NovelToon NovelToon
Istri Pilihan Sang Mayor

Istri Pilihan Sang Mayor

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Ibu Tiri / Menikahi tentara
Popularitas:35.2k
Nilai: 5
Nama Author: Eli Priwanti

Latifah, seorang guru di pondok pesantren, menjalani kehidupan sederhana dengan mengabdikan dirinya untuk mendidik para santri.

Setahun lalu, seorang anak perempuan berusia lima tahun bernama Kahiyang Ayudia datang dan menetap di pesantren tersebut. Kahiyang adalah putri seorang Mayor TNI bernama Abimanyu Wicaksono yang sedang bertugas di Lebanon.

Atas perintah sang ayah, Kahiyang dititipkan kepada Neneknya agar tumbuh menjadi anak yang mandiri dan berakhlak mulia.

Seiring berjalannya waktu, Latifah semakin menyayangi Kahiyang dan menganggapnya seperti anak sendiri. Namun, kebahagiaan itu terusik ketika kedua orang tuanya berniat menjodohkannya dengan seorang duda beranak satu. Latifah tentu saja menolak karena belum siap menjadi seorang istri sekaligus ibu sambung.

Tanpa sepengetahuannya, pria yang dijodohkan dengannya ternyata adalah Abimanyu, ayah dari Kahiyang, anak yang begitu disayanginya.

Akankah Latifah menerima takdir tersebut dan membuka hatinya untuk sang Mayor?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Nama yang di sebut oleh Kaning

Malam telah menyelimuti Jakarta ketika sebuah mobil memasuki halaman kediaman keluarga Wicaksono. Setelah seharian disibukkan dengan berbagai pekerjaan di Mabesad, Mayor Abimanyu Wicaksono akhirnya tiba di rumah.

Pria itu turun dari mobil, menyerahkan kunci kepada petugas yang berjaga, lalu melangkah masuk ke dalam rumah dengan langkah tegap. Seragam dinasnya masih melekat rapi di tubuhnya, meskipun wajahnya menunjukkan sedikit kelelahan.

Begitu memasuki ruang keluarga, pandangannya langsung tertuju kepada sang ibu yang sedang duduk di sofa sambil membaca sebuah buku.

"Assalamualaikum, Bu."

"Waalaikumsalam. Sudah pulang, Nak?" Bu Almira segera menutup bukunya. "Bagaimana pekerjaanmu hari ini?"

"Alhamdulillah, lancar. Besok juga ada beberapa agenda, tetapi sepertinya tidak terlalu padat."

Bima meletakkan tas kerjanya di atas meja, kemudian mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan.

"Kaning di mana, Bu?"

"Sudah tidur. Tadi setelah mengaji dan makan malam, dia meminta Ibu menemaninya membaca buku cerita. Tidak lama kemudian, dia tertidur."

Bima tersenyum tipis.

"Anak itu memang sedang senang sekali membaca, ya?"

"Tentu saja. Apalagi kalau ceritanya tentang keluarga atau anak-anak yang tinggal bersama orang tuanya." Bu Almira berhenti sejenak, lalu menatap putranya penuh arti. "Kadang-kadang dia juga bercerita tentang Bu Latifah."

Senyum Bima sedikit berubah.

"Lagi-lagi Bu Latifah."

Bu Almira tertawa kecil.

"Memangnya kenapa? Kamu keberatan?"

"Tidak, Bu. Bima hanya heran. Padahal sudah seminggu sejak Kaning meninggalkan Darussalam, tetapi nama perempuan itu masih saja disebut setiap hari."

"Karena Kaning menyayanginya. Kamu seharusnya bersyukur putrimu pernah mendapatkan seseorang yang begitu tulus merawatnya ketika kamu tidak bisa berada di sisinya."

Bima mengangguk pelan.

"Iya, Bima tahu."

Sesaat kemudian, ekspresi pria itu berubah lebih serius. Ia menoleh kepada ibunya, lalu duduk di sofa yang berhadapan dengannya.

"Bu, ada sesuatu yang ingin Bima bicarakan."

Bu Almira segera meletakkan bukunya.

"Tentang apa, Nak?"

Bima menghela napas, kemudian menatap ibunya dengan mantap.

"Tentang perjodohan itu."

Mata Bu Almira langsung berbinar.

