"Aku akan menumpahkan darahmu di atas ranjang ini, demi rakyatku."
Itu adalah sumpah Dyah Ayu di malam pertamanya sebagai selir rampasan perang. Tangannya menggenggam erat tusuk konde beracun di balik selimut sutra. Namun, Prabu Hayam Vira—Raja kejam yang telah membumihanguskan tanah kelahirannya—hanya menatapnya dingin, lalu mencengkeram pergelangan tangannya.
"Silakan tikam aku, Selirku," bisik sang Raja dengan senyum sinis yang mengintimidasi. "Tapi jika aku mati malam ini, pastikan kau sanggup melihat adikmu dan seluruh rakyatmu dibakar hidup-hidup esok pagi."
Terjebak di dalam Keputren Kerajaan Kagendra yang indah namun beracun, Dyah Ayu harus memutar otak untuk bertahan hidup. Ia bukan hanya harus menghadapi kekejaman Raja, tetapi juga intrik mematikan dari Permaisuri Agung dan puluhan selir yang haus kekuasaan. Niat awalnya hanya satu: menghancurkan kerajaan itu dari dalam.
Namun, seiring berjalannya waktu, kekejaman sang Raja perlahan memudar, tergantikan oleh perlindungan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laygraph, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4: Perangkap Racun dan Cemburu Buta
Kain tenun kasar itu menekan kulit kepalanya, lalu bergerak turun perlahan menyusuri rambutnya yang basah.
Dyah Ayu duduk di atas bangku rendah berlapis kulit macan. Di depannya, sebuah anglo tembaga berisi bara arang memancarkan panas yang membuat pipinya memerah. Di belakangnya, Prabu Hayam Vira berdiri, mengeringkan rambutnya helai demi helai.
Sendiri. Tanpa dayang. Tanpa pengawal.
Bilik pribadi Raja tidak seperti yang ia bayangkan. Tidak ada emas bertumpuk atau permadani sutra. Hanya rak-rak kayu berisi gulungan lontar, sebuah peta besar Kagendra yang dilukis di atas kulit sapi, dan satu ranjang lebar berkelambu gelap. Baunya kayu cendana, lilin lebah, dan asap arang.
"Kau menggigil," ucap Hayam Vira.
"Hamba kedinginan, Gusti."
"Bukan karena itu."
Kain di tangannya berpindah ke tengkuk Dyah Ayu. Menyeka tetesan embun yang merayap dari garis rambut. Lalu bergeser ke bahu, turun ke sepanjang tulang belikatnya, tepat di atas tepi kemben yang basah dan menempel.
Gerakannya lambat. Teliti. Tangan yang sama yang semalam meremukkan pergelangannya kini bergerak begitu hati-hati, dan justru itulah yang membuat napas Dyah Ayu tertahan di pangkal tenggorokan.
Di atas meja, sejengkal dari lututnya, sebuah benda logam berkilau di bawah cahaya pelita.
Cundhuk ibunya. Ujungnya masih bernoda cokelat kehitaman.
Raja itu meletakkannya di sana. Dalam jangkauan tangannya. Dyah Ayu menatap logam tipis itu, lalu memaksa jari-jarinya tetap terlipat di pangkuan.
"Kau melihatnya," gumam Hayam Vira di belakangnya. Ia tidak bertanya.
"Hamba melihatnya."
"Dan?"
"Dan hamba masih ingat berapa jumlah tawanan di alun-alun selatan, Gusti."
Kain itu berhenti bergerak sesaat. Lalu Hayam Vira melemparnya ke samping. Ia berjalan memutar, berjongkok di depan Dyah Ayu, sehingga mata mereka sejajar. Cahaya bara menyala merah di rahangnya.
"Siapa lelaki di taman itu?"
_____________________
Dyah Ayu tidak mengalihkan pandangan.
Ia tahu jawaban apa pun yang terdengar seperti persiapan akan dibaca sebagai kebohongan. Lelaki ini membaca musuh di medan perang dari cara mereka memasang tenda.
"Tidak ada lelaki, Gusti."
"Embun di rumput belakang beringin itu tersapu oleh dua pasang kaki. Satu kecil. Satu besar, dengan tumit sepatu Bhayangkara." Suaranya tetap datar. "Aku bisa menyuruh seluruh Bhayangkara melepas sepatu mereka besok pagi. Tiga ratus orang. Aku bisa mencocokkan setiap tumit."
Dyah Ayu merasakan telapak tangannya dingin meski duduk di depan bara.
Ia menarik napas. Lalu, alih-alih menjawab, ia meraih tangan kanan sang Raja.
Hayam Vira tidak menariknya. Ia hanya memandang, alisnya sedikit terangkat, saat Dyah Ayu membawa tangan besar itu ke lehernya sendiri. Ia menekan ujung jemari Raja tepat di atas denyut nadi di bawah rahangnya.
