Terbang menuju Italia demi cinta, Evelyn hanya ingin membahagiakan kekasihnya. Namun, takdir berkata lain saat ia menemukan kenyataan pahit di dalam pesawat: sang kekasih berciuman mesra dengan wanita lain di depan matanya.
Saat air mata menetes dan tubuhnya goyah akibat turbulensi mendadak, sepasang lengan kekar menariknya rapat. Ia berada di pelukan Wiliam, pria dewasa berwajah tegas, berkelas, dan memiliki tatapan dingin membunuh. Pria itu tak membiarkan Evelyn lepas begitu saja. Dari sebuah insiden guncangan pesawat, Evelyn justru melangkah masuk ke dalam dunia sang pria paruh baya yang kaya raya, protektif, dan siap memanjakannya tanpa batas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 11
***
Cahaya fajar menyingsing samar-samar di balik jendela luxurious suite hotel tempat mereka menginap. Di depan cermin rias kamar mandi, Lyn berdiri mematung dengan napas yang bergetar. Tangannya yang dingin memegang botol concealer cair, memoleskan cairan itu secara tebal di atas kulit leher jenjangnya yang mulus.
Di sana, jejak keperakan dan kemerahan pekat tampak membekas tajam—stempel kepemilikan mutlak yang ditinggalkan Wiliam saat membungkam dan "menghukumnya" secara brutal semalam, hanya beberapa meter dari tempat Clara tertidur lelap.
"Duh, jangan sampai kelihatan..." bisik Lyn panik setengah mati. Dengan jemari gemetar, ia meratakan riasannya, lalu membelitkan sebuah syal sutra berwarna krem di lehernya untuk menyembunyikan sisa tanda terlarang itu.
Saat Lyn keluar dari kamar mandi, Clara baru saja terbangun seraya mengeliat di atas ranjang.
"Hoam... pagi, Lyn," sapa Clara dengan suara khas bangun tidur. Dahi gadis itu berkerut heran saat melihat penampilan Lyn. "Lho? Kenapa pakai syal tebal begitu? Di luar kan tidak bersalju?"
Lyn tersentak kaget, refleks memegang syal di lehernya. "A-ah... ini, Clara. Semalam pendingin udaranya terasa sangat dingin, jadi leherku agak bersin dan merasa kurang enak badan."
Clara mengangguk-angguk percaya tanpa rasa curiga sedikit pun. "Oh, begitu... ya sudah, nanti di jet pribadi Papa kamu bisa tidur nyenyak di kursi first class. Ayo kita siap-siap, Paman Marco bilang Papa sudah menunggu di lobi."
Satu jam kemudian, mereka telah berada di dalam kabin jet pribadi mewah milik Wiliam yang sedang mengangkasa di ketinggian belasan ribu kaki menuju Jakarta. Interior kabin berbahan kulit krem mahal dan ornamen kayu mahoni memancarkan aura old money yang sangat eksklusif. Suara deru mesin pesawat terdengar bagaikan bisikan lembut di balik dinding kedap suara.
Wiliam duduk di kursi kapten berlengan tebal tepat di hadapan deretan sofa empuk tempat Lyn dan Clara duduk berdampingan. Pria paruh baya itu mengenakan setelan jas abu-abu gelap tanpa dasi. Kacamata berbingkai tipis bertengger di hidung mancungnya seraya membaca dokumen bisnis di komputer tabletnya.
Namun, di balik tampilan formal dan dinginnya, mata sehitam jelaga milik Wiliam sesekali melirik tajam ke arah syal sutra yang melilit leher Lyn. Sebuah sunggingan samar yang sarat akan kepuasan tersirat sangat tipis di sudut bibirnya.
"Lyn," panggil Wiliam dengan suara beratnya yang berwibawa, memecah keheningan kabin. "Wajahmu tampak agak pucat pagi ini. Apakah kamu merasa kurang nyaman dengan penerbangan ini?"
Lyn yang sedang menyesap teh hangatnya seketika menegang. "S-saya baik-baik saja, Tuan Wiliam. Hanya sedikit lelah."
Clara ikut bersuara, merangkul lengan sahabatnya. "Iya, Pa. Lyn bilang lehernya agak sakit karena kedinginan semalam di hotel."
Wiliam meletakkan tabletnya di meja lipat, lalu menatap Lyn dengan tatapan yang begitu pekat dan intens—sebuah pandangan yang membuat jantung Lyn berdegup gila-gilaan.
"Begitu?" ujar Wiliam pelan dengan nada suara yang penuh makna ganda. "Kalau begitu, sebagai tuan rumah, sudah kewajibanku memastikan sahabat putriku terawat dengan baik selama perjalanan pulang."
Wiliam berdiri dari kursinya. Pria tegap berwibawa itu melangkah mendekati sofa mereka, membawa sebuah selimut kasmir tebal berwarna abu-abu. Di depan mata Clara, Wiliam membentangkan selimut itu dengan sangat perhatian, menutup tubuh bagian bawah Lyn dari pinggang hingga ke kaki.
"Terima kasih... Tuan Wiliam," bisik Lyn, matanya menunduk tak berani menatap mata pria matang di hadapannya.
"Sama-sama, Little Lady," jawab Wiliam seraya tersenyum tipis. Pria paruh baya itu kemudian kembali duduk di kursinya. "Clara, kamu bisa tidur lebih dulu di kamar belakang jika merasa lelah. Perjalanan menuju Jakarta masih memakan waktu cukup lama."
Clara menguap pelan, mengangguk antusias. "Wah, benaran, Pa? Kalau begitu Clara tidur di kamar belakang ya! Mau pakai headphones juga biar nyenyak. Lyn, kamu tidak apa-apa sendirian di sini?"
