NovelToon NovelToon
Tale Of Mumei

Tale Of Mumei

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Kutukan
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Liang Hou

Setelah kematian Nobunaga Oda, selir keempatnya Ogen yang sedang hamil mengasingkan diri ke tepian hutan Kurama bersama beberapa pengawalnya. Dalam pengasingan selir Nobunaga itu melahirkan anak perempuan yang kelak di beri nama Mumei.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liang Hou, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6. Jejak Kaki di Gunung Kurama

​Waktu mengalir bagai arus Sungai Kurama yang tak pernah berhenti bergulir, menyapu dedaunan kering di sepanjang tepiannya dan membawa ingatan masa lalu hanyut menuju muara. Lima tahun telah berlalu sejak malam penuh badai yang menandai kelahiran sang pewaris terakhir garis keturunan Oda—sebuah malam yang menuntut tumpahnya darah dan pengorbanan demi menyembunyikan sebuah rahasia besar dari mata dunia.

​Kini, roda zaman telah berputar menuju tahun 1588. Jepang berada di ambang unifikasi penuh di bawah genggaman besi Toyotomi Hideyoshi, sang Kampaku yang merayap naik dari status prajurit biasa hingga menundukkan hampir seluruh daimyo di tanah ini. Awan mendung peperangan yang dahulu membakar wilayah Kansai kini mulai bergeser perlahan ke arah timur—menuju wilayah Kanto, tempat klan Hojo di Odawara masih berdiri menantang badai kekuasaan Toyotomi yang diperkirakan akan meletus dua tahun lagi.

​Namun, di bawah kanopi hijau hutan Kurama yang selalu diselimuti kabut mistis, waktu seolah berjalan jauh lebih lambat. Di tempat ini, jeritan peperangan dan bisik-bisik intrik politik tenggelam oleh suara deru angin di antara celah pohon-pohon sugi tua dan nyanyian jangkrik di kala senja.

​Di halaman belakang sebuah kuil tua yang tersembunyi jauh di balik lekukan tebing licin, seorang anak perempuan berusia lima tahun sedang berdiri dengan satu kaki di atas ujung tiang bambu. Bambu itu ditancapkan tegak lurus di atas tanah keras berbatu, berdiameter tidak lebih dari tiga jari orang dewasa.

​Anak itu adalah Mumei. Kulitnya seputih salju yang menempel di puncak gunung pada awal musim dingin, tampak kontras dengan rambut hitam legamnya yang diikat sederhana menggunakan pita kain muram ke belakang. Wajah Mumei tampak terlalu tenang untuk bocah seusianya. Tidak ada tawa riang, tidak ada rasa gelisah. Mata kirinya yang berwarna hitam pekat menatap lurus ke depan tanpa berkedip, sementara mata kanannya—jika tertimpa sudut cahaya tertentu—sesekali memancarkan kilatan keunguan tipis yang samar. Kilau itu adalah sisa dari segel spiritual Sojobo, sang Raja Tengu, yang tertanam rapat di dalam celah jiwanya.

​Di bawah tiang bambu, Ogen berdiri memperhatikan setiap inci gestur Mumei. Pakaian kusam sang ibu terayun pelan digoyang angin gunung. Tubuhnya tak lagi seprima dahulu akibat luka lama dan kerasnya kehidupan pelarian, namun mata Ogen tetap menyimpan tajamnya penglihatan salah satu instruktur terbaik dari klan Iga.

​"Fokuskan napasmu, Mumei," suara Ogen meluncur tegas namun menyimpan kelembutan seorang ibu. "Seorang shinobi tidak mengandalkan kekuatan otot untuk menjaga keseimbangan. Otot yang tegang adalah musuh utama dari ketenangan. Carilah keselarasan antara berat tubuhmu, hembusan angin, dan gravitasi bumi di bawah sana."

​Mumei tidak menjawab dengan kata-kata. Bibir mungilnya tertutup rapat. Ia memejamkan mata sejenak, lalu mengembuskan napas perlahan melalui hidungnya—sebuah hembusan halus yang hampir tak memindahkan udara di depannya.

​Angin gunung yang dingin mendadak berembus kencang, menggoyang keras dedaunan pohon cedar di sekeliling halaman kuil. Dahan-dahan besar meliuk melepaskan suara gemerisik yang bising. Namun, tubuh mungil Mumei yang berdiri di atas tiang setinggi dua meter itu tetap bergeming. Ia tidak meliuk secara paksa; ia membiarkan tubuhnya mengikuti irama goyangan bambu tanpa kehilangan titik pusat keseimbangannya. Gerakannya begitu statis dan menyatu, seolah-olah ia adalah tunas muda yang tumbuh alami dari ujung bambu tersebut.