"Semalam, Gusti menghitung nadi hamba untuk tahu hamba takut," bisiknya. "Hitunglah lagi sekarang. Lalu katakan pada hamba, apakah ini nadi perempuan yang sedang berbohong, atau nadi perempuan yang sedang ketakutan setengah mati karena duduk sendirian di bilik lelaki yang membakar rumahnya?"
Nadinya berlari di bawah jemari itu. Ia tidak berusaha menenangkannya. Justru itu yang ia butuhkan.
"Hamba menyelinap ke Taman Larangan karena hamba akan dipenggal jika tidak membawa wijayakusuma. Hamba mendengar sesuatu di belakang pohon. Mungkin pengawal. Mungkin orang suruhan yang ingin melihat hamba tertangkap." Ia mencondongkan tubuh, sehingga wajahnya hanya berjarak sehelai napas dari wajah sang Raja. "Hamba tidak tahu. Hamba hanya tahu bahwa di keraton ini, satu-satunya orang yang belum mencoba membunuh hamba adalah Gusti."
Ibu jari Hayam Vira bergerak. Sedikit. Menyapu kulit di bawah telinganya.
Dyah Ayu tidak mundur. Bibirnya terbuka sedikit, napasnya menyentuh dagu lelaki itu. Kain kemben yang lembap kini menempel di dada sang Raja yang berjongkok begitu dekat.
Ia menunggu.
Mata Hayam Vira turun ke bibirnya. Berhenti di sana cukup lama. Rahangnya menegang, dan otot di lehernya bergerak saat ia menelan ludah.
Lalu ia tertawa pelan. Suara rendah dari dalam dada, yang lebih mirip geraman.
"Kau baru saja mengajariku cara berbohong dengan kebenaran." Ia menarik tangannya, lalu berdiri. "Beringin itu dihuni kelelawar buah. Mungkin kelelawar yang kau dengar."
Dyah Ayu tidak bergerak. Ia tidak berani melepaskan napas yang ditahannya.
Hayam Vira berjalan ke meja. Ia mengambil cundhuk beracun itu, menyelipkannya ke dalam lipatan sabuk di pinggangnya sendiri. Lalu ia mengambil sebuah cincin perunggu dari laci, berukir lambang matahari bersudut delapan, dan melemparkannya ke pangkuan Dyah Ayu.
"Prabaswari memberimu tugas Maha Pujawali tanpa memberimu kitab tata caranya, bukan?"
Dyah Ayu menatap cincin itu. "Tidak ada seorang pun yang memberi hamba apa-apa, Gusti."
"Tunjukkan cincin itu pada Empu Wiradarma di Perpustakaan Lontar. Seluruh tata cara pujawali sejak zaman kakek buyutku tercatat di sana." Ia membuka pintu bilik. "Jangan membuatku menyesal. Aku tidak suka menghitung kepala."
____________________
Kabar itu tiba di Paviliun Permaisuri sebelum matahari naik sepenggalah.
Selir Ampil dari Watugaluh masuk ke Perpustakaan Lontar. Membawa cincin matahari milik Sinuwun.
Tidak ada selir yang pernah menginjakkan kaki di sana. Tidak Selir Ratna. Tidak juga Gusti Prabaswari sendiri, yang tiga tahun lalu memohon izin untuk membaca silsilah Wangsa Kagendra demi putranya dan ditolak dengan satu kalimat.
Prabaswari tidak melempar apa pun. Ia tidak berteriak.
Ia hanya duduk di depan cermin perunggunya dan memotong tangkai-tangkai melati untuk sanggulnya, satu per satu, dengan gunting perak kecil. Setiap guntingan berbunyi pelan. Sampai semua melati di nampan terpotong menjadi serpihan yang tidak bisa lagi dirangkai.
"Nyai Kenanga."
Seorang dayang paruh baya dengan wajah tirus maju dan bersimpuh. Ia sudah melayani Prabaswari sejak sang Permaisuri masih gadis di rumah ayahnya.
"Anak itu akan membuat dupanya sendiri, di dapur sesaji," ucap Prabaswari tanpa menoleh. "Pastikan dupa itu dibakar dengan padupan perunggu pusaka milikku. Katakan pada semua orang itu hadiah kehormatan dariku. Dan pastikan..."
Ia meletakkan gunting peraknya.
"...kecubung hitam dari kebun ibuku masuk ke dalam adonannya. Serta ke dasar padupan. Cukup untuk membuat para tua bangka itu tumbang. Tidak sampai mati. Aku butuh mereka hidup untuk bersaksi."
Nyai Kenanga menyembah tanpa suara.
____________________
Tiga hari berikutnya, Dyah Ayu hampir tidak tidur.
Di Perpustakaan Lontar yang berbau debu dan minyak sereh, ia membaca belasan gulungan dengan jari-jari yang menghitam oleh jelaga lampu. Empu Wiradarma yang bungkuk dan setengah buta tidak banyak bicara, tetapi ia menunjukkan gulungan-gulungan yang benar tanpa diminta.