"Perjodohan dengan putri kerabat kita?"

Bima mengangguk.

"Iya, Bu. Bima sudah memikirkannya sejak tadi di kantor. Bima juga sudah berbicara dengan Rian."

"Rian? Sahabatmu itu?"

"Iya. Kami membicarakan banyak hal, termasuk tentang Kaning dan masa depan Bima."

Bima menunduk sebentar, memperhatikan kedua tangannya yang saling bertaut.

"Awalnya Bima merasa belum siap. Bima masih menganggap bahwa menikah lagi adalah sesuatu yang terlalu sulit untuk dijalani. Bima takut tidak bisa menerima perempuan lain dalam kehidupan Bima. Bima juga takut perempuan itu tidak bisa menerima Kaning."

Bu Almira mendengarkan tanpa menyela.

"Tetapi setelah memikirkannya kembali, Bima sadar bahwa Bima tidak boleh terus-menerus menutup diri. Bima masih punya kehidupan yang harus dijalani. Dan yang paling penting, Bima punya Kaning yang membutuhkan perhatian serta kasih sayang."

Bima mengangkat wajahnya.

"Karena itu, Bu, Bima bersedia menerima perjodohan ini."

Untuk beberapa detik, Bu Almira hanya menatap putranya dengan mata membulat.

"Benarkah, Nak?"

Bima tersenyum kecil.

"Iya, Bu. Bima akan bertemu dengan perempuan yang Ibu dan mendiang Ayah pilih. Bima ingin mengenalnya terlebih dahulu. Bima tidak bisa menjanjikan bahwa Bima akan langsung mencintainya, tetapi Bima bersedia memberikan kesempatan."

Bu Almira menghembuskan napas lega. Senyum bahagia perlahan merekah di wajahnya yang mulai dihiasi garis-garis usia.

"Alhamdulillah...."

Ia mengangkat kedua tangannya, mengucap syukur dalam hati.

"Ya Allah, terima kasih. Akhirnya Engkau melunakkan hati putraku."

Bima tertawa kecil melihat reaksi ibunya.

"Bu, Bima baru mengatakan bersedia bertemu dengannya. Kenapa Ibu sudah sebahagia itu?"

"Karena bagi Ibu, ini sudah merupakan langkah besar, Nak. Selama ini kamu selalu menolak bahkan sebelum mencoba mengenal perempuan itu. Sekarang kamu bersedia memberikan kesempatan. Tentu saja Ibu bahagia."

Bu Almira meraih tangan putranya.

"Semoga ini menjadi awal yang baik untuk kehidupanmu dan Kaning."

"Aamiin."

Namun, beberapa saat kemudian, Bima kembali teringat pada satu hal yang belum ia pertimbangkan dengan matang.

Ia menatap ibunya dengan raut sedikit cemas.

"Bu, apakah Kaning akan setuju jika Bima menikah lagi?"

Pertanyaan itu membuat Bu Almira terdiam sejenak.

Ia memahami kekhawatiran putranya. Kaning masih kecil, tetapi sudah cukup memahami arti kehilangan dan perpisahan. Selama ini, bocah itu terbiasa hidup tanpa kehadiran ayahnya dalam waktu yang panjang. Kini, setelah kembali tinggal bersama Bima, tentu ia membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri.

Bu Almira mengusap punggung tangan putranya.

"Besok pagi kamu bilang kepada Kaning pelan-pelan, ya, Nak. Ibu yakin Kaning pasti mau menerima sosok ibu sambung untuknya."

Bima mengangkat alisnya.

"Sepertinya tidak semudah itu, Bu."

"Kenapa tidak? Kaning anak yang lembut. Dia hanya membutuhkan penjelasan yang bisa dia pahami."

Bu Almira tersenyum, kemudian melanjutkan dengan nada penuh keyakinan.

"Kamu jangan langsung mengatakan bahwa kamu akan menikah. Jelaskan dahulu bahwa suatu hari nanti Papah mungkin akan memiliki seorang istri yang juga bisa menyayangi Kaning. Katakan kepadanya bahwa kasih sayangmu tidak akan berkurang sedikit pun."

Bima terdiam, menyimak setiap perkataan ibunya.