​Hari ini adalah awal dari pelatihan formal pertama Mumei sebagai seorang kunoichi muda. Ogen melatihnya seni dasar Shinobi-aru—jalan sunyi yang mengajarkan cara bergerak tanpa meninggalkan jejak, kepekaan indra melampaui penglihatan, serta pengendalian energi tubuh sejak dini.

​"Cukup untuk hari ini. Turunlah," perintah Ogen seraya melangkah mundur dua langkah.

​Tanpa mengeluarkan suara napas sedikit pun, Mumei melipat lututnya dan melompat turun. Tubuh ringannya meluncur bebas di udara sebelum akhirnya kedua telapak kakinya mendarat di atas tanah berbatu. Tidak ada benturan keras, tidak ada derakan batu. Mendaratnya Mumei sesunyi helai daun gugur yang menyentuh permukaan air—sebuah pencapaian luar biasa bagi seorang anak yang baru memulai pelatihannya selama beberapa minggu.

​Ogen menahan napas sejenak, lalu matanya melunak. Sebuah senyum tipis terukir di wajahnya yang letih. Ia mendekati Mumei, berlutut, dan mengusap rambut hitam putrinya dengan penuh kasih sayang sebelum menyodorkan secangkir kayu berisi air hangat.

​"Minumlah," ucap Ogen pelan. "Langkah kakimu semakin ringan. Kau mewarisi kelenturan klan Iga dengan sangat baik, Mumei."

​Mumei menerima cangkir kayu itu dengan kedua tangan kecilnya. "Terima kasih, Ibu. Tapi aku masih merasakannya..."

​Ogen menaikkan sebelah alisnya. "Merasakan apa?"

​"Angin tadi," jawab Mumei pendek, menatap air di dalam cangkirnya yang bergetar halus. "Saat angin bertiup kencang, aku sempat panik sebentar. Jantungku berdetak dua kali lebih cepat. Ibu pasti mendengarnya."

​Ogen terkekeh pelan, sebuah suara renyah yang jarang sekali terdengar di halaman kuil itu. "Mendengar detak jantungmu dari jarak ini? Ibu memang terlatih, tapi bukan monster, Mumei. Namun, menyadari bahwa jantungmu berakselerasi adalah langkah pertama untuk mengendalikannya kelak. Ketakutan itu alami, yang terpenting adalah tidak membiarkan ketakutan itu mengambil alih kendali atas jemarimu."

​"Langkah kaki yang bagus, memang," sebuah suara berat dan serak menyela dari balik bayangan pohon cedar besar di tepi halaman. "Namun ketakutan yang tersembunyi sering kali keluar lewat celah yang tidak kau duga, Tuan Putri kecil."

​Sosok Tanba Momochi melangkah keluar dari kegelapan bayangan pohon. Wajah sang shinobi senior tampak semakin tajam dipahat oleh garis-garis usia dan luka parut baru di dekat rahangnya. Mata kanannya yang menyipit tidak pernah berhenti memindai sekeliling, sebuah kebiasaan dari kewaspadaan tinggi yang tidak pernah berkurang sedikit pun selama lima tahun terakhir bertindak sebagai pelindung rahasia tempat ini.

​Tanba berjalan mendekat tanpa menimbulkan suara sedikit pun, lalu berlutut di tanah berdebu, menyamakan posisi matanya dengan Mumei.

​"Paman Tanba," panggil Mumei pelan sambil menundukkan kepalanya sedikit, menunjukkan rasa hormat.

​"Saat kau mendarat tadi, anak pintar," tutur Tanba seraya menunjuk ke arah bahu Mumei, "pundakmu terlalu tegang. Kau berfokus penuh pada telapak kaki agar tidak memukul batu, tetapi ketegangan itu menumpuk di bahu dan lehermu. Jika seorang musuh yang terlatih berada hanya dua langkah di belakangmu dalam kegelapan, mereka tidak akan mendengar langkah kakimu... tetapi mereka akan mendengar desau gesekan kain kimonomu akibat gerakan pundak yang tidak perlu itu."

​Mumei terdiam sejenak, meresapi setiap kata-kata sang veteran. Ia mengangkat kedua bahunya, menaikkannya sedikit, lalu melepaskannya hingga jatuh lemas alami.

