Tantya Ambardhita hanya lulusan SMA. Bagi keluarga suaminya, itu cukup menjadi alasan untuk merendahkannya.
Mereka menganggap Tantya tak punya apa-apa. Namun anehnya, setiap kebutuhan mertua dan tiga iparnya selalu dibebankan kepada perempuan itu. Tantya diperlakukan seperti ATM berjalan—diminta memberi, tetapi tak pernah dihargai.
Sampai suatu hari, Rendra, suaminya, membawa mantan kekasihnya pulang kampung. Bukan hanya mengajak perempuan itu masuk ke mobil, Rendra bahkan menyuruh Tantya duduk di kursi belakang.
Ironisnya, mobil yang mereka banggakan itu adalah milik Tantya.
Di sebuah rest area, Tantya akhirnya meninggalkan mereka. Dan sejak hari itu, Tantya bukan lagi istri yang selalu mengalah.
Keluarga Rendra mengira mereka sedang kehilangan seorang istri yang hanya lulusan SMA.
Mereka belum tahu…
perempuan yang selama ini mereka remehkan menyimpan identitas dan kehidupan yang tak pernah mereka bayangkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Barra Ayazzio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
18. Tak Ada Lagi Alasan Bertahan
Rendra berdiri di hadapan Tantya dengan wajah kesal. Sejak tadi dia kesal karena Tantya membahas tentang uang yang harusnya ditransfer ke ibu mertuanya.
"Sudahlah, Tya. Enggak usah dibahas lagi tentang uang itu. Sekarang kamu kembali ke rumah Ibu dan bawa mobilnya. Yang lain sedang sibuk mempersiapkan acara, ini malah kamu diam saja di sini."
Tantya yang kini sudah duduk di sofa hanya mengangkat wajahnya sekilas. Ekspresinya datar, seolah sudah terlalu lelah untuk berdebat.
"Maaf, Mas. Aku enggak bisa. Aku di sini saja."
Rendra mengembuskan napas kasar. "Kamu mau mempermalukanku, Tya?"
Tantya menatap suaminya. Kali ini, sorot matanya menyiratkan kekecewaan yang selama ini berusaha dia tahan. "Mas dan keluarga Mas yang selalu mempermalukanku."
"Maksudmu apa?"
"Mas, kehadiranku di rumah itu saja sebenarnya enggak diharapkan. Jadi, untuk apa aku harus memaksakan diri bertahan di sana? Aku juga punya harga diri, Mas. Sudahlah, Mas pulang saja. Jangan khawatir, besok aku akan datang ke sana."
Rendra terdiam sesaat. Namun, bukannya meredakan ketegangan, dia justru mengalihkan pembicaraan pada sesuatu yang sejak tadi tampaknya lebih penting baginya.
"Kalau begitu, mana kunci mobilnya? Biar aku yang bawa mobil itu."
Tantya mengernyit. Tangannya spontan meraih tas yang terletak di sampingnya. "Maaf, mobil itu aku yang bawa. Itu mobilku, bukan mobil Mas."
Wajah Rendra langsung berubah merah menahan amarah. "Apa maksudmu? Itu mobil yang selama ini dipakai kita."
"Tapi yang membeli aku, Mas. Jadi, mobil itu tetap milikku."
"Sudah, sini kuncinya!" Rendra mulai kehilangan kesabaran. Dia bahkan mencoba meraih tas Tantya, berniat mengambil kunci mobil yang ada di dalamnya.
Tantya segera menarik tasnya menjauh. "Jangan begitu, Mas!"
"Kasih sini! Aku mau bawa mobil itu."
Tantya bangkit dari duduknya. Dia menatap Rendra tajam, tidak sedikit pun menunjukkan rasa takut.
"Mas, dengar baik-baik. Kalau Mas keluar dari rumah ini membawa mobil itu, aku akan teriaki maling!"
Rendra tertegun. Dia menatap Tantya dengan sorot mata tidak percaya. "Berani kamu mengancamku?"
"Bukan mengancam, Mas. Aku hanya mengingatkan. Toh, semua orang juga tahu mobil itu milikku. STNK-nya pun atas namaku. Jadi, kalau Mas nekat membawanya tanpa izin, silakan tanggung sendiri akibatnya."
Rendra mengepalkan tangannya. Rahangnya mengeras. Dia benar-benar tidak menyangka Tantya akan berani melawannya sejauh itu.
Selama ini, Tantya memang sering mengalah. Dia lebih memilih diam daripada memperpanjang persoalan. Namun, kali ini perempuan itu tampaknya sudah mencapai batas kesabarannya.
"Dasar kamu Tya. Selalu saja bikin masalah." gerutu Rendra dengan nada tinggi.
Tanpa menunggu jawaban, dia berbalik dan melangkah menuju pintu. Wajahnya masih menyimpan kemarahan. Sesekali terdengar omelannya yang terus berlanjut, bahkan setelah dia keluar dari rumah tersebut.
Tantya hanya memandang kepergian suaminya tanpa berusaha mencegah. Dia kemudian mengembuskan napas panjang.
Bukan soal mobil itu semata. Bukan pula tentang siapa yang berhak menggunakannya. Namun, Tantya mulai menyadari bahwa selama ini terlalu banyak hal yang harus dia korbankan demi menjaga perasaan orang lain, sementara tidak seorang pun benar-benar memikirkan perasaannya.
