NovelToon NovelToon
Rahasia Tersembunyi Mantan

Rahasia Tersembunyi Mantan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Romansa Fantasi / Mengubah Takdir
Popularitas:904
Nilai: 5
Nama Author: Penpena

Amira Anastasya, yang setia menunggu janji dari Glen Anggara yang akan segera pulang dalam dua tahun setelah menyelesaikan pendidikannya di Eropa dan menikahi nya. Namun tidak sesuai dengan ala yang Amira harapkan.

Bertahun-tahun Amira menunggu akan tetapi Glen tidak kunjung datang, bahkan tidak pernah menghubungi Amira setelah satu bulan di Eropa tiba-tiba saja dia menghilang tanpa kabar, dan Amira pun tidak dapat menghubunginya.

Hingga lima tahun kemudian, ketika Amira dibandara dan hendak pergi keluar negeri tanpa sengaja mereka bertemu. Saat itu juga Glen pulang dari luar negeri.

Melihat kepergian Amira, Glen merasa sedih ketika dia hendak menemui Amira tetapi kenapa malah amira pergi keluar negeri dan tidak mau mendengarkan Glen saat itu.

Selama di Indonesia Glen berusaha mencari tahu kehidupan Amira selama ini, apakah dia baik-baik saja selama dia tidak ada atau malah sebaliknya?.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Penpena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7: Kecelakaan

Ketika melihat seorang pria menyambut Amira dengan bahagia, Glen terpaku. Pikirannya sedang mengelola semua pertanyaa-pertanyaan didalam benaknya. Dia terus memperhatikan mereka, kedekatan mereka, dan bisa melihat begitu bahagianya mereka satu sama lain.

Glen bersandar lemas kekursi mobilnya setelah melihat Amira bersama dengan Pria yang seperti sebaya dengan nya.

"Siapa pria itu?." Tanya nya pada diri sendiri. "Apa Amira memiliki pacar?, atau apa dia sudah menikah dengan pria itu?" Perasaanya semakin tidak karuan.

Glen mengacak-acak rambutnya, rasanya seperti dunia nya hancur. Seketika harapannya untuk memperbaiki semuanya telah pupus, kini Amira sudah bersama dengan orang lain. Dia sangat terlambat, dan mungkin ini adalah balasan atas perbuatannya selama ini kepada Amira.

Dengan perasaan campur aduk, Glen pergi dari tempat itu. Dia belum menerima kenyataan ini, kenyataan bahwa Amira sudah menjadi milik orang lain sekarang.

Disisi lain, Amira menyadari Glen mengikutinya dari tadi, dan dia melihat kearah mobil Glen yang sudah pergi.

"Makasi ya, Kevin. sudah membantu ku hari ini." Ucap Amira lirih.

Ketika diperjalanan Amira menyadari Glen mengikutinya dari belakang, dan dia bingung bagaimana mencegah Glen intuk tidak mengikutinya. Karena itu, dia berniat menghubungi Kevin temannya untuk membantunya, dan bersikap seolah-olah mereka dekat.

"Sama-sama, Mir. Dengan senang hati aku bisa membantu mu. Oh iya, siapa pria itu sampai kamu ingin menghindarinya?." Tanya Kevin serius.

"E-em, bukan siapa-siapa." UCap Amira menggeleng kecil dan tersenyum.

Kevin mengangkat sebelah alis matanya, masih penasaran dengan hubungan Amira dan Pria yang dia lihatnya.

"Oh iya Kevin, sekarang kamu sudah bisa pulang kok. 

"Em, baik lah. Kalau butuh bantuan ku lagi, hubungi saja aku."

"Oke, terimakasih aku akan menghubungi mu."

Lalu Kevin pergi meninggalkan rumah Amira. 

Disisi lain Glen menyetir mobilnya dengan kencang, dia ingin melampiaskan kekesalannya atas apa yang dia lihat hari ini. Dengan kepala yang dipenuhi pertanyaan-pertanyaan sampai tidak sadar kalau dia hampir menabrak kendaraan lain didepannya. 

Glen tersadar dan hendak mengelak motor yang dihadapannya supaya tidak menabraknya. kini mobilnya menabrak pohon yang ada dipinggiran jalan itu dengan benturan yang cukup kuat mengenai kepalnya sampai mengeluarkan bercak merah dari jidatnya. Dengan keadaan lemas tiba-tiba pandangannya menjadi hitam, dia tidak sadarkan diri. 

**

"Glen, Glen." Panggil Alvero ketika melihat Glen berusaha menyadarkan dirinya setelah tidak sadarkan diri selam satu hari.

Glen membuka matanya dengan samar-samar dan melihat sekelilingnya, dan dia merasa lega.

"Aku masih hidup?." Ucapnya 

Alvero menatapnya bingung. "Woi, syukurlah kamu sudah sadarkan diri, Glen."

"Alvero, kok kamu bisa ada disini?." 

"Polisi menghubungiku, dan memberitahu kamu mengalami kecelakaan. Kamu kenapa sih?, kenapa kamu menyetir ngebut-ngebut?, Kamu pengen mati?." ketus Alvero sedikit kesal karena kekhawatirannya melihat temannya itu.

Glen memegang jidatnya berusaha mengingat semua nya. 

"Harusnya aku mati saja."

"Jangan ngomong sembarangan woi, dosa mu masih terlalu banyak untuk cepat mati, tobat dulu." 

"Kamu benar, Al. Dosaku sangat banyak selama ini, dan ketika aku ingin memperbaiki semuanya, kenapa malah jalannya berubah?." Ucapnya menghela napas berat.