​"Seperti ini?" tanya Mumei.

​Tanba tersenyum samar, matanya yang keras memancarkan rasa kagum yang tertahan. "Ya. Biarkan tubuh bagian atasmu mengalir seperti air di selokan, sementara kaki lunakmu mencengkeram bumi seperti akar. Mengerti?"

​Mumei mengangguk tegas. "Aku mengerti, Paman Tanba. Aku akan mengulangnya seratus kali lagi besok pagi."

​"Jangan terlalu memaksakan diri, Mumei," sela Ogen lembut. "Tubuhmu masih tumbuh. Masuklah ke dalam gubuk, basuh mukamu, dan bersihkan alat-alat latihanmu. Ibu dan Paman Tanba ada hal yang harus dibicarakan."

​"Baik, Ibu." Mumei membungkuk dalam-dalam kepada Ogen dan Tanba, lalu berbalik dan berjalan menuju gubuk kayu kecil di sudut halaman. Langkahnya kini tampak jauh lebih santai, bahunya terkulai alami persis seperti yang diajarkan Tanba.

​Ogen menatap punggung kecil putrinya hingga pintu gubuk kayu itu terdorong dan tertutup rapat. Kehadiran Tanba dan beberapa ninja Iga pilihan yang menyamar sebagai pemburu dan penebang kayu di sekeliling kaki Gunung Kurama telah memastikan bahwa Mumei dapat tumbuh dengan aman sejauh ini. Mereka adalah benteng tak kasat mata yang membentengi Mumei dari kejamnya persaingan kekuasaan di luar sana.

​Namun, kedamaian di kuil ini terasa rapuh seperti lapisan es pertama di awal musim dingin. Dan ada satu kecemasan mendalam yang telah mengusik pikiran Ogen selama beberapa bulan terakhir.

​Setelah memastikan Mumei benar-benar sibuk di dalam rumah, Ogen berbalik. Raut wajahnya berubah seketika; kehangatan seorang ibu berganti dengan kecemasan seorang pemimpin yang memikul beban berat.

​"Tanba," panggil Ogen dengan suara yang ditahan agar tidak terbang terbawa angin. "Bagaimana situasi di luar sana? Sudah hampir setengah tahun Hanzo tidak berkunjung atau mengirimkan satu pun burung pembawa pesan ke kuil ini. Ini tidak seperti biasanya. Apakah ada hal buruk yang terjadi padanya? Apakah posisinya di klan Tokugawa terancam?"

​Tanba menghela napas panjang. Ia menarik napas dalam-dalam, mengembuskannya dengan berat seolah membawa beban ribuan nyawa di pundaknya. Ia melipat kedua tangannya di dalam lengan baju hitamnya.

​"Hanzo-sama dalam kondisi baik secara fisik, Ogen-sama. Namun, situasinya di Kyoto, Osaka, dan Mikawa saat ini berada di titik paling kritis selama satu dekade terakhir," jawab Tanba dengan nada berbisik yang amat rendah. "Hideyoshi tidak lagi sekadar berencana. Saat ini, sang Kampaku tengah mengumpulkan seluruh kekuatan militer dari klan-klan barat. Puluhan ribu prajurit, ratusan kapal logistik, dan pasokan beras tak terhitung jumlahnya sedang dimobilisasi untuk mempersiapkan kampanye raksasa guna menundukkan klan Hojo di Odawara. Seluruh wilayah Kanto akan segera berubah menjadi lautan api."

​Tanba melangkah satu tapak lebih dekat ke arah Ogen, membelakangi gubuk agar suaranya teredam penuh oleh tubuhnya.

​"Sebagai sekutu formal Toyotomi untuk sementara waktu—setidaknya sampai kekuatan Ieyasu-sama cukup kuat untuk berdiri sendiri—klan Tokugawa wajib mengirimkan pasukan besar dan ikut serta dalam persiapan kampanye ini. Hanzo-sama kini harus terus bergerak tanpa henti, berada di dalam bayang-bayang perjalanan antara Kyoto, Osaka, dan Mikawa."

​"Mengapa dia harus bergerak sesering itu?" tanya Ogen, alisnya bertaut. "Apakah Hideyoshi mencurigai sesuatu?"