Kali ini, dia tidak ingin mengalah lagi. Bu Afifah yang sejak tadi memperhatikan pertengkaran Tantya dan Rendra akhirnya menghampiri putrinya. Wajahnya tampak tidak tenang. Dia tahu rumah tangga anaknya sedang tidak baik-baik saja, tetapi melihat Rendra pergi dengan wajah penuh amarah membuat hatinya ikut merasa prihatin.
"Tya, apa yang kamu lakukan tadi tidak keterlaluan?" tanyanya hati-hati.
Tantya menoleh kepada ibunya. Dia kemudian duduk kembali di sofa, meletakkan tasnya di samping, lalu menghela napas panjang.
"Tidak, Bu. Aku sudah sampai di titik jenuh. Justru keluarga Mas Rendra yang keterlaluan."
Bu Afifah duduk di sebelah putrinya. "Memangnya separah itu, Tya?"
Tantya mulai menceritakan apa yang dialaminya selama dua hari terakhir ketika berada di rumah mertuanya. Tentang bagaimana dirinya diperlakukan, bagaimana uang yang sudah dia keluarkan justru masih dipersoalkan, hingga berbagai perkataan yang membuatnya merasa tidak dihargai. Belum lagi sikap Rendra yang seolah selalu membela keluarganya tanpa pernah berusaha memahami perasaan istrinya.
Bu Afifah mendengarkan dengan saksama. Sesekali perempuan paruh baya itu menggelengkan kepala. Sulit baginya memahami mengapa menantunya sendiri bisa memperlakukan putrinya sedemikian rupa.
"Ya Allah, Tya. Kok bisa mereka memperlakukan kamu seperti itu? Padahal selama ini kamu sudah banyak membantu keluarga mereka."
"Itulah, Bu. Aku juga manusia. Aku punya perasaan. Aku bisa sabar, tapi bukan berarti mereka bisa seenaknya memperlakukanku."
Bu Afifah mengusap lengan putrinya pelan.
"Sabar ya, Tya. Jangan sampai kamu mengambil keputusan saat sedang emosi."
Tantya tersenyum tipis. Namun, senyum itu justru terlihat getir. "Kesabaran Tya sudah habis, Bu. Sepertinya Tya mau menggugat cerai."
Bu Afifah langsung menoleh. Matanya membesar, seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.
"Serius, Ty?"
Tantya mengangguk pelan. "Iya, Bu. Tya sudah terlalu lelah. Selama ini Tya selalu berusaha mempertahankan rumah tangga ini. Tya terus mengalah, terus memahami Mas Rendra, bahkan berusaha menerima keluarganya. Tapi apa hasilnya? Tya justru semakin tidak dihargai."
Bu Afifah terdiam. Dia menatap wajah putrinya lekat-lekat. Ada kesedihan yang begitu dalam di sana. Sebagai seorang ibu, tentu dia tidak ingin rumah tangga anaknya berakhir dengan perceraian. Namun, dia juga tidak tega melihat putrinya terus-menerus terluka.
"Kalau memang itu yang kamu pikirkan, Ibu hanya ingin kamu benar-benar mempertimbangkannya, Nak. Jangan sampai nanti kamu menyesal."
Tantya menyandarkan punggungnya ke sofa. Matanya mulai berkaca-kaca. "Justru Tya takut kalau terus bertahan, Bu. Takut suatu hari Tya kehilangan diri sendiri hanya karena terlalu sibuk mempertahankan seseorang yang bahkan tidak pernah berusaha mempertahankan Tya."
Bu Afifah meraih tangan putrinya dan menggenggamnya erat. Kali ini, dia tidak lagi memberikan nasihat panjang. Dia tahu, Tantya bukan sedang mengancam atau sekadar meluapkan kemarahan. Perempuan itu tampaknya benar-benar sudah terluka terlalu dalam.
Bu Afifah mengusap punggung tangan putrinya dengan lembut. Dia bisa melihat betapa berat beban yang selama ini dipikul Tantya. Sebagai seorang ibu, tentu dia berharap rumah tangga anaknya tetap utuh. Namun, dia juga tidak ingin Tantya terus-menerus terluka hanya demi mempertahankan sebuah pernikahan.
"Tya, kamu yang menjalani pernikahan itu. Ibu hanya orang tua yang melihat dari luar. Ibu mungkin tidak sepenuhnya tahu bagaimana rasanya berada di posisimu. Jadi, Ibu selalu mendukung apa pun keputusan yang akan kamu ambil."
Tantya menatap ibunya. Matanya kembali berkaca-kaca.
"Semoga saja keputusan yang kamu ambil nanti benar-benar menjadi jalan terbaik untuk kehidupanmu di masa yang akan datang. Ibu cuma ingin kamu bahagia, Nak. Ibu tidak ingin melihat kamu terus menangis karena seseorang yang seharusnya menjadi tempatmu pulang."
Tantya meraih tangan ibunya, lalu menciumnya dengan penuh kasih. "Terima kasih, Bu."
Bu Afifah tersenyum tipis, kemudian mengusap kepala putrinya.
"Jangan pernah merasa sendirian, Tya. Selama Ibu masih ada, kamu selalu punya tempat untuk pulang."
Kalimat sederhana itu membuat pertahanan Tantya runtuh. Dia memeluk ibunya erat-erat. Kini, setelah beberapa hari terakhir, dia merasa tidak perlu berpura-pura kuat. Di hadapan ibunya, dia boleh menjadi perempuan yang lelah, kecewa, dan membutuhkan tempat untuk bersandar.