fu dan Yue Er lebih dulu memanjat tembok, sementara ia sendiri membantu menaikkan Lin Feng yang masih lemah dengan susah payah. Zhou Chen menjadi yang terakhir, memastikan semua orang berhasil melewati rintangan itu sebelum dirinya sendiri menyusul, jantungnya berdegup kencang mendengar derap kuda yang semakin dekat di belakangnya.

Tepat saat kakinya menyentuh tanah di sisi lain tembok, suara teriakan kecewa terdengar dari balik dinding batu itu—para pengejar berkuda terpaksa berhenti, tidak mampu melompati rintangan yang sama.

________________________________________

Mereka terus berlari, kini dengan langkah yang mulai melambat karena kelelahan yang menumpuk, hingga akhirnya mencapai titik pertemuan aman yang telah disepakati sebelumnya—sebuah gua kecil tersembunyi di lereng bukit, cukup jauh dari kompleks tahanan untuk memberikan mereka waktu bernapas.

Begitu memastikan tidak ada yang mengikuti, seluruh kelompok itu ambruk kelelahan, napas mereka terengah-engah dalam keheningan gua yang hanya diterangi cahaya obor kecil yang dibawa Ah Fu.

Zhou Chen segera memeriksa kondisi Xiao Hei lebih menyeluruh, wajahnya masih menunjukkan kekhawatiran yang belum sepenuhnya reda.

*Xiao Hei — Ketidakseimbangan qi berhasil distabilkan sebagian berkat Rumput Napas Sunyi, namun belum sepenuhnya pulih. Estimasi waktu pemulihan penuh: 5–7 hari, dengan syarat istirahat total. Catatan: retakan kecil terdeteksi di salah satu meridian yang baru terbuka—jika tidak ditangani dengan tepat dalam waktu dekat, berpotensi menjadi kelemahan permanen di titik tersebut.*

Zhou Chen menghela napas panjang, campuran lega dan cemas memenuhi dadanya. Mereka berhasil menyelamatkan Lin Feng—sesuatu yang gagal mereka lakukan dua kali sebelumnya—namun harga yang dibayar malam ini bukan tanpa bekas.

"Bagaimana kondisinya, Yang Mulia?" tanya Ah Fu, mendekat dengan wajah cemas.

"Dia akan pulih," jawab Zhou Chen, "tapi butuh waktu. Dan ada retakan kecil di salah satu meridiannya yang harus kita perhatikan baik-baik ke depannya—kalau tidak ditangani dengan benar, bisa jadi kelemahan permanen."

Xiao Hei, yang mendengar penjelasan itu meski dalam kondisi lemah, hanya tersenyum tipis, penuh penerimaan yang mengejutkan. "Setidaknya... hamba berhasil membawa Lin Feng keluar dengan selamat, Yang Mulia. Itu sudah cukup bagi hamba malam ini."

Zhou Chen menatapnya lama, menyadari betapa jauh perjalanan pemuda ini sejak pertama kali ia temukan sebagai buruh angkut yang dibuang begitu saja oleh barak utama. Kekuatan yang ia miliki sekarang bukan datang tanpa harga—dan malam ini adalah pengingat nyata bahwa jalan menuju kekuatan sejati tidak pernah semulus yang terlihat dari luar.

*Tidak ada yang gratis di dunia ini,* pikirnya, menatap Xiao Hei yang kini tertidur kelelahan dalam pelukan gua yang lembap. *Bahkan dengan bantuan kekuatanku mereka tetap harus dibayar dengan darah, luka, dan waktu. Aku tidak boleh lupa itu.*

________________________________________

Lin Feng, meski masih lemah, berhasil memberikan sedikit informasi berharga sebelum akhirnya tertidur karena kelelahan—sepotong percakapan yang tidak sengaja ia dengar dari para penjaganya selama masa penahanan, tentang seseorang berpangkat tinggi yang mengunjungi Zhou Han secara diam-diam dua hari sebelum perjamuan, membawa kabar yang membuat sang pangeran "tersenyum lebih lebar dari biasanya".

"Mereka menyebutnya... 'Ibu Suri'," bisik Lin Feng sebelum benar-benar tertidur, "tapi hamba yakin itu bukan panggilan untuk Permaisuri yang sekarang."

Zhou Chen dan Zhao Kai saling bertukar pandang, menyadari bahwa informasi kecil ini mungkin saja membuka lapisan konspirasi yang bahkan lebih dalam dari yang pernah mereka duga—sebuah nama, atau gelar, yang belum pernah muncul dalam seluruh penyelidikan mereka selama ini.

Di luar gua, hujan mulai reda, menyisakan tetesan air yang jatuh perlahan dari dedaunan, seolah alam sendiri ikut menahan napas menanti apa yang akan terjadi selanjutnya.

Zhou Chen menatap ke arah langit yang mulai menampakkan sedikit celah di antara awan tebal, pikirannya dipenuhi dua hal sekaligus—kelegaan karena misi malam ini akhirnya berhasil meski dengan harga yang tidak murah, dan kekhawatiran baru tentang nama misterius yang baru saja disebut Lin Feng.

Kami berhasil malam ini, pikirnya, menatap Xiao Hei yang masih tertidur dengan napas yang mulai teratur kembali. Tapi setiap kemenangan sepertinya selalu membuka pintu menuju pertanyaan baru yang lebih besar.

1
𝓐𝓡 𝓐𝓾𝓽𝓱𝓸𝓻 𝓘𝓼𝓽𝓲𝓶𝓮
semangat ya . semoga gif mawar ini menjadi semangat baru klo km . butuh temn masuk grup aku kita saling dukung
Irhab Hauzan: siap mampir 🙏
total 4 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!