Aku mempunyai kemampuan bisa melihat hari kematian semua orang termasuk diriku sendiri. Tapi justru aku di anggap aneh dan pembawa sial bagi keluarga ku sendiri dan juga orang lain. Tapi hanya satu yang peduli padaku yaitu kakekku sebelum dia meninggal
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my queen , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Keesokan paginya, aku terbangun dengan perasaan yang teramat jenuh. Sungguh membosankan jika seharian penuh aku hanya bisa berbaring pasrah di atas ranjang rumah sakit yang kaku ini. Karena rasa bosan yang sudah tidak tertahankan lagi, aku memutuskan untuk beranjak turun. Dengan langkah kaki yang masih agak lemas, aku berjalan perlahan menuju balkon kamar rawat, lalu berdiri di sana sembari memandang langit pagi yang terlihat begitu cerah dan bersih.
Hembusan angin pagi yang sejuk perlahan-lahan menerpa wajahku, menyamarkan aroma obat-obatan yang sejak kemarin menusuk indra penciumanku.
Namun, kedamaian kecil itu mendadak terusik saat suara geseran pintu kaca dari dalam kamar rawatku terdengar bergerak. Aku menoleh perlahan, dan mendapati sosok Kak Ethan baru saja melangkah masuk ke dalam ruangan dengan setelan kemeja kerjanya yang rapi. Begitu mata elangnya menangkap posisiku yang sedang berdiri di luar balkon, guratan panik seketika tercetak jelas di dahinya.
"Kenapa kamu turun dari tempat tidur? Berbaringlah kembali, nanti kamu kecapekan," ucap Kak Ethan beruntun dengan suara baritonnya yang berat, sarat akan rasa khawatir yang teramat besar.
Tanpa menunggu balasanku, ia langsung berjalan lebar menghampiriku, meraih lengan ringkihku dengan teramat hati-hati, lalu membimbingku untuk kembali berjalan ke arah brankar. Kak Ethan membantuku berbaring perlahan agar posisi tubuhku nyaman, lalu jemarinya bergerak takzim merapikan selimut hangat yang membungkus tubuhku.
Aku menatap wajah lelahnya yang tampak sedikit kuyu—mungkin karena semalaman ia tidak tidur demi memeriksa dokumen atau merenungkan rahasia masa lalu. "Aku... aku hanya bosan, Kak," ucapku lirih, memberikan alasan yang polos atas kenekatanku pagi ini.
Setelah tubuhku kembali berbaring dengan nyaman di atas brankar, aku menatap Kak Ethan yang kini sedang duduk di kursi besi samping tempat tidurku. Rasa penasaran yang membubung sejak kemarin membuatku memberanikan diri untuk membuka suara.
"Kak ... apa Kakak sudah membaca buku harian dari Mama?" tanyaku pelan, menatap lurus ke arah sepasang mata elangnya.
"Belum," jawab Kak Ethan dengan suara baritonnya yang berat. Ia mengembuskan napas pendek, lalu merogoh tas kerja kulitnya yang diletakkan di atas meja nakas. Saat tangannya terulur kembali, sebuah buku bersampul usang dengan warna yang telah memudar kini berada di genggamannya. "Kakak baca di sini saja, bersamamu."
Jantungku seketika berdesir aneh melihat buku kuno tersebut. Rahasia besar mendiang Mama yang selama puluhan tahun terkunci di bawah tempat tidur lipat gudang lantai tiga, akhirnya kini berada di atas selimut rumah sakit ini.
"Baca saja, Kak," ucapku tulus, mengangguk kecil untuk meyakinkannya.
"Baiklah," jawab Kak Ethan samar.
Dengan gerakan yang teramat pelan dan penuh kehati-hatian—seolah takut lembaran kertas yang sudah menguning itu akan hancur jika disentuh kasar—Kak Ethan mulai membuka halaman pertama dari buku harian Mama. Suasana di dalam kamar rawat serba putih yang tadinya sunyi mendadak terasa begitu pekat dan menegangkan, bersiap menyambut untaian kebenaran ghaib yang akan segera menjungkirbalikkan seluruh takdir keluarga Adipta.
Dengan jemari yang sedikit bergetar, Kak Ethan mulai membacakan untaian kalimat yang tertulis di atas lembaran kertas usang yang telah menguning itu. Suara baritonnya terdengar rendah dan serak, menggema di dalam kamar rawatku yang sunyi.
"Hari ini Bella bilang dia bisa melihat tulisan tanggal di telapak tangan ayahnya. Hatiku seketika bergetar hebat saat mendengarnya. Karena sejak kecil, aku pun bisa melihat hal yang sama. Kukira di dalam keluarga besar ini hanya aku yang dikutuk untuk melihat akhir takdir orang lain, tetapi ternyata putri kecilku, Bella, juga bisa melihatnya.
