NovelToon NovelToon
Dia Pemegang Kendali Hidupku

Dia Pemegang Kendali Hidupku

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat / Sistem
Popularitas:598
Nilai: 5
Nama Author: MegaHerdian

Cerita ini menceritakan seorang gadis yang mengalami peristiwa yang sangat tragis, karena kecelakaan yang dialami nya, dia harus duduk di kursi roda sebagai penyangga hidupnya, entah lelaki mana yang masih mau menerima nya sekarang, dokter mengatakan semuanya sementara, namun ini sudah hampir lima tahun da dirinya masih duduk di kursi roda. Entahlah, hidupnya mungkin akan berakhir seperti itu selamanya, namun di saat detik detik terakhir dalam hal terpuruk nya. Dia datang, seolah membawa harapan yang selama ini dia inginkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MegaHerdian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27

Grace memutuskan untuk melibatkan Lisa, adik kandungnya Teo. Lisa adalah seorang gadis muda yang cerdas dan saat ini sedang kuliah di jurusan akting di sebuah universitas seni ternama. Bakat akting nya cukup luar biasa, di dukung oleh wajahnya yang polos dan melankolis, sangat mudah untuk memanipulasi emosi orang yang melihatnya.

Keesokan harinya, Grace mengundang Lisa ke penthouse mereka. Di ruang tengah yang mewah, Grace secara gamblang membeberkan garis besar rencana nya dengan sangat tenang, sementara Teo hanya duduk menyimak dengan tatapan yang masih di penuhi bayang bayang Layla.

Saat mendengarkan penjelasan dari Grace iparnya itu, Lisa tidak terlalu terkejut lagian hal seperti ini sudah biasa, apalagi itu Kaka iparnya sendiri yang membantu nya.

Lisa sebenarnya tidak peduli dengan rumah tangga kakaknya atau bahkan orang tuanya sekalipun, karena menurut nya, lebih baik memikirkan diri sendiri dari pada orang terdekatnya, belum tentu saudara dan orang tuanya juga memikirkan hidupnya, jadi yang sudah ya sudahlah.

“Aku butuh bakatmu untuk sebuah pementasan nyata , ku pikir kau pasti senang “ ucap Grace sambil menyodorkan sebuah skenario yang telah ia susun rapi.

“Kau mungkin harus tinggal di sebuah desa terpencil dan menjadi gadis lumpuh yang lemah tak berdaya” ucap Grace lagi.

Mendengar ide gila itu, Lisa sempat terperangah tidak percaya dengan skenario kakak iparnya itu, namun darah manipulatif keluarga mereka yang turun temurun dan mendarah daging membuat kedua matanya mulai berbinar tertarik.

Rencana Grace sangat rapi, dengan skenario yang serinci ini membuat Lisa penasaran dengan sosok wanita yang di inginkan Teo kakaknya itu, walaupun dia harus berperan sebagai gadis lemah yang menggunakan kursi roda dan pindah ke desa terpencil tempat tinggal wanita itu, di skenario juga tertulis Lisa menjadi gadis malang yang lumpuh akibat kecelakaan dan di buang oleh keluarganya sendiri, sungguh tragis.

Sedikit cerita tentang Lisa, Lisa adalah anak bungsu dari tiga bersaudara di dalam keluarga konglomerat mereka. Kakak tertua mereka yang merupakan anak pertama adalah seorang pria ambisius yang memegang kendali atas bisnis utama keluarga nya yang berada di Amerika.

Sementara Teo adalah anak kedua, Teo sebagai lelaki paling tampan di keluarganya yang selama ini menjadi pusat perhatian dan yang paling di agungkan walaupun tidak bisa di andalkan, namun jiwanya kini terikat pada labirin yang tidak berujung setelah sepuluh tahun terakhir ini.

Sebagai anak terakhir, Lisa tumbuh dengan kebebasan yang lebih lagi dari pada kedua saudaranya itu. Kakak pertamanya di tekan untuk menguasai ilmu bisnis dan hukum demi dinasti keluarganya, kakak keduanya Teo, memiliki cukup kebebasan namun tetap di tekan dalam kemampuan nya, sedangkan Lisa, karena dia anak perempuan jadi orang tua nya tidak berharap lebih, hanya menyuruhnya untuk menikmati hidup.

Walaupun wajah Lisa terlihat masih polos dan statusnya yang paling muda. Lisa juga mewarisi darah dingin dan kecerdasan dalam manipulatif yang mengalir deras dan kuat dari keluarga mereka. Wajahnya yang rupawan terawat, bermata bulat yang sangat jernih, dan pembawaan nya yang rapuh adalah senjata terbaiknya.

Di kampus jurusan nya, Lisa di kenal sebagai aktris berbakat yang sanggup meniru emosi, gerak gerik, hingga keputusasaan fisik seseorang dengan tingkat akurasi yang menakutkan.

Di malam sebelum dia berangkat ke desa terpencil itu, Lisa duduk di depan cermin rias nya yang besar, di sampingnya sebuah kursi roda medis yang sudah di pesan oleh Grace untuk melatih kemampuannya.

