Ophelia (31), karyawan biasa di perusahaan terkaya di Indonesia, sudah kebal dengan pertanyaan "kapan nikah?" di setiap pertemuan keluarga. Ia tidak anti-cinta, ia hanya terlalu sering mendengar keluhan tentang beratnya pernikahan.
Lalu datanglah Navin (28), CEO dingin dengan lidah setajam silet. Dalam pertemuan pertama, kalimatnya melukai Lia. Yang tidak Lia tahu, sejak detik itu Navin tidak bisa berhenti memikirkannya. Navin jatuh lebih dulu, menyangkalnya, lalu jatuh jauh lebih dalam dari yang pernah ia bayangkan. Ketika restu keluarga menjadi tembok, dialah yang hancur paling parah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna Jivana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3 Martabak dan Ketakutan
Rabu malam, Lia berdiri di depan pintu apartemen Nica dengan sekotak martabak manis di satu tangan dan kantong plastik berisi dua cup es teh di tangan lain. Ia menekan bel dua kali, jeda, lalu sekali lagi, kode yang mereka sepakati sejak kuliah.
Pintu terbuka. Nica muncul dengan piyama bergambar kucing, rambut digelung asal, dan wajah yang langsung cerah begitu melihat kotak di tangan Lia.
"Rasa cokelat keju?"
"Menurutmu aku temanmu sejak kapan?"
"Sejak semester satu. Masuk, masuk."
Apartemen Nica kecil tapi hangat: sofa abu-abu yang sudah melengkung bentuknya, rak buku yang dipenuhi novel dan map kerja, dan tumpukan bantal di lantai. Nica bekerja di sebuah perusahaan konsultan di seberang kota, dan ia tidak pernah kehabisan cerita tentang klien yang tidak masuk akal. Malam ini pun begitu, sampai Lia memotongnya dengan pelan.
"Besok aku bertemu CEO."
"Aku tahu. Semua orang tahu. Grup alumni sudah heboh." Nica menyuap sepotong martabak. "Katanya tampan."
"Katanya galak."
"Bisa dua-duanya, kan?"
"Bisa. Tapi galak menghapus poin tampan." Lia menarik bantal ke pangkuan. "Aku sudah bertemu banyak laki-laki yang mengira ketegasan itu sama dengan boleh menginjak orang."
Nica tidak langsung menjawab. Ia meletakkan garpu dan menatap sahabatnya. Tiga belas tahun berteman, dan Nica tahu perbedaan antara Lia yang sedang bercanda dan Lia yang sedang menyembunyikan sesuatu.
"Ini bukan soal CEO."
Lia tersenyum tipis. "Kamu ini dukun, ya."
"Cerita."
Lia menatap kotak martabak sebelum mulai bicara. Ia menceritakan Dinda dan pesan di ponsel itu. Ia menceritakan Sekar dan ulang tahun yang dilupakan. Ia menceritakan kolega laki-lakinya yang pernah berkata, sambil tertawa, bahwa istri punya masa kedaluwarsa di mata suami. Ia bercerita tanpa emosi berlebih, tapi Nica tahu setiap kalimat itu menumpuk di dada Lia seperti batu.
"Aku sudah tiga puluh satu, Nic. Semua orang mengira aku sedang menunggu sesuatu. Padahal aku tidak menunggu. Aku..." Ia mencari kata yang tepat. "Aku menimbang."
"Menimbang apa?"
"Apakah risiko itu layak diambil. Orang-orang yang menikah itu, semuanya yakin waktu di pelaminan. Semuanya tersenyum. Dua tahun kemudian mereka menangis di pantry kantor."
"Jadi kamu takut."
Kata itu jatuh di antara mereka seperti sendok di lantai kosong. Lia ingin membantah, ingin menjawab dengan salah satu kalimat savage andalannya. Tapi yang keluar hanya, "Mungkin."
Nica menggeser duduknya, lalu menggenggam tangan Lia. "Lia, dengar. Takut itu bukan larangan. Takut itu cuma tanda bahwa kamu peduli pada akibatnya."
"Kalau aku terlalu peduli sampai tidak pernah melompat?"
"Maka kamu tidak melompat. Sampai ada seseorang yang membuatmu ingin, bukan karena dipaksa keadaan."
"Rio dulu juga kelihatan seperti itu," gumam Lia. "Sebelum aku lihat dia membentak pelayan restoran cuma karena minumannya terlambat lima menit."
"Dan Bimo?"
"Bimo baik. Sangat baik. Sampai dia bilang, dengan tulus, bahwa setelah menikah aku tidak perlu bekerja lagi, karena istri yang baik itu di rumah." Lia menirukan nada suara Bimo, dan Nica tertawa sampai hampir tersedak es tehnya. "Aku menolak dia bukan karena dia jahat. Aku menolak karena dia tidak pernah bertanya apa yang kumau."