"Dan jangan pernah membuat Kaning merasa bahwa ada orang yang akan menggantikan mendiang ibunya," tambah Bu Almira. "Ibu sambungnya kelak bukan untuk menghapus kenangan tentang ibunya, melainkan untuk menjadi seseorang yang bisa menemani Kaning tumbuh."

Bima mengangguk perlahan.

"Baik, Bu. Besok Bima akan berbicara dengannya."

Bu Almira tersenyum lega.

"Bagus. Sekarang kamu juga harus beristirahat. Besok kamu harus berangkat kerja."

Bima berdiri, kemudian mengambil tas kerjanya.

"Kalau begitu, Bima masuk kamar dulu, Bu."

"Iya, Nak. Selamat beristirahat."

Bima mengecup tangan ibunya sebelum melangkah menuju kamar.

Malam itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia tidur dengan pikiran yang sedikit lebih tenang. Keputusan telah dibuat, dan satu hal yang harus dilakukannya esok hari adalah berbicara dengan putri kecilnya.

Ia ingin memastikan bahwa apa pun yang terjadi kelak, Kaning tidak akan merasa kehilangan tempat di hatinya.

Namun, Bima belum tahu bahwa percakapan esok pagi justru akan membuatnya terkejut dengan jawaban polos sang putri.

Keesokan paginya...

Matahari mulai meninggi ketika suasana kediaman Wicaksono dipenuhi aktivitas pagi.

Bima sudah bersiap untuk berangkat ke Mabesad. Seragam lorengnya melekat rapi di tubuh, rambutnya tertata seperti biasa, dan sepatu dinas hitamnya telah mengilap. Ia hanya perlu mengambil tas kerja sebelum meninggalkan rumah.

Namun, sebelum berangkat, ia teringat janjinya kepada sang ibu. Ia harus berbicara dengan Kaning.

Bima melangkah menuju kamar putrinya. Sesampainya di depan pintu, ia mengetuk pelan.

Tok! Tok!

"Kaning, Sayang. Papah boleh masuk?"

Dari dalam kamar terdengar suara ceria.

"Boleh, Pah! Masuk saja!"

Bima membuka pintu dan mendapati putrinya sudah berpakaian rapi. Kaning duduk di atas karpet sambil memainkan beberapa boneka kesayangannya. Rambutnya yang hitam diikat rapi, sementara wajah mungilnya terlihat begitu cerah.

Begitu melihat sang ayah, Kaning langsung tersenyum lebar.

"Papah!"

Bocah itu meletakkan bonekanya, lalu berlari menghampiri Bima.

Bima segera membungkuk dan mengangkatnya ke dalam pelukan.

"Selamat pagi, putri Papah."

"Selamat pagi, Pah!"

Kaning mengecup pipi ayahnya, kemudian memperhatikan seragam loreng yang dikenakan pria itu.

"Wah, Papah sudah rapi sekali!"

Bima tertawa kecil.

"Memangnya kalau Papah tidak memakai seragam, Papah tidak rapi?"

"Rapi juga, tapi kalau pakai baju ini Papah kelihatan gagah!"

"Astaga, anak Papah pintar sekali merayu."

Kaning terkikik.

Bima kemudian duduk di sisi ranjang, sementara Kaning kembali duduk di sampingnya. Ia melirik jam tangan, memastikan masih ada waktu sebelum berangkat.

Hari itu jadwalnya memang tidak terlalu padat. Karena itu, ia ingin menggunakan kesempatan tersebut untuk berbicara dengan putrinya tanpa tergesa-gesa.

"Kaning."

"Iya, Pah?"

Bima menoleh, kemudian mengusap kepala putrinya.

"Kaning, boleh Papah berbicara sesuatu sama Kaning?"

Kaning segera meletakkan boneka yang sedang dipegangnya.

"Boleh. Papah mau bicara apa sama Kaning?"

Bima mengangguk, tetapi tiba-tiba ia merasa gugup.

Aneh sekali.

Ia terbiasa memberikan instruksi kepada para prajurit, menghadapi berbagai persoalan pekerjaan, dan mengambil keputusan penting dalam situasi sulit. Namun, untuk membicarakan soal pernikahan kepada putrinya sendiri, ia justru kesulitan menyusun kata-kata.

Bima berdeham pelan.

"Ehm...."

Kaning memiringkan kepalanya.