Lisa mulai mengikat rambunya acak acak dan terlihat berantakan, mulai menghapus riasan di wajahnya hingga terlihat pucat , Lisa juga melatih tatapan matanya agar meredup seperti orang yang kehilangan binar kehidupan, persis seperti deskripsi yang di berikan oleh Teo tentang kondisi Layla selama sepuluh tahun koma dan lumpuh.

Lisa mencoba memposisikan tubuhnya di atas kursi roda, melemaskan kedua kakinya seolah olah otot ototnya telah mati, lalu mulai menggerakkan kursi roda itu secara perlahan.

Ketika Teo masuk ke dalam kamar untuk melihat persiapan adiknya, Teo sempat tersentak di ambang pintu, untuk beberapa detik Teo seperti melihat bayangan Layla yang dulu ada pada diri Lisa. Bayangan itu seakan menarik pikirannya dan mengurasnya dengan kuat sehingga Teo merasakan rasa kerinduan yang aneh namun terasa mendalam.

Lisa menoleh ke arah Teo dan menyunggingkan senyum tipis yang penuh akan kelicikan.

“Bagaimana kak? Apa akting ku sudah cukup meyakinkan untuk memancing rasa iba dari wanita desamu itu?” Tanya Lisa, suaranya sengaja di buat parau dan lemah.

Teo hanya bisa terdiam, merasakan sensasi dingin yang merayap di tengkuknya. Rencana Grace yang menggunakan adik bungsu nya ini benar-benar terstruktur dengan rapi. Sandiwara besar yang akan terjadi di desa terpencil itu siap di mulai, dan lisa telah sepenuhnya melebur ke dalam perannya sebagai gadis lumpuh yang terbuang.

Satu minggu kemudian panggung sandiwara di desa terpencil itu resmi di mulai, dengan Lisa yang telah menetap di sebuah rumah sewa kecil di pinggiran desa dengan identitas baru sebagai gadis kota yang lumpuh dan di telantarkan oleh keluarganya karena di anggap beban.

Sore itu, langit desa tampak sedikit mendung, menggantung kan awan abu abu yang pekat. Lisa sengaja memosisikan kursi rodanya di jalur setapak berbatu yang licin, tak jauh dari area pasar sore tempat Layla biasa melintas untuk pulang.

Dari kejauhan, sosok Layla muncul. Saat jarak mereka hanya tinggal beberapa meter, Lisa langsung melancarkan aksi pertamanya.

Dia berpura-pura berusaha keras menggerakkan kursi rodanya melewati tanjakan berbatu yang licin. Dengan akting yang luar biasa begitu terperinci, Lisa membuat roda kirinya terselip di atas batu yang berlumut. Dia menjatuhkan beberapa buah jeruk dan botol mineral dari pangkuannya hingga menggelinding ke tanah.

Sementara tubuhnya sengaja di buat terhuyung ke depan seolah hampir terjatuh dari atas kursi roda nya. Lisa mengeluarkan rintihan kecil yang seolah pusing dengan rasa frustrasi dan penuh keputusasaan.

“Ah.. sial.” Bisik Lisa , suaranya parau, matanya berkaca kaca menatap jeruk jeruk yang kotor terkena lumpur, menggambarkan dengan begitu sempurna rasa kerapuhan dan keputusasaan seorang gadis yang membenci keterbatasan fisiknya.

Melihat kejadian itu, insting penolong dan rasa empati Layla yang berhati lembut langsung terpicu. Tanpa ragu, Layla meletakkan tas belanjaannya dan setengah berlari menghampiri Lisa.

“Tunggu, jangan bergerak dulu! Biar aku bantu” ucap Layla lembut.

Layla langsung menahan bagian belakang kursi roda Lisa agar tidak mundur dan terbalik, lalu dengan sigap memunguti buah buah jeruk yang berserakan di atas tanah yang berlumpur.

Saat Layla mendongak untuk menyerahkan buah buah itu. Kedua mata mereka bertemu, Lisa menatap Layla dengan tatapan mata yang penuh rasa malu, bersalah, sekaligus rasa iri yang terselubung dengan sangat rapi.

“maaf merepotkan mu. Tanganku kadang tidak cukup kuat” kata Lisa. suaranya bergetar dengan gestur tangan yang sedikit gemetar saat menerima jeruk dari tangan Layla.

Lisa sengaja menatap kedua kaki Layla yang berdiri kokoh di atas tanah, lalu beralih menatap kakinya sendiri yang terkulai lemas tak berdaya di atas pijakan kursi roda.

“Kaki kakimu… sangat indah. Kamu bisa berjalan dengan begitu bebas”

Mendengar kalimat itu, ulu hati Layla seperti tersengat, Layla seperti bisa merasakan apa yang dia rasakan.

1
Paw_chan🐾
keren nih
writternim: Aww maaacih… jangan lupa selalu komen ya karena ceritanya luar biasa bikin pusing😂😂
total 1 replies
Wulansari MU
keren banget cerita nya.. lanjutkan
Wulansari MU
ini tanggung banget lagi marah malah salah nulis jadi akua
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!