"Standarmu tinggi, ya?"
"Menurutmu begitu?"
"Menurutku standarmu manusiawi. Yang tidak manusiawi itu pilihan laki-laki yang selama ini kamu temui."
Lia tertawa, dan tawa itu melepas sesuatu di dadanya. Untuk beberapa saat mereka hanya duduk berdampingan, menonton acara memasak yang sudah tidak diperhatikan siapa pun.
"Nic," kata Lia kemudian, pelan. "Kamu tahu apa yang paling menyebalkan? Orang tuaku bahagia."
"Itu menyebalkan?"
"Sangat. Kalau saja mereka bertengkar terus, aku bisa bilang pernikahan memang begitu, lalu berhenti berharap. Tapi aku melihat sendiri, tiga puluh empat tahun, Ayah masih menuangkan teh untuk Ibu sebelum untuk dirinya sendiri. Aku tahu itu mungkin. Dan justru karena tahu, aku tidak bisa menerima yang setengah-setengah."
Nica tersenyum. "Berarti kamu bukan takut menikah. Kamu takut salah memilih."
Lia terdiam. Kalimat itu terlalu tepat untuk dibantah, dan terlalu menyebalkan karena keluar dari mulut orang yang sedang mengunyah martabak.
Ponsel Nica berdenting. Wajahnya berubah, sedikit merona, sebelum ia sempat menyembunyikannya di balik bantal.
"Basti?" tebak Lia.
"Bukan."
"Nica."
"Iya," Nica mengaku dengan suara kecil. "Dia cuma tanya aku sudah makan atau belum."
Lia mengangkat alis tinggi-tinggi. Ia tahu, sejak lama, bahwa Basti menyimpan rasa untuk perempuan di sampingnya ini. Ia hanya belum yakin apakah rasa itu bertepuk sebelah tangan. "Dia selalu tanya kamu sudah makan atau belum. Sejak SMA."
"Kamu jangan mulai."
"Aku tidak bilang apa-apa."
"Alismu bilang banyak."
"Kapan kamu mau bilang padanya?"
"Kalau aku bilang dan dia cuma menganggapku sahabat, semuanya jadi canggung. Kita bertiga tidak akan bisa duduk bareng lagi."
"Kalau tidak dibilang, kalian berdua akan tua sambil saling tanya sudah makan atau belum."
Nica melempar bantal ke wajah Lia, dan Lia menangkapnya dengan satu tangan.
Lia tertawa lagi. Untuk urusan cinta orang lain, ia jauh lebih santai daripada untuk urusannya sendiri. Dalam hati ia berjanji, suatu hari nanti, ia akan mendorong dua orang keras kepala ini sampai jatuh ke pelukan satu sama lain.
Menjelang pukul sepuluh, Lia berpamitan. Nica mengantarnya sampai pintu dan memeluknya erat.
"Besok kamu pasti baik-baik saja."
"Kalau dia memarahiku?"
"Balas dengan satu kalimat savage. Kamu ahlinya."
"Kalau dia atasanku?"
Nica berpikir sejenak. "Balas dengan senyum. Itu lebih menakutkan."
Di luar, Bandung basah oleh gerimis tipis. Di taksi daring, Lia menyandarkan kepala ke jendela dan membiarkan lampu-lampu kota melintas, menghitung dalam hati berapa jam lagi sampai ia harus berdiri di lobi. Ia teringat wajah Ayah yang menatapnya di ruang tamu Nenek, lelah dan lembut. Ia ingin membuat Ayah dan Ibu bangga tanpa harus menukar hidupnya dengan siapa pun. Tapi bagaimana kalau suatu hari ia bertemu seseorang yang membuat pertukaran itu terasa layak? Pertanyaan itu terlalu berbahaya untuk dijawab pukul sepuluh malam, jadi ia menyimpannya. Percakapan malam itu masih menggantung di kepalanya. Bukan karena dipaksa keadaan. Ia tidak tahu apakah kalimat itu akan pernah menjadi kenyataan, tapi setidaknya untuk pertama kali dalam beberapa hari, ia merasa ringan.
Ponselnya bergetar sekali lagi. Pesan dari Bu Retno.
Bu Retno: Semua staf hadir pukul 06.30 besok. Berpakaian rapi. Tolong jangan terlambat.
Lia menghela napas. Ia menatap layar sambil membayangkan pria yang belum pernah ia temui itu, pria dingin yang membuat satu gedung lupa cara bernapas.
Baiklah, Tuan CEO, pikirnya. Aku siap.
Ia tidak tahu bahwa tidak ada persiapan apa pun yang cukup untuk pria yang akan datang esok pagi.