​"Bukan hanya mencurigai, Ogen-sama. Jaringan mata-mata Hideyoshi—terutama kelompok shinobi yang dulu berada di bawah komando mendiang Takenaka Hanbei—kini disebarkan ke setiap sudut kota pelabuhan dan celah gunung," jelas Tanba dengan mata tajam. "Hanzo-sama harus memimpin sendiri seluruh jalur informasi klan kita. Beliau bertarung setiap malam di lorong-lorong gelap Kyoto untuk membunuh mata-mata Toyotomi yang mencoba mencari tahu tentang pergerakan rahasia Tokugawa. Beliau melakukan semua itu hanya demi satu hal: memastikan bahwa di tengah mobilisasi pasukan besar-besaran ini, tidak ada satu pun intel Toyotomi yang mencium keberadaan kalian di Kurama."

​Ogen memejamkan matanya rapat-rapat. Jemarinya mencengkeram kain kimononya sendiri hingga memutih. Hatinya berdenyut perih membayangkan sepupunya, Hattori Hanzo, harus mempertaruhkan nyawa dan kehormatannya setiap hari di tengah sarang musuh demi melindungi seorang anak kecil yang bahkan tidak boleh mencatat namanya di dalam sejarah.

​"Jadi... Hanzo sedang bertarung di baris depan dalam bayangan," gumam Ogen lirih. "Menari di atas mata pisau demi membendung bahaya agar tidak sampai ke gunung ini."

​"Benar, Ogen-sama," tegas Tanba. "Pergerakan ninja musuh di sekitar kaki gunung ini memang sempat berkurang beberapa bulan terakhir, tapi itu bukan karena mereka menyerah. Itu semata-mata karena fokus utama Hideyoshi saat ini teralih penuh ke persiapan perang Odawara. Namun kita tidak boleh lengah sedikit pun. Sekali saja ada celah kecil yang bocor, pasukan Toyotomi akan meratakan tempat ini dalam semalam."

​Tanba menatap mata Ogen dengan keteguhan yang tak tergoyahkan. "Setiap detak jantung Mumei saat ini dilindungi oleh darah dan nyawa ratusan shinobi Iga yang bertaruh nyawa di luar sana tanpa pernah meminta imbalan."

​Ogen menahan napasnya, lalu mengangguk perlahan. Rasa hormat dan duka menyatu dalam dadanya. Ia memutar tubuhnya, menatap ke arah jendela gubuk kayu yang terbuka sedikit.

​Di dalam sana, di bawah remang cahaya pelita minyak bersumbu pendek, Mumei sedang duduk bersila di atas tikar jerami. Anak perempuan berumur lima tahun itu sedang menyapu permukaan kunai kecil pertamanya menggunakan selembar kain minyak dengan penuh ketelitian. Ia mengusap bilah besi dingin itu perlahan, memperhatikan pantulan mata kirinya di atas permukaan logam yang mengilat.

​Mumei sama sekali tidak menyadari bahwa di luar sana, di balik ketenangan kabut Kurama yang damai, pusaran badai sejarah Jepang sedang berputar kencang dengan kejam—seseorang bertaruh nyawa, darah menetes di lorong-lorong Kyoto, dan sebuah klan besar bersiap runtuh—hanya demi melindunginya agar tetap berada dalam kegelapan yang aman.

​Setidaknya, untuk saat ini.

1
Xiao Qiao
keknya makanan kesukaan dia babi asap nih 🤣
Xiao Qiao
😭
Friend_A
bagus
Xiao Qiao
ngakak tengil bnget nih bocah wkwk🤣
Liang Hou: sesuai sifat aslinya kak 😭😭
total 1 replies
Xiao Qiao
bentar banget thor pertarungannya
Liang Hou: masih agak bingung bikin pertarungan panjang lawan Yokai 🙏
total 1 replies
Xiao Qiao
hmm lumayanlah untuk fiksi sejarah, tapi politiknya terlalu kental jadi agak susah dicerna
Liang Hou: thanks udah baca
total 1 replies
Liang Hou
🤏
penajalanan_
gak jelas banget authornya arc 1 gini doang
penajalanan_
kurang menarik
penajalanan_
bertele-tele sampah
penajalanan_
campur aduk, ini cerita sejarah apa fantasi sih. Sejak kapan tengu ikut perang, lagian mana ada tengu di desa tengu itu tinggal di gunung
penajalanan_
sotoi, Takenaka Hanbei aja udah meninggal tahun 1579 masa ketemu sama Hanbei saat menuju Yamazaki emangnya bisa hidup lagi?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!