"Kenapa, Pah? Papah sakit?"

"Tidak, Sayang."

"Terus kenapa Papah bingung?"

Bima tersenyum canggung.

"Papah hanya sedang memikirkan bagaimana cara menjelaskan sesuatu kepada Kaning."

Kaning mengangguk seolah mengerti, meskipun sebenarnya ia belum mengetahui apa yang hendak disampaikan ayahnya.

Bima menarik napas dalam-dalam.

"Kaning, Papah mau bertanya. Kalau suatu hari nanti Papah menikah lagi, bagaimana menurut Kaning?"

Seketika, Kaning terdiam.

Boneka yang berada di pangkuannya nyaris terlepas dari genggamannya. Bocah itu mengangkat wajah, lalu menatap ayahnya dengan mata membulat.

"Menikah lagi?"

Bima mengangguk perlahan.

"Iya, Sayang. Papah ingin tahu pendapat Kaning."

Kaning menatap Bima cukup lama. Seolah sedang memastikan apakah ayahnya benar-benar serius dengan pertanyaan tersebut.

Kemudian, sesuatu yang tidak disangka-sangka terjadi.

Bibir kecil Kaning perlahan membentuk senyuman.

"Boleh, Pah!"

Kini giliran Bima yang terkejut.

"Ha?"

Kaning terkikik melihat ekspresi ayahnya.

"Boleh, Papah menikah lagi!"

Bima mengerjapkan matanya seolah masih tidak percaya.

"Benarkah Kaning tidak keberatan?"

Kaning menggeleng cepat.

"Tidak, Papah!"

Bima menghembuskan napas lega. Setidaknya, bagian pertama dari kekhawatirannya telah terjawab.

Namun, sebelum ia sempat menjelaskan lebih lanjut, Kaning tiba-tiba mengangkat telunjuknya seolah ingin menyampaikan sebuah syarat penting.

"Tapi...."

Bima menatapnya.

"Tapi apa, Sayang?"

Kaning malah tersenyum lebar.

"Tapi menikahnya dengan Bu Latifah, ya, Pah!"

Deg!

Bima langsung membeku.

Bersambung...

1
Dua Putri
biasa 4 bab kk ini 2
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: sabar ya kak, insyaallah setelah Bab 40 aku kebut lagi 🤗
total 1 replies
Atik Kiswati
nyesek bgt.....
Oma Gavin
lebih baik melangkah dgn pasti dgn orang yg mau belajar hidup bersama dari pada nunggu seseorang yg belum pasti datang untuk mengajak hidup bersama
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: Setuju Oma 🤗
total 1 replies
Sastri Dalila
👍👍
Nar Sih
maaf ustad firman kamu terlambatt🙏
Nar Sih
pelan ,,tpi pasti bima sdh mulai jatuh cinta dgn latifah dan semoga istri mu sgra mbls perasaan mu ya bima☺️
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: betul kak🤭
total 1 replies
Sastri Dalila
🤭🤭🤭
Teh Euis Tea
huhhh baru senyam senyum doang nih mereka ber2 blm ehem ehem msh malu2 jd blm bisa ngintip 🤣🤭
Teh Euis Tea
cieeee udah mulai saling goda mas mayor sm Bu Ifah, ngintip achhh 🤭🤭🤭🤭🤭
Nar Sih
oalah ya ngk apa ,,klau ciuman kan udh sah dan halal
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: betoooll
total 1 replies
Nar Sih
jatuh cinta berjuta rasa nya ☺️☺️dan bnr tebakan mu kapten ryan👍
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
total 1 replies
Atik Kiswati
sampe kpn mrk ber2 canggung + kaku kyk gt.....panggilannya aja msh pak / bu.....
Ani: 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Oke lah tak tunggu
total 4 replies
vania larasati
lanjut kak
Sastri Dalila
🤗🤗
susi ana
kok masih panggil pak sama Bu.....
Perempuan
Anda? Formal aaaamat🤭🤭
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: masih kaku kak, belum terbiasa, harap di maklum
total 1 replies
Perempuan
koq masih gitu panggilannya🤣🤣
Sastri Dalila
👍👍👍
vania larasati
lanjut kak
Dua Putri
baguss. kapan mereka🤭🤭🤭😄😄
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: kapan apa kak? 🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!