Kalau kemampuan ghaib ini memang diturunkan melalui darah, aku sangat berharap semoga Bella tidak perlu merasakan ketakutan dan kesepian yang teramat sangat sepertiku. Ini bukanlah kutukan pembawa sial. Ini adalah hal istimewa di mana kita diberikan mata untuk melihat sesuatu yang tidak bisa dilihat oleh orang lain. Dan kuharap ... kuharap semua saudara-saudaranya tidak ada yang membenci atau menjauhinya jika suatu saat nanti mereka mengetahui rahasia istimewa yang dimiliki Bella ...."
Suara Kak Ethan mendadak tercekat. Pria itu menghentikan bacaannya sejenak, meremas pinggiran halaman buku dengan sangat erat hingga buku-buku jarinya memutih. Air mata penyesalan yang sejak tadi ditahannya kini luruh, menetes membasahi tulisan tangan mendiang Mama.
Harapan tulus Mama agar kami saling menyayangi, telah mereka hancurkan berkeping-keping dengan mengurungku di gudang lantai tiga selama belasan tahun.
Dengan sisa tenaga dan napas yang terasa sesak, Kak Ethan kembali memaksa dirinya untuk membaca baris berikutnya.
"Aku sengaja menulis sebuah surat rahasia untuk Bella. Jika suatu hari nanti aku sudah tiada, kuharap Bella bisa menemukan surat itu. Aku menyimpannya di sebuah tempat tersembunyi, di mana hanya Bella saja yang bisa menemukannya ...."
Klik.
Kak Ethan langsung menutup buku harian Mama dengan perlahan. Ia meletakkannya di atas meja nakas, lalu menundukkan kepalanya dalam-dalam di atas lipatan lengan. Bahunya berguncang hebat di samping brankarku. Pria yang biasanya selalu tegap dan angkuh sebagai kepala keluarga itu kini tampak begitu hancur, terluka, dan dirundung oleh rasa bersalah yang teramat sangat parah.
Aku menatapnya dari atas tempat tidur dengan mata yang ikut berkaca-kaca. Kesunyian kamar rawat ini mendadak dipenuhi oleh sisa isak tangis Kak Ethan yang berusaha keras menenangkan badai emosi di dalam dadanya. Kebenaran dari masa lalu telah telanjang di depan kami, membuktikan bahwa ketakutan mereka selama dua puluh tahun ini hanyalah kesalahpahaman pengecut yang telah merenggut masa kecilku.
Setelah berhasil menenangkan gemuruh di dadanya, Kak Ethan mendongak perlahan. Sepasang matanya yang memerah dan bengkak menatapku dengan sorot yang sarat akan kelembutan dan rasa bersalah yang teramat dalam.
"Apakah kamu sudah menemukan surat dari Mama, Bella?" tanya Kak Ethan, suaranya terdengar parau memecah kesunyian kamar rawat.
Aku menundukkan kepala sejenak, memilin ujung selimut putih rumah sakit dengan jemari yang lemas. "Belum, Kak," jawabku lirih. Aku menjeda kalimatku selama beberapa saat demi menahan sesak yang mendadak kembali menghimpit dada. "Aku sudah mencarinya ke mana-mana di dalam gudang selama bertahun-tahun ini ... tapi sampai sekarang aku tidak pernah menemukan surat itu."
"Aku akan mencarinya untukmu," potong Kak Ethan cepat dengan nada suara yang penuh keyakinan."
Apa?" Aku mendongak dengan tatapan kaget. Rasa tidak percaya seketika merayap di benakku. Pria yang selama dua puluh tahun ini selalu melarangku menyentuh barang-barang peninggalan keluarga, kini mengajukan diri untuk membantuku?
"Kakak akan mencari surat Mama yang dititipkan untukmu itu. Kakak akan membongkar seluruh sudut rumah sampai menemukannya dan memberikannya padamu," ucap Kak Ethan tegas. Sorot mata elangnya memancarkan tekad yang teramat kuat, seolah hal ini adalah misi hidup-mati yang harus ia selesaikan demi menebus seluruh dosa masa lalunya padaku. "Pasti ... Kakak pasti akan menemukannya, Bella."
Air mata haru yang hangat perlahan merebak di sudut mataku. "Terima kasih banyak, ya, Kak," ucapku tulus dengan segaris senyuman paling manis yang bisa kuukir.
