NovelToon NovelToon
Jadi Ibu Tiri Itu Gak Mudah

Jadi Ibu Tiri Itu Gak Mudah

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Tiri / Duda / Mengubah Takdir
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Aurora.playgame

Menikahi seorang duda beranak tiga dipikirnya akan membawa kebahagiaan baru, namun kenyataan menjadi ibu tiri ternyata jauh lebih rumit dari yang dibayangkan. Di balik pintu rumah yang tampak sempurna, ia harus berhadapan dengan penolakan halus, bahkan kasar, serta dinamika tiga anak dengan karakter yang bertolak belakang.
Mampukah Ayu meluluhkan hati anak-anak tirinya dan mempertahankan rumah tangganya, atau justru menyadari bahwa ketulusan saja tidak pernah cukup?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 33: Lea & friend

Selasa pagi bergulir membawa ritme yang kembali sibuk. Setelah satu hari penuh izin tidak masuk sekolah akibat dinamika keluarga dan insiden yang menimpa Moana, Kenzo dan Lea akhirnya kembali mengenakan seragam sekolah mereka.

Pagi-pagi sekali, gerbang besi rumah megah itu berderit terbuka saat mobil yang dikendarai Pak Maman meluncur membelah kabut tipis Jakarta untuk mengantarkan kedua remaja tersebut.

Di kelas sembilan salah satu SMP swasta favorit di Jakarta Selatan, ruang kelas Lea tampak riuh oleh obrolan para siswa sebelum bel masuk berbunyi.

Lea duduk di bangkunya dekat jendela, merapikan buku-buku pelajaran dengan raut wajah yang masih memancarkan sisa-sisa keletihan emosional.

Tiba-tiba, Pak Dimas, guru Bahasa Indonesia, melangkah masuk ke dalam kelas seraya mengetuk papan tulis.

"Selamat pagi, anak-anak," sapa Pak Dimas ramah. "Hari ini kita akan membagi kelompok untuk tugas proyek analisis novel dan pembuatan drama pendek. Setiap kelompok terdiri dari lima orang, dan tenggat pengumpulannya minggu depan."

Sorak-sorai riuh langsung terdengar di seisi ruangan. Untuk Lea, ia dengan cepat tergabung bersama empat sahabat dekatnya: Maya, Kiki, Nabila, dan Rehan.

"Nah, karena tugas analisis sama pembagian naskah dramanya cukup banyak, kita butuh tempat kerja kelompok yang tenang dan luas," ujar Maya, gadis berambut sebahu yang menjadi ketua kelompok mereka, saat jam istirahat siang di kantin. "Kira-kira di rumah siapa nih yang enak buat ngumpul nanti sore habis pulang sekolah?"

"Di rumah aku lagi direnovasi, berisik banget," sahut Nabila cepat seraya mengunyah siomaynya.

"Di rumah aku adik-adikku masih pada kecil, ramai banget pasti ganggu," timpal Kiki.

Rehan menoleh ke arah Lea yang sejak tadi hanya diam sambil memainkan sedotan es tehnya. "Lea... Rumah kamu kan paling besar, luas, dan estetik banget! Halamannya juga adem. Gimana kalau kita kerja kelompok di rumah kamu aja habis pulang sekolah jam dua nanti?"

Seketika itu juga, jantung Lea berdegup kencang. Raut wajahnya mendadak tegang.

"Eh... Jangan di rumahku deh," tolak Lea cepat, suaranya pun terdengar agak panik. "Rumahku... Lagi agak berisik juga kok."

Maya mengerutkan keningnya, dan menatap Lea dengan heran. "Masa sih, Le? Perasaan waktu semester lalu kita ke rumah kamu adem-adem aja. Rumah kamu kan enak banget buat ngerjain tugas, ada gazebo di taman belakang. Boleh ya, Le? Cuma sampai sore kok jam lima."