Dyah Ayu menemukan takaran dupa pujawali. Kemenyan putih, kayu gaharu, bunga kamboja kering, dan satu bagian minyak wijayakusuma. Ia juga menemukan catatan kecil di pinggir lontar: persembahan terakhir dari selir Lasem dinyatakan cacat karena asap dupanya condong ke barat.
Asap yang condong ke barat. Kepala seorang perempuan dipajang tujuh hari karena arah angin.
Ia membuat dupanya sendiri di dapur sesaji, mencampur, menggiling, dan menggulungnya di atas tampah. Dua dayang buangan yang dulu menunjukkan lubang saluran air kini membantunya, setelah Dyah Ayu diam-diam memberikan jatah nasinya kepada mereka setiap malam.
Pada malam kedua, Nyai Kenanga datang membawa padupan perunggu berukir naga.
"Hadiah dari Gusti Permaisuri," katanya, tersenyum dengan bibir tipisnya. "Untuk kehormatan Selir Ampil."
Dyah Ayu menerimanya dengan sembah yang dalam. Ia memperhatikan jari-jari Nyai Kenanga saat dayang itu menyerahkan padupan. Kuku-kukunya bersih. Terlalu bersih, untuk dayang yang katanya baru saja menggosok perunggu.
Malam itu, sebelum tidur, ia membungkus sebatang dupa dengan daun pisang dan menyelipkannya ke dalam setagennya.
Kebiasaan dari ibunya. Selalu sisakan satu, Nduk. Untuk berjaga-jaga jika kau perlu membuktikan tanganmu bersih.
____________________
Purnama Kasanga menggantung bulat dan pucat di atas Candi Leluhur Kagendra.
Pelataran batu dipenuhi manusia. Di undakan tertinggi, Prabu Hayam Vira duduk di atas dampar emas dengan mahkota berkilau di kepalanya. Di sebelah kirinya, Gusti Prabaswari dalam sutra biru malam, bertatahkan permata. Di bawah mereka, dua baris menteri, adipati, dan para brahmana berjubah putih bersimpuh di atas tikar.
Mahapatih Gajahwira yang tua duduk paling depan. Di belakangnya, Tumenggung Arya Seta, Demang Sura, dan belasan pejabat lain.
Dyah Ayu berlutut di depan arca batu leluhur. Di depannya, sesaji yang ia susun tiga hari tiga malam. Pisang raja, bunga tujuh rupa yang masih segar, kendi minyak wijayakusuma yang harum, dan padupan perunggu berukir naga.
Ia bisa merasakan ratusan pasang mata di punggungnya.
Dan di antara semuanya, ia merasakan satu tatapan dari atas dampar emas. Tatapan yang tidak berkedip.
Brahmana tua melantunkan mantra. Gamelan berhenti. Seluruh pelataran menjadi senyap.
Dyah Ayu mengambil tiga batang dupa. Ia menyulutnya pada api pelita, lalu menancapkannya ke dalam abu padupan. Asap putih pertama naik, harum kamboja dan kemenyan, lurus ke langit.
Lurus. Tidak condong ke mana pun.
Ia melepaskan napas yang ditahannya.
Lalu hidungnya menangkap sesuatu. Di bawah harum kamboja, ada bau yang lain. Pahit dan apak, seperti daun layu yang dibakar basah.
Asap itu menggelap.
Dari putih menjadi kelabu. Dari kelabu menjadi hitam pekat, bergulung tebal dan berat. Asap hitam itu tidak naik ke langit, melainkan jatuh dan menyebar rendah di atas pelataran, merayap ke barisan para menteri.
Seorang brahmana terbatuk-batuk. Lalu yang lain.
Tumenggung Arya Seta berdiri mendadak, mencakar lehernya sendiri. Matanya berputar ke atas. Tubuhnya roboh ke depan, menimpa sesaji bunga.
Demang Sura menyusul. Lalu dua adipati di barisan kedua. Tubuh-tubuh itu kejang di atas tikar, busa putih keluar dari sudut bibir mereka. Mahapatih Gajahwira terbatuk hebat, dipapah oleh dua pengawal yang panik.
Jeritan meledak di seluruh pelataran.
Dyah Ayu berdiri. Ia menyambar kendi air pembasuh arca dan menyiramkannya ke padupan. Bara padam dengan desis panjang, tetapi asap hitam masih bergulung di udara, menyengat mata.
Di atas undakan, Gusti Prabaswari bangkit dari singgasananya.
Tangannya terangkat. Telunjuknya yang berhias cincin giok menunjuk lurus ke arah Dyah Ayu. Wajahnya pucat, matanya berkaca-kaca, tampak ngeri dan terluka.
"Tangkap perempuan itu!" Suaranya menggema di dinding-dinding candi. "Putri pemberontak Watugaluh telah meracuni leluhur Kagendra dan membantai para pembesar kerajaan di depan mata Sinuwun! Ini percobaan pembunuhan! Ini makar!"
Dua belas Prajurit Estri mencabut belati mereka serentak.
.. ke sini ... cerutqnya bagus loh
..