Kak Ethan mengangguk samar, lalu mengulurkan tangannya yang besar dan hangat untuk merapikan kembali lipatan selimut di dadaku. "Sekarang, kamu istirahatlah yang cukup supaya bisa cepat sembuh. Kamu harus segera pulang ke rumah dengan cepat. Olivia ... adik kecilmu itu pasti sudah sangat merindukanmu di rumah.
"Aku hanya bisa mengangguk pelan sebagai balasan, membiarkan tubuhku kembali bersandar pada bantal brankar yang empuk. Begitu Kak Ethan kembali berbalik menuju sofa untuk berbenah, aku memejamkan mata erat-erat dengan hati yang terasa begitu penuh. Misteri tentang tempat tersembunyi yang hanya kuketahui mulai berputar liar di dalam kepalaku, berkejaran dengan rasa tidak sabar untuk melihat kejutan apa yang sebenarnya ingin Mama sampaikan padaku dua puluh tahun yang lalu.
"Kakak harus ke kantor sekarang, hari ini ada meeting penting. Kamu istirahat yang baik, ya. Kakak pamit dulu," ucap Kak Ethan sembari merapikan kembali jas kantornya dan bersiap untuk beranjak pergi.
Aku tidak menjawab dengan kata-kata, hanya menganggukkan kepalaku pelan sebagai tanda bahwa aku mengerti kesibukannya.
Kak Ethan bangkit berdiri dari kursi besi, berbalik, dan melangkah lebar menuju pintu keluar. Namun, tepat sebelum jemari tangannya menyentuh gagang pintu kaca, langkah kaki kakak sulungku itu mendadak terhenti kaku. Ia tidak membalikkan badannya sepenuhnya, tetapi suara baritonnya yang berat kembali menggema di dalam kamar rawatku yang sunyi.
"Sesudah keluar dari rumah sakit nanti, kamu jangan tinggal di kamar gudang lantai tiga lagi," ucap Kak Ethan penuh penekanan. Ia menjeda kalimatnya sejenak, lalu menoleh sekilas ke arahku dengan sorot mata yang sarat akan janji perlindungan. "Nanti akan Kakak bantu untuk pindah ke lantai dua, di kamar yang bersebelahan langsung dengan Olivia."
Setelah mengucapkan kalimat yang seketika membuat duniaku serasa berhenti berputar itu, Kak Ethan langsung membuka pintu dan melangkah keluar, menutupnya kembali dengan rapat dan pelan.
Aku terpaku diam di atas brankar, menatap nanar ke arah pintu kayu yang kini telah tertutup. Air mata yang sejak tadi sekuat tenaga kutahan akhirnya luruh juga, membasahi pipiku yang kian memucat.
Lantai dua. Kamar di sebelah Olivia.
Selama dua puluh tahun hidup terasing dan dibuang ke kerak paling atas rumah yang dingin, aku bahkan tidak pernah berani memimpikan hal itu. Berada di lantai yang sama dengan saudara-saudaraku yang lain, menghirup udara yang sama tanpa perlu bersembunyi dalam kegelapan sepertiga malam, terasa seperti sebuah kemewahan yang teramat semu. Di dalam keheningan kamar rawat ini, aku meremas selimutku erat-erat sembari menangis tanpa suara, membiarkan rasa haru yang luar biasa besar membuncah di dalam dadaku. Kak Ethan benar-benar sedang menepati janjinya untuk menarikku kembali ke dalam pelukan keluarga yang sesungguhnya.
Aku masih terpaku menatap pintu yang baru saja tertutup rapat. Keheningan kamar rawat ini mendadak terasa begitu asing setelah rentetan perhatian yang kuterima pagi ini. Pertanyaan-pertanyaan yang sejak kemarin tertahan di ujung lidahku kini perlahan membumbung ke permukaan, memicu debaran tidak keruan di dalam dadaku.
"Kak Ethan ... kenapa tiba-tiba berubah menjadi sangat baik padaku?" bisikku lirih pada kesunyian ruangan, suaranya bergetar hebat menahan rasa tidak percaya. "Apa ... apa karena dia sudah membaca buku harian milik Mama?"
Perubahan drastis dari sikap kakak sulungku itu terasa seperti mimpi di sepertiga malam. Pria yang selama belasan tahun selalu memandangku dengan mata elangnya yang sedingin es dan menjaga jarak seolah aku adalah wabah penyakit, kini menjelma menjadi sosok pelindung yang bersumpah akan memenuhi segala kebutuhanku. Rasa kaget bercampur haru yang luar biasa besar membuatku meremas selimut putih rumah sakit ini dengan jemari yang kian bergetar.