"A-aku tidak apa-apa, Clara. Pergilah istirahat," sahut Lyn cepat.
Begitu pintu geser kamar belakang kabin tertutup rapat dan Clara mengenakan headphones penutup suaranya, atmosfer di ruang utama jet pribadi itu seketika berubah seratus delapan puluh derajat. Keheningan yang pekat dan sarat akan dominasi mendadak mengurung udara di sekeliling mereka.
Wiliam berdiri dari kursinya tanpa suara. Pria paruh baya itu melangkah mendekat, lalu mendudukkan tubuh tingginya di sofa persis di samping Lyn. Jarak mereka yang begitu rapat membuat aroma sandalwood dan wangi kemewahan eksklusif kembali menyeruak, mengurung seluruh indra penciuman Lyn.
"W-Wiliam... apa yang Anda lakukan?" cicit Lyn panik setengah mati. Ia mencoba bergeser mundur, namun lengan kokoh Wiliam dengan cepat melingkar di pinggang rampingnya, menarik tubuh mungil Lyn rapat menempel pada dada bidang sang pria.
"Ssshh..." bisik Wiliam tepat di telinga Lyn. Suaranya yang amat rendah dan berat membuat seluruh bulu kuduk Lyn berdiri tegak. "Clara sedang tidur nyenyak di belakang. Jangan membuat suara yang bisa mengganggu istirahatnya, Lyn."
"Tapi kita di atas pesawat... para kru bisa masuk kapan saja—"
Kata-kata Lyn seketika terputus saat Wiliam menundukkan kepalanya, mengunci dan menyesap bibir manis Lyn dengan ciuman yang amat dalam, pekat, dan mendominasi. Ciuman panas itu menyerap seluruh helaan napas dan protes Lyn tanpa ampun. Lidah lihai pria di usia matang itu bergerak menguasai rongga mulut Lyn, menuntut kepatuhan mutlak di ketinggian ribuan kaki dari atas permukaan bumi.
"Mmph...!" Lyn melenguh pasrah di dalam ciuman Wiliam. Jemari lentiknya yang gemetar refleks meremas kain jas mahal di dada bidang pria itu demi mencari tumpuan.
Wiliam memindahkan hisapannya dari bibir manis Lyn menuju rahang bawah, lalu pelan-pelan menarik syal sutra krem yang melilit leher gadis itu. Saat jejak kemerahan semalam terpampang di bawah remang lampu kabin, tatapan mata Wiliam berkilat makin pekat oleh gairah posesif.
"Karya yang sangat indah," bisik Wiliam di kulit leher Lyn. Pria tua itu kembali mendaratkan kecupan-kecupan basah dan gigitan kecil di leher jenjang Lyn, lalu turun menyesap area sensitif di atas buah dada manis gadis itu melalui belahan gaunnya. Wiliam melakukannya dengan lapar namun penuh kelihaian—seolah-olah seorang pria besar yang tak pernah puas menegaskan kepemilikannya atas milik pribadinya.
"Ngg... a-ah... Wiliam..." desah Lyn tertahan, kepalanya terlempar ke belakang menyandarkan dahi pada bahu kokoh Wiliam. Rasa nikmat terlarang dan sensasi panas yang membakar membuat seluruh pertahanan dirinya runtuh total.
Tidak berhenti sampai di situ, di bawah selimut kasmir tebal yang membentang menutupi pangkuan mereka, tangan besar Wiliam yang hangat dan kuat mulai bergerak aktif. Jemari tangannya yang ahli meluncur perlahan menyusuri paha mulus Lyn di balik gaun, menyusup lebih dalam hingga menyentuh dan mempermainkan area inti Lyn yang mulai memanas dan basah.
DEG.
Sensasi gesekan intim yang dilakukan secara rahasia di balik selimut kabin jet pribadi membuat mata jernih Lyn membelalak sempurna. Gelombang sengatan listrik yang dahsyat merambat hebat hingga ke ujung kakinya.
"W-Wiliam... saya mohon... nggh!" Lyn menggigit bibir bawahnya erat-erat demi menahan desahan nikmat yang membuncah hebat di tenggorokannya. Wajah cantiknya memerah padam, air mata kepasrahan dan keikmatan menetes pelan di pipinya.
Wiliam menatap wajah pasrah gadis 21 tahun itu dengan tatapan penuh kemenangan dan dominasi mutlak. Jemari tangannya di bawah selimut makin mempercepat ritme permainannya di area sensitif Lyn, menikmati bagaimana tubuh lugu di dalam pangkunya gemetar hebat menahan gelombang kenikmatan yang memabukkan.
"Tatap mataku, Lyn," bisik Wiliam dingin namun dipenuhi rasa lapar yang membakar, suaranya bergetar tepat di depan bibir Lyn yang terengah-engah. "Lihat bagaimana tubuhmu sendiri tidak mampu menolak apa yang kuberikan padamu."
"Ngg... hmph... W-Wiliam..." bisik Lyn pasrah, matanya yang sayu menatap terkunci pada mata sehitam jelaga milik sang tuan.
Di tengah deru mesin jet pribadi yang membelah awan menuju Jakarta, di bawah bayang-bayang kehadiran sahabatnya yang tertidur hanya beberapa meter di belakang mereka, Lyn sadar bahwa dirinya telah sepenuhnya tenggelam dan tak akan pernah bisa melepaskan diri dari dekapan posesif pria paruh baya yang paling berkuasa ini.
Bersambung....
itu kata william🙂
enak bacanya
❤️❤️❤️❤️❤️
👍👍👍👍👍
👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