Selama 18 tahun, Bai Chen hidup sebagai anak selir yang tidak dianggap di faksi kecil Benua Barat. Ia disiksa, dihina, dan jalur Dao-nya dihancurkan oleh klannya sendiri tanpa ampun, membuatnya dianggap sebagai sampah abadi.
Tepat di hari ulang tahunnya yang ke-18, saat ia terbaring sekarat di ruang bawah tanah yang dingin, sebuah suara mekanik dingin berdering di kepalanya:
[Sistem Penguasa Dao Diaktifkan. Memperbaiki jalur Dao yang hancur. Sinkronisasi dimulai...]
Dalam sekejap, hambatan tubuhnya musnah. Dari titik terendah sebagai manusia fana, ia melompat langsung ke Ranah Void Dao!
Menggabungkan logika sains modern dan kekuatan sistem absolut, Bai Chen menembus batasan dunia kultivasi yang kolot. Ia membumihanguskan para musuh yang merendahkannya, mengguncang 5 Klan Kuno di Benua Tengah, hingga berdiri di puncak pertempuran kosmik yang membelah dunia demi menjadi Kaisar Surgawi mutlak yang tak tertandingi!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon OhMyZy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Darah, Hinaan, dan Suara Misterius
Dunia semesta kultivasi Tianwu adalah tempat di mana hukum rimba berlaku secara mutlak, di mana kekuatan adalah segalanya, dan mereka yang lemah tidak memiliki hak untuk bersuara. Semesta yang luas ini terbentang melintasi Lima Benua: Benua Tengah yang megah dan dikuasai mutlak oleh 5 Klan Kuno, Benua Timur tempat bersemayamnya Klan Iblis Surgawi yang penuh darah serta aura kematian, Benua Utara sebagai pusat industri alkemi dan perdagangan pil di bawah naungan Paviliun Pil Kuno, Benua Selatan yang menjadi benteng spiritual Sekte Buddha, serta Benua Barat yang merupakan wilayah pinggiran paling tertinggal, terbelakang, dan memiliki konsentrasi energi spiritual paling tipis.
Di sudut paling terpencil di Benua Barat, tepatnya di dalam faksi cabang Sekte Pedang Surgawi, terdapat sebuah ruang bawah tanah yang berbau lembap, anyir, dan kematian. Dinding batunya yang kokoh dan dingin seolah menelan setiap jerit kesakitan yang keluar dari bibir pecah-pecah seorang pemuda. Di tempat terisolasi dari dunia luar ini, tidak ada satu pun cahaya matahari yang mampu menembus masuk, menyisakan kegelapan pekat yang menemani penderitaan panjang tanpa akhir.
Di tempat inilah Bai Chen terbaring di atas jerami kotor yang basah oleh darah segarnya sendiri. Tubuhnya remuk redam tanpa bentuk, jubah usannya compang-camping, dan sisa-sisa jalur Dao di dalam meridiannya telah hancur berkeping-keping akibat hantaman telapak tangan kejam dari para sepupu serta tetua klan karena ia dianggap sebagai sampah yang tidak berguna. Selama delapan belas tahun penuh, Bai Chen hidup sebagai anak seorang selir di faksi cabang tersebut, menanggung siksaan fisik, cacian hina, dan penindasan tanpa henti dari anggota klan sendiri yang memandangnya sebelah mata.
Rasa sakit yang teramat sangat menusuk hingga ke sumsum tulang, membuat setiap embusan napasnya terasa seperti menelan serpihan kaca tajam yang merobek kerongkongan. Sebagai seorang pemuda yang sebelum reinkarnasinya merupakan seorang pria modern dari dunia jauh yang penuh dengan logika dan sains, ia harus menderita di bawah cengkeraman dunia kultivasi yang biadab ini. Setiap hari adalah neraka hidup yang tiada tara, ulah dari orang-orang seperti pengawas klan Mo Chen yang kejam, atau para sepupu angkuh seperti Jian Lang dan Wang Hu yang gemar melampiaskan amarah. Hari ini, tepat di usianya yang genap genap delapan belas tahun, penderitaan itu mencapai batas terkelam ketika jalur Dao miliknya dihancurkan secara paksa, membuat darah segar terus mengalir deras tanpa henti dari mulutnya.
Di dunia kultivasi ini, eksistensi manusia diukur dari seberapa tinggi tingkat kekuatan mereka melalui sepuluh tahapan mutlak: mulai dari
Fondasi Dao
Pemurnian Dao
Kondensasi Dao
Inti Emas Dao
Nascent Dao
Transformasi Dao
Void Dao
Dao Surgawi
Dao Immortal
puncak keabadian di ranah Kaisar Surgawi. Namun, dengan kondisi jalur Dao yang hancur total, jangankan menapaki sepuluh tingkatan agung tersebut, mempertahankan sisa-sisa nyawa di ranah Fondasi Dao yang paling dasar pun sudah menjadi hal yang mustahil baginya.
“Apakah hidupku benar-benar akan berakhir di tempat busuk ini… setelah semua penghinaan dan rasa sakit yang kudapat selama delapan belas tahun penuh…?” batin Bai Chen, napasnya tersengal-sengal, melemah dan memburu di setiap detiknya. Kesadarannya mulai kabur, digantikan oleh kehampaan gelap pekat yang siap merenggut nyawanya kapan saja di malam ulang tahunnya yang kelam. Ibunya, Bi Xiu, yang dikucilkan seorang diri di halaman belakang klan, bahkan tidak tahu sama sekali bahwa nyawa anak tunggalnya sedang berada di ujung tanduk kematian.
Di luar ruang bawah tanah yang runtuh itu, angin malam Benua Barat menderu keras dan dingin, seolah menertawakan takdir tragis seorang pemuda malang yang dibuang dan disiksa oleh keluarganya sendiri tanpa belas kasihan.