****
Sementara itu, di belahan tempat lain, sebuah mobil sedan hitam bergerak membelah jalanan kota yang padat. Di kursi belakang, Ethan duduk terdiam sembari menatap hampa ke arah luar jendela kaca.
Suara klakson kendaraan di jalanan sama sekali tidak mampu membuyarkan lamunan kelam yang mengunci fokusnya. Pria itu merenung di sepanjang perjalanan menuju kantornya, membiarkan dadanya dihantam oleh segudang penyesalan yang teramat sangat menyiksa batin atas segala kekejamannya pada Bella selama dua puluh tahun ini.
Setiap kali bayangan wajah pucat Bella di atas brankar melintas di benaknya, rasa sesak laksana mencekik parunya kembali datang.
Buku harian mendiang Mama yang kini tersimpan rapi di dalam tas kerjanya telah menelanjangi seluruh dosa keegoisan jajaran kakak laki-laki keluarga Adipta. Selama ini, ia memimpin keluarga dengan keyakinan angkuh bahwa mengurung Bella di gudang lantai tiga adalah hal paling logis demi melindungi adik-adiknya. Namun, barisan kalimat tulisan tangan Mama membuktikan sebaliknya: mereka tidak sedang memutus kutukan, melainkan sedang menyiksa seorang anak tidak berdosa yang menanggung beban takdirnya sendirian dalam kegelapan.
Genggaman erat jemarinya pada pegangan kursi mengeras, seiring dengan tekad mutlak yang kian mengunci jiwanya untuk menebus seluruh kesalahan itu, apa pun risikonya.
Di tengah deru mesin mobil sedan hitam yang membelah kemacetan jalanan, Ethan tidak ingin menunda waktu lebih lama lagi. Rasa bersalah yang terus bergemuruh di dadanya memaksa pria itu untuk segera mewujudkan janji yang baru saja ia ucapkan di depan brankar Bella tadi.
Dengan gerakan cepat, ia merogoh saku jas kantornya, mengambil ponsel, dan langsung mencari nama kontak "Olivia". Begitu tombol panggil ditekan, ia menempelkan benda pipih itu ke telinga sembari menatap lurus ke depan dengan sorot mata elang yang penuh tekad mutlak.
Tut... Tut...
Panggilan itu tidak membutuhkan waktu lama untuk tersambung. Suara cempreng bernada ceria khas adik bungsunya seketika terdengar dari seberang pelantang suara. "Halo, Kak Ethan? Ada apa?"
"Olivia," panggil Ethan, suara baritonnya terdengar begitu tegas, lugas, dan tidak menerima bantahan apa pun. "Kakak ingin kamu melakukan satu hal penting di rumah sekarang juga."
"Hal penting apa, Kak?" tanya Olivia di seberang sana, nadanya mendadak berubah bingung bercampur penasaran karena mendengar keseriusan suara kakak sulungnya.
"Siapkan kamar kosong yang berada tepat di sebelah kamarmu di lantai dua," perintah Ethan tanpa basa-basi. Ia menjeda kalimatnya sejenak, menarik napas dalam demi menetralkan rasa sesak yang kembali merayap di dadanya. "Bersihkan seluruh ruangannya, ganti sprei tempat tidurnya dengan yang baru, dan pastikan fasilitas pendingin ruangan di sana berfungsi dengan baik. Kamar itu ... akan menjadi kamar baru untuk Bella setelah dia keluar dari rumah sakit nanti."
Keheningan total mendadak melanda sambungan telepon itu selama beberapa detik. Di seberang sana, Olivia tampaknya terbelalak kaget bercampur tidak percaya. Selama belasan tahun, ia selalu melihat jajaran kakak laki-lakinya mati-matian mengurung Bella di dalam kegelapan gudang lantai tiga. Mendengar perintah mendadak dari sang kepala keluarga untuk menarik kembali si "anak pembawa sial" ke lantai dua, membuat dunianya serasa berputar balik.
"Kak... Kak Ethan serius?!" seru Olivia akhirnya, suaranya naik satu oktav karena terlalu terkejut sekaligus bahagia yang luar biasa. "Kakak benar-benar mau memindahkan Kak Bella ke lantai dua? Di sebelah kamarku?!"
"Iya, Kakak serius," jawab Ethan lirih, setitik air mata penyesalan kembali mendesak di sudut matanya yang lelah. "Bella tidak akan pernah menginjakkan kakinya lagi di gudang lantai tiga itu, Olivia. Mulai hari ini, dia akan tinggal bersama kita di lantai dua. Lakukan perintah Kakak sekarang, dan jangan biarkan Charles atau Aaron mengacaukan persiapan ini."
eh ia nanti mampir di Novel aku yaaa~