Alvero menatap Glen tidak mengerti, dia melihat Glen seperti putus asa.

"Kenapa kamu sebenarnya?, apa ada masalah?." tanya alvero.

"Dia sudah bersama dengan orang lain."

"Dia?, Siapa?, Amira maksud mu?." Tanya Alvero menatap Glen serius.

"Hem, tanggal berapa sekarang?."

"tanggal dua puluh tiga." Ucap Alvero bingung.

"Oh, berarti kemaren. Kemaren aku mengikuti Amira kerumahnya dan melihat seorang pria menyambutnya keluar dari rumahnya. Dan mereka terlihat sangat dekat, sepertinya dia adalah pasangan Amira." Jelasnya dengan berat hati menerima kenyataan kalau itu benar pasangan aleta.

"Masa sih?."

"Iya, Al. Aku melihatnya langsung, perilaku pria itu terlihat seperti perlakuan seorang pasangan yang menyabut kedatangan pasangannya dari luar. Setelah itu mereka saling tersenyum dan mengobrol asik."

"tapi bisa jadi dia adik atau kakak Amira, Glen."

"Dia tidak punya adik atau kakak, Amira hanya anak satu-satunya. Dan anehnya lagi dia tidak tinggal dirumahnya yang dulu lagi, dan bisa saja setelah dia menikah makanya pinda kerumah nya yang sekarang adalah rumah suaminya."

"Kamu terlalu berpikir jauh Glen. Cari tau dulu kebenarannya baru bisa berspekulasi seperti itu."

"Sepertinya tidak perlu mencari tahu lagi, Al. Setelah melihat semuanya aku yakin kalau Amira sudah ada pasangan, dan tidak mungkin selama ini dia tidak pacaran kan setelah aku?, lagian umur nya sudah sangat cukup untuk menikah. Lagi pula dia berusaha memintaku untuk tidak mengejarnya lagi. Mungkin karna sudah menikah, ya sudah menikah." Ucapnya dengan logika pemikirannya.

Alvero pun merasa apa yang Glen katakan ada benarnya. 

"Tapi saranku Glen, lebih baik kamu cari tahu dulu. Bisa saja pria itu teman atau siapalah yang jelas bukan kekasih atau pasangannya."

Glen menundukkan kepalanya, berusaha menerima kenyataan. Tidak ada harapan lagi pada dirinya untuk memperjuangkan Amira, lagi pula dia sangat merasa bersalah terhadap Amira. Dan tidak mungkin Amira dengan mudah menerima dia kembali dalam hidupnya, Glen harus menyadari hal itu.

"Gak lagi, Al. Aku tidak mau menyakiti hatinya lagi."

"Secepat itu kamu menyerah?, bukannya waktu itu kamu bilang akan memperjuangkan Amira?. Apa ini bro, hanya karena hal yang belum jelas kamu langsung menyerah. Sangat tidak laki." Ledek Alvero melihat keputus asaan temannya itu.

Glen menatap Alvero kesal. Tapi mau bagaimana dia juga tidak bisa memaksakan Amira bersamanya lagi kalau Amira sudah menika.

"Aku yakin sih, itu bukan pasangan Amira. Emang waktu itu kamu lihat dia berpelukan atau berciuman ketika bertemu?" Ucapnya menatap Glen yang melihatnya balik. "Maksud ku, biasanya kalau pasangan itu bertemu pasti akan berpelukan dan ciuman, benar kan?."

Glen mengingat tidak ada hal itu terjadi diantara Amira dan Pria itu. lalu Glen menggelengkan kepalnya. "Gak ada."

Alvero menepuk tangannya dan membuat Glen terkejut. "Nah, itu artinya pria itu bukan pacar atau suami Amira. Percaya sama ku."

"Apa kamu yakin?." Tanya Glen serius.

"Yakin banget lah. Kamu kok jadi setolol ini sih Glen. Coba deh kamu pikirkan emang ada pasangan kalau bertemu cuman tersenyum dan mengobrol doang?. Sudah kubilang percaya sama ku." Ucap Alvero kesal karna Glen susah memahaminya.

Seketika Glen percaya dengan pendapat Alvero. Pikirannya menjadi terbuka untuk kembali ke motivasi kedatangannya kesini yaitu untuk memperjuangkan Amira lagi.

"Tapi aku penasaran satu hal." Ucap Alvero menatap Glen.

"Apa?."

"Kenapa kamu rela tidak menghubungi Amira selama di Eropa?. Dan baru kembali mengejarnya setelah lima tahun berlalu. Sebenarnya apa yang terjadi? masalah apa yang kamu alami selama itu?." Tanya Alvero masih belum paham.

Glen kaku, tidak tahu harus menjelaskan apa kepada Alvero.

"Sebenarnya, saat itu aku pengen fokus sama karirku. Jadi aku berpikir untuk Break dulu dari hubungan kami." Jelas Alvero.

"Benarkah?. Kamu setega itu sama Amira?."

"Ya, aku gak punya pilihan lain Al, dan pikiran ku masih bodoh saat itu, Aku tidak memikirkan perasaan Amira dan hanya mementingkan kehidupan pribadiku, karna itu aku ingin memperbaiki semuanya. Aku sangat menyesalinya."

Alvero mengangguk-angguk memahami. 

"Oh iya, bagaimana bisnis mu yang di New Zealand?, apa semua berjalan dengan baik?." Tanya Alvero lagi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!