Lea meremas serbet kertas di tangannya. Di dalam benaknya, kebencian dan rasa enggan membuncah hebat. Alasan utama Lea menolak sama sekali bukan karena rumahnya berisik, melainkan karena ia tidak mau teman-temannya bertemu dengan Ayu.

Lea merasa malu dan cemas. Bagaimana jika teman-temannya bertanya siapa wanita muda anggun di rumahnya? Bagaimana jika Ayu bersikap sok akrab dan membongkar statusnya sebagai ibu tiri di depan teman-temannya? Lea belum siap menghadapi pertanyaan-pertanyaan yang akan memojokkan gengsinya. Walau sebagian temannya itu sudah taunjika Lea punya ibu tiri.

Namun, menolak secara terus-menerus tanpa alasan yang masuk akal justru akan membuat teman-temannya curiga. Apalagi Maya dan Nabila terus membujuknya dengan mata berbinar-binar.

"Please, Lea... Cuma hari ini aja buat ketik draf pertama," bujuk Kiki seraya memegang lengan Lea.

Lea menghembuskan napas panjang, dan menelan ludahnya yang terasa pahit. Atas berbagai pertimbangan agar tidak menimbulkan kecurigaan dari para sahabatnya, Lea akhirnya mengalah.

"Ya udah deh..." bisik Lea pelan. "Tapi kita ngerjainnya di gazebo taman belakang aja ya, gak usah ke mana-mana."

"Horeee! Asyik! Makasih ya, Lea!" seru Maya dan Nabila riang.

Pukul dua siang tepat, bel akhir pelajaran bergema di seluruh penjuru sekolah. Keramaian khas siswa pulang sekolah membuncah di depan gerbang.

Lea bersama Maya, Kiki, Nabila, dan Rehan memesan satu unit mobil transportasi daring (online) untuk menuju ke perumahan Lea.

Di perjalanan, keempat temannya menyambut kebersamaan itu dengan penuh suka cita. Canda tawa renyah, gosip-gosip ringan khas anak SMP, serta diskusi seru tentang pembagian peran drama pendek memecah keheningan di dalam mobil.

Lea mencoba ikut tersenyum dan tertawa, meski di dalam hati kecilnya ada kecemasan bergelombang yang kian membesar seiring makin dekatnya mobil ke kompleks rumahnya.

Beberapa saat kemudian...

Mobil yang mereka tumpangi akhirnya berhenti tepat di depan gerbang besi tempa yang menjulang tinggi di kawasan perumahan elite tersebut.

"Wah, rumah kamu beneran mewah banget ya, Le," puji Rehan dari balik jendela mobil saat melihat fasad bangunan modern tiga lantai dengan pekarangan asri di baliknya.

"Ayo turun!" ajak Maya bersemangat.

Kelima anak SMP itu keluar dari mobil, berdiri bergerombol di depan gerbang seraya tertawa-tawa riang, membuat suara keramaian khas remaja yang cukup nyaring menembus area pekarangan rumah.

Sementara itu, di halaman samping rumah, udara siang terasa cukup hangat. Ayu yang mengenakan gamis simpel berwarna terakota dipadu jilbab instan krem sedang sibuk membantu Bibi Minah memindahkan tumpukan jemuran sprei bersih dari area belakang menuju ruang setrika.

Mendengar riuh rendah suara anak-anak remaja dan tawa renyah yang terdengar dari arah gerbang depan, Ayu menghentikan aktivitasnya.

"Suara siapa ya di depan, Bi?" tanya Ayu sambil membetulkan letak jilbabnya.

"Waduh, Bibi kurang tahu, Bu Ayu. Coba Bibi intip dulu ya," sahut Bibi Minah.

"Tidak usah, Bi. Biar saya saja yang lihat ke depan," tutur Ayu ramah.

Ayu melangkah anggun menyusuri jalan setapak batu di pekarangan depan, dan mendekati gerbang. Saat ia menggeser selot pintu gerbang kecil dan membukanya, mata Ayu bersitatap langsung dengan rombongan anak SMP yang sedang berdiri ceria di sana.

"Lea?"

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!