Terbang menuju Italia demi cinta, Evelyn hanya ingin membahagiakan kekasihnya. Namun, takdir berkata lain saat ia menemukan kenyataan pahit di dalam pesawat: sang kekasih berciuman mesra dengan wanita lain di depan matanya.
Saat air mata menetes dan tubuhnya goyah akibat turbulensi mendadak, sepasang lengan kekar menariknya rapat. Ia berada di pelukan Wiliam, pria dewasa berwajah tegas, berkelas, dan memiliki tatapan dingin membunuh. Pria itu tak membiarkan Evelyn lepas begitu saja. Dari sebuah insiden guncangan pesawat, Evelyn justru melangkah masuk ke dalam dunia sang pria paruh baya yang kaya raya, protektif, dan siap memanjakannya tanpa batas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 2
****
Langkah kaki Evelyn terasa amat berat saat menyusuri lantai marmer bandara Leonardo da Vinci, Roma. Udara malam Italia yang dingin berembus menyapu wajahnya yang masih sembab. Setelah melewati proses pemeriksaan dokumen yang bagaikan mimpi buruk, ia akhirnya melangkah keluar menuju area penjemputan.
Ponsel di genggamannya terus bergetar tanpa henti. Puluhan panggilan dan pesan singkat dari mantan kekasihnya—pria yang baru saja ia putuskan secara sepihak di dalam pesawat—terus bermunculan di layar.
Lyn, tolong dengarkan aku! Itu semua salah paham!
Kamu di mana? Jangan seperti anak kecil!
Dengan jemari yang gemetar namun mantap, Evelyn menekan tombol blokir pada nomor tersebut. Air matanya kembali menetes, tetapi dengan cepat ia usap kasar. Keputusannya sudah bulat. Rasa sakit atas pengkhianatan di atas awan tadi masih menganga lebar, dan ia tidak akan pernah sudi kembali pada pria pembohong seperti itu.
"Lyn! Di sini!"
Sebuah seruan ceria memecah lamunannya. Dari kejauhan, seorang gadis berambut pirang kecokelatan dengan gaun musim panas yang modis melambaikan tangan dengan antusias. Dia adalah Clara, sahabat terbaik Evelyn sejak masa kuliah.
"Clara..." bisik Evelyn, mencoba mengulas senyum tipis meski hatinya terasa remuk.
Clara berlari kecil dan langsung merengkuh tubuh Evelyn dalam pelukan hangat. "Ya ampun, Lyn! Akhirnya kamu sampai juga di Italia! Aku kangen banget!" Clara melepaskan pelukannya, lalu mengamati wajah Evelyn dengan dahi berkerut. "Tunggu... kenapa matamu sembab begitu? Kamu menangis? Kejutan buat pacarmu itu gagal?"
Evelyn menunduk, menggigit bibir bawahnya rapat-rapat. Rasa sesak kembali menghantam dadanya. "Aku... aku sudah putus dengannya, Clara. Di dalam pesawat tadi, aku melihat dia..." Evelyn tak sanggup melanjutkan kalimatnya, suaranya tercekat oleh isolasi rasa sakit.
Mata Clara membelalak kaget. "Apa?! Pria brengsek itu menyakitimu?! Oh, Dear God... sudah, jangan bicara dulu. Kamu pasti sangat lelah dan syok." Clara merangkul bahu Evelyn dengan erat. "Malam ini kamu ikut aku. Kita ke villa keluargaku di Tuscany. Kamu bisa menenangkan diri di sana sepuasmu. Tidak ada yang boleh mengganggumu!"
"Terima kasih banyak, Clara... maaf kalau aku jadi merepotkanmu," gumam Evelyn pelan.
"Sama sekali tidak! Kamu itu sudah seperti saudariku sendiri," tegas Clara seraya mengode supir pribadinya untuk membawakan koper Evelyn menuju mobil sedan mewah berwarna hitam yang sudah menunggu di depan pintu keluar.
Perjalanan menuju villa memakan waktu hampir satu jam. Sepanjang jalan, Evelyn hanya menatap kosong ke luar jendela mobil, memperhatikan deretan pohon cemara dan perbukitan Tuscany yang samar-samar disinari cahaya bulan. Rasa lelah yang luar biasa perlahan menguasai tubuhnya, hingga tanpa sadar ia tertidur lelap.
Ketika mobil akhirnya berhenti di depan sebuah kediaman megah bergaya klasik Eropa dengan pilar-pilar batu yang kokoh, Clara membangunkan Evelyn dengan lembut.
"Lyn, kita sudah sampai. Ayo masuk, kamu harus segera istirahat," bisik Clara.
Evelyn mengedipkan matanya yang berat, memandang sekeliling. Villa itu berdiri megah di tengah hamparan kebun anggur yang luas. Cahaya lampu berwarna keemasan menyinari setiap sudut bangunan, memancarkan aura old money yang sangat kental, mewah, namun terasa begitu sunyi dan berwibawa.
Mereka melangkah masuk melewati pintu kayu jati yang tinggi. Seorang kepala pelayan tua berseragam rapi menyambut mereka dengan bungkukan hormat.
"Selamat datang kembali, Nona Clara. Dan selamat datang di kediaman kami, Nona Evelyn," sapa kepala pelayan itu dengan bahasa Inggris beraksen Italia yang halus.
"Terima kasih, Paman Marco. Tolong bawakan koper Lyn ke kamar tamu lantai dua, ya," ujar Clara.
"Baik, Nona. Ah, sekadar memberitahu, Tuan Besar baru saja tiba dua jam yang lalu dari perjalanan dinasnya."
Langkah Clara seketika terhenti. Wajah cerianya berubah sedikit tegang dan penuh rasa segan. "Papa... Papa sudah pulang? Bukannya jadwal kepulangannya baru lusa?"
"Jadwal Tuan maju karena ada beberapa dokumen penting yang harus diselesaikan malam ini, Nona," jawab Paman Marco sopan.
Clara menghela napas panjang, lalu menoleh pada Evelyn dengan senyum canggung. "Lyn, papaku ada di rumah. Beliau agak... tegas dan dingin, tapi kamu tenang saja, beliau jarang keluar dari ruang kerjanya kok."
Evelyn tersenyum tipis, mencoba menenangkan sahabatnya. "Tidak apa-apa, Clara. Aku yang menumpang di sini, justru aku yang harus menjaga sikap."
"Ayo, aku tunjukkan kamarmu dulu. Kamu bisa membersihkan diri dan—"
"Clara."
Sebuah suara berat, dalam, dan penuh wibawa tiba-tiba menggelegar dari arah tangga utama. Suara yang begitu dingin namun sanggup menghentikan detak jantung siapa saja yang mendengarnya.
Evelyn membeku di tempat. Suara itu... terasa sangat tidak asing di telinganya.
Clara langsung berbalik badan dengan penuh rasa hormat. "P-papa... maaf, kami membuat kebisingan dan mengganggu istirahat Papa."
Evelyn perlahan mengangkat pandangannya menuju puncak tangga melingkar. Di sana, berdiri sesosok pria paruh baya bertubuh tinggi tegap. Pria itu telah menanggalkan jas mewahnya, kini hanya mengenakan kemeja putih berserat halus dengan gulungan lengan hingga siku, memperlihatkan jam tangan mahal dan jamang perak di kulit tangannya yang tegas. Rambut perak kelabunya tersisir rapi, dan wajah tampan bergaris keras itu menatap lurus ke bawah.
Mata sehitam jelaga milik pria itu beradu pandang dengan mata jernih Evelyn.
DEG.
Dada Evelyn bergemuruh hebat. Napasnya tertahan di tenggorokan. Pria berdarah dingin yang memancarkan aura dominan mutlak itu... adalah Wiliam! Pria paruh baya yang menyelamatkannya dan memeluknya begitu erat saat turbulensi hebat di pesawat beberapa jam yang lalu!
Wiliam melangkah turun tangga dengan tenang namun penuh tekanan. Setiap pijakan langkah sepatu kulitnya di atas lantai marmer terdengar bagaikan ketukan takdir.
"Papa, ini Evelyn, sahabat yang sering Clara ceritakan," ucap Clara cepat, mencoba mencairkan suasana yang mendadak terasa begitu berat dan pekat. "Lyn, ini papaku... Wiliam."
Wiliam berhenti tepat beberapa langkah di hadapan mereka. Tingginya yang menjulang membuat Evelyn harus sedikit mendongak. Aroma khas sandalwood dan kemewahan eksklusif yang tadi mendekap Evelyn di udara kini kembali menyeruak, memenuhi indra penciumannya.
Mata Wiliam yang tajam bagaikan elang menatap wajah lugu Evelyn yang tampak terkejut setengah mati. Bibir tipis pria itu terangkat sangat tipis—sebuah sunggingan samar yang hampir tak terlihat, namun penuh arti.
"Evelyn..." bisik Wiliam menyebut nama gadis itu dengan suaranya yang berat, membuat bulu kuduk Evelyn berdiri. "Suatu kehormatan bisa menyambutmu di kediamanku."
Evelyn meremas gaunnya dengan jemari yang gemetar. "S-selamat malam... Tuan Wiliam," jawabnya dengan suara yang hampir tak terdengar karena gugup.
Clara yang tidak menyadari ketegangan aneh di antara keduanya langsung bersuara, "Papa, Lyn sedang sangat lelah setelah perjalanan jauh. Jadi Clara mau mengantarnya ke kamar sekarang."
Wiliam tidak mengalihkan pandangannya sedikit pun dari sosok Evelyn yang tampak begitu rapuh dan cantik di bawah selimut lampu hangat ruangan. Tatapan pria paruh baya itu sangat posesif, seolah-olah ia sedang menatap milik pribadinya yang sempat terlepas sementara waktu.
"Tentu," ujar Wiliam pelan, melangkah satu tapak lebih dekat ke arah Evelyn. Pria itu merendahkan sedikit tubuhnya, berbisik tepat di samping telinga Evelyn dengan nada intim yang hanya bisa didengar oleh gadis itu. "Istirahatlah yang cukup, Little Lady. Rumah ini sangat aman... tidak akan ada pria tak berguna yang bisa menyakitimu lagi di sini."
Tubuh Evelyn menegam seketika. Sentuhan kehangatan napas Wiliam di kulit lehernya membuat jantungnya berdegup gila-gilaan.
Wiliam kembali menegakkan tubuhnya, menatap Evelyn dengan senyum penuh dominasi sebelum berpaling pada putrinya. "Clara, pastikan sahabatmu mendapatkan semua yang dia butuhkan."
"Baik, Pa!" jawab Clara patuh.
Saat Wiliam berbalik dan melangkah kembali menuju ruang kerjanya, Evelyn hanya bisa terpaku dengan dada yang berdebar kencang. Ia datang ke Italia untuk melarikan diri dari patah hati, namun tanpa ia sadari, ia justru melangkah masuk tepat ke dalam sarang sang tuan yang dingin, berkuasa, dan siap mengurungnya dalam dekapan posesif yang tak terelakkan.
Bersambung
itu kata william🙂
enak bacanya
❤️❤️❤️❤️❤️
👍👍👍👍👍
👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